Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
24. Apakah kita teman


__ADS_3

Di garasi, Bintang bertemu Malin yang tengah mengambil barang barang dari bagasi mobil. Bintang menatap  barang barang yang tengah dikeluarkan Malin. Benar dugaan Bintang, isinya koper yang sepertinya pakaian untuk Laila.


"Kakak..." Malin menyapa bintang yang sedari tadi menatap koper koper di tangannya.


Bintang mengeriyatkan dahi. "Koper siapa?"


"Mmm...ini, kemarin aku cerita ke mamah kalau Kak Laila pulang dari Amerika terus mamah langsung beliin baju baju ini buat kak Laila dan pengen kak Laila tinggal di villa ini sama kakak..."  Malin bercerita dengan ragu.


"B*j*Ingan...Gue gak akan mau serumah sama dia!" Bintang melengos begitu saja dari villa melaju dengan cepat mengendarai motornya.


Tepat dipersimpangan jalan, Bintang di kagetkan oleh klakson mobil Awan yang rupanya membawa Cakra dan Dimian untuk menghabiskan weekend di villa Bintang. Niat bertemu di villa malah bertemu dipersimpangan jalan, tentu saja mereka meminggirkan kendaraan dan berbincang sebentar.


Bintang menghampiri mobil Awan. "Di villa lagi ada nyokap Gue, hang out ketempat lain aja yu!"


"Nyokap Lo? Tumben banget woi kenapa?" Dimian yang duduk disamping Awan nampak penasaran, begitu juga Cakra.


"Panjang. Ntar gue cerita. Ikutin gue aja!"


Bintang berucap sembari kembali menaiki motornya. Kali ini Bintang berniat untuk menenangkan hati dan pikirannya ke klub.


Sementara ditempat lain, Aya tertunduk dengan wajah lesu dan tatapan kosong setelah melihat cuplikan di CCTV sampai akhir.


"Cukup pak cukup! Saya udah tau kebenaran. Tolong salin vidionya kirim ke nomor saya sekarang pak!" Aya bertutur pelan.


"Siap non, saya simpen dan kirim sekarang." Sahut pak satpam yang langsung mengutak Atik komputer di depannya.


"Bapak hapus aja rekaman ini dan jangan bilang siapapun tentang apa yang bapak lihat dan dengar barusan." Aya menatap tajam pak satpam yang sedari awal menemaninya di ruang CCTV sembari menyodorkan beberapa gepok uang ke tangannya.


Pak satpam hanya mengangguk mengiyakan permintaan sang nona muda. Jelas sekali wajah pak satpam bersinar se terang mentari, dapat rejeki nomplok di pagi hari siapa yang tidak senang.


Setelah memastikan saksi mau menutup mulut dan bukti telah di hapus Aya melangkahkan kaki keluar. Langkah itu seperti tak berarah. Tatapan mata Aya yang kosong dan raut wajah yang datar, Seolah kebisingan pertanyaan pertanyaan di dalam otak nya telah membuat Aya berjalan seperti orang linglung.


Setelah beberapa menit berjalan, tanpa sadar Aya sampai di belakang rumahnya. Tepat di samping kolam renang tempat Aya hampir kehilangan nyawa kemarin malam.

__ADS_1


Aya menatap bayangan nya sendiri yang terpantul dari atas permukaan air. "Clek...Clekk.." tak disangka, tetes demi tetes air mata Aya turun bercucuran langsung menyatu dengan air kolam. Ntah apa yang tengah Aya pikiran saat ini.


"Gue gak bisa gini terus. Gue harus nemuin jawabannya!" Batin Aya.


Dengan iba Aya menghapus kasar air mata yang telah membasahi pipi mulusnya. Aya membuka ponsel yang sedari tadi ia pegang, beberapa saat mencari Vania di kontak telponnya untuk menghubungi sang sahabat yang sangat Aya taruh harapan untuk mendapatkan semua jawaban atas pertanyaan pertanyaan dalam benaknya.


Sekali dua kali, panggilan Aya hanya berdering yang menandakan masuk namun tak diangkat. Begitu seterusnya, namun Aya tak menyerah. Hampir 10 menit Aya menelpon Vania terus terusan.


"Angkat Van angkat!!" Batin Aya.


Tak lama berselang, akhirnya Vania mengangkat telepon. "Hallo...kenapa sih Ay. Lo rusak mimpi indah gue tau gak..." suara Vania terdengar lunglai.


"Kerumah gue sekarang Van! Ada yang mau gue omongin." Aya langsung mengutarakan maksudnya.


"Huaaaaaaa..." Vania terdengar sedang menguap, menganggap ucapan Aya hanya sebatas candaan.


"Srrkk, Srrkk...Gue serius Van!" Aya berusaha menahan Isak tangis.


"Srrk...Penting banget pokoknya, gue jamin Lo juga bakal kaget." Aya berusaha menstabilkan suaranya namun tak bisa. Rasa kecewa telah lebih dahulu menguasai dirinya.


"Waitt...Lo nangis ay?" Vania mulai serius.


Aya tak menjawab, kebungkaman nya memberikan jawaban iya bagi Vania.


"Ya udah Gue mandi dulu ntar langsung kesana. Tungguin gue ya....nut...nut" setelah mengiyakan permintaan Aya, Vania langsung mematikan telpon.


Aya bersimpuh di samping kolam, Aya ingin menangis namun Aya tak memiliki alasan yang jelas untuk menangisi hal tersebut. Singkatnya Aya menganggap Perempuan yang mendorong dirinya ke kolam adalah kekasih Bintang. Perempuan yang selama ini membuat Bintang berulang kali menolak perasaannya. Ntahlah apa yang telah Aya lihat di dalam rekaman CCTV sampai Aya menyimpulkan demikian.


Setengah jam berlalu, Vania sudah sampai tepat di depan rumah Aya. Sebelumnya, Vania sudah menghubungi Aya melalui chat menanyakan kemana Vania harus pergi setelah sampai di rumah Aya. Aya menjawab langsung saja ke kolam halaman belakang.


Vania mengiyakan jawaban Aya. Karena Vania tau di dalam rumah megah itu banyak pelayan yang akan menyapa Vania saat berpapasan jadi Vania bisa bertanya pada mereka.


Vania sendiri sudah tidak heran dengan kemegahan dan kemewahan keluarga Rahayu tersebut. Sudah hampir 2 tahun Vania sering berlalu lalang di rumah Aya untuk sekedar mengerjakan tugas sekolah atau tugas OSIS.

__ADS_1


Setelah berjalan menembus lorong samping, akhirnya Vania menemukan sosok Aya yang tengah duduk diatas kursi tidur di samping kolam. Vania hendak menyapa Aya, namun tatapan Aya terlihat sangat kosong dan duduk tak bergeming layaknya patung yang menatap air Kolam.


"Ay...Lo kenapa?" Vania bertutur lembut, gadis dengan kaos putih dan rok jeans pendek itu langsung memeluk pundak Aya.


"Van, kita temenan udah lama kan?" Nada ucapan Aya terdengar datar, bahkan sampai tak melirik Vania sama sekali.


"Iya kita bestie selamanyaa Cahaya Dian Rahayuuu, Kenapa sih Lo?" Vania mencubit kedua belah pipi Aya yang masih tak bergeming.


"Lo sembunyiin sesuatu gak dari gue?" Aya beralih menatap Vania. Tatapan berbinar yang seolah Aya tahu jawabannya namun tetap Aya tanyakan.


Vania bungkam. Lirikan gadis itu meliar tak berani menatap Aya.


Aya menunduk sembari tersenyum miring. "Ko diem?"


Kata kata apa lagi yang mampu Vania ucapkan, dirinya sudah terlanjur berkata bohong. "Gu-gue....."


"Gue udah liat rekaman CCTV dan sekarang gue jadi tau semuanya, Van. Kalau Lo masih nganggap gue sahabat, gue mau denger cerita versi Lo tentang kejadian kemarin malam." Aya meraih tempurung lengan gadis disampingnya, memegangnya erat dengan kedua tangan.


Vania terperanjat kaget, dalam hati kecilnya sepertinya Vania memaki dirinya sendiri ribuan kali karena telah melupakan keberadaan CCTV.


"Lo mau denger dari bagian mana?" Akhirnya Vania harus berkata jujur.


"Dari pas gue tenggelam." Sahut Aya.


"Oke wait...... sebelumnya gue berani bersumpah atas persahabatan kita kalau gue gak tau cowok bertopeng hitam yang nyelamatin Lo itu Bintang. Gue baru tau pas Bintang keluar dari dalam kolam sambil bopong Lo dalam keadaan topeng terlepas. Dia berusaha berulang kali buat keluarin air dari dalam tubuh Lo, wajah paniknya murni Ay. Gue dan yang lain sampai gak bisa berkata kata..."


Vania terhenti sejenak dan menatap sekitarnya.


"Sampai akhirnya Bintang gendong tubuh Lo ke kamar. Minta pelayan gntiin baju Lo dan ngumpulin Gue, Alpha'B, dan Laila di samping kolam..." Imbuh Vania.


"Laila? Siapa Laila?" Vania mengerutkan dahi, rasa penasarannya berakhir memotong cerita Vania.


......................

__ADS_1


__ADS_2