
Keesokan harinya, Cahaya bersama Rein mengendarai mobil baru jalan-jalan mengelilingi kota New York hingga berhenti di depan sebuah museum yang dijuluki sebagai metropolitan art. Cahaya duduk meneguk segelas kopi hangat bersama Rein dipinggiran jalan sembari menikmati udara dan keramaian tengah kota.
"Kak,kakak tau kan alasan Aya pengen pindah ke Amerika?"
Rein meneguk kopi nya dan mulai menatap lekat Cahaya "Mau nyari sekarang?"
Seolah Rein tahu apa yang tengah dibahas oleh Cahaya, ia hanya bisa menghela nafas dan tersenyum tipis. Toh memang ini juga alasan Rein ingin ikut pindah ke Amerika, yaitu untuk membantu Cahaya mencari keberadaan Bintang.
Cahaya tersenyum tipis dan menaruh Kopi nya disamping tempat duduk. Gadis itu merogoh ponsel dari dalam tas kemudian mencari ruang chat Malin dan menunjukkannya pada Rein. "Ini alamat Bintang kak, tau nggak dimana?"
"Hmm ini apartemen yang gak jauh dari kawasan apartemen kita, Ay." Rein berusaha menerawang.
Mendengar ucapan Rein, mata Cahaya seketika berbinar seraya mematri senyum lebar. "Serius kak? Ayo kita kesana sekarang!"
Rein tak bergeming, padahal Cahaya sudah sangat semangat menarik tangannya.
"Kak?!"
"Mmm, yakin kita kesana sekarang?" Rein terdengar ragu.
"Kenapa kak? ada masalah?"
Lelaki tersebut malah memutar bola matanya dengan canggung seolah nggan pergi tapi tak bisa menolak. "N-nggak...Ayo."
Tak mau membuang waktu lama, Cahaya dan Rein beranjak menuju apartemen yang tak jauh dari tempat mereka tinggal. Hanya dengan berkendara melalui jalan raya sekitar 10 menit akhirnya mereka sampai di gedung sekolah.
Sebuah apartemen yang berada dalam rumah susun megah, tertata dan desain yang sangat menarik. Saat pertama kali menginjakkan kaki di lobby gedung apartemen pun Cahaya terkesima, jarang sekali ia melihat apartemen dengan arsitektur yang indahnya seperti ini.
Kini, Cahaya dan Rein tengah berdiri di dalam lobby gedung sembari membaca informasi yang diberikan Malin, Dimana Malin mengatakan bahwa Bintang tinggal di lantai 10. Dengan ini Rein dan Cahaya bergegas memasuki lift dan berhenti di lantai 10. Setiap lantai hanya memiliki 2 ruangan sebab ukuran satu ruangan nya saja sangat besar dan bisa ditinggali satu keluarga.
"Kak, Aya ragu...."
"Ya udah ayo balik lagi."
"Eh jangan, tanggung udah depan pintu."
"Ck, dasar." Rein berdecak kesal.
Mereka berjalan menuju ruangan no. 10A di sebrang lift. Setelah tepat berada di depan pintu, tangan Cahaya malah mengambang di udara sebab ragu harus menekan bel atau tidak. Ntah kenapa padahal hari ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu tetapi malah ragu untuk mewujudkannya.
__ADS_1
Ning
Nong
Rein menekan bel saat melihat Cahaya hanya melamun dengan tatapan kosong, sontak gadis itu melongo kearah lelaki tersebut. "Kakak! main pencet aja kan Aya belum siap!"
"Lama! kalau nunggu kamu bisa sampai tahun depan." Ketus Rein.
Keringat dingin mulai bercucuran, Cahaya merasa bahagia bercampur gelisah saat akhirnya bisa kembali bertemu dengan Bintang. Mereka berdua menatap lekat pintu yang tak kunjung ada sahutan atau tanda-tanda ada yang akan membukanya.
Ning
Nong
Tok
Tok
Rein masih berusaha menggedor dan memencet bel berulang kali sampai ada yang keluar.
Cklek
"Iya siapa-"
Bukan Bintang yang membuka pintu, tetapi Laila dengan hanya menggunakan kemeja putih acakadut, tanpa dalaman dan lipstik bibir yang tidak merata seolah baru selesai di jamah, atau mungkin sedang.
"L-laila? Apa yang Lo lakuin di apartemen Bintang?" Lirih Cahaya.
Laila tak menggubris pertanyaan Cahaya, ia malah sibuk menatap lelaki disamping gadis tersebut. Tatapan Rein dan Laila saling bertemu, keduanya nampak menatap lekat satu sama lain dan seolah sudah mengenal sejak lama.
"Huh, pesona Bintang memang luar biasa ya." Laila malah mengalihkan pembicaraan.
"Dimana Bintang?"
"Ada urusan apa kamu kesini? apa jauh-jauh ke Amerika hanya untuk bertemu dengan Bintang?"
"DIMANA BINTANG!" Lantang Cahaya.
"Siapa yang datang?" Ucap seorang lelaki yang keluar dari kamar mandi apartemen dengan badan basah dan hanya menggunakan handuk kimono.
__ADS_1
"BINTANG?!"
Air mata Cahaya pecah saat itu juga. Ia melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri bahwa Bintang dan Laila tinggal berdua dalam satu apartemen dan dalam kondisi yang menjijikkan seperti ini. Hancur rasanya, apalagi saat menatap Bintang lelaki tersebut nampak diam saja tak bergeming.
Dengan Isak tangis dan rasa sakit yang kentara Cahaya berlalu meninggalkan mereka semua yang masih termangu.
"Cahaya?!" Bintang berusaha mengejarnya.
Brukk
Namun sebuah pukulan keras melayang dari tangah kekar Rein, meluncur tepat di wajah mulus Bintang. Cahaya sempat berbalik melihat kondisi Bintang, namun hanya sekejap. Ia kembali melangkah dengan cepat menuju lift.
Sementara itu Rein menampilkan tatapan kebencian dan rasa marah yang membara di dalam matanya terhadap Bintang. Lelaki itu berjalan menghampiri Bintang yang masih terkapar di lantai sementara Laila berusaha menghentikan tubuhnya.
"Rein cukup Rein! Jangan sakitin Bintang!" Rintih Laila.
"MINGGIR!" Tanpa belas kasih, Rein mendorong tubuh Laila hingga tersungkur ke lantai. Rein juga meraih bahu Bintang dan menggenggam nya dengan keras.
"B*jingan! Berani Lo nyakitin adik gue! Cih pengecut! Tunggu pembalasan gue." Sarkas Rein.
"Nggak kak, ini gak seperti yang kalian lihat." Bintang berdalih.
Plakk
Sebuah tamparan keras melesat sekali lagi.
"Anj*ng, GUE SAMA AYA GAK BUTA! MULAI SEKARANG JAUHIN AYA, ATAU LO MATI." Rein dengan tegas dan berucap penuh penekanan menatap Bintang dengan tajam.
"Lo juga Laila! Mulai sekarang, kita putus!" Ucap Rein spontan.
"Nggak Rein nggak, ini gak seperti yang kamu lihat." Lirih laila.
Namun seberapa keras pun Laila menghentikan Rein, lelaki itu terus berjalan pergi meninggalkan mereka dan masuk kedalam lif. Mata Bintang dan Laila membulat sempurna sembari memandangi punggung Rein yang telah luput dari pandangan. Disini keduanya nampak benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan Rein dan Cahaya di Amerika.
Sementara disisi lain tatapan Bintang mulai menelisik dengan tajam kearah Laila yang masih tak bergeming diambang pintu.
"Putus? Lo sama kak Rein udah kenal sejak kapan? Lo berdua jadian?"
Laila tak menjawab pertanyaan Bintang, dengan tatapan kosong gadis itu malah berjalan masuk kedalam kamar dan meninggalkan Bintang. "Oke kita bahas ini nanti!"
__ADS_1
Dengan cepat Bintang pun berlari menuju lift hendak menyusul Cahaya dan Rein, namun lift tak kunjung sampai. Ia memilih turun menggunakan tangga darurat dengan cepat. Bintang tidak memperdulikan apa yang sedang ia pakai saat ini, yang terlintas dibenaknya hanyalah Cahaya yang mungkin telah berprasangka buruk terhadap nya.
......................