Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
10. Tipuan


__ADS_3

"Sabar mas jangan disentuh dulu, ini sudah jadi urusan pihak berwajib." Satpam berusaha menghentikan Bintang yang berusaha menarik Jasad yang tergantung itu.


Dengan penuh penyesalan bintang hanya mampu tersungkur lemas sembari berusaha menguatkan diri sendiri, sejujurnya dia masih tidak percaya bahwa jasad yang menggantung itu adalah Aya.


"Mhh....tolong!.....tolong" sayup sayup terdengar suara dari balik pohon.


Bulu kuduk laki laki berusia 39 tahun itu nampak berdiri "waduh mas denger ga?" Saat menoleh kearah Bintang, dia sudah tidak ada disampingnya "loh mas? Dimana mas?"


Rupanya Bintang lebih dulu pergi mencari sumber suara tersebut.


"AYAA!"


Bintang langsung memeluk erat tubuh gadis yang terkapar di balik pohon itu. Ia menatap wajah Aya dan mengusapnya lembut, tak sadar air mata laki laki bersifat dingin itu turun beberapa kali. Hatinya terasa sangat lega, setidaknya orang yang digantun itu bukan Aya.


"Bin Lo kenapa? Gue dimana?" Ucap Aya dengan pelan.


Mata Aya terperejam, seolah dirinya baru saja bangun dari tidur lama. Tubuhnya terasa lemas dan letih. Dirinya juga tak mengingat kejadian apapun.


"Loh mas kalo pacarnya disini itu yang digantung siapa?"


Dengan berani Bintang menurunkan jasad tersebut. Sejak sentuhan pertama perasaan Bintang sudah tidak nyaman.


"Bangsat! cuma boneka." Bintang membantingnya ke tanah dengan kesal.


Satpam juga ikut berdecak kesal "Waduh usil sekali, bikin orang jantungan."


Bintang meraih tubuh Aya kedalam pangkuan lengannya "Tolong rahasiain yang terjadi hari ini pa."


"Mba nya kenapa mas? Biar saya bantu usut ke pihak sekolah"


Bintang menyodorkan beberapa lembar uang dari dompetnya. Satpam mengerti maksud laki laki itu, ia hanya menganguk tersenyum "Baik mas, aman."


Tanpa basa basi, Bintang menggendong tubuh Aya yang masih lemas menuju ke depan sekolah. "Sabar Ay, kita pulang sekarang"


"(Ternyata Bintang peduli Banget sama gue)"  batin Aya.


Melihat kedatangan Bintang dan temannya, satpam depan nampak berjalan mendekat "Syukur mas akhirnya ketemu."


"Pa, jelasin apa yang baru saya ucapin ke pa satpam ini."


"Siap mas."


Setelah berbicara sesuatu dan memastikan kedua satpam itu mau tutup mulut. Bintang menggas motornya menuju Villa.

__ADS_1


Suasana malam yang hening ditemani pelukan seorang gadis cantik diatas motornya malah membuat laki laki itu termenung. Meskipun sebenarnya, jauh di dalam lubuk hatinya, dia merasa sangat lega dan senang.


Karena lemas, pelukan Aya perlahan melemah "Pegangan yang erat. Ntar Lo jatuh!" Bintang menarik tangan Aya agar memeluknya erat.


"Makasih bin.." bisik Aya.


*****


Perlahan mata Aya terbuka "( gue dimana? Di rumah sakit kah. Tapi sejak kapan ada lampu besar, apa rumah sakit ganti cat jadi warna hitam putih?)" Batin Aya.


Aya menyadari seseorang memegang tangannya. "Bintang?" Aya terperejat kaget.


Merasa terganggu, Bintang bangun dari tidurnya dan mendapati Aya tengah menatap dirinya.


"Lo-lo udah bangun" dengan gugup Bintang melepas tangannya.


"Apa yang terjadi bin? Kenapa gue bisa ada disini?"


"Lo ga inget apa yang terjadi semalem?"


Aya mengerutkan dari, tatapan kosongnya seolah menunjukan ia tengah berusaha mengingat kejadian kemarin malam.


"Bin....gue laper." Ucap Aya dengan polosnya.


Mendengar itu Aya hanya mengangguk kecil, ia bangun dan mengamati sekeliling. Tatapannya tertuju pada cahaya matahari yang keluar dari celah gorden, ia membukanya dan mendapati pemandangan kebun strawberry yang sangat luas dan terasa sejuk.


"Diliat dari posisinya, harusnya ini Villa keluarganya bintang. Berani juga dia bawa gue kesini."


Kini langkahnya tertuju pada lemari besar berwarna hitam di sampingnya "Wih bajunya banyak juga. Tapi kegedean semua."


Gadis itu nampak asik memilih pakaian yang akan dia kenakan. Meskipun pakaian laki laki, tapi Aya tetap merasa senang karena itu adalah pakaian orang yang dia sukai. Membayangkannya saja Aya tersenyum lebar dan tertawa kecil.


"Kalo udah gue tunggu dibawah." Ucap bintang yang tiba tiba ada didepan pintu kamar dan memperhatikan tingkah gadis itu.


Aya terkejut "i-iyaa."


"Arghhhh maluuuu banget." Melihat Bintang pergi, Aya langsung tersungkur dan menggeliat kesana kemari diatas kasur.


*****


Aya berjalan menuruni anak tangga sembari mengeringkan rambutnya yang masih basah. Aroma lezat terbawa oleh angin kering, wanginya menuntun gadis itu menuju ke dapur.


Bukan makanan yang dia jumpai, malah pemandangan yang mengejutkan. Tatapan mata dibuat terbelalak lebar, spontan tangannya pun menutup mulut yang menganga.

__ADS_1


Bagaimana ia tidak kaget, Bintang tengah memasak sup tanpa mengenakan baju, hanya celana panjang hitam bekas kemarin dan sebuah celemek yang menutupi dada bidang pria tersebut.


"(Its a perfect back. Punggungnya lebar dan mulus banget plis. Pelukable banget arghhhh)" batin Aya


Melihat Aya tertegun menatap dirinya, Bintang juga dibuat tertegun menatap pakaian yang dikenakan Aya. Dia hanya mampu menelan Saliva nya keras.


"Lo-lo ngapain diem doang. Duduk!" Bintang menaruh semangkuk sup diatas meja.


Aya berusaha menjernihkan pikirannya "I-iya. Ma-makasih."


Kini mereka duduk berhadapan dan sarapan bersama. Tatapan Bintang tak bisa beralih dari gadis itu, ntah apa yang dia pikirkan.


"Gak ada pakaian lain?"


"Kenapa? Kemeja ini seukuran buat gue"


"Celana panjang gue kan ada. Kenapa ga dipake?"


"Yakali gue pake celana Lo."


Jika laki laki lain mungkin mereka sudah tidak tahan melihat penampilan Aya saat ini. Dia hanya menggunakan kemeja putih yang sedikit transparan dan sebuah celana pendek yang cukup jauh di atas lutut. Jelas selain menunjukkan lekuk tubuhnya yang sangat indah, itu juga menunjukkan kaki jenjangnya yang putih mulus.


"Lo sendiri, pagi pagi gini telanjang. Mo goda gue Lo?" Aya tersenyum kecil


Mendengar pertanyaan Aya, Bintang yang tersenyum miring menaruh sendoknya dan melontarkan tatapan hendak menerkam gadis itu.


"Gerah. Lagian gue rasa kata kata itu lebih cocok buat Lo."


Aya berdecak kesal.


"Ceritain kejadian semalam!"


Segelas air Aya telan sekali teguk, dia nampak berusaha merangkai kata kata untuk menjelaskan kejadian kemarin malam.


"Kejadian kemarin malam emang tiba tiba dan bikin gue takut dikit sih, tapi ya udahlah. Udah kejadian juha"


"Iya gimana, gue kan gak tau. Kejadian kaya gini gak boleh dianggap sepele."


"Hmmm...jadi gue lagi telponan di taman belakang sama Vania. Tiba tiba dari belakang ada yang nyekap gue pake kain yang dikasih obat, gue udah berusaha ngelawan tapi gak bisa. Dari badannya gue rasa dia cowok. Sebelum semuanya gelap, gue liat dia pake jaket hitam yang tebal terus pake helm hitam. Abis itu gue ga inget lagi. Tiba tiba bangun udah gelap dan gue dipangkuan Lo." Aya nampak berusaha mengingat apa yang terjadi.


Bintang mengeriyatkan dahi "Lo lagi ngapain di taman belakang?"


"(Gimana nih, gue harus jujur apa ngga ya abis ketemu sama Awan)" Batin Aya.

__ADS_1


......................


__ADS_2