Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
43. Salah lawan


__ADS_3

Ning


Nong


Bel masuk berbunyi, menggemaskan ke setiap sudut sekolah. Malin dan Cahaya pun berpisah dan masuk ke kelasnya masing-masing.


Ntah bagaimana tapi mendengar penjelasan Malin tidak membuat Cahaya menjadi tenang malah semakin merasa bersalah dan menyesal karena tidak mengetahui semua kebenarannya lebih awal. Guru yang masuk dan menyampaikan materi pun tak ia hiraukan, otaknya sudah penuh dengan Bintang hingga tidak ada ruang lagi untuk menampung apapun.


"Cahaya! Cahaya!"


Miss lifau memanggil Cahaya berulang kali namun gadis itu tak bergeming, masih fokus dengan lintasan Bintang yang terus berlalu lalang di benaknya.


"Stt!stt! Woi dipanggil Miss tuh!" Bisik Vania seraya menendang kursi Cahaya.


"H-hah? I-Iya Miss?"


"Kamu ini sedang mikirin apa sih? Nyimak pelajaran saya nggak?!"


"Maaf Miss..."


"Keluar! Jangan masuk sampai pelajaran saya hari ini selesai!"


Sial sekali Cahaya hari ini, ia lupa jam pelajaran kali ini adalah jamnya guru killer, tak bisa disogok dan tak pandang bulu. Bahkan saat Cahaya menjadi ketua OSIS dan datang terlambat karena rapat, guru bernama Miss lifau ini tidak memberikan keringanan apapun. Salah adalah salah.


Disamping itu, Cahaya dengan lesu berjalan keluar kelas. Ia sempat menoleh pada Vania yang mengepal tangan dan memberikan isyarat kepada nya untuk semangat.


Percuma disemangatin, yang capek juga batin....Huftt


Tapi gadis itu sedikit bersyukur, setidaknya ia bisa mencari ketenangan di lorong kelas yang sepi dan dingin. Untuk hari ini saja ia ingin melupakan semua masalah yang tak pernah selesai.


Namun lagi lagi, bukannya berusaha merenungi diri untuk tetap semangat, Cahaya malah kembali mengingat Bintang yang setia menemaninya di hukum bahkan memberinya makanan yang sedang ia inginkan kala itu.


Arghh! Sial! bisa gila gue.


...----------------...


Ning


Nong


Waktu pembelajaran telah selesai, bel pulang akhirnya berbunyi. Cahaya yang berdiri hampir 2 jam di luar kelas itu akhirnya bisa duduk mengistirahatkan kaki yang kebas.


"Nih tas Lo." Dimian datang membawakan tas Cahaya.


"Eh makasih Dim..."


"Yoi. Ayo pulang, atau mau gue anter?"

__ADS_1


"Gak usah, gue udah dijemput kayaknya."


"Hmm yaudah, gue pulang duluan ya."


"Okey."


Cahaya melihat punggung Dimian yang pergi menjauh, begitu juga Vania. yang sudah meninggalkan lebih dulu sebab buru buru ada janji dengan seseorang di mall. Ia ingin pulang, namun perasaan nya belum membaik, sebab itu Cahaya memutuskan untuk duduk dulu sebentar sekedar menikmati angin siang dan pemandangan lapangan luas yang terhampar di depan gedung sekolah.


"Waduh liat, ternyata dia nungguin kita guys." Ucap Gita.


Seperti biasa geng cewek ini selalu bertiga dimanapun dan kapanpun. Ntah kesialan apa yang menyambangi Cahaya kali ini, ia benar benar melupakan banyak hal. Salah satunya ancaman geng cewek cewek ini tadi pagi.


"Berani juga ya, MANTAN ketua OSIS kita ini."Seloroh Bella seraya mengalungkan tangannya ke pundak Cahaya.


"Udah lama nih gak ribut. Pemanasan dikit boleh lah...." Timpal Nata.


"Singkirin tangan kotor Lo dari pundak gue." Cahaya menepis kasar tangan Nata.


"Whoa whoa whoa, santai girl." Seloroh Nata.


"Kak, Gue lagi gak mau cari masalah hari ini. Masalah gue udah terlalu banyak jadi pliss jangan bikin kesabaran gue hilang."


"Sok banyak masalah Lo. Yang ada masalah di sekolah ini kebanyakan karena Lo tau gak! Bintang gue aja sampai harus pindah sekolah gara gara Lo!" Celetuk Gita seraya menodong kepala Cahaya dengan satu jari.


"Gua heran deh apa yang dilihat Bintang dari Lo, body triplek otak pas-pasan cuma modal muka cantik doang." Timpal Bella.


"Eitss mau kemana Lo! Siapa bilang Lo boleh pergi dari sini!"


Untuk kesekian kalinya Gita menarik ransel Cahaya dengan kuat hingga gadis itu tersungkur ke lantai. Tanpa pikir panjang dan belas kasih Gita, Nata dan Bela mulai menendang dan memukul tubuh Cahaya dengan keras.


Namun mereka salah lawan.


Cahaya tidak selemah itu, ia adalah anggota ekstrakurikuler taekwondo semenjak SMP. Bisa dibilang hobby nya ini sama dengan Hobby sang kakak, Rein.


Dengan begitu hanya dengan sekali tendangan kaki ketiga cewek sok jagoan tersebut langsung terkapar di lantai.


"Jangan pernah ganggu gue lagi! Untuk selanjutnya gue gak akan segan!"


Cahaya berucap dengan penuh penekanan, menatap tajam netra ketiga gadis yang tengah meringis kesakitan diatas lantai. Sebenarnya Cahaya tidak ingin berbuat kasar, namun emosinya sudah tak bisa ditahan lagi ditambah kejadian hari ini banyak yang mengesalkan jadi sekalian saja meluapkannya.


Gadis itu mengusap seragamnya yang kotor, membenahi rambut dan mengenakan tas. Ia berjalan meninggalkan Gita, Nata dan Bella yang menatap nya dengan tatapan tajam dan penuh kemarahan.


"Cahaya! Awas aja Lo gue bakal balas semua ini dengan setimpal! dasar j*lang! Cih!" Cibir Gita.


Cahaya tak menghiraukannya, omongan mereka hanya terdengar seperti tong kosong nyaring bunyinya. Ia memilih terus berjalan menuju mobil yang terparkir menjemputnya di depan sekolah dan bergegas pulang.


...----------------...

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Cahaya duduk terlentang diatas sofa. Rasanya sangat malas untuk menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.


"Argh Bintang kemana sih Lo?!"


Cahaya membanting handphone dengan kasar saat melihat notif chat dari Bintang yang masih kosong bahkan lelaki itu sepertinya masih belum mengaktifkan handphone dari kemarin.


Frustasi, gelisah, rindu khawatir dan perasaan lainnya yang bercampur aduk semakin membuat perasaan Cahaya tak karuan.


Tak lama, sosok Rein datang mendekat dan duduk tepat di samping Cahaya.


"Eh Aya, baru pulang ya?" Sapa Rein.


"Hmm...Mama papah pada kemana kak?" Cahaya berusaha mengalihkan fokus pikirannya.


"Mamah lagi ada meeting baru aja pergi, kalau papah sih katanya mau main golf sama temen temennya."


"Oh."


"Kenapa lagi kamu? Dimana Cahaya yang kayak dulu, ceria dan banyak omong." Cibir Rein seraya mencubit hidung gadis tersebut.


"Ishh kakak! Diem ya Aya lagi males bercanda." Ketus Cahaya.


"Hehe...Ngomong ngomong kamu libur semester kapan ay?"


"Minggu depan ujian, minggu depannya lagi kayaknya sih."


"Ya udah nanti kita liburan ke Amerika ya."


Cahaya menoleh dengan cepat, menatap lekat Rein dengan tatapan berbinar. "Serius kak?"


"Iya, kakak gak tega liat adik kakak yang cantik ini murung tiap hari."


Dengan mata berkaca-kaca Cahaya memeluk Rein dengan erat. Akhirnya dia bisa segera bertemu kembali dengan Bintang dan melupakan semua perasaan dan kata kata yang selama ini tertahan.


"Makasih kak.."


Rein membalas pelukan Cahaya, sesekali ia menepuk punggung gadis tersebut dengan lembut. Sampai tak sengaja Rein melihat luka memar keunguan yang terlihat cukup jelas di pergelangan tangan Cahaya.


Dengan cepat memar tersebut mengalihkan pandangan Rein, dan meraih tangan Cahaya untuk diamati lebih jelas.


"Dari mana kamu dapat luka memar ini?!" Tegas Rein.


Ia juga mulai menggerayangi tubuh Cahaya, dan benar saja. Bukan hanya di pergelangan tangan, tetapi di betis dan paha nya juga Banyak.


"JAWAB DARIMANA? APA ADA YANG BERANI BERBUAT KASAR SAMA KAMU?!"


......................

__ADS_1


__ADS_2