Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Tentang Surat Di Pesawat


__ADS_3

Hari ini adalah waktunya. Aku sudah berjanji pada diriku dan Luky, bahwa keputusan akan kubuat. Meski telah dan masih dihadapkan pada berbagai pertimbangan. Ada pertimbangan yang besar jika memilih Luky. Sebagaimana orang sering bilang bahwa kalau putus dengan pacar, tidak jadi teman lagi tidak apa-apa. Namun kalau dari teman, lalu pacaran dan kemudian putus biasanya sulit jadi teman kembali.


Berat, mengingat persahabatan 3 tahun yang telah dijalani. Biasanya selalu ada satu sama lain sebagai sahabat. Jika perasaan yang bisa jadi hanya sesaat ini, mengambil semua hal yang telah terbina selama ini, butuh pertimbangan matang. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, bukankah segala sesuatunya selalu layak dicoba? Jika alasanku memilih Luky karena takut persahabatan di antara kami hilang, rasanya kurang tepat. Sementara aku mengingat bagaimana diskusiku dengan mentorku, Alin dan Livi. Semua pertimbangan yang telah kupikirkan dan kulakukan mengarah ke Luky.


Ada satu lagi yang ingin kulakukan. Surat di pesawat yang pernah kutulis di atas langit Istanbul menuju Estonia. Suratku pada semesta tentang jodoh yang kuinginkan. Mari baca sekali lagi, kataku pada diri sendiri.


Kubaca baris demi baris kalimat yang tersusun tak rapi dengan tulisan tanganku. Mulai dari fisik yang kuinginkan, lelaki Eropa berkulit putih, warna bola mata hijau keabu-abuan atau biru, alis lentik, tinggi badan di atas 170 cm dan sebagainya. Lanjut ke hobi dari membaca, traveling, suka berdiskusi, open minded, mau mengalahkan ego sedikit untuk kepentingan bersama terutama menghadapi perbedaan budaya dan agama, menerimaku apa adanya, mencintaiku sepenuhnya dan seterusnya. Lelaki yang kalau berjalan selalu menggandeng tanganku, memelukku dan lainnya. Lelaki yang suka memakai T-Shirt dan sepatu kets. Tak peduli berapa kali kubaca, semua yang kutulis ada di Luky. Baiklah, jelas sudah dari semua list yang kutulis di suratku, semuanya ada di Luky. Aku tahu, apa yang harus kulakukan berikutnya.


"Hey, mau nongkrong di Tower TV nggak hari ini?" tanyaku pada Luky.


Aku berpikir akan lebih baik memberitahunya di sana, bahwa hatiku memilihnya. Namun, aku juga ingin membuat kesepakatan-kesepakatan dengannya demi melindungi persahabatan yang telah terbina.


"Good idea," sahutnya cepat.


"Apa kita sekalian piknik?" Tanyaku lagi.


"Piknik, sounds good. Hey mungkin kita bisa bertemu Elk".


"Elk?" Aku tidak tahu apa yang dimaksudnya.


"Iya, binatang sejenis Rusa yang tinggal di hutan. Namun 4 sampai 5 kali lebih besar dari Rusa. Berat mereka bisa mencapai sampai 700 kilo" jelas Luky.


"Oh wow. Mereka bahaya nggak?".

__ADS_1


"Tidak, jika kamu tidak mengganggunya. Cukup jaga jarak dan perhatikan mereka. Mungkin kita bisa beruntung dan bertemu mereka hari ini" Luky terlihat begitu bersemangat.


Aku tidak tahu dari mana dia mendapat ide tentang Elk ini dan percaya bahwa mereka juga ada di hutan Estonia dekat sini. Sebelumnya ia pernah bertemu mereka beberapa kali, itu yang membuatnya ingin melihat mereka juga di sini. Luky selalu menyukai petualangan. Baginya hutan adalah teman. Binatang adalah sesuatu yang begitu indah. Ia mengagumi binatang dan pohon-pohon. Selalu memiliki rasa penasaran yang besar jika berbicara tentang mereka.


Namun, rencana ke hutan kan bukan untuk mendiskusikan pohon dan binatang, pikirku. Apalagi tentang Elk yang belum pernah kulihat seumur hidupku. Aku hanya pernah melihat Rusa, itu saja. Tapi mungkin bukan ide yang buruk, melihat Elk sambil menyatakan cinta. What an extraordinary plan.


"Mau kumasakin sesuatu juga gak?" Tanya Luky lagi.


"Mau duduk di mana? kan lagi banyak air, salju-salju meleleh".


"Kamu lupa? Kan ada Gazebo di dekat sungai. Ada jembatan juga. Bagaimana kalau duduk di jembatan?".


"Ah iya, kok aku bisa lupa, setuju, bawa makanan sekalian kalau gitu".


Kami berjalan di atas jembatan sambil mengambil beberapa foto. Lalu membentang kain di tengah jembatan. Jarang orang lalu lalang di jalan ini. Ada satu jembatan lagi yang besar yang banyak dilalui orang namun tidak dengan jembatan kayu ini. Kami duduk mengeluarkan gelas dan bersulang untuk minuman hangat di tengah cuaca dingin.


"Kamu ingat nggak, aku pernah cerita soal surat yang kutulis di atas pesawat?" Aku sengaja membuka dengan menguji ingatannya.


"Ingat, itu surat yang kamu tulis sebagai permintaanmu pada semesta, tentang jodoh yang kamu minta".


"Tepat sekali. Kamu tau apa isi surat itu?" tanyaku lagi.


"Nggak banyak sih, cuma kamu pernah bilang kalau kamu menulis tentang lelaki Eropa yang kamu inginkan. Fisiknya, perilakunya dan sebagainya".

__ADS_1


"Oh kamu ingat lumayan banyak. Aku membuka lagi surat itu tadi. Untuk melihat, apakah keputusan yang kubuat adalah keputusan yang tepat".


Luky menyimak dengan baik. Terlihat sekilas ragu di matanya, sekaligus khawatir. Mungkin dia berpikir bahwa aku tak akan memilihnya. Atau bisa jadi dia sedang memikirkan hal lainnya. Aku menarik napas dan tersenyum ke arahnya.


"Lelaki yang pernah kutulis dalam surat untuk semesta itu adalah kamu".


Luky menunjukkan air muka bahagia dan menepis ragu yang sempat datang. Kini ia terlihat lebih percaya diri dari sebelumnya. Ia masih menunggu aku menyelesaikan kalimat-kalimatku.


"Kamu adalah mimpi yang kutulis itu, bukan Allan," lanjutku.


"Kamu yakin? Bukan memilihku karena aku adalah sahabatmu, tapi benar bahwa aku adalah lelaki yang kamu inginkan?" tanyanya kemudian.


"Iya, aku sudah melakukan pertimbangan yang matang dan juga kutanyakan diriku berulang kali untuk ini. Aku memilih kamu karena kamu yang kuinginkan bukan karena kita adalah sahabat," lanjutku.


Luky memelukku dengan begitu bahagia. Ia menciumi seluruh wajahku dan kemudian membelai kepalaku sambil tetap memeluk erat tubuhku. Dapat kulihat matanya yang berbinar-binar bahagia. Seolah ia kehabisan kata-kata yang ingin diucapkannya mataku. Lama, kami berdua tenggelam dalam perasaan bahagia. Persahabatan yang erat itu kini telah menuju hakikat yang lebih tinggi.


"Terima kasih Vashla, Namun apapun sebenarnya keputusan dan pilihanmu, aku tetap memilihmu," lanjut Luky sambil kemudian melepaskan pelukannya.


"Maksudnya?" aku tak paham, karena sekarang lagi membicarakan tentang pilihanku bukan pilihannya.


"Seandainya pun kamu memilih Allan bukan aku, maka aku tetap memilihmu. Baik sebagai sahabat juga sebagai perempuan yang kucintai," jelasnya.


Aku terharu mendengarnya. Bagaimana bisa ia mengatakan tetap memilihku sebagai perempuan yang dicintainya meskipun ia bukan orang yang kupilih. Kalau alasannya tetap memilihku sebagai sahabat, tentu aku mengerti karena ia ingin menjaga persahabatan ini dengan baik.

__ADS_1


Aku memeluknya. Kali ini, akulah yang tak ingin melepaskannya. Luky, lelaki yang kutulis dalam surat di atas pesawat. Ia juga memiliki syarat dalam pertimbangan besar hubungan yang harus kupertahankan saat cinta dan **** tak hanya menjadi gairah semata. Ia juga tiga jenis cinta yang kualami dan kuingini. Meski secara materi, ia tak memiliki banyak. Ia juga kadar cinta yang telah kuukur baik saar bersama atau tak bersama. Aku selalu ingin menjaganya. Luky, adalah jawaban semesta atas surat yang kutulis di pesawat.


__ADS_2