Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
23. Mausoleum


__ADS_3

Disisi lain Aya tengah berada di ruang CCTV bersama pak satpam. Aya bertekad untuk mencari tahu sendiri masalah yang disembunyikan oleh teman temannya sebelum kakaknya sampai di Indonesia.


"....Coba aja pak di cari rekaman di halaman belakang sekitar pukul 19.30an sampai 22.00." Aya bertutur sembari mengarahkan satpam yang bertugas hari ini.


"Oiya pak, Jangan kasih tahu papah mamah dan kakak saya kalau saya datang ke ruang CCTV untuk mengecek sesuatu." Aya berucap dengan pelan "nanti gaji bapak bulan ini saya taikin 3 kali lipat."


Aya berkata demikian hanya untuk jaga jaga saja. Bagi Aya sendiri seluruh pekerja dirumah adalah mata mata kakaknya.


Mendengar ucapan Aya, satpam hanya mengangguk patuh saja.


"Nah udah pa stop yang itu."  Tatapan Aya langsung tertuju pada CCTV di belakang panggung.


Aya tengah melihat adegan beberapa menit sebelum Malin menjatuhkan gelas. Namun meskipun dapat menangkap seluruh area pesta, lensa kamera cctv yang terpasang di belakang panggung itu hanya mampu menangkap rekaman vidio saja, tanpa Suara.


Tentu saja Aya juga mendapati perempuan yang mendorongnya ke kolam tengah berdiri memegang segelas minuman. Semenjak awal, perempuan itu datang seorang diri dan nampak menjauh dari kerumunan.


Suasana masih terlihat aman aman saja sampai seorang laki laki bertopeng hitam datang menghampiri Malin. Aya tak tahu pasti siapa laki laki itu, namun saat laki laki itu datang Malin tersenyum sembari berdiri dan terlihat mempersilahkannya duduk.


Aya mengeriyatkan dahi. "Siapa nih cowok, kayaknya deket banget sama Malin." Batin Aya.


Ntah kenapa tapi perhatian Aya tertuju pada laki laki bertopeng hitam tersebut. Dari gelagat dan sudut matanya, Aya merasa laki laki itu terus menatap dirinya. Bahkan sesekali lelaki itu meminum minumannya tanpa mengalihkan pandangan sama sekali dari Aya.


Tak lama dalam adegan saat Dimian berlutut meminta Aya menjadi partner dansa nya, Terlihat dengan jelas bahwa laki laki disamping Malin membanting gelas dengan kuat. Rupanya Malin berdiri bukan karena merasa bersalah telah menjatuhkan gelas, tetapi karena kaget dan rok nya juga terkena cipratan air.


"Tuh kann....apa gue bilang, ada yang aneh sama suara tuh gelas! Gak mungkin jatuh gitu aja." Tutur Aya sembari menggebrak meja.


"Bentar bentar....kalau yang jatuhin tu gelas cowok di samping Malin, Kenapa Malin ngaku salah?" Aya menekan pause Vidio.


Aya tertegun, ingin menyelesaikan pertanyaan pertanyaan dalam benaknya saat itu juga, namun tak bisa. Jawabannya masih belum menunjukkan titik terang.


Aya kembali memutar rekaman cctv. Kali ini Aya mempercepat vidio menuju adegan saat Aya tenggelam. Disini jelas terlihat bahwa setelah Aya jatuh, lengan perempuan itu ditarik dengan kuat oleh Dimian. Dan laki laki di samping Malin lah yang langsung melompat untuk menyelamatkan Aya.


Aya terperanjat kaget.

__ADS_1


Saat adegan keluar dari dalam air, Mata Aya membulat sempurna, mulutnya yang menganga berusaha Aya tutupi dengan telapak tangan. Aya tidak menyangka akan disuguhi Hal lain yang sangat mengejutkan.


~


Ditempat lain, Bintang duduk termenung di dalam sebuah mausoleum. Mausoleum dengan Batu nisan yang bertuliskan Galaksi Raiman Taran diatasnya. Dengan raut wajah datar tanpa ekspresi, Bintang menaruh sekuntum mawar putih yang ia pegang sedari tadi.


Mausoleum yang berdiri di samping villa Bintang itu dibenteng dengan pagar besi yang di rayapi bunga bunga dan tumbuhan menjalar.  terbuat dari marmer putih dan batu kapur menambah kesan mewah kuburan tersebut. Sepertinya orang bernama Galaksi Raiman Taran tersebut adalah orang yang sangat berharga.


Bagaimana tidak, Galaksi adalah kakak kandung Bintang yang telah meninggal dua tahun lalu dalam sebuah tragedi. Tragedi yang sampai saat ini menjadi beban dalam hidup Bintang.


"Lo kejam kak. Pergi ninggalin gue kaya gini!" Bintang bersandar dipojokan dinding maseleum sembari menatap langit langit.


Perlahan tapi pasti, butiran butiran air mata jatuh membasahi pipi tirus lelaki yang tengah mengenang sosok sang kakak tersebut. Lambat laun wajahnya juga mulai tenggelam dalam pelukan lututnya sendiri, Isak tangis pun tak mampu Bintang bendung lagi kali ini.


Sosok Bintang, sang superstar sekolah yang tegas, lugas, sedikit bicara dan bertempramen dingin itu tetaplah manusia yang memiliki hati nurani. Kepergian sang kakak tercinta memberikan bekas luka mendalam bagi Bintang.


"Gak usah sok sedih. Acting Lo gak berguna buat Gue!" Ucap Laila yang sedari tadi menatap Bintang dari luar Mausoleum.


"Ayo ke dalam, disini bukan tempat yang cocok untuk berantem." Bintang berucap datar sembari menarik tangan Laila.


Jelas Laila menepis genggaman tangan itu.


"Kenapa? Apa Lo baru sadar kalau harusnya gue berdiri disini sama Galaksi untuk doain ketenangan Lo dialam sana." Lagi lagi Laila bertutur tanpa beban.


Bintang sudah tidak tahu bagaimana lagi caranya untuk memperlakukan Laila dengan baik. Dimana Laila sendiri yang tak pernah tahu batasan dan memperlakukan Bintang seolah sepenuhnya bersalah.


Bintang berdecak kesal. "Gue mohon kali ini aja. Jangan bicara disini, ini tempat peristirahatan kakak."


Laila tersenyum miring. "Kakak? Gue pikir Lo nganggap galaksi sebagai saingan cinta doang!"


Bintang mendengus dengan kasar. Dengan kuat Bintang menyeret tangan Laila masuk kedalam villa. Laila sempat melawan, namun karena kalah kuat akhirnya Laila pasrah saja.


"Gue tanya sama Lo sekali lagi. APA MAU LO?" dengan nada tinggi Bintang mendorong Laila dengan keras ke sofa.

__ADS_1


Laila yang tersungkur menatap pergelangan tangannya memerah digenggam bintang terlalu kuat. Laila sempat tertunduk dan memejamkan mata.


"Gue pengen dengerin suara Galaksi pas nyanyiin gue lagu, Gue pengen jalan jalan berdua sama Galaksi, Gue kangen sentuhan lembut Galaksi, Gue pengen Galaksi ada disini " Laila berkata dengan pelan


"TAPI SEMUA ITU GAK MUNGKIN BISA TERJADI. LO YANG UDAH MISAHIN GUE SELAMANYA DARI GALAKSI, LO YANG UDAH BUNUH DIA DAN KELUARGA GUE!" Laila berteriak demikian pada Bintang dengan tatapan penuh kebencian dan ujaran penuh penekanan.


"CUKUP-" Bintang mengangkat tangannya hendak memukul Laila.


"BINTANG! APA APAAN KAMU INI!" seorang perempuan paruh baya dengan dress merah berdiri diambang pintu.


Bintang menoleh saat mendengar seseorang mengentikannya. "Mamah?"


Rupanya perempuan dengan kacamata hitam yang menenteng sebuah paperbag besar di tangannya itu adalah ibu kandung Bintang. Meta namanya. Melihat anak laki lakinya hampir main kasar dengan seorang perempuan, ibu mana yang tidak kesal.


Meta menghampiri Bintang dan menarik kerah bajunya hingga netra mereka bertemu.


"Dimana harga diri kamu sebagai laki laki? Apa ini yang mamah ajarkan padamu selama ini hah, Bermain kasar terhadap perempuan?" Meta bertutur tegas, tak bisa dipungkiri dari raut wajah perempuan berusia 43 tahun tersebut terselip mimik kecewa yang sulit untuk disembunyikan.


"Gakpapa tante, Bintang memang sedang emosi saat ini. Lagipula Laila yang salah." Laila bertingkah polos, merayu sang kartu emas pelaksanaan balas dendamnya.


"Lihat! gadis yatim piatu yang baik seperti ini apa kamu tega memukulnya?" Meta masih menyalahkan Bintang.


Bintang tertegun kesal menatap Laila yang sudah berpindah ke belakang punggung Meta. Senyum licik perempuan ular itu benar benar membuat bintang bergidik jijik.


"Terserah Lo semua." Bintang melengos begitu saja.


"Mau kemana kamu! Mamah mau bicara berdua." Meta memegang tangan Bintang.


Bintang menepis tangan Meta. "Tumben punya waktu."


"BINTANG!" Seruan Meta itu tak digubris oleh Bintang. Langkahnya sudah mantap untuk meninggalkan tempat yang membuat nya merasa sangat sesak itu.


......................

__ADS_1


__ADS_2