Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
17. Rooftop


__ADS_3

Aya menyayangkan dirinya tidak bisa melihat adegan yang ditunggu tunggu. Apalagi adegan saat Celine dimarahi habis habisan oleh papah nya, dan tentu saja Aya juga tak ingin melewatkan kesempatan untuk melihat bagaimana ekspresi Celine saat itu.


"Rasain Lo Mak lampir." Ucap Aya dengan pelan sembari membuka pintu.


Ceklek...


"Eh Bintang? Sejak kapan Lo disitu." Aya terperanjat kaget saat bertemu bintang tepat saat Aya membuka pintu.


Bintang hanya menatap Aya sekilas, tatapan yang tak bisa diartikan. Lalu Bintang pergi begitu saja.


Aya berpikir apakah Bintang mendengar semua pembicaraan di dalam. Jika iya, apa Bintang mendengar saat bagian Celine berkata bahwa Cahaya berduaan dengan Awan sebelum kejadian malam itu.


Pikiran Aya melayang kemana mana, Aya takut Bintang mengira Awan dan dirinya memiliki hubungan, atau paling parah Bintang mengira Awan yang menyekapnya.


Saat tersadar dari lamunannya, Aya berusaha mengesampingkan ego dimana tadi pagi mereka baru saja bertengkar. Dengan cepat Aya berlari mengejar Bintang.


Ntah kemana Bintang saat ini, bagaimana bisa Bintang menghilang begitu cepat dari pandangan Aya. Aya sendiri sudah mengecek ruang kelas, klub musik, kantin dan tempat tempat yang kemungkinan disinggahi Bintang. Namun hasilnya nihil, Bintang tak ada dimana mana.


Di garasi sekolah pun memang tak ada bintang disana, namun motornya masih terparkir rapi. Ini menandakan bahwa bintang sebenarnya masih berada di lingkungan sekolah.


Tak mau putus asa, Aya mengeluarkan ponsel dari tas nya. Tentu saja Aya berusaha menghubungi Bintang. Sempat Beberapa kali panggilan Aya terhubung namun tak diangkat.


"Ha-halo Bin Lo dimana?" Tutur Aya tersengal.


"Di rooftop sekolah. Kenapa?"


Tanpa mematikan telepon, Aya langsung bergegas menuju rooftop di lantai 5. "Lagi ngapain disitu?"


Tak ada jawaban dari Bintang. Hanya terdengar suara gersakan angin yang cukup kuat.


"Hallo Bin?" Aya mempercepat langkahnya menaiki anak tangga.


"Bin? Bintang??.." Aya tetap berusaha memanggil Bintang meskipun tak ada jawaban.


Sampai di depan pintu rooftop yang terbuka lebar, Aya bisa melihat punggung Bintang dimana Bintang sepertinya sedang memegang sebuah gitar duduk diatas kursi menghadap ke luar rooftop.


"Pantes gue panggil gak nyahut, orang hp nya aja digeletakin di bawah." Aya berdecak kesal sembari menghampiri Bintang.

__ADS_1


Bintang adalah orang yang suka tempat terbuka dan sepi. Tidak suka kebisingan dan lebih suka menghabiskan waktunya untuk sekedar bermain alat musik. Bagi Bintang sendiri, musik adalah obat penenang terbaik.


Tidak banyak yang tahu kalau Bintang sebenarnya terpaksa bergabung ke band dan menjadi ketua klub demi bisa tetap bersama teman temannya. Yah sekalipun hal itu bertentangan dengan kepribadian asli Bintang.


"Lo lagi ngapain sih?" Ucapan Aya memecah keheningan.


"Loh, Lo ngapain malah kesini?" Bintang terperanjat kaget mendapati Aya tiba tiba sudah berdiri dibelakangnya.


Aya terdiam sejenak.


"Gu-gue takut aja Lo ngelakuin hal hal aneh."


"Emang hal aneh apa yang bisa gue lakuin disini." Bintang menghiraukan ucapan Aya.


"Ba-banyak. Misalnya ngerokok, minum minuman keras atau bahkan Lo bisa aja lompat ke bawah." Ujar Aya.


"Haha, gak lucu Ay." Bintang tertawa hambar.


Aya hanya bisa terdiam menahan kekesalan. Menyesal sekali rasanya tadi Aya tergesa gesa berlarian kesana kemari mengkhawatirkan kondisi Bintang. padahal nyatanya manusia es ini sedari tadi duduk santai di rooftop.


"Duduk! Lo gak cape berdiri terus?" Bintang menepuk kursi sampingnya.


"Bin...Lo tadi denger pembicaraan di ruang kepala sekolah?" Aya langsung berterus terang.


Disisi lain Bintang melanjutkan aktifitasnya yang ternyata sedang mengelap gitar hitam kesayangannya. "Denger."


"Ouhh iya" Aya kehabisan kata kata untuk mengungkit kejadian sebelum penyekapan malam itu.


"Gak ada yang mau Lo jelasin?" Pandangan Bintang beralih pada Aya.


Tentu saja Aya mengira ini adalah sebuah isyarat baginya. Mungkin saja Bintang ingin mendengar penjelasan tentang kejadian lebih rinci pada malam itu. Disini Aya juga mulai merasa ragu untuk menceritakan nya. Namun Aya tak mau berbohong atau menutupi apapun lagi dari Bintang.


"Sebenernya ada hal yang belum gue ceritain ke Lo." Aya duduk di samping Bintang.


Bintang sendiri masih melanjutkan aktifitasnya. "Apa?"


"Gue belum bilang ke Lo kalau sebelum kejadian penyekapan itu Gue ngobrol berdua sama Awan di taman belakang. Ta-tapi kita gak ngobrol aneh aneh, cuma bahas urusan sekolah aja." Ujar Aya.

__ADS_1


"Lo bukan belum cerita Ay, tapi Lo sebelumnya udah cerita tapi boong." Ketus Bintang.


Aya terdiam. Aya tak menyangka kalau ingatan Bintang sangat tajam.


"Gak usah berpikir yang ngga ngga. Gue tau sifat Awan. Yang dia katain tentang gue ke Lo pasti hal yang baik buat semuanya." Ujar Bintang.


Tentu saja Aya semakin kaget, sedekat itu hubungan antara Bintang dan teman temannya hingga meskipun Aya tak bercerita apa apa, Bintang sudah bisa menebak dengan benar kejadian yang sebenarnya.


"Iya memang sih sebenarnya Awan bahas tentang Lo dan sedikit mengenai keluarga Lo dan..." Aya tak berani melanjutkan kata katanya, takutnya Bintang tersinggung kalau mengungkit masalah pribadinya.


Disisi lain Bintang juga terhenti dari aktifitasnya dan menatap kosong kearah gitar yang sedang ia bersihkan.


"Awan bilang apa tentang keluarga gue?" Tutur Bintang terdengar sangat datar namun penuh penekanan.


Aya menarik nafas panjang. "Awan cuma bilang kalau kemungkinan besar Lo nolak Gue karena lagi ada masalah keluarga. Udah cuma itu doang."


Bintang meremas kuat lap yang Bintang pegang. Dengan kasar dan tidak beraturan Bintang melanjutkan aktifitasnya mengelap gitar dipangkuan nya. Seperti tengah menahan emosi.


Aya merasa tidak enak melihat tingkah Bintang yang seolah tidak senang mendengar ceritanya barusan.


"Maaf Bin, gue gak bermaksud nyari tau privasi hidup Lo." Aya bertutur lembut.


Bintang berucap pelan "gak seharusnya Lo denger kalimat itu Ay."


Aya sedikit merasa bersalah terhadap bintang. Aya juga sudah kehabisan kata kata untuk menjawab perkataan Bintang. Yang mampu Aya lakukan saat ini hanya tunduk membisu dengan rau wajah sedih.


Keheningan menghampiri Aya dan BintangĀ  selama beberapa menit. Tak ada yang kembali memulai percakapan, Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


Sampai tak lama, Bintang berdiri dan berjalan keluar meninggalkan Aya. "Bin Lo mau kemana?"


"Balik." Hanya itu yang Bintang ucapkan.


Aya sendiri berjalan mengikuti Bintang. Saat menuruni anak tangga, bintang terlihat berbelok ke lantai 4. Pikir Aya mungkin bintang ingin menaruh Gitarnya di ruang klub musik, jadi Aya melanjutkan langkahnya menuju lantai bawah untuk menghampiri mobil yang sudah datang menjemputnya.


Langkah kaki Aya terhenti saat melihat di ujung lorong lantai satu sedang ada pemandangan yang cukup menarik


Rupanya Celine, kepala sekolah dan seorang laki laki yang sangat mirip dengan kepala sekolah sedang berdebat hebat.

__ADS_1


Aya tak mau melewatkan kesempatan itu, Aya langsung mundur dan bersembunyi dibalik dinding.


......................


__ADS_2