
Aku kembali menghabiskan waktu bersama Allan sebagaimana biasanya. Ia seringnya menjemputku usai kerja. Kadang aku jarang pulang. Seringnya Luky seorang diri di rumah. Aku yang dimabuk cinta hampir lupa pada sahabat yang kupunya yang seringnya menungguku di apartement. Beberapa kali Luky menyiapkan makan malam dan menungguku pulang, namun aku tak kunjung datang. Biasanya Luky akan mengirim foto dan mengabarkan makanan hampir siap, jika aku pulang, ia akan menghidangkannya segera di meja.
"Aku masakin kamu sup Ayam, pulang dong," tulis Lucky di whatsapp.
"Iya, aku pulang kok malam ini" balasku cepat.
Dalam hati, aku memang merindukan Luky. Namun aku baru memulai hubungan, aku juga ingin memberikan waktu yang cukup untuk Allan. Pikiran tentang Luky memang memenuhi kebersamaanku dengan Allan. Kurasa itu wajar, karena bagaimanapun Luky adalah teman dekatku. Ia datang untuk tinggal denganku, tentu saja aku mengingatnya sering-sering saat aku seringnya tak pulang.
Aku lebih rindu pada Luky ketika mengingat keseruan yang kami miliki. Seperti main Durak, betapa kadang aku ingin lebih banyak punya waktu dengan Luky dan bermain dengannya. Hal yang tak kudapatkan dengan Allan. Bersama Luky, aku benar-benar menjadi diriku sepenuhnya. Bisa kentut sembarangan, bisa tertawa besar dan sebanyak yang ku mau, bisa menyanyi, menari dan semua kegilaan lainnya. Tidak ketika bersama Allan, aku selalu berusaha memberikan sisi terbaikku dengan bertingkah jaim. Terlihat tidak adil memang, karena aku tidak menjadi diriku seutuhnya.
Di satu sisi, aku juga ingin menunjukkan diriku pelan-pelan. Khawatir jika menunjukkan sepenuhnya di waktu yang bersamaan, dia mungkin tidak nyaman. Dalam hal ini, sebenarnya aku gagal. Karena menyerah pada diri sendiri demi seorang lelaki.
"Ada yang mau kubeliin gak?" Aku pulang bentar lagi?" Aku menelpon Luky.
"Titip Selai Strawberry. Aku baru cek, habis. Biar besok pagi kubikinin kamu pancake" katanya bahagia.
"Oh thank you. Can't wait to eat your pancake. See you soon".
Satu hal lagi yang mau kuceritakan, Luky bisa memasak pancake seenak pancakenya Hanno. Nilai plus yang begitu besar dalam hatiku. Terkadang, aku bertanya, jangan-jangan lelaki di surat yang kutulis, bukanlah Allan, tetapi Luky. Ah bagaimana aku ini, sudah kumantapkan hati untuk memilih Allan, kenapa sekarang disusupi ragu lagi. Aku mengetuk-ngetuk jariku di meja kerja sambil memandangi layar komputer. Kantor sudah sepi saat ini.
__ADS_1
"Vashla, I will go home first. See you tomorrow". Kata-kata Oksy mengalihkan pandanganku dari memandangi layar handphone dan lamunanku pada Luky. Ia membereskan mejanya dan bersiap pulang.
"Oh ok. But I don't think I will go to office tomorrow," Kataku.
"See you when I see you then". Ia tersenyum. Oksy punya senyum yang begitu indah. Dia berdarah Rusia, lebih tepatnya campuran Estonia-Rusia.
"See you Oksy," balasku sambil tersenyum.
Aku punya cerita sendiri dengan Oksy tahun lalu. Pada saat aku sedang begitu terluka setelah putus, aku memutuskan ikut Oksy dan temannya menghadiri salah satu party di Bar. Aku benar-benar frustasi dan minum banyak. Akhirnya aku meminta izin untuk pulang ke rumahnya. Oksy begitu baik, dia menjagaku dan membiarkan aku tidur di rumahnya. Keesokan harinya, suaminya membantu mengantarkanku kembali ke kota. Karena rumahnya yang berada jauh dari kota, jarang ada transportasi publik di sana.
Oksy bertugas untuk memastikan semua fasilitas digital platform kami tersedia dalam banyak bahasa. Dia bekerja lebih dekat dengan para translator dan bertanggung jawab pada terjemahan bahasa untuk semua produk yang dibuka di negara-negara baru. Sementara Luna bertanggung jawab pada seluruh marketing kantor kami. Alin memimpin bagian partnership internasional. Saat kantor sudah sepi begini, aku akan berdiri di jendela kantorku, memandangi lukisan perempuan di gedung sebelah. Lukisan perempuan semesta. Kali ini sambil memikirkan Luky dan keraguan yang singgah dalam hatiku. Rasa apa ini sesungguhnya? Benarkah aku memang meragukan perasaanku pada Allan?
Kamu bisa bangun nggak, ada botol? Masukin air panas, bungkus dengan handuk, tarok di perut ya. Ah betapa sering mendengar kata-kata seperti ini setiap dia menelpon. Bahkan dari jauh, ia sering berupaya ada. Waktu sekarang sudah bersama, kepeduliannya jauh lebih besar. Dia tidak menunggu permintaan, kalau melihatku kesakitan, langsung gerak cepat melakukan sesuatu.
Jika dipikir-pikir lagi, lelaki jenis ini yang kubutuhkan dalam hidupku. Lelaki yang memiliki rasa sensitif yang tinggi, maka dia memiliki nilai plus yang besar dibandingkan lelaki manapun. Sulit menemukan lelaki yang sensitif jaman sekarang. Dibandingkan seluruh mantan yang kupunya, Luky yang paling sensitif.
Aku membereskan barang-barangku, bersiap belanja di supermarket dekat kantor dan segera pulang. Tak sabar ingin menikmati sup yang dimasak Luky. Supnya memang tidak ada duanya. Dia biasanya memasak sup Ayam dari resep ibunya. Daging ayam empuk dibumbui dengan beberapa rempah dan sayur-sayur yang mengepul dari panci yang mendidih. Aku mulai membayangkan kenikmatannya. Lelaki ini memang luar biasa dalam memasak.
***
__ADS_1
Benar seperti tebakanku, aroma supnya bahkan dapat kucium dari pintu depan. Entah jenis rempah apa saja yang ditaruh Luky dalam panci sup. Aku tahu itu mengundang selera segera.
"Supnya akan jadi bentar lagi. Jangan lupa cuci tangan" Ia bertanya menunggu jawaban.
"I know," jawabku sambil mencuci tanganku dengan sabun.
Luky berharap aku memasak nasi. Karena aku, dia jadi terbiasa makan sup dengan nasi. Biasanya dia hanya makan sup begitu saja atau dengan roti. Melihat bagaimana aku seringnya mengaduk-aduk nasi dalam mangkokku kemudian menuangkan sup panas ke dalamnya, telah membuat dia melakukan hal yang sama.
Meski pintar memasak berbagai makanan, Luky tidak tahu cara memasak nasi menggunakan panci biasa. Aku tidak punya rice cooker dan ini memang ku sengaja biar tidak makan nasi setiap hari. Jadi nasi hanya dimasak sesekali menggunakan panci biasa. Kalau punya rice cooker, hidup terlalu dimanjakan nasi.
"Mau wine atau jus?" ia mengatur gelas, mangkok dan sendok di atas meja.
"Mhmmm jus aja deh. Masih ada jus Berry yang dikasih Alin gak?". Aku merindukan jus buatan keluarga Estoniaku.
"Masih ada setengah botol lagi. Habisin aja ya" ia menuang jus ke dalam gelasku.
"Yes. Minggu depan aku ke rumah mereka, nanti aku minta lagi".
Butuh 30 menit sampai nasi yang kumasak benar-benar matang. Kami kemudian menikmati sup bersama nasi panas seperti kesurupan. Nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan, kala kenikmatan sup dipadan nasi panas di tengah cuaca dingin. Penuh tawa dan canda Luky. Harusnya hidup memang sehangat ini, pikirku.
__ADS_1