
Beberapa hari kemudian, riak pertengkaran kami dimulai. Mungkin karena ketidakpastian kondisi Corona telah hampir membunuh ketidaksabaran kami. Ia beberapa kali mencari cara untuk membeli tiket dan berusaha mendapatkan informasi yang dapat memberikan celah untuk bisa terbang ke Indonesia. Hasilnya nihil.
Aku mulai menangis lagi dan sedih dengan kondisi ini. Aku merasa hubungan ini harus kupertahankan mati-matian. Karena pertama kalinya, aku jatuh cinta sedalam ini dan seolah semestaku berpusat padanya saat ini. Rindu membuat dada ini sesak. Setiap kubuka group Love is not Tourism, beberapa hubungan juga kandas lagi karena ketidakpastian regulasi dan kondisi.
Ini bulan Ramadhan, bulan yang spesial bagiku, juga bagi seluruh muslim lainnya di dunia. Saatnya berpuasa, dan beribadah. Aku memang tak taat dalam beribadah. Namun, karena tradisi yang kami pelihara sejak aku masih kecil dulu, bulan ini hadir memberi arti tersendiri.
Aku suka tantangan. Serunya bulan ramadhan semarak dengan tantangan itu. Menahan nafsu lapar, nafsu amarah, dan nafsu lainnya. Menjaga hati, rajin mengaji dan itu semua serangkaian yang tak dapat dipisahkan. Tantangan kali ini dalam hidupku, juga bukan hanya tentang ini. Ramadhan kali ini membawa tantangan yang baru. Tentang hubunganku dan Luky yang diuji.
"Vashla, kamu mau buka dengan apa nanti?" Tania bertanya sambil menyampirkan tas ke bahunya. Ini anak pasti mau ke mall, pikirku.
"Mhmm belum kepikiran, paling order aja. Eh tapi kamu ke mall ya. Nitip aja deh" aku membuatkan list makanan untuknya yang dapat dibelanjakan di 3 toko yang berbeda. Roti, Makanan manis, makanan berat dan minuman.
Tania tak berpuasa. Namun ia selalu perhatian dan peduli padaku yang puasa. Dia memiliki jiwa toleransi yang begitu tulus. Indonesia, negara ini memanglah cerminan negara toleransi seperti pertemanan kami. Meski, dalam beberapa kondisi, tidak sepenuhnya damai dan toleran.
Di bulan puasa, aku tak absen kerja dan olahraga. Senangnya olahraga sore atau malam usai berbuka. Namun juga tak absen baca Quran, karena aku punya hobi khatam Quran di bulan Ramadhan. Membaca Quran sampai tamat dan biasanya aku menamatkannya pada 15 puasa. Meski sebenarnya aku melakukannya bukan karena aku rajin ibadah, melainkan kebiasaan yang telah dipelihara sejak kecil.
Suatu ketika nenekku bilang sebelum mati, biar kusaksikan kamu khatam Quran dulu, paling tidak 7 kali. Sejak saat itulah karena takut nenekku meninggal, sebelum melihat aku khatam Quran 7 kali, aku sering mengaji untuk menunggu saat di mana aku selalu memberitahunya bahwa aku Khatam Quran, lagi dan lagi. Meski sudah lebih dari 7 kali sebagaimana yang dimintanya dulu.
__ADS_1
Menariknya bulan puasa ini di masa Corona, aku tak membaca Quran sendirian. Ada Tania yang menemani, seperti pagi ini. Dari sebelah kamarku, dapat kudengar Tania mengumandangkan sutra Buddhis, karena ia baru saja mengeksplorasi keingintahuannya soal agama Buddha. Sesekali terdengar bunyi lonceng. Sementara dari kamarku, ayat-ayat Quran ikut beriringan dengan ayat-ayat yang dibacakannya.
Darinya aku belajar banyak. Tania contoh yang sempurna bagiku kalau bicara soal toleransi. Kami berdua yang begitu berbeda, satu Aceh, satu Chinese, tinggal serumah. Iringan ayat-ayat yang kami bacakan saling bertoleransi satu sama lain seperti hati kami dalam mencintai. Setelah sama-sama ibadah, terkadang kami berkumpul di ruang tamu, menonton TV bareng. Kami masih suka mengikuti update berita Corona di TV. Melihat perkembangan kasus di Jakarta dan juga kota-kota lainnya.
Indonesia tak terkecuali. Hantaman badai Corona tak tanggung-tanggung. Pemerintah mengeluarkan peraturan baru, yaitu larangan mudik. Sebentar lagi lebaran, perantau dari berbagai belahan kota atau daerah mana pun di Indonesia, akan berjuang mati-matian untuk bisa pulang ke kampung halaman. Ada yang bertahun-tahun tinggal di rantau, bekerja mengumpulkan uang untuk menafkahi keluarga, sebagian ditabung untuk membeli tiket lebaran demi berkumpul bersama anak, istri serta orang tua.
Peraturan larangan mudik terlihat kejam. Namun pemerintah harus menekan laju penyebaran Corona sebelum terlambat. Akan sangat sulit menanganinya jika Covid-19 tersebar ke berbagai daerah di Indonesia. Apalagi penduduk Indonesia yang jumlahnya mencapai 271 juta jiwa. Rumah sakit akan sesak, sementara persiapan pemerintah belum memadai. Jadi, peraturan larangan mudik, harus dikeluarkan oleh pemerintah.
Alasan lainnya, tentu saja, kita tidak ingin orang-orang kesayangan kita di kampung terkena virus yang kita bawa. Tentu saja tidak ada yang tahu, bahkan banyak orang tidak menyadari, karena keacuhan kita pada kondisi, malah menyebabkan kondisi sulit pada keluarga yang dicinta.
"Hallo mak" sapaku.
"Lagi apa? udah makan?" dua kalimat yang tak akan pernah absen ditanyakan dalam semua percakapan kami via telpon.
Seperti biasa kami berdua akan memberi kabar dan update kehidupan masing-masing. Ibu begitu bersemangat menceritakan kemeriahan bulan ramadhan di sana. Ia menyebutkan semua jajanan kue buka puasa favoritku yang dijual tiap sore di dekat rumah kami.
"Mamak beli Dadar Gulung Srikaya kemarin, tapi cuma beli beberapa saja. Kamu tidak ada, itu kue favoritmu. Rasanya tidak enak, makan tanpamu" jelas ibu dengan suara yang tak terlalu bersemangat sebagaimana ia membuka percakapan kami tadi. Mulutku bergerak-gerak ingin memberitahunya. Bahwa, bukan hanya PSBB yang diperpanjang oleh pemerintah, tetapi rindu ini juga akan berlangsung panjang menunggu waktunya tiba.
__ADS_1
"Aku tidak bisa pulang mak" akhirnya keluar juga dari mulutku.
"Kenapa?" tanyanya sedih.
"Pemerintah baru mengeluarkan peraturan larangan mudik. Semua penerbangan dihentikan. Jadi aku tidak bisa pulang ke Aceh dan berkumpul lebaran ini" jelasku.
"Ya sudah. Tunggu setelah lebaran. Sakit kaki mamak makin parah. Lukanya tidak kering dan mulai menjalar" kata-kata dari ibuku itu membuatku tertegun dan begitu perih. Aku sudah mengirim uang tiap bulan untuk pengobatannya. Ia terkena darah gula, meskipun jenis kering yang awalnya terlihat tak terlalu berbahaya, jadi parah sekarang.
"Apa kata dokter?" tanyaku lgi.
"Dokter bilang, kalau tidak membaik juga harus diamputasi jari-jarinya" ia berkata begitu ringan. Sementara hatiku sesak. Aku terisak.
"Hiks...mhm....hiks...aku tidak bisa di sana bahkan saat dirimu sakit seperti ini" kataku di antara tangisku.
"Jangan nangis, mak akan baik-baik saja. Ada adek yang menjaga di sini. Yang penting kamu jaga dirimu di sana" ibuku jauh lebih kuat dariku kalau bicara menghadapi rasa sakit dan luka.
Aku yang rapuh, kalau keluarga sedang punya masalah seperti ini. Ditambah perjuangan hubunganku di ambang putus dengan pertengkaran yang terus datang. Ini akan menjadi ramadhan dan lebaran yang berat.
__ADS_1