Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Genk Gepuk yang Tercerai


__ADS_3

Dalam hidup, kita tidak pernah tahu, apa harga yang kadang harus kita bayar saat memutuskan sesuatu karena menuruti ego diri. Berlaku hal yang sama denganku, yang serakah dan tak mau menghadapi kenyataan. Melakukan sesuatu, dan menyepelekan resiko-resiko di kemudian hari. Aku mendapatkan pesan balasan dari Livi dan Mauli, bahwa mereka akan tiba di Jakarta dalam dua hari. Akhirnya aku menunda untuk memberitahukan mereka via telpon terkait status hubunganku dengan Vavan.


"Aku punya berita penting untuk kalian berdua" kataku via telpon saat kami bertiga sedang video call.


"Aku juga punya sesuatu yang penting" kata Livi.


"Wah, aku penasaran, berita penting apa itu?" Mauli terlihat tidak sabar.


"Nanti saja kalau udah ketemu. Hati-hati di jalan kalian" kataku mengakhiri telpon kami.


Dua hari menunggu mereka tiba di Jakarta terasa lama. Tania kembali ke rumahnya dan ia bilang bahwa sangat menikmati kebersamaan kami di apartement saat lockdown terjadi. Aku membalas rasa terima kasihku karena dia telah mau menemaniku saat masa-masa lockdown dan hatiku yang berkabung setelah putus. Di antara rasa excited, menyambut genk gepuk kembali di Jakarta, ada rasa hampa saat rindu menyapa dan hatiku memanggil nama Luky. Vavan belum mampu menggantikan Luky di hatiku. Dentuman jantungku masih untuk Luky. Desiran darahku saat sedang mengingat Luky tak sama saat aku mengingat Vavan.


Mungkin aku telah membuat keputusan yang salah. Tetapi masih saja mengabaikan suara-suara dalam hatiku ini. Membayangkan, apa yang akan dikatakan Livi dan Mauli. Apakah mereka akan ada di pihakku dalam hal ini. Apakah mereka akan mendukung keputusan yang baru saja kubuat.


Aku bersiap menyambut mereka di apartemen kami. Kumasakkan nasi, kuorder Ayam Gepuk yang banyak, kugoreng terong crispy, tempe dan tahu. Sebentar lagi mereka tiba, dan aku ingin mereka mengobati kerinduan kami dengan makan bersama seperti yang biasanya kami lakukan.


"Udah sampai mana?" aku menelpon mereka berdua


"5 menit lagi sampai gerbang" jawab Mauli.


"Aku mungkin sekitar 10 menit lagi" jawab Livi.

__ADS_1


"Sip, saling tunggu aja kalian di lobby ya. Biar sekalian kujemput ke bawah" kataku lagi.


Makanan sudah siap, rumah sudah bersih dan harum, rapi di setiap sudut. Apartemen mungil ini memang tak banyak ruang, namun kami telah terbiasa dengan semua kondisi ini. Karena hidup di Jakarta mahal, patungan tempat tinggal dan makan adalah hal yang paling membantu untuk bertahan hidup. Aku mengunci pintu apartemen dan menuju lift. Kupikir, lebih baik menunggu mereka saja di lobby. Lagian kami memiliki lobby yang nyaman. Ada sofa besar yang bisa diduduki, meski selama pandemi, sofa jadi di sekat-sekat biar setiap orang tidak terlalu dekat satu sama lain.


"Mbak!" security menyapa ramah seperti biasa saat aku keluar dari lift. Meski wajahku ditutup masker, dia hapal betul itu aku. Mungkin juga karena aku tinggal di sini sudah hampir 2 tahun, tentu saja dia hapal.


"Hallo mas" balasku.


Aku menghempaskan diri di atas sofa dan menenggelamkan diri dalam layar Hp. Scroll Instagram, Facebook, balas chat Vavan, yang dipenuhi gambar lope-lope. Masih terasa janggal di hatiku dengan ini semua. Satu Taxi berhenti di Lobby, gadis berkerudung hitam keluar sambil menenteng koper kecil dan dua tas lainnya di kedua tangannya. Jelas kutahu itu Mauli. Aku berdiri dan menghampirinya dengan senyum yang lebar dari wajahku. Meski tertutup masker, senyum itu merekah dan kupeluk tubuhnya erat.


Saat kami masih saling berpelukan, taxi lain mendekat dan berhenti di lobby. Dapat kami lihat gadis Papua kami yang melambai dari balik kaca mobil. Kami berdua, bergegas menghampiri dan memeluk Livi erat saat ia turun. Bertiga, dalam haru dan rindu.


“Cuci tangan, cuci kaki, sekalian mandi dulu kalian ya, abis itu baru kita makan” seprti biasa, aku senang memberi perintah saat kami bertiga sudah tiba di dalam apartement.


Aku tahu mereka berdua memang senang dengan tingkahku yang seperti itu, sedikit mengatur, posesif dan peduli. Mereka sering bilang, tidak apa-apa jomblo, yang penting kita ada yang perhatiin. Mereka menganggapku big sister karena memang aku juga yang paling tua di antara mereka, ditambah kecerewetanku terhadap mereka. Selama mereka merasa senang, aku pikir tak apa. Sebab, jika mereka merasa terganggu, mereka pasti akan menyampaikannya.


Kami menikmati makan siang dengan lahap. Seolah lapar dan rindu teraduk-aduk jadi satu. Tak ada Ayam Gepuk yang tersisa, semuanya ludas. Kami begah kekenyangan dan menghempaskan diri di sofa.


“Jadi cerita nggak sih?” Mauli mengingatkan kami berdua.


Kami memang sengaja menundanya sampai makan selesai. Biar konsentrasi sepenuhnya terpusatkan pada lezatnya makanan. Aku dan Livi saling melihat dan tersenyum. Kulihat wajah Livi bersemu, bergerak-gerak ingin menyampaikan berita bahagianya.

__ADS_1


“Aku dulu!” kata Livi cepat.


Kami mendekat, dan menggenggam tangannya, bersiap mendengarkan apa itu berita bahagia dari Livi. Apakah ia dijodohkan di kampung halamannya? Dan ternyata lelaki yang dijodohkan adalah lelaki yang menjadi impiannya? Atau ia mendapat hadiah tertentu? Lolos beasiswa? Atau apakah itu? Hatiku tak sabar mendengarnya.


“I’m in love!” katanya singkat. Matanya berbinar bahagia.


“Oh wow, siapa lelaki yang telah mencuri hati Livi kami?” Tanyaku tak sabar.


“Oh My God! Tell us more!” Mauli dengan suara besarnya tak kalah excited menunggu jawaban Livi.


“Vavan!” Livi bersemu saat menyebut namanya.


Mauli bangun dari sofa dan menari kegirangan. Ia mengekspresikan kebahagiaan terhadap Livi. Aku sungguh iri, rasanya ingin kulakukan hal yang sama. Hatiku bergemuruh, kutahu petir menyambar-nyambar di sana dan segera mungkin badai hujan akan tiba.


“Kok kamu diam aja?” Mauli melihat ke arahku dengan penuh tanda tanya.


“Mhmmmm?” Kali ini Livi gelisah melihat responku.


Aku memiliki kegelisahan yang sama, bagaimana menjelaskan semua. Bahwa ego yang kuturuti beberapa waktu lalu adalah hal yang akan menyakiti Livi saat ini.


“Hal sebelumnya yang mau kuceritakan ke kalian…mhmm…”Aku menelan ludah sekaligus menarik nafasku dalam. Kulihat wajah mereka menunggu jawaban dariku.

__ADS_1


“Aku baru jadian dengan Vavan 3 hari lalu!” Suaraku tercekat, tak sanggup kuteruskan kalimat berikutnya.


Kulihat mata Livi berkaca-kaca, kupandangi Mauli yang kehilangan semangatnya yang sebelumnya menggebu-gebu. Kami bertiga terdiam, seolah mencari jawaban dalam diri kami masing-masing. Setelah beberapa saat dalam diam, Livi beranjak. Ia masuk ke kamar, mengambil HP dan tasnya lalu keluar apartemen. Aku tidak pernah melihat Livi seterluka itu sebelumnya, tidak di hadapanku. Melihat kondisi dia seperti itu, hatiku hancur berkeping-keping. Oh Tuhan, apa yang kulakukan pada teman kesayanganku. Bagaimana bisa aku tidak peka pada apa yang dirasakannya. Aku tidak tahu harus berbuat apa.


__ADS_2