
Sekumpulan kakak kelas tersebut mulai mengerumuni Cahaya dan Vania. Mereka melemparkan tatapan kesal dan mengintimidasi terhadap keduanya.
Sial sekali kedua gadis itu hari ini, Apalagi Cahaya baru ingat pernah berurusan dengan segerombolan siswi ini saat masih menjadi ketua OSIS. Kasus mereka juga cukup berat, salah satunya melakukan pembulian sampai korban mereka bunuh diri.
"Maaf kak, Vania emang suka kelepasan. Kami permisi dulu ya."
"I-iya kak, maaf saya salah paham."
Cahaya dan Vania bergegas hendak pergi meninggalkan mereka dan menaiki anak tangga.
Namun langkah mereka langsung terhenti saat seseorang menarik ransel Cahaya dengan kasar hingga gadis itu terpental ke tembok.
"Arghh...Apa sih masalah kalian?" Cahaya mengerang.
"Kayak nya kita pernah ketemu di kantor BK deh, Cahaya?" Ucap Gita-Ketua geng seraya mengangkat satu alisnya.
"Iya Git, dia udah sering jadi saksi dan dengan sombongnya minta kita buat di keluarin dari sekolah berkali-kali." Sahut Nata-Anggota geng.
"Harusnya sekarang dia udah gak jadi ketua OSIS lagi guys," Timpal Bella-Anggota geng.
Ketiga perempuan tersebut menatap Cahaya dengan tajam seraya tersenyum kecut bersilang tangan. Benar benar membuat Vania hanya bisa menelan Saliva nya dengan gugup.
Disamping itu Cahaya juga hanya terdiam, ia tahu betul bahwa yang di ucapkan oleh geng tersebut memang benar. Bukan tanpa sebab tetapi saat itu ia harus menjalankan tugasnya dan memberikan keadilan bagi korban.
"Gimana Nat, Bel? Harus kita apain?" Gita menyipitkan mata seraya tersenyum miring.
Nata dan Bella mulai menggiling seragam lengan panjangnya hingga ke sikut dan menatap Cahaya dengan tatapan seolah hendak menerkam gadis tersebut.
"Jangan macem-macem sama gue, meskipun Lo bertiga kakak kelas tapi gue gak semudah itu buat di buli!" Ketus Cahaya.
Gadis itu langsung berubah dari yang tadinya diam saja menjadi agresif dan mulai mendominasi. begitu juga Vania, melihat sahabatnya sok berani ia juga ikut ikutan mendengus kasar seraya berkacak pinggang.
"I-iya, ini lingkungan sekolah. Liat banyak yang lewat! kita gak takut!" Timpal Vania.
"Hah? hahaha, liat sekeliling Lo! Ada yang berani lewat sini gak? hahaha." Seloroh Gita.
Cahaya dan Vania mengedarkan pandangannya. Mereka menunggu ada seseorang yang lewat tangga namun tidak ada, ada beberapa siswa dan siswi yang hendak lewat namun malah putar balik dengan gugup saat melihat geng cewek cewek tersebut.
Setelah Celine pergi, rupanya masih ada geng yang lebih berkuasa di SMA Unggulan Garuda Bangsa ini. Bisa di bilang bukan hanya satu, tapi banyak. Saat Cahaya menjadi ketua OSIS pun hampir setiap hari ia bolak-balik ke ruang OSIS untuk mengatasi masalah masalah yang di lakukan para geng ini.
"Tapi tenang aja, kita mau lulus dengan damai dari sekolah ini. Jadi sebagai ganti, sampai jumpa pulang sekolah, hahah." Gadis berambut keriting dengan kulit coklat pekat itu pun pergi bersama kedua temannya seraya tertawa lepas.
Bersyukur mereka pergi begitu saja meninggalkan Cahaya dan Vania yang tengah dirundung rasa gugup.
Mengingat bahwa lusa kelas 12 akan menerima surat kelulusan dan tentu saja mereka akan bersikap baik di sekolah untuk sementara waktu demi mendapatkan surat tersebut.
"Udah Yo Van, ke kelas."
__ADS_1
Cahaya menuntun tangan Vania menuju kelas mereka di lantai tiga.
Mereka berdua hanya bisa berharap ucapan geng tersebut hanya ancaman semata dan pulang nanti mereka tidak akan mengalami kejadian apapun.
"Pagi Ay," Sambut Dimian dengan senyum lebar.
Cahaya tak menggubris sapaan lelaki tersebut sebab ia masih kesal dengan Alpha'B mengenai kejadian kemarin. Gadis itu memiliki untuk menghiraukan mereka dan duduk di kursinya dengan tenang.
"Ayolah Ay, kita terpaksa gak ngasih tau Lo karena bintang yang minta." Dimian membuntuti gadis itu.
"Bener tuh, Seenggaknya gue udah berusaha ngirim lokasi bandara ke Lo." Timpal Awan.
Cahaya masih tak bergeming, ia sibuk mengeluarkan buku dari dalam tas seraya merogoh earphone kemudian menggunakannya.
"Udah jangan ganggu Aya dulu, kayaknya dia masih kesel sama kejadian barusan." Seloroh Vania.
"Kejadian apaan?"
Dimian, Awan dan Cakra mengambil kursi dan duduk menghadap Vania untuk mendengarkan ceritanya dengan seksama.
"Tadi pagi gue gak sengaja denger kakel ngomongin Cahaya sama Bintang, gue gak tau kalo ternyata mereka kakak kelas. Dan parahnya lagi dulu pernah berurusan sama Cahaya. Mereka ngancem gitu bakal ganggu Cahaya." Ujar Vania.
Brakk
"Sialan! Lo tau gak nama sama asal kelasnya?"
"Namanya-"
"Pagi anak anak....."
Ucapan Vania terpotong karena guru sudah masuk dan pembelajaran akan segera dimulai. Alpha'B pun kembali ketempat masing masing.
"Ntar terusin di kantin!" Bisik Dimian.
Disisi lain Cahaya masih tak bergeming, ia menatap keluar jendela sembari memikirkan apa yang tengah di lakukan Bintang saat ini.
Sudah hampir 24 jam sejak keberangkatan lelaki tersebut ke Amerika, harusnya ia sudah sampai saat ini. Namun pesan pesan dari Cahaya masih belum terbaca. Gadis itu benar benar tak bisa jauh dari ponselnya untuk saat ini.
......................
Ning
Nong
"Pembelajaran hari ini selesai, selamat siang anak anak."
"Siang Miss."
__ADS_1
Setelah guru menyampaikan salam penutup, murid murid langsung berhamburan keluar kelas menuju kantin. Begitu juga Vania, sedari awal ia berusaha menarik tangan Cahaya agar bangun dan ikut bersamanya ke kantin.
"Ayo ay ke kantin, emang Lo gak laper?!"
"Gue gak laper Van, Lo ke kantin aja sana sama Alpha'B." Cahaya masih sibuk memandangi layar ponselnya.
"Gak mau! gak seru kalau gak ada Lo!"
"Yaudah diem, duduk aja disini."
"Tapi gue laper hmm."
Cahaya hanya bisa geleng-geleng dengan tingkah Vania.
"Udah ayo ke kantin, biarin Aya sendiri dulu! Ntar gue beliin seseuatu buat Lo makan ya, Ay." Dimian berlalu seraya mendorong tubuh Vania keluar kelas.
Tok
Tok
Tok
"Permisi kak, Aku mau ketemu kak Aya." Ucap seorang perempuan yang tak asing bagi Alpha'B.
"Sayang, katanya kamu mau nungguin aku di kantin!" Seloroh Cakra.
"SAYANG? LO BERDUA JADIAN?" spontan Awan, Dimian dan Vania dengan mata terbelalak lebar.
"Ups sorry, gue lupa cerita."
Benar benar sebuah kabar yang mengejutkan, mereka tidak menyangka bahwa fuckboy seperti Cakra akan jatuh cinta pada gadis lugu dan merupakan adik sahabatnya sendiri, Malin.
Malin juga hanya tersenyum canggung menanggapi Ujaran Cakra.
"Kakak duluan aja, ntar Malin nyusul ke kantin."
Cakra menanggapi ucapan Malin dengan senyuman lebar sembari mengelus lembut rambut gadis tersebut.
"Anjir anjir, apaan tuh di wajah Lo? senyuman?" Awan menyipitkan mata.
"SEORANG CAKRA MARTADINATA SENYUM LEBAR? Coba cek bro jangan-jangan matahari terbit dari Barat!" Cibir Dimian.
Sementara itu Vania dengan tatapan tajam dan kesal nya berlalu begitu saja meninggalkan mereka yang masih berbincang diambang pintu. "Mampus tuh Lo Ca. hahha." Ucap Awan sembari memandangi punggung Vania yang berjalan menjauh.
"Udah ayo ayo ke kantin!" Cakra mendorong tubuh dua sahabatnya itu agar beranjak menuju kantin.
Setelah melihat kepergian Cakra dan kawan kawannya, Malin berjalan menghampiri Cahaya yang tengah termenung. Sepertinya kali ini ia datang membawa pesan dari Bintang, kakak satu-satunya.
__ADS_1
......................