
Bintang tersenyum mengingat kenangan indah yang masih teringat dengan jelas. Sesekali Bintang menatap meja besar yang ada di dalam pondok, membayangkan setiap orang yang hadir disini tiga tahun lalu kembali duduk disana.
Namun hal itu sudah jadi mustahil.
"Bin, Lo suka strawberry ga?" Tiba tiba Aya sudah berada tepat di belakang Bintang.
"Suk.....Mhh" Aya menyumpal mulut Bintang dengan strawberry. "Hahaha...ENAK KAN?" gadis itu tertawa lepas.
"Gak jelas." Bintang mengeluarkan Strawberry dimulutnya dan berjalan meninggalkan Aya.
Aya mengejar Bintang "Jangan marah dong, kan cuma bercanda. Hehe"
"Gak lucu Ay. Gue gak suka strawberry." Tegas Bintang.
Aya mengerutkan dahi "Kalo Lo gak suka strawberry terus ngapain Lo ngajak gue kesini?"
Bintang terdiam.
"Yaudah yuk pulang aja, kayanya Lo gak nyaman disini." Aya menarik tangan Bintang.
Namun Bintang menahan tangannya.
"Gu-gue lagi pengen ngangin aja. Seengganya gue kesini kan ada yang Lo yang nemenin."
"Beneran nih?"
Bintang beralih menarik tangan Aya, membawanya duduk di atas ayunan. Bintang juga ikut duduk disamping Aya.
"Udah duduk disini aja. Rasain angin dan damainya suasana disini. Lo bakal paham."
Aya hanya duduk dengan patuh disamping Bintang. Sembari mengunyah strawberry yang ia pegang dalam keranjang, Aya sesekali melirik kearah Bintang.
Bintang duduk menyandar di ayunan dengan kepala menengadah keatas dan terpejam.
"(Gue gak peduli nama hubungan kita sekarang apa, selama bisa Deket sama Lo kaya sekarang. Ini udah lebih dari cukup)" batin Aya.
*****
"Eh iya, Lo inget gak tas gue dimana?" Aya teringat bahwa ia pulang tanpa membawa tas pada hari itu.
"Kayanya masih di kelas. Tapi aman lah kan di kunci. Besok juga berangkat lagi" bintang masih memejamkan matanya.
__ADS_1
"Oh yaudah.....ngomong ngomong malam itu, gue masih penasaran siapa yang berani nyekap gue."
Bintang bangun dan menatap Aya "Waktu itu Lo pernah bilang kalo ini bukan yang pertama, emang kapan Lo pernah ngalamin kejadian semacam ini?"
"Emm...udah agak lama sih." Aya sedikit ragu menceritakannya.
"Cerita, gue mau denger." Bintang memelas.
"Emm...ya, itu...kisah lama sih. Pas waktu malam pemilihan ketos, Gue baru balik dari party party kecil sama tim sukses. Pas di lampu merah ada yang lempar batu ke kaca mobil belakang sampe pecah"
Aya terdiam sesaat.
"Terus gimna?"
"Pa Asep kaget langsung turun dari mobil terus ngecek kondisi Gue. Karena posisi gue duduk di belakang jadi punggung gue kena pecahan kaca, terus ngeluarin darah banyak banget. Bekas nya juga masih ada."
Bintang tercengang mendengar cerita seperti itu ternyata pernah dialami gadis seperti Aya. "Tapi Lo gakpapa kan?"
"Iya gue gakpapa. Yang panik sih Pa Asep, langsung telpon ambulans sama polisi. Abis itu juga remang remang gue liat batu itu dibungkus kertas, terus...."
Aya kembali terdiam.
"Terus apa? Kalau cerita jangan dipotong potong coba!" Bintang berdecak kesal.
Dari cara Aya berbicara, Bintang bisa menebak bahwa ini adalah masalah yang membentuk Aya menjadi sosok perempuan dewasa, tegas, berani dan selalu berpikir panjang.
"Menurut Lo siapa yang berani neror Lo selama ini?"
"Siapa lagi? Pasti Celine dan geng nya, secara saingan Gue saat itu yang paling berani ngelakuin hal kaya gini ya cuma Celine."
"Cewek itu? Selama ini Gue udah bersabar dan gak bikin perhitungan ke ja**ng satu ini atas perbuatannya ke Malin. Tapi, kali ini gue gak bisa bersabar lagi."
Bintang mengermas botol ditangannya dengan kuat.
"Celine ga paham bin, dia emang anak manja. Gak usah terlalu ambil pusing dan jangan cari masalah sama dia." Aya memegang tengkurap tangan Bintang.
Bintang pun menatap Aya, tatapan yang tak bisa diartikan. Sekejap hati Bintang merasa damai, rasa amarah yang menyesak dadanya perlahan memudar saat melihat wajah Aya.
"Pertanyaan gue di ruang ganti, mau kapan Lo jawab bin?"
Aya tanpa sadar mengucapkan kalimat yang Aya tahan selama ini.
__ADS_1
"Pertanyaan yang mana?" Bintang selalu saja berusaha mencari alasan "Pulang yu udah siang nih makin panas."
"Bin. Gue serius!" Aya menatap Bintang dengan tulus
Bintang terdiam.
"Bin...." Suara Aya semakin melembut.
Lagi dan lagi. Bintang terdiam tanpa mengucapkan apapun.
Aya sudah merasa muak dengan tingkah Bintang yang seperti ini. Seolah olah perasaan Aya tengah dipermainkan, Bintang selalu saja diam saat dimintai kejelasan.
"Apa sih yang kurang dari gue?"
Bintang hanya melirik Aya sekilas, sebelum kembali menatap tanah dengan seribu bungkamnya.
Raut wajah datar Bintang disertai tatapan yang tak bisa diartikan kali ini membuat Aya sedikit takut. Takut semuanya tak sesuai dengan apa yang Aya harapkan.
"Sorry Ay. Tapi perasaan gue ke Lo gak lebih dari sekedar teman. Selama ini gue diem karena menghargai perasaan Lo."
Benar saja. Aya terdiam mendengar jawaban Bintang. Memang Aya meminta jawaban, tapi Aya benar benar tidak menyangka bahwa jawaban itu yang akan Aya dengar.
Disisi lain Bintang sebenarnya sangat tidak ingin mengucapkan kalimat seperti itu. Aya tidak tahu bahwa Bintang memiliki masalahnya sendiri. Masalah yang menjadi belenggu di dalam hidupnya.
Sementara itu, Aya tetap berusaha tenang.
"Kalau cuma nganggap gue sebagai teman, kenapa Lo perlakuin Gue berbeda? Lo salah disini. Lo bikin gue berharap pada hal yang sebenarnya gak bakal terjadi."
"Harapan itu Lo ciptain sendiri, gue cuma figuran yang Lo jadiin pemeran utama Ay. Nyatanya, gue sendiri jadiin orang lain sebagai pemeran utama dalam hidup gue."
Kalimat itu Bintang ucapkan dengan penuh penekanan. Bagi Aya, kata kata Bintang memberinya petunjuk bahwa ada perempuan lain yang sudah mengisi hatinya.
Dengan menahan sesak di relung dada, Aya memalingkan wajah dan berusaha menahan gumpalan air yang sudah berada di ujung kelopak mata. Sakit bukan main, saat mengetahui orang yang Aya cintai rupanya mencintai orang lain.
"(Maaf Ay. Gue rasa ini yang terbaik buat kita saat ini. Semoga saat tau kebenarannya Lo bersedia menerima Gue kembali)" Batin Bintang.
"Pulang yuk Bin, udah siang nih bener kata Lo makin panas." Aya berucap sembari memaksakan sebuah senyuman kecil.
Bintang heran dengan Aya yang tiba tiba bertingkah normal seolah tak terjadi apapun. Padahal nyatanya Bintang sadar, bahwa Aya hanya sedang berpura pura tegar. Lain hal Bintang juga mengangguki permintaan Aya untuk pulang.
Sepanjang perjalanan pulang, tak ada satupun yang memulai percakapan. Bintang sibuk menyetir sementara Aya sibuk dengan pikirannya sendiri. Memang sesekali Bintang sempat melirik ke arah Aya, memastikan apa yang sedang dilakukan Aya. Namun Jawabannya selalu sama, Aya sedang melamun manatap keluar kaca mobil.
__ADS_1
......................