
I'm sitting here in a boring room
It's just another rainy Sunday afternoon
I'm wasting my time I got nothing to do
I'm hanging around I'm waiting for you
But nothing ever happens
And I wonder
I'm driving around in my car
I'm driving too fast, I'm driving too far
I'd like to change my point of view
I feel so lonely, I'm waiting for you
But nothing ever happens
And I wonder
I wonder how, I wonder why
Yesterday you told me 'bout the
Blue, blue sky
And all that I can see
Is just a yellow lemon tree
I'm turning my head up and down
I'm turning, turning, turning, turning
And all that I can see
Is just another lemon tree
Sing dah
Dah-dah-dah-dam, dee-dab-dah
Dah-dah-dah-dam, dee-dab-dah
Dab-deedly dah
I'm sitting here, I miss the power
I'd like to go out, taking a shower
But there's a heavy cloud inside my head
__ADS_1
I feel so tired, put myself into bed
Well, nothing ever happens
And I wonder
Isolation is not good for me
Isolation, I don't want to
Sit on a lemon tree
I'm steppin' around in a desert of joy
Maybe anyhow I'll get another toy
And everything will happen
And you wonder
I wonder how, I wonder why
Yesterday you told me 'bout the
Blue, blue sky
And all that I can see
Is just another yellow lemon tree
I'm turning my head up and down
I'm turning, turning, turning, turning
And all that I can see
Is just a yellow lemon tree
And I wonder, wonder
I wonder how, I wonder why
Yesterday you told me 'bout the
Blue, blue sky
And all that I can see
And all that I can see
And all that I can see
Is just a yellow lemon tree
Luky menyanyikan lagu Lemon Tree sampai habis. Bukan yang pertama, dia sudah menyanyikan lagu ini dari sejak awal kami berpisah dan terjebak dalam isolasi masing-masing. Entah sejak kapan, tiba-tiba lagu yang terkenal dinyanyikan oleh artis Fools Garden, Band dari Jerman ini telah menyihirnya begitu dalam. Ia menyanyikannya begitu sering. Terkadang saat kami sedang bertengkar, ia akan merekam suaranya yang menyanyikan habis lirik ini dan mengirimkannya ke whatsapp. Pagi hari pada saat aku bangun, aku akan mendengarkan suaranya.
__ADS_1
Sementara siang ini, ia menyanyikannya langsung, aku tidak perlu mendengar rekaman. Ia bernyanyi di antara rasa sedih dan rasa senang. Sedih karena perpisahan ini, senang karena ia dapat selalu mendengar suaraku setiap kali ia menelpon.
"Yeay.....thank you!" aku memberikan applause yang heboh selesai dia bernyanyi.
"Aku ingin berhenti menyanyikan lagu ini. Mungkin kalau suatu saat kita sudah bersama, aku akan berhenti" katanya usai bernyanyi.
"Don't stop! kita masih bisa bernyanyi, bahkan menambah list lagu lainnya" aku mencoba menghiburnya.
Aku tahu, bernyanyi adalah cara kami saling menghibur selama ini. Memastikan kekuatan emosi kami selalu tersambung dengan baik satu sama lain. Memastikan bahwa kadar cinta kami terus bertambah bahkan melalui lagu-lagu yang kami nyanyikan, serta ungkapan rindu yang kadang kehabisan akan kata-kata.
"By the way, kamu tahu tentang Love is not Tourism nggak?" tanya Luky.
"Nggak. Itu apaan?"
"Love is not tourism adalah gerakan masyarakat yang diprakarsai oleh pasangan-pasangan yang terpisah selama pandemi. Saat ini mereka melakukan kampanye besar-besaran untuk mendesak pemerintah mempertemukan mereka dengan kekasih atau keluarga. Itu berita yang baik untuk kita" penjelasan dari Luky langsung kusambut dengan senyuman mengembang. Itu akan menjadi jalan kita, pikirku.
"Bagaimana kalau kita bergabung dengan mereka?" tanyaku pada Luky.
"Itu rencanaku. Aku mengajakmu ikut serta. Aku akan bergabung dengan group di Jerman dan kamu mencari kontak-kontak di Indonesia untuk memperkuat gerakan dan kampanyenya di sana" usulan Luky langsung kuiyakan.
Setelah telpon darinya, aku berselancar di internet. Mencari semua informasi tentang Love is not Tourism. Gerakan grassroot ini ternyata sudah booming di negara-negara Eropa seperti Italia, Jerman, Austria, Perancis dan lainnya. Bahkan Indonesia juga sudah aktif. Ini gerakan yang sangat bagus demi memperjuangkan binational couple bertemu dan bagaimana reuni keluarga bisa terjadi.
Support yang diberikan tidak hanya informasi dari berbagai negara terkait perkembangan regulasi travel dan sebagainya, namun juga emotional support bagi yang membutuhkannya. Bahkan mereka sudah membuat group facebook di mana pasangan terpisah saling memberi support satu sama lainnya. Tanpa berpikir lagi, aku langsung menceburkan diri ke dalam group facebook. Follow beberapa Instagram Love is not Tourism dari beberapa negara. Lalu memulai kampanye dengan ikut posting di media sosial dengan menggunakan #loveisnottourism dan #loveisessential.
Ini kampanye yang penting untuk kami. Kampanye yang akan memberikan peluang untuk adanya perubahan regulasi yang mempertemukan kami. Kalau di Indonesia hanya dibolehkan yang memiliki Kitas, semoga ada harapan untuk visa penyatuan keluarga bagi yang belum memiliki KITAS atau Kartu Izin Tinggal Terbatas.
Saat sedang membaca kisah pasangan lainnya yang terpisahkan karena pandemi. Pesan dari Tania muncul, ia sudah di lobby. Aku bergegas turun ke lobby untuk menjemputnya. Bahagia, akhirnya aku sudah tak sendiri. Lebih dari seminggu, aku merasa begitu kesepian di tengah kondisi lockdown di Jakarta. Hadirnya Tania benar-benar menjadi obat bagi mentalku saat ini.
"Oi! Tan! yuk!" aku berdiri di gerbang kaca di dekat lift sambil menahan pintu untuk mempersilahkan Tania masuk.
Tania yang terkejut dengan suaraku langsung bergegas bangun dari sofa lobby dan mengikutiku.
"Aku tidak sentuh atau peluk kamu dulu ya. Mau cuci tangan dan ganti baju. Usai itu aja" ia tersenyum di balik maskernya.
"Iya, thanks so much lo kamu mau pindah ke sini sementara" kataku.
"No worries. Aku juga senang. Di rumah aku kesepian. Mama dan Papa kerja terus".
Kami saling melepas senyum seolah begitu lega menemukan satu sama lain setelah cukup lama tidak bertemu fisik. Selama ini cuma kerja online dan hanya saling lihat lewat layar. Lift membawa kami naik ke lantai 17.
"Mau kopi atau teh?" tanyaku saat kami sudah masuk di apartementku.
"Kalau jus gimana?" ia tertawa.
"Oh tenang, ada" jawabku seraya membuka kulkas menunjukkan dua kotak jus.
"Eh beneran ada. Haha padahal becanda, mau deh" ia meletakkan barang-barangnya di kamar yang biasanya ditiduri Mauli. Lalu ke kamar mandi mengganti baju dan mencuci tangannya.
Kami menikmati jus bersama sambil berbagi cerita selama pandemi. Bagaimana pikiran dan hati kami merespon situasi saat ini. Ada banyak anak muda yang mengalami gangguan kesehatan mental. Mereka yang biasanya bertemu atau berkumpul bersama temannya, tidak bisa sebebas itu sekarang. Mereka yang kehilangan keluarga karena Covid-19. Mereka yang menganggur karena kehilangan pekerjaan. Mereka yang bercerai dan mereka yang tak bisa mempertahankan hubungan jarak jauh di tengah ketidakpastian Corona. Seolah, memang lebih mudah menyalahkan Corona, mereka yang seharusnya bertanggung jawab atas segala kondisi yang terjadi di bumi saat ini.
"Btw, aku butuh bantuanmu" kataku kemudian.
"Untuk?" tanyanya sambil mengernyitkan dahinya.
"Love is not tourism" jawabku.
__ADS_1
"Hah! love what?" Tania membelalakkan matanya.
Aku menceritakan padanya terkait Love is not Tourism movement dan membutuhkan bantuannya untuk ikut berkampanye serta menandatangani petisi yang sedang berlangsung di Indonesia. Meminta bantuan lebih banyak orang untuk tanda tangan demi persatuan binational couple.