Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
27. Hampir saja


__ADS_3

"Mau main kasar? Alraight baby..." Salah satu laki laki menarik tangan Aya dengan kasar.


Aya yang tak mau kalah, melawan dengan menampar wajah laki laki yang menyeretnya paksa.


"Ba*jing*n...jal*ng gak tau diri..."


plakk...


Laki laki itu balik menampar Aya sampai tersengkur ke lantai. Tak membiarkan Aya terkapar lama, laki laki itu kembali menyeret Aya dengan paksa. Aya berulang kali berteriak meminta tolong namun tak ada yang mendengarnya.


Kebanyakan dari mereka hanya menatap sekilas dan langsung melanjutkan aktifitasnya. Seolah pemandangan seperti itu di klub sudah sangat biasa, jadi mereka malah mengabaikan Aya yang sebenarnya butuh pertolongan.


"Lepasin Gue." Aya masih berusaha melawan.


Salah satu laki laki sudah sangat geram dan mengangkat tangannya hendak memukul Aya.


Bersyukur para bodyguard yang dipanggil Aya datang tepat waktu. Mereka langsung memegang tangan si laki laki dan menatap tajam. Saat ini jumlah bodyguard yang dipanggil Aya ada sekitar lima orang, menyadari kalah jumlah tentu saja tiga orang laki laki itu langsung kabur terbirit birit.


"Maaf nona kami datang terlambat, di jalan macet dan kami berusaha mencari jalan pintas..." Ujar salah satu bodyguard.


"Udah gakpapa. Cepet anterin mereka bertiga pulang...nanti alamatnya gue kirim!" Aya tak mau basa basi. Dia langsung meminta para bodyguard nya mengangkat tubuh Awan, Cakra dan Dimian kedalam mobil masing masing.


Aya sudah tidak tahan berada di klub itu terlalu lama, banyak pemandangan menjijikan yang tak senonoh untuk dilihat.


Setelah semua selesai di bicarakan, para bodyguard langsung membawa mobil mereka melaju menuju alamat rumah teman temannya. Lain hal dengan Bintang, Aya bingung harus membawanya kemana.


Saat ini Aya semobil dengan Bintang yang masih tersandar tak sadarkan diri dibahunya.


"Kita pulang ke rumah, nona?" Tanya bodyguard yang sedari tadi mengendarai mobilnya.


"Hmmm....iya kita pulang aja!"


Tak ada pilihan lain selain membawa Bintang pulang ke rumah Aya, karena menginap di hotel itu membutuhkan kartu identitas. Aya tidak mau nama baik keluarganya tercoreng bila tersebar kabar bahwa anak perempuan keluarga Rahayu sang konglomerat Asia membawa laki laki yang mabuk berat menginap di hotel.


Aya merasakan sedikit sakit di bagian pergelangan tangannya. "Sampai memar gini lagi...brengs*k."


Memang benar pergelangan Aya di genggam terlalu erat sampai memar keunguan, pipi nya juga membengkak karena ditampar sangat keras. Namun Aya tetap bersyukur para bodyguard nya datang tepat waktu, jika tidak Aya tidak tahu apa yang akan terjadi padanya malam ini.

__ADS_1


Aya memeluk erat tubuh hangat Bintang. "Pak, kejadian malam ini jangan beritahu siapapun. Anggap saja tidak pernah terjadi."


Mendengar keinginan sang nona muda, dua orang bodyguard di depan hanya mengangguk mengiyakan nya.


*****


Aya menatap wajah Bintang yang kini sudah terbaring di kamar tamu rumah Aya. Sesekali Aya tersenyum memainkan rambut bintang yang berwarna hitam kecoklatan. Aya tidak menyangka Bintang akan merasakan tidur di rumahnya.


Jam di nakas sudah menunjukkan waktu tengah malam, Aya sudah menguap berkali kali namun dirinya enggan melepaskan tatapan dari Bintang.


"Bin, Gue sayang banget sama Lo. Dan gue harap Lo tahu itu." Aya berucap dengan pelan.


Lambat laun mata Aya tertutup, tanpa sadar Aya tertidur begitu saja dengan posisi diatas lantai duduk bersandar kekasur memegang tangan Bintang.


Sebelum sepenuhnya tertidur, Aya sempat bergumam. Semoga saja pagi tak pernah datang, biarlah malam seperti ini selamanya.


Namun malam terus berjalan begitu cepat. Waktu seolah mempermainkannya hidup Aya dengan mudah. Saat pagi datang, remang remang Aya menatap sekitar berusaha menstabilkan pandangan.


Dalam sekejap mata Aya langsung membulat sempurna. Bintang sudah duduk bersandar di kepala ranjang sembari menatap Aya dengan tajam.


"Eh- mm Lo udah bangun, Bin" Aya merasa canggung, tatapannya melihat tak berani menatap Bintang.


"G-gue ketiduran..." Aya berdalih.


Bintang mendengus kasar. "Gue di rumah Lo?"


"I-iya....semalam Cakra telpon gue minta tolong jemput lo pulang, gue bingung bawa Lo kemana karena Cakra bilang jangan anterin Lo pulang ke rumah." Ujar Aya.


Bintang hanya diam tertunduk.


"Mmm...Lo masih pusing? Bentar gue ambilin dulu Lo air." Aya beranjak pergi.


Bintang menghentikan Aya dengan memegang tangannya. "Bentar..."


"Arghhhh..." Aya mengerang kesakitan saat pergelangan tangannya dipegang.


Bintang terperanjat kaget, menatap memar di pergelangan tangan Aya.

__ADS_1


"Tangan Lo Kenapa?" Bintang mendekatkan tangan Aya dan mengamatinya dari dekat, sesekali Bintang mengusap dan meniup lembut tangan Aya.


"Bukan apa apa." Aya menepis tangan Bintang dengan gelisah. Gadis itu tak berani menatap Bintang.


Ekspresi Bintang sendiri langsung berubah drastis menatap tajam Aya seolah tak suka tangannya direbut begitu saja. Apalagi tingkah Aya yang aneh mengundang kecurigaan tersendiri. Bintang kembali meraih tangan Aya dengan sedikit paksaan. "Liat bentar!"


"Akhh sakit Bin, pelan coba!" Racau Aya.


Tangan Aya terlihat semakin keunguan, Bintang mengamati setiap sudut tangan Aya hingga seluruh tubuhnya. Dan lagi lagi Bintang melihat pipi kanan Aya yang sedikit membengkak kemerahan.


"Duduk Ay!" Bintang menarik tubuh Aya hingga duduk disampingnya.


Perlahan Bintang menyentuh lembut pipi bengkak yang sedari awal berusaha ditutupi Aya dengan rambutnya. Dibarengi tatapan iba dan rasa bersalah yang mulai terpancar dari netra laki laki yang tak mampu Aya tolak perlakuannya itu.


"Tatapan Lo terlalu tulus untuk ukuran teman bin. Gue yakin ada seseuatu yang bikin Lo terpaksa menutupi perasaan Lo." Batin Aya yang dibuat kembali termangu dengan perlakuan Bintang.


"Apa yang terjadi sama Lo? Apa semua memar dan bengkak ini karena kejadian kemarin malam?" Bintang bertanya dengan nada lembut, baru kali ini Aya mendengar suara Bintang dititik terlemahnya.


Aya diam tak bergeming.


"Jawab Ay." Bintang meraih tempurung lengan gadis yang tertunduk dihadapannya, memegang erat jari jari lembut yang selalu ingin Bintang genggam setiap melihatnya.


Aya beralih menatap Bintang. "Ehm-mm semalam cuma sedikit gangguan dari beberapa cowok yang godain gue. Tapi gue gakpapa kok-"


Bintang langsung memeluk erat tubuh Aya.


Betapa rasa bersalah di benak Bintang telah sangat menguasai dirinya saat ini. "Maaf, Lo gak seharusnya dateng ketempat kotor kaya gitu." Bisik Bintang dalam pelukannya.


Lagi lagi Aya terperanjat kaget dengan tingkah spontan Bintang. Gadis itu hanya bisa luluh dan membalas pelukan orang yang selalu dia ingin ungkapkan perasaan itu.


Begitu juga Bintang yang merasa pelukannya dibalas langsung menenggelamkan wajahnya didalam pelukan tubuh hangat Aya. setelah beberapa menit berlalu Bintang tak kunjung melepaskan pelukannya. Aya malah merasakan hembusan nafas kasar mulai menggerayangi leher belakangnya.


Aya merasakan sebuah gigitan kecil di lehernya. Meliar sampai hampir ke dada. Aya tersadar bahwa Bintang tak bisa mengembalikan dirinya saat ini.


"Bin, Lo masih mabuk!" Aya mendorong tubuh Bintang hingga terpental ke kepala ranjang.


Aya sempat menatap Bintang sekilas yang terlihat masih tertegun dengan tatapan kosong sebelum meninggalkan kamar dengan tergesa gesa.

__ADS_1


......................


__ADS_2