
Aku menghubungi Allan, setelah beberapa kali Allan menghubungiku mengajak bertemu. Aku selalu menolak dengan berbagai alasan, salah satunya juga alasan sedang butuh waktu menata hati. Kini, akulah yang memulai. Menelponnya, menanyakan kabarnya, mendiskusikan pekerjaanya dan sebagainya sampai aku menyampaikan niatku untuk ingin segera bertemu dengannya.
"Kita ketemu di apartemenku saja ya. Sambil kumasakkan makanan Estonia. Lagian lagi masa Corona begini, tidak aman nongkrong di luar," sarannya kusambut. Meski hatiku mengundang kecemasan di waktu yang bersamaan.
Hal yang wajar, cemas ini datang. Bagaimana kumulai cerita ini. Bahwa kedatanganku ke apartemennya adalah karena aku ingin putus dengannya. Aku pasti sudah gila. Bagaimana kalau dia mengamuk dan meyakitiku. Sementara itu adalah apartemennya, dia memiliki kuasa utuh atas keadaan.
"Tapi aku tidak menginap ya" aku berusaha memberitahunya di awal. Tanda-tanda bahwa kedatanganku memang hanya untuk singgah.
Singgah ini mungkin untuk terakhir kalinya. Aku ingin mengakhiri hubungan ini dengan cara yang baik. Kalau memang hubungan semakin lama menjadi hubungan yang tidak kuinginkan, untuk apa kupertahankan. Aku berjuang merangkai kata. Bukan karena ingin berkilah tentang apa yang sedang kulakukan. Namun lebih bagaimana menyampaikan kenyataan. Ini perkara yang kelihatan mudah namun tak mudah.
Banyak orang memilih menghindari tatap muka, saat kondisi hubungan pelik dan kemudian harus diakhiri. Aku tidak mau melakukannya dengan cara itu. Pelan-pelan menghilang tanpa kabar selamanya. Atau menulis pesan melalui surat demi menghindari murka amarah dan sebagainya. Aku tahu betapa menyakitkannya itu. Dalam kondisi itulah aku pernah dicampakkan dulunya. Termasuk dicampakkan oleh K.
"Kamu yakin nggak mau kutemani?" tanya Luky saat aku bersiap berangkat.
"Tidak, aku harus menyelesaikan ini untuk masa depan kita," lanjutku.
Ia kemudian menciumku, kulihat keberatan dan kecemasan yang besar di wajahnya. Biasanya dia juga melepaskan kepergianku sewaktu kencan dengan Allan di luar atau akan bermalam di apartemennya. Itu sewaktu status masih sebagai sahabat. Sekarang, ia melepasku sebagai sahabat sekaligus pacarnya. Menyaksikan aku berlalu di balik pintu. Kemudian berjalan cepat di belakangku untuk kembali memelukku. Kubiarkan sejenak, dia memelukku dari belakang.
__ADS_1
"Bisakah kamu menelponku segera kalau ada apa-apa?" katanya sambil tak melepaskan pelukannya.
"Jangan khawatir. Apartemennya dia di tengah kota bukan di tempat terpencil. Aku selalu bisa lari kapanpun kalau ada sesuatu". Aku tertawa saat mengatakan ini. Drama rasanya, Allan bagaimana pun adalah pacarku yang sebentar lagi menjadi mantanku. Dia tidak akan menyakitiku.
"Kupastikan aku kembali dalam keadaan baik," lanjutku. Kami saling berhadapan kini dan kucium ia sekali lagi sebelum menuruni tangga.
Taxi melaju meninggalkan apartemen kami. Melewati beberapa gedung apartemen lainnya yang berwarna kuning lembut disapa matahari siang. Pirita selalu indah dengan pemandangannya, pepohonan rapat di sepanjang jalan di sekitar area tempat tinggalku, anggun dan menawan. Hanya kurang dari satu jam, aku tiba di apartemen Allan. Lumayan cepat hari ini, jalanan tak terlalu ramai. Aku gugup.
"Hi, my love" ia memelukku dan mencium bibirku lama di depan pintu. Kemudian kami menaiki tangga ke lantai 2 menuju apartemennya.
"Kamu masak apa aja hari ini?" tanyaku sambil berjalan ke dapurnya. Mencuci tanganku dengan sabun, teringat perkataan Luky untuk selalu melakukannya di masa Corona ini.
Allan menyebutkan beberapa makanan Estonia yang disiapkannya. Kami berdua kemudian menikmatinya. Mungkin lebih tepatnya Allanlah yang menikmati makanan ini. Karena aku sendiri, melayang ke alam pikiranku beriringan dengan kunyahan makanan yang kumakan ini. Usai makan, kami bersantai di sofa, ia memainkan tangannya dengan tanganku. Diwaktu bersamaan aku mulai mengatur nafas dan kata untuk memberitahunya. Ia kemudian melanjutkan sentuhannya ke bagian tubuhku yang lain. Terus menjelajahi seluruh bagian-bagian sensitif dari tubuhku.
"Aku mau memberitahumu sesuatu," kataku kemudian menangkap kedua tangannya. Kugenggam erat dan mata kami bertemu. Dapat kulihat resah di sana, seolah dia membaca sesuatu sejak lama.
"Jangan bilang kalau kamu mau putus denganku," kata-katanya kini terdengar seperti ancaman untukku.
__ADS_1
"Aku tidak bisa meneruskan hubungan ini. Kutemukan hatiku tidak di sini. Setelah menjalani beberapa waktu, aku sadar aku tak pernah menjadi diriku sendiri selama ini. Yang kulakukan hanyalah selalu ingin terlihat tampak sempurna di matamu".
Ia melepaskan genggaman tanganku. Murka dari wajahnya, itulah yang terbaca olehku. Aku tidak pernah melihat level kemarahan yang memuncak setinggi ini sebelumnya. Aku dalam bahaya, pikirku.
"Kamu main-main denganku" kata-kata yang keluar berikutnya dari mulutnya.
"Tidak. Kalau kamu ingat, awal kita memulai hubungan ini, kita sepakat untuk memberi kesempatan mencobanya. Bukan berarti kita siap ke level yang lebih serius. Tidak ada diskusi di antara kita menuju ke sana. Ditambah, aku tidak mengenal semua sisi kamu yang sesungguhnya. Kamu terlalu tertutup untukku. Aku selalu berjuang mencari-cari cara untuk mengenalimu lebih dekat. Tapi aku merasa tak pernah sampai pada tempat itu" Kata-kataku kini diiringi air mata yang berkaca-kaca. Kenapa aku menangis, aku tak tahu.
Ada beban dalam hatiku. Kutemukan diriku juga berbuat tidak adil padanya. Seperti memulai hubunganku dengan Luky justru sebelum mengakhiri hubunganku dengannya secara baik-baik. Kini, aku memutuskannya dengan cara menghakiminya. Kusadari kemudian, aku berlaku kejam dalam hal ini. Terlambatkah untuk meminta maaf? Mengakui memang akulah yang khilaf. Kenapa, apanya yang salah. Aku hanya memilih orang yang dipilih hatiku, apa yang salah dengan itu. Aku mendebat diriku sendiri kini.
Allan berjalan ke arah pintu dan kemudian mengunci pintu apartement. Aku beranjak dari sofa ketakutan. Pada saat itulah aku teringat kata-kataku sendiri saat Luky melepasku di apartemen. Terlintas mungkin aku mati dibunuh oleh mantanku sendiri sebagaimana berita-berita yang kubaca.
"Tidak akan semudah itu. Kamu akan membayarnya" Kini, dia bukan Allan yang kukenal sama sekali. Air mukanya berubah beringas, ia penuh amarah dan mencengkram tubuhku.
Dihempaskannya tubuhku di Sofa, kemudian yang terjadi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengalami kekerasan dalam hubungan. Dia menamparku berulang kali, mencekekku dan menghujam tubuhku berkali-kali dengan kelelakiannya. Aku berpikir inilah hari di mana aku akan mati di tangan lelaki ini.
Suaraku tercekat saat dia mencekekku dan tak peduli berapa kali aku teriak, tak ada lagi suaraku yang terdengar. Aku kurang cepat dalam melawan karena kupikir, ia tidak akan melakukan ini padaku. Terlambat, akan sangat perih hidupku jika harus mati dalam kondisi ini, pikirku. Aku melawan sekuat tenagaku. Tubuh dia terlalu besar untuk dapat kudorong. Aku akan mati segera.
__ADS_1