Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Kemarahan Luky


__ADS_3

Aku pulang dalam keadaan jiwaku yang babak belur. Meski dia menampar wajahku berulang kali, tak meninggalkan bekas yang mencolok karena kulit gelapku. Namun leherku terluka dan bagian tubuhku yang lain. Terkena beberapa barang pada saat aku melawan.


Di dalam taksi, aku menangis tanpa henti. Aku minta sopir untuk tak bertanya apapun dan membiarkan aku menangis di mobilnya sepanjang perjalanan pulang ke apartemenku. Aku tidak tahu cara memberitahu Luky, tak bisa berbohong tentang Luka ini. Aku terluka perih saat ini. Tubuh, jiwa dan hatiku tercabik-cabik semuanya. Bagaimana bisa orang yang menerima cintaku selama ini menyiksaku dengan cara ini.


"Allan, kamu di dalam? Ada hal urgen, aku harus ketemu dan bicara!" tanpa suara itu di balik pintu, mungkin aku mati di tangannya.


Aku tidak tahu siapa perempuan yang menggedor-gedor pintu apartemennya. Siapapun perempuan itu, apapun kepentingan mendadaknya dengan Allan, tanpa ia sengaja, ia telah menjadi penyelamatku. Karena panggilannyalah, kemudian aku lepas dari cengkeraman yang hampir membunuhku.


Luky segera berlari membuka pintu setelah aku memencet bel di lantai bawah apartemen kami. Tak dapat berkata apapun, aku memeluknya penuh air mata. Kutemukan diriku rapuh serapuh-rapuhnya. Terasa luka menganga sekujur tubuhku. Merasa tak berharga dan menyesal pada keputusan-keputusan yang telah kubuat. Luky murka dari air mukanya dan gemetar tubuhnya menahan sedih dan amarah. Aku tahu ia akan menghajar Allan saat ini juga jika kuceritakan padanya. Namun ia tak menanyakan banyak, saat aku menggeleng menjawab dan memintanya untuk tidak bertanya.


Setelah menangis beberapa saat di pintu, ia membawaku masuk dan duduk di sofa. Lalu dipeluknya lagi aku dengan erat serta tangannya tak berhenti membelai rambut dan punggungku. Dalam sesenggukan, aku masih belum dapat bercerita padanya atas apa yang baru saja kualami. Ia masih dengan sabar memelukku dan hadir sepenuhnya.


"Aku akan buat teh. Kamu berbaring sebentar nggak pa-pa?" Aku mengangguk dengan mata yang masih menyisakan air.


Ia merebahkan tubuhku, menyingkirkan jaket yang dari tadi sudah dilepaskan dari tubuhku. Ia menyentuh leherku untuk membuka syal, kutepis tanggannya, kubilang nanti saja karena aku merasa dingin. Ia menuruti dan kemudian berjalan ke dapur untuk membuat teh. Ia sudah melihat bagian punggung tanganku yang tergores. Aku belum siap menunjukkan bagian lainnya. Ia akan tambah murka.


"Minum dulu sedikit ya?" Iya membantuku duduk kembali dan mendekatkan teh ke arah mulutku.

__ADS_1


Luky tidak berubah, sejak dulu sampai sekarang, jika aku sedang dalam kondisi sedih usai menangis, pada saat tangisku reda, ia akan memintaku membuatkan teh pada diriku sendiri. Sekarang saat ia sudah di sisiku, ia langsung membuatkan sendiri untukku.


Tangisku kini sudah reda. Aku mulai bercerita pelan-pelan apa yang terjadi. Aku tahu ia menahan rasa marahnya kuat-kuat. Ingin kuhentikan rasanya melihat ekspresinya. Karena kulihat penuh simpati itu. Seolah semua rasa sakit yang kupunya di tubuhku dan hatiku saat ini telah pindah sepenuhnya padanya.


"Biar aku lihat," katanya lembut. Kali ini aku tak menahan tangannya lagi untuk melihat leherku.


Matanya bersimbah air. Dia menangis disaat yang sama ketika tangannya meraba pelan memeriksakan seluruh tubuhku. Ia mengecek bagian mana saja yang sakit dan kemudian mengajakku ke rumah sakit, aku menolak.


"Tak seharusnya aku melepaskanmu pergi seorang diri menemui lelaki jahanam itu," kutuknya.


Ia menyesal begitu dalam. Seolah semua kejadian ini adalah tanggung jawabnya. Meski aku sudah mengulang beberapa kali bukan salahnya. Aku tidak mau ke rumah sakit juga tidak mau melaporkan ini ke polisi. Berhasil selamat dari tangannya, akan kujadikan pelajaran seumur hidupku. Tidak mengabaikan keselamatan diri dan tidak mudah terpedaya mempercayai orang, hanya karena ia memperlakukanku dengan baik. Butuh waktu, track record seseorang harus diuji.


Aku kemudian paham, ini caranya untuk melepaskan amarahnya karena ia tak bisa membalaskan perlakuan Allan padaku saat ini. Aku khawatir, kalau terus kubiarkan ia akan terluka. Dengan sisa-sisa tenaga yang kupunya kemudian aku bangkit dari sofa.


"Luky....Luky," aku terus memanggilnya sambil menggedor pintu toilet.


"Jangan khawatir. Aku akan keluar nanti," jawabnya di antara suara tangisan yang ditahannya. Dapat kukenali dengan baik suara penuh amarah dan sedih ini.

__ADS_1


"Aku mau kamu keluar sekarang, berhenti menyakiti dirimu sendiri. Semakin kamu melukai dirimu, aku juga semakin terluka".


Kusandarkan tubuhku di dinding toilet, menunggu ia keluar. Dapat kudengar ia menangis dari dalam. Aku pun kembali menangis kemudian. Cara kami dalam mencintai, karena tak sanggup melihat salah satu dari kami terluka. Untuk beberapa saat kami berdua terus menangis dalam diam masing-masing. Dibatasi tembok yang menyaksikan kepedihan ini.


Tak lama setelah itu, Luky keluar dengan luka di tangannya. Aku tahu dia pasti akan terluka dengan pukulan sebelumnya yang bertubi-tubi dilayangkannya ke dinding. Dia duduk di sampingku yang masih duduk di lantai sejak tadi. Membalikkan badannya dan kemudian memelukku lagi dengan erat.


"Kita harus mengobati tanganmu," kataku.


"Bagaimana dengan lukamu?" tanyanya.


"Hanya lecet, tak berdarah juga. Akan sembuh sendiri nantinya,". Lanjutku.


"Tidak. Mari obati luka ini bersama. Aku tak bisa membayangkan luka yang kamu hadapi saat ini. Harus mengalami ini semua pada saat aku ada di sini di sisimu. Aku lelaki yang tak dapat diandalkan". Ia kembali menyalahkan dirinya sendiri.


Aku merasa kehabisan kata untuk memintanya berhenti. Kita berdua tidak boleh terluka di waktu yang sama. Paling tidak salah satu harus menyembuhkan yang lainnya. Kami bangkit dari duduk dan berjalan ke dapur. Luky mengambil perkakas P3K dan kemudian kami menghabiskan waktu untuk saling mengobati.


"Mari berjanji untuk saling melindungi mulai dari sekarang. Jangan biarkan hal-hal seperti ini terulang. Jangan pernah," kata-kata Luky menegaskan komitmen kami bersama.

__ADS_1


"Aku janji".


Ia mengecup bibirku lembut setelah tangannya selesai kubalut. Lalu menciumi seluruh bagian leherku dan bagian tanganku yang lecet. Ia kemudian meneruskan mengompres tanganku dan leherku. Luka fisik ini mungkin hilang suatu saat, tapi luka di hati kami mungkin akan tinggal. Pelajaran untuk kami berdua. Cinta yang bermata pisau, menyelamatkanmu atau membunuhmu di waktu yang bersamaan.


__ADS_2