Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
15. Keributan


__ADS_3

"Alahh, gak usah pura pura bego. Satu sekolah udah pada tau kelakuan busuk Ketua OSIS kita yang terhormat ini ternyata sering gonta ganti Cowo. Emang kalau barang murah sih ditawar berapa aja pasti laku. Hahaha" Tawa Celine dan ucapan pedasnya terus mencecar Aya.


Saat itu tawa kecil dari para siswi yang tengah berada di kantin terdengar seperti tusukan bagi Aya. Aya tidak menyangka orang orang mengira dirinya adalah gadis seperti itu. Apalagi setelah mengabdikan diri bagi sekolah selama dua tahun lamanya, apa tidak ada kesan baik sedikit saja tentang Aya di benak mereka.


Para siswi sendiri meskipun mereka sangat menghormati Aya sebagai Ketua OSIS, Namun dalam hal seperti ini mereka tetap ikut terbawa suasana. Apalagi laki laki yang digosipkan dekat dengan Aya adalah dua laki laki yang menjadi idola para siswi, tentu saja mereka memiliki dendam pribadi terhadap Aya.


Dengan tangan mengepal kuat, Aya susah payah berjalan menghampiri Celine.


"Jaga ucapan Lo Sel, Lo gak tau apa yang bisa gue lakuin."


Ekspresi Aya benar benar tak bisa diungkapkan, wajah datar dengan suara bernada dingin keluar begitu saja dari mulut Aya. Namun posisi Celine yang menguntungkan saat ini tidak membuat Celine merasa takut pada ancaman Aya.


"Basi tau gak ancaman Lo. Apa sih yang bisa Lo lakuinĀ  selain jadi ja*Lang premium di sekolah. Lo tuh gak pantes disini, apalagi jadi ketua OSIS." Gelak tawa Celine dan Rania menggema bersamaan gelak tawa para siswi.


Aya sudah sangat geram dengan ucapan Celine. Tangan Aya melonggar dari kepalan nya, rasanya tangan Aya sudah tidak bisa diam lagi. Ingin sekali rasanya menampar kuat wajah Celine yang sangat mengesalkan itu.


Tiba tiba saja Dimian menerobos kerumunan dan berdiri tepat dihadapan Celine, jarak mereka mungkin hanya 3 cm.


"Jaga mulut lo cumi laut. Lo gak ada hak ngatain Aya." Tegas Dimian dengan tatapan tajam.


Ini adalah kali pertama Aya melihat ekspresi marah Dimian. Selama ini dimata Aya dan para murid lainnya, Dimian adalah sosok laki laki yang ramah dan lembut. Begitu juga Celine, mendengar ucapan Dimian gadis itu hanya tertegun menahan saliva nya.


Disisi lain rupanya Bintang, Awan dan Cakra tengah duduk di kantin luar. Mereka bertiga termasuk Dimian sudah berada di kantin lebih dulu dan menyaksikan keributan antara Celine dan Aya.


Sebelumya ke empat laki laki itu masih duduk diam menyimak keributan di tengah kantin, namun perkataan Celine terlalu berlebihan bagi Dimian. Ini yang memaksanya bangun dan bertindak menolong Aya.


"Gu-gue gak ada urusan sama Lo." Celine terlihat sedikit takut.


"Gak ada urusan sama gue? Urusan Aya, urusan Gue juga."


Mendengar jawaban Dimian, seluruh siswi kembali berbisik bisik. Pernyataan Dimian semakin memperkuat gosip panas yang sedang berhembus saat ini.

__ADS_1


Aya hanya terdiam dan menunduk. Aya berusaha menstabilkan emosi nya, mengingat Aya memiliki status yang memaksanya untuk tidak bertindak gegabah.


"Cukup. Celine, siang ini Lo ke kantor kepala sekolah. Gue mau liat apa yang bisa Lo ucapin disana."


Perlahan lahan Aya mundur sembari menahan rasa sakit di betisnya yang ditahan sedari tadi. Kemungkinan besar Aya tak sanggup berdiri lebih lama lagi.


"Oke siapa takut. Gue juga mau denger penjelasan kepala sekolah tentang siswi yang digendong cowok malem malem keluar dari dalam sekolah." Celine bertutur tanpa beban.


Aya terperanjat kaget. Jelas yang dimaksud Celine adalah kejadian penyekapan malam itu. Lain hal dengan murid lain termasuk Rania sahabat Celine sendiri, mereka nampak kebingungan dan sama sekali tidak paham dengan apa yang dimaksud Celine.


Kali ini Aya sudah kehabisan kata kata, pikirannya sudah mengarah negatif terhadap Celine. Pikir Aya, pasti Celine yang menyewa seseorang untuk menyekapnya malam itu.


"Berisik Lo semua."


Bintang tiba tiba muncul dan menggendong Aya dengan lembut lalu berjalan menerobos Celine dan Rania hingga mereka sedikit terdorong. Tak lupa sekilas Bintang melontarkan tatapan mengerikan terhadap Celine.


Tatapan yang tak bisa dijelaskan.


"Lo mau bawa Aya kemana?" Dimian menahan bahu Dimian.


"Gue aja yang bawa Aya ke UKS." Dimian berusaha mengambil pangkuan Bintang.


Para murid yang melihat kejadian itu tentunya menjadi semakin kaget dan kembali membicarakan hubungan dua sahabat yang terkenal sangat dekat itu, dimana rupanya Bintang dan Dimian tengah memperebutkan perempuan yang sama.


Dengan cepat Bintang menepis tangan Dimian "Gak usah. Gue masih mampu."


Ekspresi cemburu Dimian terlihat sangat jelas. Dimian sangat kesal kenapa dia tidak sadar pada kondisi Aya yang tengah menahan rasa sakit. Kini, Dimian hanya melihat punggung Bintang berjalan menjauh meninggalkan kantin.


"Wahh ada apa nih rame rame?" Ucap Vania yang celingak celinguk melihat orang orang memperhatikan ke arah tengah kantin.


"Itu Kak tadi ada keributan antara Kak Celine sama Kak Cahaya. Tapi kayanya udah selesai, tadi Kak Cahaya udah dibawa ke UKS sama Kak Bintang" ujar salah satu siswi.

__ADS_1


"Apa, Dibawa ke UKS? Emang Aya kenapa?"


"Didorong Kak Celine terus kaki nya kebentur meja Kak."


Mendengar kejadian seperti itu terjadi pada sahabatnya saat Vania tidak ada, jelas Vania merasa sangat marah. Dia merasa menyesal saat tadi memesan makanan malah pergi ke toilet cukup lama dan meninggalkan Aya sendirian.


Dengan kesal Vania berjalan menghampiri Celine yang nampak duduk bersebelahan dengan Dimian. Sebelum hendak meluapkan amarahnya pada Celine, fokus Vania teralih saat mendengar sedikit percakapan antara Celine dan Dimian.


Namun, tiba tiba tangan Vania ditarik oleh seseorang. Orang ini menyeret paksa tangan Vania menuju kantin belakang.


Diisi lain Langkah kaki Bintang sepertinya hendak membawa Aya menuju UKS. Disepanjang koridor pun semua murid yang berpapasan dengan Aya dan Bintang kembali mempertanyakan hubungan mereka.


"Bisa gak sih kalau mau nolong tuh bilang atau izin dulu. Gue kaget kalau kaya tadi" Aya berdecak kesal.


"Diem. Masih mending Gue tolongin."


"Gue gak minta tolong sama Lo." Ketus Aya.


Bintang menatap Aya yang menampilkan raut wajah kesal. Dimata Bintang, raut wajah Aya seperti itu terlihat sangat menggemaskan. Bintang berusaha mengendalikan perasaannya, namun senyuman kecil tetap lolos dari bibirnya.


"Kenapa ketawa? gak lucu Bin!"


Bintang mengeriyatkan dahi "Lo masih marah sama Gue?"


"Gue gak ada masalah sama Lo. Turunin gue disini." Aya berusaha turun namun pegangan Bintang terlalu erat.


"Diem jangan banyak gerak, bentar lagi sampai UKS."


Aya nampak malas berdebat dengan Bintang, ditambah betis kaki yang terasa masih sakit membuat Aya kali ini hanya bisa pasrah.


Setibanya di UKS, Bintang mendudukkan Aya diatas ranjang. Perlakuan lembut Bintang kali ini hampir saja membuat Aya kembali luluh. Untung saja, kalimat Bintang kemarin masih menempel kuat di ingatan Aya.

__ADS_1


Sembari menatap punggung Bintang yang sibuk kesana kemari mengambil es batu, Aya Berpikir dirinya harus mampu menjaga batasan dengan Bintang. Salah bila Aya terus berdekatan dengan Bintang sementara Bintang sendiri memiliki perasaan terhadap perempuan lain.


......................


__ADS_2