Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Rasa Cemburu Allan


__ADS_3

Cemburu tanda cinta. Cemburu tanda tak mampu. Cemburu berarti sayang. Cemburu tidak baik. Kita pasti sering mendengar berbagai kalimat tentang rasa cemburu. Apapun terjemahan dari makna di balik rasa cemburu, kini aku mendapati hubunganku dengan Allan dipenuhi rasa ini. Kedatangan Luky telah mencuri semua diskusi yang kami miliki. Kemesraan yang ada di antara aku dan Allan sering diselingi dengan singgungan hadirnya Luky dalam hidupku.


Allan mungkin memenangkan hatiku dalam hubungan kami. Artinya dia sudah berhasil mendapatkanku sebagai pacarnya dan aku pun begitu. Aku mencintainya dan yang kutahu dia memiliki hati yang sama. Namun Allan masih tertutup, ia seperti membangun tembok yang begitu tinggi terhadap dirinya. Misalnya, ia tidak pernah mau datang kalau diundang Alin dan Hanno untuk dinner bersama. Tidak mau bertemu teman-teman Estonesiaku. Bertemu Luky? Tidak pernah, meski Luky mengundangnya untuk menikmati kopi bersama beberapa kali.


Allan seperti menyimpan rahasia besar tentang dirinya. Aku menjalin hubungan dengannya seperti di permukaan. Tak pernah kupahami bagian-bagian terdalamnya yang lain. Dilain sisi mencoba bersabar dan memberikannya waktu, mungkin nanti, aku akan lebih mengenalnya.


"Kenapa kamu nggak mau datang dinner bersama keluarga Estoniaku?" tanyaku suatu ketika.


"Aku tidak merasa perlu, belum saatnya" balasnya ringan.


"Kenapa nggak mau datang ke apartementku lagi, karena Luky? Kan kita bisa kadang-kadang spend waktu bersama sambil nonton film atau main kartu bareng?" tanyaku lagi ketika kami bertemu.


"Aku nggak mau, nggak nyaman dengan Luky. Dia datang dan tinggal bersamamu, aku nggak suka" kata-katanya terdengar ketus.


"Tapi Luky teman dekatku...".


"Stop! Ini sudah yang ke sekian kalinya. Ini kencan kita dan aku sudah muak mendiskusikan nama dia di antara hubungan kita" suaranya meninggi.


Allan keluar dari mobil dan berdiri di luar memandangi sungai yang membentang di hadapan kami. Ini masih kawasan Pirita, dekat dengan tempat tinggalku. Allan hanya mau bertemu di luar, kami menikmati kopi di cafe terdekat dan kemudian sebagian besar waktu kami kebanyakan main di alam seperti ini.


Aku menunggu di mobil, mempertimbangkan apakah keluar menghampirinya, menggenggam tangannya dan mencoba memperbaiki keadaan ini. Atau aku diam saja dulu di mobil, menunggu dia kembali dengan sendirinya. Kalau sudah selesai ngambek nanti juga balik, pikirku.


Aku sesungguhnya memiliki ragu. Apakah Allan benar-benar lelaki yang tepat untukku. Aku tidak terbiasa dengan lelaki yang sangat tertutup seperti dirinya. Meski aku menemukannya di aplikasi kencan online, yang artinya siapa saja dapat menemukannya. Namun rasa tertutup yang dimilikinya terasa berlebihan.

__ADS_1


Ada banyak yang belum kuketahui tentangnya. Seperti ia punya banyak rahasia tentang dirinya. Ia tidak memiliki akun social media, tidak mengizinkan aku mengambil foto kami saat bersama. Dia selalu menolaknya dan tak ingin terlalu terlihat di tempat-tempat publik. Hanya sesekali, dan tempatnya pun atas persetujuannya.


"I'm sorry," aku keluar mobil dan menggenggam tangannya. Menyandarkan kepalaku pada bahunya.


Aku tidak tahu kenapa harus meminta maaf, meski tidak ingin dan aku melakukannya. Aku tidak merasa berbuat salah hanya karena menerima Luky di apartementku. Karena itu apartement yang kusewa dengan uangku sendiri, tak ada campur tangan uangnya. Kenapa aku merasa diatur olehnya. Logikaku berkata demikian, hatiku tetap buta oleh emosi cinta ini.


Ia memandang wajahku, aku pun demikian. Memandang tepat ke dalam matanya dan mencoba menyelam apa yang ada di sana. Ada banyak yang tak terbaca olehku. Ke mana perginya keahlianku dalam membaca orang, aku bertanya pada diri sendiri. Ke mana perginya ilmu komunikasi, bahasa tubuh dari buku-buku yang kubaca. Teori membuktikan memang tak mudah melakukannya. Beberapa gesture memang mudah terbaca. Namun kedalaman mata dan hati kadang sulit diterka. Ah di hadapannya, aku merasa begitu naif kini.


"Let's stop fighting okay?" Ia mengecup bibirku.


"Ok". Jawabku pendek saat dia melepaskan bibirnya dari bibirku


"Lihat sungai ini. Indah dan sepi disini". Ia merapatkan tubuhku ke tubuhnya. Hangat sekali dan aku menikmatinya.


"Are you okay?" Allan pasti membaca ekspresiku seperti orang linglung.


"Yes, just a little bit cold".


"Haha...." dia tertawa.


"Emang ya dasar cewek tropis kamu". Ia mencubit pipiku.


"Mau makan gak, ada restaurant enak dekat sini". Aku mengangguk lemah. Antara lapar dan lelah dengan perasaanku sendiri.

__ADS_1


Kami kembali melewati jalan yang sebenarnya menuju ke apartemenku. Tapi Allan sama sekali tidak mau mampir. Dia hanya akan menurunkan dan menjemputku bahkan di luar area parkir kami. Mungkin sesebal itu ia pada Luky, sampai menghindari untuk tidak bertemu sama sekali. Drama di antara dua lelaki Eropa. Kupikir hanya di film-film saja. Pada kenyataanya, hubungan yang sederhana sekalipun bisa rumit jadinya. Aku yang berpikiran pendek dan biasanya spontan tak mempertimbangkan matang-matang.


**** you and you and you...uuu....I hate your friends and they hate me to. Lagu dari radio yang Allan putarkan.


"Jenius gak yang buat lagu ini. Favoritku nih". Dia memutar volume musiknya lebih besar, dan mulai memukul-mukulkan tangannya di setir seperti bermain drum disana. Terlihat memang dia sangat menikmati lagunya.


"Ini pendatang baru ya?" tanyaku ke dia.


"Mungkin, mirip suara Eminem ya?" tanyanya.


"Mungkin". Jawabku lagi.


Lagu ini memang sedang marak-maraknya diputar di radio-radio Estonia. Mungkin karena masih baru. Aku mengecek youtubenya, memang sudah ada jutaan yang menonton videonya.


"Kita sudah sampai" Allan menepikan mobirnya di area sudut parkir.


"Oh restaurant ini? Aku pernah lewat sih, cuma belum pernah kesini" kataku menyadari restauran di hadapan kami.


Kami menikmati menu Estonia dan memang begitu nikmat rasanya. Untuk sejenak, kami lupa pada semua masalah dan pertengkaran yang baru terjadi. Senyum mengembang di bibir kami berdua.


"Mau tambah lagi wine?" Allan mengangkat botol dan kemudian menuang kembali wine untuk kedua kalinya dalam gelasku.


Kami juga memesan kue coklat kecil sebagai penutup. Meski perut sudah kenyang, aku sengaja tak mau melewatkan rasa manis coklat yang meleleh di mulutku. Coklat dan winter, dua paduan yang sempurna. Kami bersulang untuk hubungan kami yang nano-nano ini. Siapa bilang hubungan yang baru dimulai akan mudah di perjalanannya. Tentu saja banyak cobaan yang datang.

__ADS_1


Ujian akan terus ada, apalagi saat topeng belum terbuka semuanya. Hanya persoalan waktu, saat masing-masing kepribadian terkuak sedikit demi sedikit. Setelah itu, mungkin pertengkaran akan sedikit berkurang. Mungkin. Tetap tidak ada jaminan yang pasti. Hubungan baru dan hubungan yang sudah berlangsung lama, semua menghadapi kondisi yang sama, ketidakpastian.


__ADS_2