
"HALLO AY HALLO, GAK KEDENGARAN... HALLO." Cakra terus saja berteriak memanggil Aya, Aya sendiri terkejut dengan suara dari dalam telpon yang sangat berisik dengan musik DJ dan teriakan orang yang sepertinya sedang joged disana. Pikir Aya sepertinya Cakra sedang bersenang-senang di sebuah pesta.
"BERISIK BANGET SIH CAKRA, BUDEK TELINGA GUE NIH..." Aya sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.
Tak ada jawaban dari Cakra, hanya terdengar suara musik yang semakin mengecil. Sepertinya Cakra tengah mencari tempat sepi.
"Ay gu-gue lagi di klub Blackmoon yang yang huhh dimana....ah I-iya di ujung kota, Lo cepet kesini deh bantuin bawa balik Bintang, mabuk berat dia." Suara cakra terdengar sedikit lunglai, sepertinya dia juga mabuk.
"H-hah, kok bisa gimana ceritanya?" Mimik wajah Aya mulai serius.
"....Gu-gue mau nganterin si wawan sama mian main dulu, bye..nut nut.."
Aya berdecak kesal, bisa bisanya Bintang malah bersenang senang di klub saat masalah yang kemarin belum selesai. Apalagi mengingat seharian ini Bintang tak ada menghubungi Aya untuk sekedar menanyakan kabar. Namun sekesal kesalnya Aya, di tetap peduli pada Bintang.
Aya mengambil tasnya dan bergegas meminta pak supir mengantarnya ke klub Blackmoon yang terletak cukup jauh di ujung kota.
Aya ingat betul kalau klub tersebut adalah salah satu usaha yang dirintis pertama kali oleh Cakra. Saking terkenalnya klub tersebut di SMA Unggulan Garuda Bangsa, sepertinya setiap murid pernah menginjakkan kaki di sana.
Setelah sekitaran 30 menit Aya menempuh perjalanan, kini Aya tiba di depan sebuah bangunan megah 2 lantai yang dinding nya terbuat dari kaca. Keriuhan dan lampu disko di dalam bisa terdengar dan terlihat sampai jarak 50 meter, itulah mengapa klub tersebut dibangun di ujung kota.
Aya menyambangi Cakra yang tengah berdiri memeluk pintu masuk, otaknya sadar namun tubuhnya seperti hilang kendali.
"Ca...Lo gakpapa? Dimana Bintang?" Aya bertutur ragu, apa dengan kondisi Cakra seperti itu bisa membawa awan dan Dimian pulang.
"A-yo ikut gue..." Cakra berjalan lunglai masuk kedalam klub.
Benar benar ramai dan sangat berisik. Pakaian gadis gadis disana jauh lebih terbuka dari yang Aya bayangkan,bahkan laki laki juga banyak yang hanya menggunakan celana menunjukkan lekuk tubuh sixpack dan berotot yang menarik gairah.
Jelas saja Aya yang pertama kali menginjakkan kaki ke tempat seperti itu hnya bisa bersembunyi di balik punggung Cakra. Bahkan sempat beberapa kali ada laki laki yang menggoda dan berusaha cat call terhadap Aya, beruntung ada Cakra.
__ADS_1
Tak lama Aya melihat sosok Bintang, Dimian dan Awan yang terkapar di kursi ujung. Bahkan perempuan perempuan bayaran yang menemani mereka pun masih ada disana.
Aya menatap tajam Bintang yang terkapar diatas paha mulus seorang perempuan bayaran yang disewa mereka, dengan kasar Aya menarik perempuan yang sedari tadi menatapnya itu. "Minggir Lo!"
Jelas saja perempuan dengan rambut lurus Sepinggan dan dress gold super seksi hingga menunjukkan belahan dada dan pusarnya itu beranjak dengan kesal dari samping Bintang.
Dengan lembut Aya menaruh kepala Bintang agar bersandar di pundaknya. "Apa yang terjadi sama kalian sih ca, kenapa bisa sampai tepar begini?"
"Kita udah minum dari pagi Ay." Ujar cakra yang ikut tepar di samping Dimian.
Aya hanya bisa menggelengkan kepala. "Dari pagi? Gila ya Lo semua!"
"Semua ini karena Lo." Cakra bertutur demikian bukan tanpa alasan.
Aya mengeriyatkan dahi. "Gue?"
Cakra sudah sangat lunglai, padahal dia di juluki monster anggur oleh teman temannya karena kuat Berjam jam minum anggur tanpa mabuk berat. Mungkin itu yang menyebabkan Cakra masih bisa bertahan untuk menghubungi Aya disaat Dimian, Awan dan Bintang saja sudah terkapar tak sadarkan diri.
Sebenernya Aya ingin mengorek informasi lebih lanjut tentang apa yang menyebabkan Bintang mabuk berat seperti ini. Namun kondisi Cakra tak memungkinkan untuk menjawab dengan benar.
Aya menatap iba wajah Bintang. Pipi Bintang bahkan sampai merah merona dan sekujur tubuhnya dipenuhi bau alkohol yang menyengat. Ini bukan seperti Bintang yang Aya kenal, dimana saat Bintang dirundung masalah dia akan menenangkan diri di tempat sepi untuk sekedar mendengarkan musik. Bukan Bintang yang mencari pelarian masalah dengan alkohol.
"Ca...Lo gakpapa kan? Yakin bisa bawa balik Awan sama Dimian?" Aya sedikit khawatir dengan teman temannya yang lain, apalagi melihat kondisi Cakra yang berdiri saja sempoyongan, bagaimana bisa dia mengendarai mobil.
Cakra mengucek matanya kuat kuat, berusaha menatap Aya. "Ha-hahaha.... Gue aman...."
Brak..
Baru saja Cakra berkata baik baik saja, dia malah langsung jatuh terkapar di lantai. Jelas Aya sangat kaget dan langsung menghampiri Cakra berusaha untuk membangunkannya berulang kali.
__ADS_1
"Ca...ca!! Ya ampun bangun cak! Gue gak bisa bawa balik Lo semua sendirian." Aya mulai gelisah menatap sekitar, otaknya dipaksa berputar untuk mencari solusi yang tepat.
Pada akhirnya Aya berinisiatif memanggil seluruh bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga dirinya di rumah. Sedari kecil Aya memang selalu ditemani oleh para bodyguard yang selalu menemani nya kemanapun. Namun saat awal masuk SMA, Aya sudah tidak menggunakan mereka lagi dan mereka ditugaskan untuk menjaga rumah saja.
30 menit berselang para bodyguard itu tak kunjung datang, Aya sudah sangat gelisah melihat pemandangan sekitarnya yang mulai tidak senonoh. Jam ditangannya menunjukkan pukul 19.56, Aya tahu betul kalau klub seperti ini semakin malam pasti semakin ramai.
"Bin, apa Lo mabuk kaya gini karena mikirin kejadian kemarin? Gue gak nyangka Lo bakal sampai kaya gini." Batin Aya.
Sedari tadi gadis dengan tunik bermotif bunga bunga oversize yang menunjukkan bahu putih mulus dan jenjangnya itu menatap Bintang dengan iba, sesekali Aya mengecup kening Bintang yang masih tak sadarkan diri di sandaran pundaknya.
Meskipun penampilan Aya sesederhana itu, tak dapat dipungkiri bahwa banyak laki laki yang sedari awal main mata dengannya. Aya sampai tak berani mengangkat kepalanya lagi, ia hanya tertunduk berusaha menghubungi Vania. Meskipun tak ada jawaban sama sekali.
Tak lama Aya mencium aroma parfum di belakang punggungnya, sangat wangi namun menyengat. Pelan tapi pasti, Aya merasakan hembusan nafas seseorang disamping telinganya.
"Hallo nona cantik, apakah kamu kesepian?" Bisik seorang laki laki yang sedari tadi berdiri dibelakang Aya.
Aya terperanjat kaget saat menoleh ke sumber suara. Rupanya bukan cuma satu, tapi 3 orang laki laki memandanginya dari samping. Reflek Aya memeluk Bintang dengan erat.
"Ma-mau apa kalian!" Aya berusaha berkata tegas disaat kedua tangannya saja mulai berkeringat dingin.
Ketiga laki laki yang usianya terlihat lebih tua dari Aya itu saling bertatapan dan tertawa terbahak-bahak. "Masih kecil udah jadi jal*ng dek, hahaha." Ucap salah satu laki laki.
"Teman temanmu sudah terkapar tak bisa menemanimu lagi, ayo ikutlah dengan kami. Kami akan menemanimu semalaman sayang...hahaha" laki laki yang lain berucap sembari memegang erat dagu Aya.
"SINGKIRIN TANGAN KOTOR LO DARI GUE!" tanpa segan Aya menepis tangan laki laki yang memegang dagu nya dengan kuat sampai tersungkur ke lantai.
Tentu saja tindakan Aya malah menyulut emosi para laki laki yang menggodanya. Tatapan gairah mereka berubah jadi amarah. Puntung rokok yang sedari awal mereka isap dibuangnya begitu saja.
......................
__ADS_1