Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Istanbul & Rindu yang Memanggil


__ADS_3

Aku menangis sesenggukan melepas Luky. Alin & Manu berdiri dari jarak 2 meter dan tidak memeluk. Menjaga jarak karena kami sudah berada di bandara beberapa waktu sebelum mereka. Apalagi setelah berita ditemukan orang-orang positif Corona di Bandara ini. Alif berdiri dan kemudian juga memelukku. Aku mengatakan see you again pada semua. Memang bukan goodbye dari tujuan perpisahan sementara ini. Meski hati pergi dalam keadaan gelisah. Luky mencium bibirku begitu lama dan melepasku di batas antar.


"I love you and please wait for me" katanya sambil melihat ke mataku.


"I love you too. I will wait for you" balasku.


Ia hanya bisa melihatku dari sana, sebab aku akan melalui pemeriksaan segera. Aku melihat ke arahnya yang terakhir dan memberikan ciumanku jarak jauh. Aku berdiri bersama beberapa orang dalam jarak yang telah ditentukan. Kemudian melepas jaketku, sepatuku, memasukkannya di keranjang tersendiri, begitu pun peralatan elektronikku yang harus dikeluarkan dan diletakkan di kerajang terpisah. Semua keranjang itu harus melalui pemeriksaan bandara.


Ini kebiasaan yang sudah kuulang entah berapa kali dalam hidupku. Sebagaimana di beberapa bandara Eropa lainnya, bandara Tallinn memang cukup ketat prosesnya, bahkan semua benda yang mengandung cairan juga harus dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam plastik terpisah. Aku menghapus sisa air mata yang jatuh. Menabahkan hati, bahwa kami akan segera bersama lagi. Tabah Vashla...tabah, kataku pada diri sendiri.


Kami tidak berhenti saling mengirim pesan sampai aku boarding dan HP harus segera dimatikan. Kuhela nafas berat dan kusandarkan kepada di kursi. Lelah karena kondisi hati yang campur aduk, juga fisik dari energi yang terkuras, belum lagi tidur yang kurang, mengantarkan aku pada tidur tak lama kemudian. Sepanjang penerbangan ke Istanbul, tidurku di antara terbangun dan terjaga. Kota transit yang biasanya kupilih, sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta.


Tidak ada flight langsung dari Tallinn ke Jakarta, semua penerbangan ada kota transit lainnya yang dapat dipilih. Istanbul, seringnya menjadi pilihanku. Udara dingin menerpa wajahku saat keluar dari badan pesawat dan berjalan menuju ruang bandara. Seperti dapat kucium aroma Turkish Delight yang menggoda, meski itu hanya terjadi dalam pikiranku saja. Lapar, itu yang kurasakan. Padahal ada makanan di pesawat sebelumnya.


Kuraba hatiku, ada rindu yang terus memanggil namanya. Perih karena berpisah juga masih bersisa. Kuyakinkan lagi diriku, everything's gonna be alright. Luky akan segera mendapatkan jawaban dari agensi penerbangannya. Ia akan segera bisa pulang ke Jerman. Kuhibur diriku dalam-dalam, bahwa kami akan segera bersama dan dipersatukan dalam pernikahan.


Di dalam toilet, aku memanjatkan harapan itu. Sambil memenuhi panggilan alam yang tentu saja tak mungkin kulewatkan. Kondisi yang begitu wajib dan menentukan kenyamanan aktivitas berikutnya di bandara. Aku memesan makanan dan kopi di salah satu cafe di ruang tunggu bandara setelah dari toilet. Lalu mulai mengotak atik HPku, ingin segera terhubung dengan internet bandara. Meski aku tahu betul, aku sering punya masalah dengan wifi bandara Istanbul, tetap saja, aku berharap ada keajaiban.

__ADS_1


Semoga bekerja, batinku. Ini sungguh penting, karena aku ingin mendengar suaranya segera. Rindu di hatiku hanya memanggil namanya dan kuingin dia sekarang. Ujian kerinduanku ternyata dimulai. Internet bandara tidak bekerja di HPku, pun di komputerku. Sialnya, cafe yang kupilih tidak bisa internetnya, sedang ada masalah.


Aku sudah memesan makanan dan kopi di sini, pikirku. Inilah kali pertama aku resah ketika tidak terhubung dengan internet di bandara ini. Biasanya tidak masalah, tanpa internet not a big deal for me, apalagi hanya beberapa jam. Mau pindah ke cafe lain, kepalang nyaman dan jadi malas gerak. Baiklah, akalku bekerja. Cari lelaki yang bisa diminta tolong. Karena aku perempuan, kupikir lelaki adalah target yang tepat untuk minta tolong. Targetku, juga biasanya anak muda kalau terdesak seperti ini. Agak mengeneralisasi sikapku ini, namun seringnya berhasil.


Radarku bekerja, butuh keahlian membaca orang. Kalau memilih orang yang salah, akan ditolak. Berkomunikasi dengan cara yang salah, juga akan ditolak. Menggunakan timing yang salah, juga akan ditolak. Terbayang perkataan mentorku. "Kamu harus bisa membaca orang seperti membaca buku" katanya suatu ketika.


"Baca buku ini" ia menyerahkan buku tipis yang harus kubaca waktu itu.


Seperti biasa, ada tugas menunggu. Kalau bukunya sudah tamat, maka aku harus datang padanya untuk berbagi tentang apa yang telah kupelajari di buku itu. Baik, pakai skill itu. Bahasa tubuh, itu kuncinya. Baca bahasa tubuh seseorang. Mana bahasa tubuh yang berbicara dan mengisyaratkan mudah untuk diminta tolong. Aku mengedarkan pandangan ke pojok kiri. Seorang perempuan dengan earphone, sibuk dengan HPnya. Bahasa tubuh dan isyarat wajah menunjukkan ia sama sekali tidak ingin diusik.


"Apa yang bisa kubantu?" tanya lelaki berkulit coklat, berambut hitam dengan hidung mancung di depanku.


"Apa boleh aku memakai internet dari HPmu? Aku punya masalah dengan koneksi internet di bandara" tanyaku padanya dan tak lupa memasang wajah memelasku.


"Sure. Give me your phone" pintanya.


Aku mengulurkan HPku dan kulihat ia memasukkan password dari hotspotnya. Yes! Teriakku dalam hati. Lelaki itu mengulurkan HPku kembali sambil tersenyum ramah. Aku mengucapkan terima kasih berulang kali untuknya. Tak menunggu lama, aku terhubung dengan nomor Luky.

__ADS_1


"Hi honey, are you good? everything's okay?" Tanya Luky di seberang sana saat aku menelponnya.


"Hi love, all good. Kenapa khawatir begitu?" tanyaku.


"Iya, soalnya aku cek jadwal penerbanganmu, pesawat sudah mendarat dari tadi. Tapi masih belum ada telpon darimu" jelasnya.


"Oh sorry. Aku lumayan lama di toilet tadi. Lalu mencari cafe yang nyaman dan ternyata ada masalah dengan internetnya".


"Trus dapat internet dari mana?".


"Ada dua lelaki muda di pojok. Maksudku di cafe yang sama denganku. Aku meminta tolong agar ia membagikan hotspotnya. Jadi aku bisa menelponmu".


"Oh, baik sekali mereka. Sampaikan terima kasihku untuk mereka ya".


Ia terlihat begitu senang mendengar suaraku. Kami bisa melepas rindu meski hanya melalui suara. Tentu saja aku tidak melakukan panggilan melalui video. Namanya juga pinjam internet orang, tentu aku tahu diri. Aku mengobrol 30 menit dengannya, kedua lelaki itu harus pergi dari cafe ini. Perginya mereka artinya juga perginya jaringan internet yang sedang kupakai ini. Lelaki itu sudah baik, aku sudah bilang akan menggunakan internetnya untuk menelpon dan tidak masalah baginya.


Kami saling mencium virtual satu sama lain. Hati terasa sepi setelah itu. Ah rindu, terlalu cepat datang dan aku tahu tak akan berlalu. Sabarlah duhai hatiku, sampai bertemu kembali dengan cintamu.

__ADS_1


__ADS_2