
Bintang tak kuasa lagi menahan sesak saat menceritakan semua kejadian kelam masalalu nya, ia hanya bisa tertunduk merasakan luka lama yang masih mengganjal di relung dada.
"Maaf, Aya gak tau kalau Bintang pernah ngalamin hal tragis kaya gitu." Lirih nya.
Cahaya tidak pernah menyangka bahwa Bintang, lelaki yang terkenal dingin dan sedikit bicara rupanya sikap tersebut bukan bawaan dari lahir, tetapi hasil dari sebuah trauma mendalam.
Gadis itu lantas beranjak dan duduk di samping Bintang, mendekap erat lelaki yang tengah menahan penyesalan tersebut. Pun Bintang juga membalas erat pelukan Cahaya.
Bintang tenggelam dalam dekap hangat tubuh gadis tersebut. Merasakan tepukan kecil di kepala sebagai bentuk penenang membuat Bintang tak kuasa menahan air mata yang sedari tadi ia pendam dalam dalam.
Bagi Bintang, Cahaya adalah lampu terang dalam hidupnya.
"Gimana pendapat kamu setelah dengar cerita barusan? Aku tahu aku salah, ditambah lagi aku juga udah janji gak bakal nikah sampai kasus kakak punya titik terang." Ujar Bintang dengan mata berkaca kaca.
Cahaya untuk sejenak terdiam, memikirkannya keputusan terbaik yang bisa mereka ambil.
"A-aya suka sama Bintang. Tapi Aya juga menghormati janji Bintang."
"Seharusnya Bintang nggak nyatain perasaan sekarang dan ngajak Aya pacaran. Ini sama aja Bintang mau ngelanggar janji." Ujar cahaya bijak.
"Ini semua karena kejadian tadi pagi. Aku takut kamu di rebut yang lain." Tukas Bintang.
"Dimian maksud Bintang?"
Pernyataan Bintang membuat Cahaya hanya terkekeh, Rupanya kejadian itu yang membuat lelaki tersebut rela membongkar ulang kisah masalalu nya demi mendapatkan tambatan hati.
Seraya menghela nafas panjang, Cahaya berusaha menetralkan pikiran. Meskipun melihat ekspresi malu yang kentara di wajah Bintang hampir kembali membuyarkan ucapannya dengan gelak tawa.
"Bintang selalu punya Cahaya. Begitu juga Cahaya, selalu ada kalau Bintang ada." Ucap Cahaya singkat.
Penuturan beberapa kalimat yang penuh makna tersebut membuat Bintang hanyut dalam kebahagiaan. Cintanya yang sekian lama terpendam akhirnya berbalas. Meskipun pada dasarnya Bintang sendirilah yang selalu menolak perasaannya sendiri.
Malam ini mereka habiskan dengan sekedar berbincang hangat. Ntah itu membahas teman teman, sekolah ataupun keluarga.
Cahaya juga sempat menyalakan handphone dan berfoto mesra bersama Bintang.
'Kak Rein 33 Missed Call'
Notip di layar ponsel tersebut seketika membuat Cahaya dan Bintang terkejut. Ada gerangan apa kakak nya spam telpon padahal sebelumnya ia telah izin pulang malam untuk pergi bersama teman teman.
Sementara itu Cahaya masih jeli menatap layar telpon dan hendak membaca banyak pesan WhatsApp yang belum sempat ia baca, tiba tiba ponsel kembali bergetar.
Drtt
Drtt
...Kak Rein Calling...
__ADS_1
"Hallo kak?"
^^^"Aya dimana? ini udah malem kok belum pulang?"^^^
"Mmm..ini kak lagi ngerayain ulang tahun Aya sama temen."
^^^"Temen yang mana? Ini temen temen kamu dateng ke rumah. Mereka bilang kamu gak dateng dateng jadi mau kasih surprise di rumah aja."^^^
"Mampus Lo cahaya, kenapa bisa keluapaan sama janji Alpha'B "
"Mmm..Aya lagi ngerayain ulang tahun sama Bintang, kak. Bilangin sama temen temen ketemu besok aja."
^^^"Dimana ngerayainnya? Pulang kapan-"^^^
...Calling end...
Cahaya langsung mematikan telpon dengan gugup. Ia menatap Bintang yang juga terlihat kaget karena sedari tadi sepertinya lelaki itu menguping pembicaraan Cahaya dan Rein. Bukan menguping, lebih tepatnya terdengar sendiri karena Cahaya meningkatkan volume suara.
"Ya udah yuk pulang." Ucap Bintang seraya beranjak dan mengenakan jaket nya.
"Gakpapa?" Seloroh Cahaya.
"Gakpapa ayo, lagian ini udah larut. Aku juga gak enak pas berangkat kesini gak pamitan dulu sama keluarga kamu."
"Okey, besok juga ketemu lagi kok." Sahut Cahaya dengan girang seraya meraih tas nya.
Bintang tersenyum hambar menanggapi jawaban Cahaya. Seolah perkataan kekasihnya tersebut adalah salah.
"Nggak, Ayo pulang."
Mereka pun bergegas naik mobil dan melaju dengan cepat mengejar waktu. Bagaimanapun Bintang tidak ingin Cahaya terkena omel karena pulang terlalu larut.
Sepanjang perjalanan pun Keduanya hanya sibuk masing masing sembari mendengarkan musik. Cahaya terlihat serius membalas pesan pesan dari Vania dan Alpha'B yang hampir ratusan. Sementara Bintang lebih memilih fokus menyetir.
Sekian menit berlalu akhirnya mereka sampai di depan gerbang rumah Cahaya.
"Sampai sini aja, Bin? Gak mau masuk dulu?"
"Iya sampai sini aja. Udah malam gak enak, Aku mampir lain hari lagi." Tukas Bintang.
"Hmm yudah."
Cahaya hanya berkata demikian seraya mengangguk. Ia lantas membuka setting belt dan hendak membuka pintu mobil.
"Kok pintu nya masih di kunci."
"Ya lagian masa cuma gitu dong ngomongnya, hmm." Bintang membuang muka seraya berdecak kesal.
__ADS_1
Raut wajahnya sangat menggemaskan, seperti bocah kecil yang meminta permen namun tak di kasih. Cahaya sampai geleng geleng dan terkekeh di buatnya.
Cahaya banyak terkejut hari ini, khususnya dengan perubahan sikap Bintang. Rupanya lelaki tersebut tidak semonoton itu.
"Sini peluk..." Ucap Cahaya sembari membentang kedua lengannya.
Tanpa pikir panjang Bintang langsung menerkam Gadis tersebut dengan pelukan yang sangat erat.
"B-bin...Aya...g-gak...bisa nafas!."
Bintang sedikit melonggarkan pelukannya, ia tenggelam dalam leher jenjang Cahaya yang harum semerbak. Ia berusaha mengingat wangi tubuh gadis tersebut.
"Ay, akuu harap kamu mau nunggu aku buat selesain kasus ini." Bisik Bintang.
Anggukan kecil Cahaya membuat Bintang semakin mendekap erat tubuh perempuan yang mungkin akan sangat ia rindukan nantinya.
Jika bisa, Bintang ingin kembali ke tiga tahun lalu dan ia akan bersikeras untuk membatalkan liburan di Amerika atau menyarankan tempat lain.
Namun apa daya, Nasi sudah menjadi bubur. yang tersisa hanyalah penyesalan semata.
"Udah, ini udah malem." Cahaya berusaha melepaskan pelukan Bintang.
"Hmmm..." Seraya mengulum bibir, Bintang dengan berat hati melepaskan pelukan tersebut.
"Udah ya...Aya pulang dulu-"
Cup
Sebuah kecupan kecil melesat begitu saja mendarat tepat di bibir mungil Cahaya.
Dengan mata terbelalak lebar gadis itu sedikit memukul kecil lengan lelaki yang malah tersenyum lebar dihadapannya tersebut.
"Dihh mulai nakal ya." Seloroh Cahaya.
"Hehe, udah sana masuk." Sahut Bintang.
Tanpa pikir panjang seraya menahan wajah yang merona, Cahaya pun masuk kedalam gerbang rumah. Sesekali ia berbalik dengan senyum lebar dan melambaikan tangan kearah Bintang.
Cahaya tidak sadar bahwa sepasang mata sedang mengamati gerak geriknya sedari awal datang.
Terlihat dari kejauhan Bintang kembali mengendarai mobilnya seraya menghela nafas panjang setelah melihat Cahaya sudah tak ada Lagi dalam jangkauan pandangannya.
"Khmemm....Bisa jelasin abis dari mana dan ngapain aja sampai jam segini baru pulang?" Ucap Rein.
Lelaki itu sedari tadi berkacak pinggang berdiri diambang pintu rumah, menatap Cahaya yang berjalan melenggok dengan wajah berseri.
"Abis jalan jalan sama ayang...Uhuyy. Dah lah kak cerita besok aja, Aya cape mau istirahat." Ucap Cahaya sembari berjalan melalui Rein begitu saja.
__ADS_1
"H-hei jelasin dulu....Dasar.." Rein hanya bisa berdecak kesal melihat adiknya pergi begitu saja.
......................