
Ini adalah weekend, aku dan Allan berniat menghabiskan waktu bersama. Namun hari ini aku berangkat dari apartement. Biasanya Allan akan menjemputku di kantor atau menjemputku di apartemen. Kukatakan bahwa ia tak perlu jemput hari ini, aku akan datang sendiri ke apartemennya. Aku memang mau menghabiskan malam Sabtuku bersama Luky dan datang untuk menemuinya di malam minggu.
"Vashla, kamu harus banget pergi?" Tanya Luky saat aku lagi berdandan. Dia memang hobinya begitu, setiap kali aku dandan akan berdiri di pintu kamar dan mengajak bicara. Tak jarang alisku miring sebelah setelahnya dan tidak selesai-selesai dengan lukisan yang kupaksakan. Sesungguhnya memang aku tidak pintar dandan. Hanya ingin kelihatan seolah-olah bisa saja, sambil berlatih.
"Ya iyalah, kan semalam jatah kamu. Sekarang jatah pacarku dong," kulayangkan senyum penuh menggoda padanya.
Hampir semalaman kami sibuk main kartu Durak dan aku memenangkan hampir seluruh game kami. Aku bangga mengalahkan lelaki Jerman ini dalam memainkan permainan kartu Rusia ini. Kebersamaan kami penuh tawa dan seringnya kalau sudah main memang kami lupa diri. Makanya aku memilih bermain di waktu weekend atau saat sedang tidak perlu ke kantor.
"Gimana kalau di rumah aja?" Aku berhenti make up dan melihat ke arahnya. Dengan raut wajah tanda tanya, aku menunggu. Detik-detik berlalu dan kami hanya saling melihat. Kucoba baca apa yang tersirat di wajahnya.
"Entah kenapa, hatiku nggak ikhlas kamu pergi bertemu Allan" katanya dengan suara yang rendah.
Aku bergeming. Tidak tahu harus berkata apa, dan perasaan apa yang saat ini dirasakan hatiku sendiri. Seperti apa sebenarnya perasaanku terhadap Luky dan seperti apa perasaan Luky terhadap aku. Hubungan ini terlihat rumit saat ini. Ada batas-batas persahabatan yang sepertinya kami tabrak. Luky berjalan ke arahku, mendekat dan begitu dekat. Wajah kami saling berhadapan. Aku dapat merasakan nafasnya di wajahku karena terlalu dekat. Ia menciumku begitu lembut. Sesaat aku lupa pada status hubungan kami. Kubiarkan dan kunikmati.
"Aku harus pergi, sorry"! Aku mengambil tasku dan berjalan ke pintu untuk mengenakan sepatuku. Luky kembali berdiri dan memandangiku memakai sepatu.
Aku gelisah, karena tidak tahu harus bagaimana dengan keadaan ini. Mencoba menyadarkan diri bahwa aku sudah punya pacar, yang saat ini sedang menantiku. Dan Luky, dia adalah temanku sendiri, betapa sulit dan rumit kondisi hati ini.
"Bagaimana kalau tidak pergi?" oh please, aku sungguh ingin ia berhenti menahanku.
"Luky, I have a boyfriend and you are my friend. Dulu aku pernah berusaha untuk melihatmu bukan hanya sebagai teman. Namun sekarang sulit rasanya saat aku sendiri sudah punya pacar" kata-kataku kedengaran mantap, tetapi hati dipenuhi ragu.
"Aku juga tidak tahu hatiku. Melihatmu bersama yang lain, berat rasanya," terlihat ia masih mau melanjutkan kata-katanya, namun aku harus pergi segera.
__ADS_1
Aku menutup pintu dan meninggalkannya yang masih berdiri di sana. Masuk ke dalam taksi dengan hati yang berdentum riuh. Aku tidak tahu bagaimana mendeskripsikan perasaanku. Apa yang harus kulakukan. Aku berada di antara Allan & Luky, kini aku mempertanyakan hatiku. Lebih cenderung ke Allan atau Luky. Tapi Luky sahabatku, aku kembali mengingatkan diri sendiri. Luky melewati dimensi persahabatan itu kini.
Apakah ini perasaan yang benar? Mungkin kami hanya bingung, karena terlalu banyak menghabiskan waktu bersama dan tinggal bersama. Jadi mungkin ini hanya kebingungan sementara. Taksi melaju meninggalkan area apartemen kami. Kuperhatikan jalan menuju ke hutan dan sungai di pinggir jalan yang biasa kami lalui. Menenangkan setiap kali melewati jalan ini karena ada banyak kenangan bersama Luky, pun bersama Allan.
Sopir taxi memberitahu bahwa aku sudah sampai di tujuan. Aku telah melamun sepanjang perjalanan. Setelah menyerahkan uang cash kepada sopir, dan mengucapkan terima kasih, aku menyadarkan diri lagi bahwa cintaku ada di apartemen yang saat ini di hadapanku. Lupakan, bahwa Luky adalah temanku. Tak perlu menambah rumit keadaan.
"Hi, how are you?" Allan langsung menciumku di pintu masuk, tanpa menunggu jawabanku. Untuk beberapa saat, aku membiarkannya mengecup bibirku, sambil aku mencoba merasakannya. Aku yang berusaha melupakan ciuman Luky sebelumnya.
"You good?" tanyanya usai menciumku.
"Yes. I'm good?" Aku langsung masuk, melepaskan jaketku dan duduk di sofanya. Mengupayakan diriku senyaman mungkin dan tidak terlihat gugup.
Kini, aku mengerti betul perasaan selingkuh itu. Meski aku tak bermaksud melakukannya.
"Mau minum wine?" tanyanya sambil berjalan ke kulkas.
Aku membutuhkannya untuk menenangkan diriku. Entah Allan membaca warna air mukaku di bawah temaram cahaya apartemennya.
"Aku masakin kamu omelet" katanya sambil menyodorkanku segelas wine.
"Oh wow. Thank you".
"Aku tau omeletmu yang terbaik. Tapi punyaku juga gak kalah-kalah amatlah. Aku juga siapin beberapa roti Estonia dan saos Salmon yang kamu kasih kemarin".
__ADS_1
"Mhmmm ok, pas banget aku laper".
"Masih mau menu lain nggak?" ia bertanya lagi.
"Emang ada?" Kukira ia hanya masak itu, pun itu sudah banyak.
"Ada dong. Aku masakin ayam goreng favoritmu juga".
"Oh, thank you so much. Kamu tau aja yang lagi laper".
Apa yang terbaik selain memadankan wine dan ayam goreng di tengah cuaca dingin. Aku rindu Ayam gepuk. Tidak ada gepuk, Ayam goreng Estonia pun jadi. Sampai nanti, ketika aku kembali ke Jakarta, akan kumakan sebanyak yang ku mau. Kami melalui malam dengan bahagia. Usai makan, kami menonton film romance Estonia. Lalu tenggelam dalam perayaan cinta kami. Sampai kemudian pagi, nama itu masih di sana dalam hatiku yang dalam, Luky.
"Eh aku mau balik deh kayaknya. Aku berangkat ke kantor dari apartemenku aja," Aku mengubah rencanaku tiba-tiba dan aku tahu Allan tidak akan suka dengan ide ini.
"Kenapa? Kok tiba-tiba. Kan rencananya stay di sini sampai besok. Kan bisa kuantar ke kantor kayak biasa".
"Pengen pulang aja sih. I will see you next weekend okay?"
"Luky?" Dia menatapku marah.
Aku berusaha untuk tidak menjawab dan memutuskan untuk pulang. Saat ini aku juga tidak tahu kenapa hatiku terus memanggil nama Luky. Kusadari, kehadirannya benar-benar telah mengambil porsi yang besar dalam hatiku.
"Don't go!". Allan memegang tanganku begitu erat sampai aku merasa kesakitan.
__ADS_1
"I want to go" Aku bersikeras melepaskan diri. Dia bergerak cepat mendorong tubuhku ke dinding dan menciumiku seperti kesurupan. Aku ketakutan saat dia melakukan ini, seperti bukan Allan yang kukenal.
Aku mendorong tubuhnya sekuat tenagaku dan berlari menuruni tangga. Keluar dari apartemennya dengan hati dipenuhi kesedihan dan kebingungan di waktu yang bersamaan. Aku sengaja melompat ke dalam bus dari halte terdekat. Menyaksikan orang-orang memasuki bus dan kemudian bus perlahan meninggalkan area apartemennya. Aku bersandar di dinding bus. Berulang kali menanyakan diri sendiri. Aku ini kenapa dan Allan kenapa begitu padaku.