
Cinta di ambang karam dalam lautan pertengkaran yang tak berkesudahan. Seperti selalu ada alasan yang menjadi sebab dari ketidaksempurnaan dan kemudian menarik kami pada adu mulut dan emosi. Mungkin, benar kata orang, jarang hubungan jarak jauh itu bertahan. Apalagi kalau tidak ada kepastian akan pertemuan. Ini jauh lebih terombang ambing dalam membangun komitmen-komitmen yang sifatnya berkelanjutan.
"Aku belum pernah memiliki hubungan jarak jauh. Ini pertama kalinya, dan sepertinya sekarang terasa begitu berat" kata Luky di seberang telpon.
"Keraguanku beralasan. Memang mungkin kita akan sulit bertahan. Sebagaimana banyak pasangan lainnya yang berakhir di tengah jalan" responku sedih. Jelas sudah kami berdua tak memiliki semangat dan angan-angan bertahan saat ini. Sepertinya memang menyerah adalah jalan yang paling mudah.
"Mungkin baiknya hari ini kita break dulu dari telponan" katanya lagi.
"Oke" aku mematikan telpon tanpa memberikan waktu untuk Luky menjawab lebih lanjut.
Kemudian menangis tanpa suara di kamar. Di antara bantal-bantal kubenamkan diriku. Kutemukan kerapuhan yang berangsur-angsur bergelombang. Ini berat, aku merasa hilang. Bukannya aku Vashla, gadis yang tidak mengenal kata menyerah dalam hidupku. Ke mana perginya gadis itu. Mungkin orang-orang benar. Saat kamu jatuh cinta, maka idiot jadinya. Aku merasa diriku di titik ini. Hilang dan terombang ambing di antara keputusasaan karena cinta. Oh aku malu pada diri sendiri di waktu yang bersamaan. Aku Vashla, seorang perempuan yang memimpin, yang bahkan tak mampu memimpin diriku sendiri saat ini.
Hari-hari berikutnya dingin dalam hubungan kami. Tidak ada lagi lagu Lemon Tree yang selalu dinyanyikannya. Tidak ada pesan selamat pagi dan selamat tidur. Tidak ada permainan Durak yang biasanya menemani kami berdua. Isolasi ini telah menggulung hubungan kami. Sampai pesan darinya muncul. Aku tak kuasa saat gelombang yang tinggi dalam hubungan kami ternyata baru saja dimulai. Aku tak mempersiapkan diriku menyambut gelombang berikutnya.
"Oh ternyata lagu yang selama ini kamu nyanyikan bukan untukku? kamu sudah menyanyikan untuk mantanmu yang lain? how sweet!" ketiknya di whatsapp.
__ADS_1
Lalu selembar gambar screenshoot di sana. Fotoku saat memeluk K di bandara Estonia. Aku menarik nafas dalam-dalam, karena tak menyangka ia begitu niat melakukan scroll postinganku di Instagram 2 tahun yang lalu saat aku masih menjalin dulu dengan K. Di dalam pelukan K, dengan mataku yang berkaca-kaca, moment itu sempat diabadikan dalam postingan di Instagramku. Setelah menjalin hubungan dengan Luky, kami berdua memang bersepakat untuk menghapus kenangan dengan mantan-mantan kami. Tak terkecuali foto-foto mantan yang berseliweran di berbagai akun kami. Entah bagaimana, foto yang satu ini luput kuhapus.
Aku mengetik......lama dan tak selesai. Bingung, aku harus menulis apa. Apakah aku salah, karena luput menghapus foto yang itu. Apa dia merasa dikhianati oleh aku karena foto itu masih di sana? Atau ia merasa dikhianati karena lagu Living on the Jet Plan yang selalu aku nyanyikan itu ternyata bukan untuknya semata. Aku duduk lemas di atas kasurku. Sebentar lagi meetingku dimulai. Ini adalah meeting yang penting karena menyangkut laporan bulananku. Kantorku disiplin menyangkut laporan kinerja dan dampak dari setiap program yang harus diukur. What to do? Malah di saat moment penting seperti ini, pikiranku terganggu.
Haruskah aku menelponnya dan menyelesaikan urusan percintaanku? Atau meletakkan prioritas pada pekerjaanku. Hati dan logika yang bertabrakan. Kenapa begitu sulit hanya memperjuangkan sebuah hubungan yang sehat. Kenapa percintaanku ini mengambil begitu banyak energi. Aku bangkit dan membuat keputusan.
"Izin share screen, aku akan mempresentasikan update kerja bulananku" kataku pada tim dan bosku.
Mereka menunggu dan sudah kuupayakan sedemikian rupa untuk tak terlihat stress di depan mereka. Aku yang rapuh saat ini, berjuang dengan presentasiku. Ada beberapa project yang kupimpin berjalan dengan baik. Ada juga yang tidak. Aku deg-degan saat mempresentasikan bagian kerjaku yang tidak memberikan hasil yang bagus. Aku merasa masih sangat kurang upayaku dalam mengerjakan tugas-tugasku ini se-kembalinya aku ke Indonesia.
"What happen? You want to talk?" Suara Alin terdengar simpati terhadapku. Bos kami dan anggota yang lain sudah meninggalkan ruangan zoom. Hanya kami berdua, aku dan supervisorku, juga seorang kakak untukku.
"Estonia sedang mendung hari ini. Tak kusangka, mendung juga ada di sana, di wajahmu" katanya lagi.
Aku menghela nafas panjang sebelum bercerita. Di kantor, dia adalah atasanku. Di dalam kehidupan sehari-hari, dia adalah kakak angkatku. Biasanya memanglah bercerita padanya melegakan hatiku. Cerita itu kemudian mengalir.
__ADS_1
"Yang bisa kamu lakukan saat ini, adalah berkomunikasi dengannya. Beritahu dia kondisi yang sesungguhnya, tentang foto, dan lagu itu. Walau aku tahu, sebenarnya itu bukanlah hal yang besar. Pasti itu hanya pemantik yang menyalakan api di antara kalian" Alin mengirimkan ciuman dan pelukan jarak jauh melalui layar. Saat kuakhiri pertemuan kami hari itu.
Aku merindukannya dan rumahnya di Estonia, tempat di mana semua kehangatan pernah memberi ruang untuk kami semua. Bahkan kehangatan dengan Luky yang juga pernah di sana. Kami semua, punya kenangan manis yang takkan mungkin lekang oleh waktu. Sebab semua perasaan bahagia tertinggal di sini, dalam hatiku.
Malam akan semakin kelam. Seharian setelah bergelut di depan layar komputer, menyelesaikan semua tugas-tugasku. Masih sulit memejamkan mata ini. Aku mencintai Luky. Ia adalah sahabat dan lelaki yang ingin kunikahi. Jika hubungan kami harus berakhir karena kondisi ini, maka tak layak sama sekali rasanya. Aku dan dia yang selalu percaya pada kekuatan hati kita. Tak mungkin begitu mudahnya. Tak ingin kutunda lagi. Aku mencoba menghubunginya. Aku merindukannya. Sesak di antara hubungan yang dingin, terlebih jarak yang tak memungkinkan menyentuhnya saat ini.
"Hey!" sapaku ragu-ragu.
"Mhmmmm..." dia cuma bergumam.
"Aku sudah menghapus fotonya. I'm sorry" kataku singkat.
"Sakit rasanya melihat betapa kamu masih menyimpan fotonya di sana. Dan lagu.....lagu itu ternyata bukan untukku. Aku membayangkan tiap kali kamu menyanyikannya, maka dia yang ada di pikiranmu. Aku merasa dikhianati, dan terlihat begitu bodoh di depanmu" kata-katanya tajam, menancap dalam hatiku.
Aku menemukan diri, kehilangan kata-kata untuk menyelamatkan kami berdua dari gelombang pertengkaran yang masih mengguncang hubungan ini. Telpon berakhir, dengan nafas panjang yang berat. Aku tahu, tak cukup sekali. Mungkin akan butuh lebih banyak waktu memperbaiki ini semua, sebab faktor yang sesungguhnya mungkin bukanlah foto atau lagu, tetapi rasa frustasi yang membelenggu.
__ADS_1