Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
11. Sebingkai foto


__ADS_3

"Mmm....cari angin doang sih. Kalo Lo, gimana caranya Lo bisa nemuin Gue?"


"Satpam yang nemuin Lo. Kebetulan doang gue baru sampe jemput lo terus denger ribut ribut di taman belakang, pas gue samperin ternyata Lo."


Dari cara Bintang berbicara, Aya merasa dia tengah berbohong. Tatapan mata laki laki itu selalu menatap orang yang tengah ia aja bicara, kali ini matanya sama sekali tak menatap Aya. Bahkan sesekali melirik kearah luar.


"Hmmm...terus kok gue bisa ada disini? Kenapa Lo gak nganter gue balik ke rumah?"


"Kalo nyokap Lo liat Lo balik keadaan pingsan gitu, gue yakin besoknya sekolah ditutup."


Ucapan Bintang terdengar masuk akal, mengingat ibunya Aya sangat memanjakan putrinya itu.


"Menurut Lo siapa yang punya dendam sama Lo?" Bintang sedikit penasaran


"Gak aneh, Dengan posisi gue siapa sih yang ga punya dendam. Lagian ini bukan yang pertama."


Pernyataan Aya itu membuat Bintang hanya tertegun, tatapan matanya berubah lembut. "Bukan yang pertama?"


"Nuttt....nutttt..." Suara klakson mobil dari bawah membuat dua orang itu terkejut.


"Siapa yang Dateng pagi pagi gini Bin?"


"Lo naik dulu ke atas. Weekend gini temen temen gue pasti kesini."


"Oh mereka...."


"Ganti baju Lo!"


Aya melirik bajunya, perasaan tidak ada yang salah dengan apa yang dia pakai. Namun karena pria itu nampak tak suka dengan pakaiannya, Aya hanya mengangguk dan naik keatas


Wih broo....tumben Lo pagi pagi gini masak, bagi dong."  Baru saja datang, awan langsung datang ke dapur.


"Ko piringnya dua? Ada siapa lagi." Tanya Cakra.


Awan dan Dimian menatap wajah Bintang dan tersenyum tipis. "Hayoo dimana cewek nya, gue mau juga dong"


"(Sialan, lupa gue sembunyiin)" batin Bintang


"Tadi ada Malin kesini." Bintang berbohong.


"Malin kesini? Kok Lo ga ngasih tau gue." Cakra berdecak kesal.


"Tumben tumbenan Ade Lo main kesini, Lo lagi ada masalah lagi?"


Cakra dan Awan saling bertatapan mendengar pertanyaan Dimian. Sementara Bintang hanya terdiam tak menjawab dan sibuk menyajikan sop kedalam mangkuk besar dengan raut wajah datar.


Suasana seketika hening.


"Haha emang aneh Ade nyamperin main ke rumah kakak? ya mungkin emang lagi mau aja." Awan berusaha mencairkan suasana


"4 tahun Gue sering kesini, terakhir kali liat Malin kesini cuma 2 tahun lalu pas..."

__ADS_1


"Berisik. Makan tuh! Keburu dingin." Bintang memotong ucapan Dimian.


Raut wajah datar Bintang membuat tiga sahabatnya itu hanya bisa patuh, pikir mereka mungkin bintang sedang tidak ingin membicarakan masalahnya.


"Gue mandi dulu." Bintang melepas celemek dan berjalan naik ke lantai atas.


"BURUAN YA, KITA TUNGGU DI LAPANGAN GOLF" Teriak Awan.


*****


Di tempat lain, Aya tidur telentang diatas kasur. Dia memandangi plapon rumah yang bermotif papan catur. "Selera dekor Bintang aneh juga."


Lama kelamaan Aya merasa bosan, ntah berapa lama Aya harus menunggu dikamar itu. Padahal dia sangat ingin turun dan memetik strawberry segar yang terlihat menggoda dari balik jendela.


Aya bangun dan bersandar pada kepala ranjang. "Huftttt, bosennn" Aya hanya bisa memainkan ponselnya.


Sudah lama Aya tak mengecek pesan pesan yang masuk, jadi Aya tidak kaget bila bunyi notif nya tak berhenti selama beberapa menit saat Aya menyalakan data.


Spam chat dari Vania semalam yang membuat ponsel Aya tak berhenti berbunyi "(Yaampun Van, se khawatir itu Lo sama gue)" batin Aya.


Setelah membalas pesan Vania, tak lupa Aya juga mengabari ibunya bahwa Aya menginap di rumah teman. Meskipun tau Aya tak pulang semalaman, Rupanya ibunya tak mencari Aya sama sekali. Kecewa, namun ini sudah biasa bagi Aya.


Dengan kesal Aya menaruh Ponselnya diatas laci, namun sebuah benda berkilau di dalamnya mengalihkan pandangan Aya. Aya mengamati sudut ruangan, dia memastikan tidak ada cctv yang merekamnya karena ingin melihat isi di dalam laci.


"Foto keluarga?" Aya semakin tertarik melihatnya.


Rupanya benda berkilau di dalam laci itu adalah sebingkai foto, sepertinya diambil saat Ayah Bintang yang merupakan seorang TNI berpangkat jendral tengah mengenakan seragam lengkap.


Aya ingat betul, kalau Bintang hanya memiliki satu saudari. Dan itu Malin.


Aya termenung beberapa saat sembari memandangi foto itu.


Dari luar, Bintang membuka pintu dan mendapati Aya tengah melihat hal yang selalu ia benci.


"Lo gak ada hak liat barang barang pribadi gue!"


Bintang langsung merampas kasar sebingkai foto yang dipegang Aya.


"Eh...sejak kapan Lo disini?" Aya terperejat kaget.


Bintang terlihat marah. Dengan kesal Bintang menaruh foto itu didalam lemari.


"Ma-maaf bin, gue cuma mau liat."


Bintang tetap Diam.


Aya merasa tidak enak di abaikan seperti ini. Aya berjalan perlahan dan menarik tangan Bintang, sesekali menggoyangkan tangan kekar Bintang.


Aya menaruh dagu nya diatas pundak Bintang "Bin, maafin gue." Suara Aya sangat lembut dan memelas.


Dalam hitungan detik, Bintang menggenggam kedua lengan Aya dan mendorong tubuhnya jatuh ketas kasur. Tatapan mata bintang sangat tajam, kini tubuh Aya berada dibawah Bintang.

__ADS_1


"Sakit bin lepasin tangan gue" Aya berusaha melawan, namun kedua tangannya digenggam terlalu erat.


"Karena Lo udah tau, Lo sekarang bisa ada dalam bahaya. Kalo Lo mau selamat, Lo lupain apa yang baru Lo liat."


Kali ini Bintang terlihat serius.


"Bahaya? Bahaya kenapa?"


"Dengerin gue Ay. Lupain yang Lo liat barusan!" Tegas Bintang


Aya hanya diam dan mengangguk.


Keduanya saling bertukar tatap selama beberapa menit. Kini tubuh Bintang semakin turun menghimpit Aya.


Bintang menyingkap rambut yang menghalangi wajah Aya "Lo harus inget apa yang baru gue omongin!" Bisik Bintang.


Mendengar ucapan Bintang, Aya cukup merinding. Suara berat, sentuhan halus dan dekatnya tubuh mereka saat ini membuat pikiran Aya melayang kemana mana.


"Tok...tok...tok."


Sebuah ketukan pintu yang membuat Aya dan Bintang langsung berdiri kaget.


"Bro udah belum mandinya?" Tanya Awan dari balik pintu.


"Gue gak ikut. Ada urusan penting mau keluar."


"Yahh gak asik."


"Lain kali aja."


"Yaudah Gue, Cakra sama Dimian duluan ya."


"Iya."


Setelah mendengar langkah kaki Awan menjauh, Aya dan Bintang bisa bernafas lega. Disituasi yang canggung seperti itu, Aya dan Bintang hanya bertatapan sekilas lalu saling membelakangi.


"Mereka ngajak Lo kemana?" Aya berusaha menormalkan suasana.


"Main golf."


"Ko Lo ga ikut?" Aya mengerutkan dahi


Tatapan mata Bintang beralih fokus pada Aya "Lo mau sendirian disini?"


Aya tersenyum kecil "Ngga, hehe"


Mendengar jawaban Aya, Bintang membuka lemari dan mengambil beberapa pakaian "Abis mandi gue anterin Lo balik."


Aya hanya mengangguk sembari memandangi punggung lebar Bintang masuk kedalam kamar mandi.


......................

__ADS_1


__ADS_2