Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
53. Hasil autopsi


__ADS_3

Rein tertegun mendengar ucapan Laila, Ia tidak menyangka gadis yang ia perjuangkan dan ia jaga selama ini akan berani berkata demikian padanya.


"Licik! kenapa kamu jadi berubah seperti ini?! kamu bukan Laila yang aku kenal lagi semenjak pulang ke Indonesia." Ketus Rein.


"Bukan aku yang berubah tapi kamu! kemana saja kamu selama ini? tidak pernah membalas pesan atau mengangkat telpon aku lagi." Laila memutar bola matanya dengan kesal.


"Aku sedang menyelediki seseorang yang berusaha membunuh Cahaya 2 kali. Dan sekarang aku tahu siapa dia."


Laila menelan saliva nya dengan keras, ia bahkan tak berani lagi menatap Rein.


"Kenapa kamu gelisah seperti ini, la?"


Rein menyeringai licik seraya meraih dagu Laila dan membuat wajah mereka saling berhadapan. Kini jarak diantara mereka hanya beberapa cm saja, Laila juga mulai gemetar dan berkeringat dingin menghadapi tatapan dingin Rein yang menyeramkan.


"A-aku tidak berniat membunuh adikmu. Aku hanya ingin menggertak Bintang saja."


"Oh? kamu mengaku sendiri?"


Laila menepis tangan Galaksi dan memutar bola matanya ke sembarang arah. Rein sendiri hanya tersenyum miring sembari beranjak menjauh dari tubuh gadis tersebut.


"Ya! aku memang berusaha membunuh adikmu, lalu kamu mau apa? melaporkan aku ke polisi? silahkan, aku juga punya banyak bukti tentang semua kejahatan yang kamu lakukan!" Tegas Laila.


Cklek


(Rein membuka kunci pintu mobil)


"Keluar!" Celetuk Rein.


"Rein! sangat panas di luar, lebih baik bicara di dalam mobil saja."


"KELUAR!!"


Laila terperanjat kaget dengan sentakan Rein, dengan cepat ia mengikuti interupsi dan keluar dari dalam mobil. Rein melempar tas Laila ke luar bersamaan gadis tersebut turun. Setelah itu Rein mengunci mobil dan berjalan meninggalkan Laila seorang diri di tengah jalan dengan Padang rumput tandus di kanan kirinya.


"REIN JANGAN TINGGALIN AKU REIN!!" Pekik Laila, namun percuma Rein tak mendengarkannya dan terus melaju ke arah kota.


Pada dasarnya Rein sangat mencintai Laila, ia bahkan rela membunuh Bintang demi kebahagiaan Laila. Bahkan selama Laila bersama Galaksi hingga Galaksi meninggal pun Rein selalu setia menemani suka duka Laila dan berbagi keluh kesah dengan gadis tersebut.

__ADS_1


Selama ini Rein mengira bahwa kekejaman Laila tidaklah salah karena ia memperjuangkan kebahagiaan nya sendiri. Namun pandangan Rein mulai berubah, ia menyadari bahwa Laila tidak akan pernah puas dan sudah melewati banyak batasan termasuk berusaha membunuh Cahaya. Prinsip Rein sudah sangat jelas, ia lebih baik kehilangan ribuan wanita daripada harus kehilangan Cahaya. Dan sejak saat ini Rein mulai mewaspadai Laila dan akan berusaha membalaskan dendam Cahaya.


Ditempat lain, Bintang tengah gundah menatap kalung couple yang ia gunakan. Sebabnya tepat setelah Rein dan Laila pergi, Bintang meminta tolong untuk mencari alamat tempat tinggal Rein dan Cahaya di Amerika pada seorang polisi yang merupakan teman ayahnya. Dan saat ini ia sudah mendapatkan nya namun ragu pergi atau tidak.


"Aku harus pergi, setidaknya untuk menjelaskan semuanya dengan baik-baik." Gumamnya sebelum menggas mobil.


Diperjalanan menuju apartemen Cahaya, Bintang hanya melamun dengan mata berkaca-kaca.


"Pasti Aya kecewa banget sama gue, kalah dugaan terburuk gue terjadi gue harus bisa tenang dan merelakan semuanya. Bagaimanapun gue mau Aya bahagia, meskipun tanpa gue." Monolog Bintang.


Tak lama berselang, Bintang tiba di lobby gedung apartemen Cahaya dan masuk kedalam lift. Sesampainya di lantai apartemen yang diberikan teman ayahnya, Bintang langsung memencet tombol bel berulang kali dengan gugup.


Cklek


"Siapa-"


Cahaya tertegun melihat sosok dihadapannya adalah laki-laki yang paling ia hindari di dunia ini. Tatapan Cahaya berubah menjadi beringas dan hendak menutup pintu lagi namun Bintang menahannya.


"S-sebentar Ay, Aku mau jelasin sesuatu dulu." Lirih Bintang.


"Apalagi yang perlu dijelasin? semuanya udah jelas, gue gak buta!"


"Aku mohon Ay, sebentar aja. 5 menit."


"Gak bisa! sana pergii!" Cahaya bersikukuh.


"AKU UDAH TAU SIAPA PEMBUNUH KAK GALAKSI!" lantang Bintang.


Tentu saja pernyataan tersebut membuat Cahaya tertegun menatap Bintang dengan lekat, ia juga berhenti berusaha menutup pintu dan membiarkan Bintang melanjutkan ucapannya.


"Aku udah 2 Minggu disini dan dapet banyak hasil penyelidikan. Plis Ay izinin Aku masuk dan jelasin semuanya dulu." Bintang memelas.


Cahaya dengan raut datarnya hanya mendengus kasar dan berlalu masuk kedalam apartemen. Bintang tersenyum dan bernafas lega sembari mengikuti gadis tersebut masuk.


Kini mereka duduk di sofa dengan canggung, Cahaya bersilang tangan nggan menatap Bintang sementara Bintang mulai gugup harus memulai ceritanya darimana.


"5 menit!" Celetuk Cahaya.

__ADS_1


"H-hah?"


"Gue kasih Lo waktu 5 menit untuk jelasin semuanya, setelah itu Lo harus pergi dari sini."


"B-baik. Sebelumnya dengan bantuan teman papa aku berhasil menemukan beberapa berkas penting yang disembunyikan dari aku oleh mama dan papa. Mereka tidak pernah mengungkit masalah ini sebelumnya dan hanya menganggap bahwa kejadian penyerangan hari itu hanya ulah perampok." Ujar Bintang.


"Berkas apa?!"


Bintang merogoh beberapa lembar kertas dari dalam saku nya dan menyodorkannya pada Cahaya. Gadis itupun mulai membaca informasi di dalam berkas tersebut dengan teliti.


"Berkas autopsi? Jenis senapan, ukuran peluru, dan efektivitas nya apa ini aku tidak paham?" Cahaya mengerutkan kening.


"Intinya adalah senapan yang di gunakan oleh pembunuh tersebut adalah senapan yang biasa digunakan tentara militer dalam membunuh kriminal dari jarak jauh. Fakta lainnya adalah bahwa senapan tersebut jarang digunakan di Amerika tapi banyak digunakan di Indonesia."


"Tapi akan sangat sulit menyelundupkan senjata dari luar negeri Bin, gak semudah itu."


"Iya ay Aku tahu, jadi bisa disimpulkan kalau pembunuhan ini memang direncanakan dengan matang dan bisa jadi sniper itu adalah Kopasus Indonesia yang sedang bertugas menjalankan misi rahasia." Bintang berusaha menerawang.


"Memang keluarga kamu melakukan kesalahan apa sampai harus dibunuh seperti buronan? Apalagi Ayah kamu itu Perwira tinggi TNI, bagaimana mungkin negara memberikan hukuman seperti itu."


"Iya awalnya aku juga berpikir begitu. Tapi ada desas desus lain yang disampaikan oleh teman ayahku bahwa saat itu memang ada beberapa Intel negara yang sedang menangkap buronan melarikan diri di sekitaran tersebut. Bisa jadi mereka salah sangka ditambah ayah dan kakak membawa senjata juga tentu saja mereka bisa melakukan kesalahan." Ujar Bintang panjang lebar.


"Oke dari penjelasan lo bisa diambil kesimpulan kalau pembunuh kak Galaksi itu Intel negara yang salah sasaran makanya ayah kamu tidak mengungkit hal ini lebih jauh?"


"Iya benar."


"Lalu apa yang mau Lo lakuin kedepannya?"


"Geu bakal serahin berkas-berkas ini ke Laila supaya dia puas dan gak ganggu hubungan kita lagi."


"Hubungan kita? memang kita punya hubungan apa?" Cahaya tersenyum miris.


"Ay Aku mohon jangan salah paham, Aku tinggal satu apartemen sama dia tapi kita gak tidur satu ruangan. Kejadian tadi pagi cuma akal-akalan dia doang buat misahin kita."


"Oke, waktu 10 menit habis. Selamat ya kasus kematian kak Galaksi udah terungkap dan sekarang silahkan pergi dari sini dan kita lanjutkan hidup masing-masing dengan damai."


"Ay? Kamu masih gak percaya sama aku?" Bintang beranjak mendekat dan menggenggam kedua tangan Cahaya dengan erat.

__ADS_1


......................


__ADS_2