
Malam berlangsung singkat dan tak mengenal kata sepakat. Aku berharap ada perpanjangan waktu saat kami hanya berdua saja. Tetapi aku tahu itu tidak mungkin. Jam 3 pagi saat kami berdua masih belum bisa tidur sama sekali. Aku merebahkan kepalaku di pangkuannya. Dia sudah menangis banyak malam ini. Sedih dengan perpisahan yang dibayangkannya.
"Apa sebaiknya kita tidur? Tinggal beberapa jam dan kita harus ke bandara setelah itu" kataku dengan lembut.
"Emang kamu bisa tidur?" tanyanya.
"Nggak yakin sih" jawabku.
"Tadi katanya mau pakai nail polish. Jadi nggak?" loh kok dia ingat di saat seperti ini.
"Iya, tapi malas" jawabku tak beranjak di pangkuannya.
"Sini aku yang warnai".
"Emang kamu bisa?" aku tidak percaya dia bisa mewarnai kuku.
Ia bangun dari tempat tidur dan berjalan mencari kotak make up. Sebagian besar barang memang sudah kupacking biar tidak buru-buru. Ia tahu betul di mana posisi aku meletakkan tas make-upku itu.
"Mau warna apa?" tanyanya lagi.
"Pink" balasku cepat.
Ia kembali ke atas kasur, lengkap dengan kapas. Menciumi wajahku dan kemudian mulai mewarnai kukuku satu persatu. Rasa tak percaya melihat ia dapat melakukannya dengan begitu rapi. Bahkan lebih rapi dari yang kulakukan.
"Aku akan mengulang dua kali dan nanti akan jauh lebih bagus hasilnya" katanya lagi.
Aku menggeleng kepala seolah tak percaya. Apa sih yang tidak bisa dilakukannya, pikirku. Ia dapat memasak dengan baik, membersihkan rumah, mencuci kain, menjemur, mencuci piring dan lainnya. Luky adalah lelaki impian. Pelan-pelan mataku mulai mengantuk. Luky memegang tanganku dan meletakkan telapak tanganku di atas telapak tangannya.
"Jangan tidur, sampai ini kering. Kalau tidak, besok akan kelihatan jelek" Aku mengangguk dengan mata yang sayu.
__ADS_1
Jika bisa kutahan mataku menjelang subuh ini, maka akan kubiarkan ia tetap terbelalak memandang wajahnya. Lekat-lekat, dengan tanganku yang terus mendarat di tubuhnya. Aku jatuh tertidur dalam pelukannya yang hangat. Tempat ternyaman di dunia, adalah di lengannya. Itu adalah tidur yang indah, namun juga sedih karena hanya berlangsung 3 jam saja.
Kami bangun dalam keadaan terhuyung. Betapa tubuh masih meminta kasur. Saatnya mandi, melanjutkan packing dan bersih-bersih rumah sedikit lagi sebelum menyerahkan kunci kepada landlord. Alif tiba tak lama kemudian. Ia sudah bilang mau mengantar kami ke bandara dan ia ikut membantu kami melanjutkan packing dan bersih-bersih rumah.
"Oh ****!" Lucky berseru. Membuat aku dan Alif terperanjat.
"What happen?" tanyaku.
"Honey, mereka batalin penerbanganku" Luky berkata panik, sambil kemudian menelpon seseorang. Mungkin perusahaan penerbangan untuk mengecek informasi.
Aku dan Alif tak dapat melakukan banyak. Aku hanya mencoba menyentuh bahunya. Takut berkata-kata karena dapat membuatnya bertambah panik di kondisi ini. Alif melanjutkan menyimpan beberapa piring di dalam rak. Mengumpulkan makanan-makanan di dalam kulkas untuk dibawa pulang ke apartementnya. Luky menghempas dirinya di atas sofa. Marah, sedih, panik, kecewa, semua terbaca dari wajahnya. Aku mengusap kepalanya, masih tanpa berkata-kata.
"This is can't happen. Why?" Ia terlihat begitu frustasi.
"Mereka bilang apa di emailmu?" tanyaku.
"Covid, that's the reason" katanya pendek.
"Mereka tidak bilang kapan. Mereka bilang sedang mencari jadwal lain dan tidak ada satu pun yang mengangkat telponku".
Aku memeluknya. Kini, keresahan dan kesedihannya semakin beralasan. Firasatnya memang kuat. Karena kalau penerbangannya dibatalkan, besar kemungkinan dia bakal stuck di Estonia, di tempat yang bukan negaranya, dan tanpa aku di sisinya. Hampir 1 jam kami semua berada dalam kondisi terombang-ambing ini. Terkait perasaan dan pikiran kami. Namun, kami tidak bisa lebih lama, harus mengatakan selamat tinggal segera pada apartemen kami ini. Waktunya gerak ke bandara. Solusinya untuk Luky adalah tinggal di apartement Alif sementara sampai mendapatkan jadwal penerbangan berikutnya. Aku tahu sulit baginya tentunya. Apalagi aku tidak di sana saat ia mengalami ini.
"Aku percaya, jalan segera terbuka. Kamu akan dapat terbang segera" Kugenggam erat tangannya dan kucium pipinya.
"Aku juga berharap begitu" ia balas menggenggam erat tanganku.
Hatiku berpacu bersama taksi yang melaju ke bandara. Tak ingin kulepas tangan ini. Semakin dekat dengan bandara, semakin erat ingin kudekap tangan dan tubuhnya. Bandara mulai terlihat. Aku tahu ini saatnya. Leaving on the jet plan, hatiku berdentum dalam rasa yang paling perih. Luky menemaniku berbaris di depan loket check in. Sementara Alif bersedia menjaga barang-barang kami lainnya di waiting room bandara.
Antrian lumayan panjang, meski bandara ini tak sesibuk biasanya. Kabar yang kami dengar, 2 penumpang kemarin positif Corona di bandara ini. Aku berpikir, orang-orang yang berbaris mungkin di antaranya juga punya perasaan gelisah untuk terbang di kondisi ini, sama sepertiku. Kami menyelesaikan proses check in tak lama kemudian. Luky tidak sedikitpun melepaskan genggaman tanganku. Hanya ketika ia harus mengambil koper dan meletakkannya di timbangan, lalu membiarkannya berjalan melalui mesin pemeriksaan.
__ADS_1
"We will be there soon. Wait for us" pesan tertulis di layar ponselku.
Alin juga mengirimkan fotonya bersama Manu di dalam mobil. Aku menunjukkan pesan pada Luky.
"Kupikir dia tidak datang" kata Luky.
"Aku juga berpikir begitu, karena dia bilang tidak pasti bisa datang" tambahku.
"Yuk tunggu di sana bareng Alif" ajak Luky. Aku mengangguk dan mengikutinya. Ia berpaling lagi ke arahku dan mengecup bibirku.
"Gimana? aman?" tanya Alif saat kami menghampirinya.
"Aman, udah beres check in. Koper juga gak overweight syukurnya" jawabku.
"Alin mau ke sini juga" Luky memberitahu Alif.
"Oh ok, kupikir cuma aku yang bisa. Eh Vashla, Tim Estonesia pada heboh tuh di group. Titip salam, mereka tidak bisa antar kamu" Alif menunjukkan layar HP ke wajahku.
"Iya, kan dari semalam mereka udah bilang" kataku lagi.
Alif kembali sibuk dengan HPnya. Aku melihat mata Luky, kini penuh kilatan air lagi. Kupeluk ia dan kuajak berdansa kecil.
Kiss me and smile for me, hold me like you never let me go. Cause I'm living on the jet plan, don't know when I will be back again, oh beb I hate to go....
Aku bernyanyi lirih di telinganya dan ia menangis terisak di pelukanku. Perih, ia melepaskan pelukannya, dan kemudian membuka baju Silky Cashmere hitam dari badannya. Itu adalah baju kesayangannya, tetapi kenapa ia membukanya. Cuaca dingin di luar bandara. Belum sempat aku bertanya, ia menyodorkan bajunya untukku.
"Ambil baju ini, bawa bersamamu ke Indonesia, dan pakai saat kamu rindu. Tunggu aku di sana, di hari pernikahan kita" katanya di tengah air mata berlinang.
Aku memeluknya dan kini ikut menangis. Duhai lelakiku, rasa haru dan perih menjelang perpisahan sementara ini. Kenapa firasatku ikut mengatakan bahwa perpisahan ini akan berlangsung lama.
__ADS_1
and i don''t know when I will be back again...lirik ini....