Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Reuni Geng Gepuk


__ADS_3

Suara kaki pesawat terbentur tanah Jakarta dalam suara rem yang kencang membangunkanku dari tidur yang panjang. Selamat kembali kepada tanah kesayangan, ucapku pada diri sendiri. Sebagaimana bandara Istanbul, Soekarno Hatta dipenuhi ramainya orang yang bepergian, berdatangan atau mereka yang menunggu para penumpang. Tawaran jasa porter dan taksi silih berganti. Sebagian besar orang-orang mengenakan masker di wajahnya. Sebagiannya tidak, mungkin mereka ini sepertiku, golongan orang-orang yang tidak berhasil memburu masker.


Aku teringat Luky, meski kami tak berhasil mendapatkan masker maupun hand sanitizer di Estonia sebelum penerbanganku, Luky masih sempat menemukan tissue basah anti bakteri yang mengandung kadar alkohol tinggi. Ia berpesan supaya aku mengelap semua tempat duduk dan jangan memegang apapun sebelum membasuhnya dengan tisue tersebut. Aku tidak tahu seberapa efektif, saat orang lain sudah punya masker, hand sanitizer dan sebagainya.


Aku berjuang untuk tetap optimis di sepanjang perjalanan. Jaga jarak dan berharap yang terbaik, supaya virus Covid-19 tidak menyerangku saat ini. Di Indonesia kasusnya memang tidak terlalu tinggi, hanya di ibukota, kasusnya banyak. Layar HP-ku menyala. Butuh beberapa waktu untukku menghubungkannya dengan internet. Aku menebak, Livi & Mauli, duo genk gepukku sudah menunggu di pintu kedatangan.


Kami menunggumu di Soetta, demikian pesan Livi kemarin di Whatsapp saat aku masih di Istanbul. Hanya beberapa menit setelah terhubung, HP-ku berdering.


"Hi girls! will be there soon!" kataku di telpon.


"Can't wait. Kami di sebelah kiri ya. Pas kamu keluar, lihat sebelah kiri aja" suara Mauli terdengar riuh dengan suara manusia lainnya di belakang.


Aku masih menunggu di antara koper dan tas yang terus bergerak di atas conveyor belt. Belum terlihat koperku. Koper besar berwarna merah yang telah mengikutiku ke mana pun selama ini.


Honey, I'm touchdown. Safe and sound. Will call you later. Pesan kukirim untuk Luky di antara pesannya yang lain yang sudah menumpuk. Bukan waktu yang tepat membalas semuanya. Paling tidak, ia tahu aku sudah tiba dengan selamat. Setelah 15 menit menunggu, aku dapat melihat koperku dari beberapa meter bergerak mendekat. Segera kutarik dari atas Conveyor belt yang terus berputar saat sudah di depanku. Sekarang, saatnya bertemu dan memeluk teman-temanku. Sebelum itu, aku harus ke toilet. Ganti baju, mencuci wajah, tanganku. Baru keluar bertemu mereka.


"Vashla!!!" teriak Mauli. Ia membawa kertas di tangannya dengan tulisan Gadis Gepuk, Vashla.


"Dasar! bocor banget sih" kataku sambil tak dapat menahan tawa dan bahagia dari wajahku.


"We miss you!" Livi menyemprotkan cairan sanitizer dari ujung kepalaku, ke wajah dan sekujur tubuhku.


"Aw! aw, nggak ke semuanya juga kali!" kataku mengucek mulutku.


Mereka tertawa dan memelukku. Aku tahu, bagaimanapun tak mungkin jaga jarak dengan gadis-gadisku ini saat kami tinggal bersama di satu apartement. Bahagia dan nyaman sekali berada di pelukan mereka.


"I miss you too, gadis-gadis gepukku" balasku dalam pelukan mereka.


"Naik taksi bandara aja ya?" saran Livi langsung disambut kami.


Sopir taksi membantu memasukkan koperku ke belakang. Mauli duduk di depan, aku dan Livi di deretan tengah.

__ADS_1


"Oh aku rindu Jakarta...dan.." belum selesai kalimatku.


"Gepuk!!" sahut mereka berdua. Aku kembali tertawa.


"Vavan bilang nggak, kapan dia akan balik ke Jakarta?" tanyaku pada mereka berdua.


"Nggak tahu, kan kemarin dia keluar kerja di tempat lama itu, trus katanya mau di desa dulu temani orang tuanya" jawab Mauli.


"Dia bilang, malas juga balik karena Corona. Lebih aman di sana katanya" Livi menimpali.


"Coba Riau dekat ya?" aku menghela napas sambil bersandar di kursi.


"Kangen ya?" Livi melirik sambil menyenggol siku kananku.


"Jangan kayak orang susahlah, jaman udah canggih juga" Mauli memainkan HP dan mulai menelpon Vavan.


Dari HP Mauli terdengar bunyi yang menandakan tersambung. Beberapa detik, belum ada jawaban. Mauli menaikkan alisnya ke arah kami di bangku belakang, seolah mencari jawaban dari kami kenapa Vavan tidak mengangkat.


Aku kembali bersandar, melayangkan pandanganku ke luar jendela. Sesaat terlintas kota Tallinn di jalanan yang kami lalui. Meski sangat berbeda, Jakarta dan Tallinn. Namun karena sebagian hatiku masih tertinggal di sana, aku merasa berada di antara dua.


"Hey, aku tahu kamu sedang teringat dia. He will be fine" Livi menghiburku.


"Kami punya kejutan untukmu" lanjutnya.


"Apa?" tanyaku penasaran.


"Gepuk!!!" jawab mereka serentak.


"Ah dasar!" kataku mencubit mereka berdua dan taksi menjadi heboh dengan tawa teriakan kami.


Seru, punya teman baik seperti mereka. Aku rindu mendengar tawa renyah mereka. Bahagia kembali ke sini.

__ADS_1


"Sip, Gepuk akan tiba dalam beberapa menit. Jadi kita bisa langsung ambil di resepsionis sambil naik ke atas" kata Mauli lagi.


"Berapa banyak?" tanyaku sambil menulan air lidah.


Dapat kubayangkan sambal Gepuk paling pedas menari liar di lidahku. Nasi panas, Ayam goreng penuh kenikmatan disertai Terong Goreng, Kol Crispy, Tempe & Tahu. Aku sudah tak sabar. Bulan lalu, saat aku kabarkan, akan kembali ke Indonesia untuk sementara, kami memutuskan menyewa apartemen bersama. Jadi lumayan murah jika patungan. Meski hanya terdiri dari dua kamar, tapi ada kamar yang kasurnya cukup besar untuk berdua.


Rencana memang sementara, karena aku menunggu Luky tiba. Kalau Luky sudah di Indonesia, kami akan pindah dan menyiapkan persiapan nikah kami. Berhubung pesta pernikahan juga tidak dilakukan di Jakarta, melainkan di Aceh, tanah kelahiranku. Setelah makan, mandi dan bersiap untuk santai di kasur. Saatnya menelpon Luky. Kuabaikan dulu semua isi koper, yang berserakan di lantai. Bisa kukerjakan nanti, pikirku. Biar kudengar dulu suaranya.


"Aku dapat jadwal penerbanganku, besok" kata Luky di seberang sana.


"Yeay! Thanks God!" teriakku bahagia.


"Namun, ada kabar lainnya yang butuh kamu dengar" lanjutnya kemudian. Hatiku berdegup kencang.


"Jadwal penerbangan Alif ke Indonesia dibatalkan. Jerman menutup border dan karena kondisi Covid di Jerman sangat tinggi, banyak negara juga membatalkan penerbangan ke Jerman ataupun transit" jelasnya lagi.


Kini, aku takut. Kabar yang kuterima bukan hanya Alif yang tidak bisa terbang ke Indonesia. Artinya, Luky juga punya kemungkinan tidak dapat terbang ke Indonesia.


"Trus Alif gimana?" Aku ingat Alif bilang, kalau dia akan pulang ke Indonesia juga beberapa hari setelahku. Tetapi sebelum itu, ia ingin ke Munich, jalan-jalan di sana dan kemudian baru terbang dari Munich ke Indonesia.


"Dia harus mengubah rute, atau cara lainnya cancel tiket yang dibelinya untuk berangkat dari Munich. Dia bisa beli tiket baru dengan mengambil jalur lain. Tidak ada penerbangan dari Estonia ke Munich saat ini, semua dibatalkan" tambah Luky.


"Kamu yakin penerbanganmu tak akan dibatalkan lagi?" tanyaku ragu-ragu sekaligus cemas.


"Let's hope for the best. Aku terbang dari Tallinn ke Stockholm, trus lanjut ke Düsseldorf".


"Aku berdoa kamu bisa tiba di sana dan dapat berkumpul dengan keluarga segera" kataku lagi.


"Danke. Ich Liebe Dich sweetie"


"Ich Liebe Dich Auch".

__ADS_1


__ADS_2