
"Oh jadi sekarang kamu menyalahkan aku hah?"
"Aku gak nyalahin kamu, tapi memang kenyataannya kamu yang salah."
"Hey! Ingat siapa yang menelpon aku malam-malam dengan Isak tangis memohon pertolongan untuk membunuh duri yang menghambat hubungan kamu dan Galaksi!" Rein berucap dengan penuh penekanan, matanya yang merah membara menunjukkan amarah kentara tersalur di setiap kata yang ia ucapkan.
...----------------...
3 tahun lalu, sehari sebelum keberangkatan keluarga Manhoor dan keluarga Taran berlibur bersama ke Amerika;
Malam itu, Bintang diberikan amanah oleh ibunya untuk mengantarkan makanan ke asrama Galaksi. Mau tidak mau Bintang menurut saja. Namun ia benar-benar dibuat terkejut saat melihat Laila dan Galaksi tengah berpelukan mesra dipinggir asrama sembari menikmati cahaya rembulan.
Brakk
Bintang menjatuhkan rantang ditangannya yang sontak membuat sepasang kekasih itu menoleh dengan cepat. Bintang dan kedua orang itu sama-sama tertegun saling bertukar pandangan untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Bintang bergeming dengan tatapan kemarahan berjalan menghampiri Galaksi dan Laila.
"Lepaskan! Dia adalah calon istri aku, berani sekali kakak menyentuhnya!" Bintang menarik tangan Laila.
"Bintang, kamu sedang apa malam-malam disini?" Tukas Galaksi.
"Bukan calon istri, tapi calon kakak ipar!" Tegas Laila seraya menepis tangan Bintang.
"Kenapa kamu selalu menolak aku? Apa kurangnya aku dari kakak?" Ketus Bintang.
"Banyak! aku tidak suka bocah SMP."
"Sudah-sudah jangan dianggap serius, Bintang masih kecil la jangan terlalu kasar." Galaksi bijak.
"Meskipun aku masih kecil, suatu saat aku akan tumbuh dewasa. Dan saat itu tiba tunggu saja, aku akan mengambil Laila dari kakak!" Tegas Bintang.
"Haha, jika kamu suka maka ambillah. Apapun milik kakak akan jadi milik kamu juga." Galaksi melembut seraya menepuk bahu Bintang diiringi senyum tipis.
"Gala! Apa maksud kamu?!"
"La, jangan marah. Bintang hanya tidak mengerti perasaan kita."
"Berhenti memperlakukan aku seperti anak kecil. Aku akan bicara pada mama dan papa untuk mengalihkan perjodohan ini padaku." Bintang mengulum bibir seraya bersilang tangan.
"Haha lakukan saja sesuka kamu, Bin." Galaksi tertawa puas.
__ADS_1
"Gala! Bisa-bisanya kamu tertawa disaat seperti ini..huh!" Laila dengan kesal meninggalkan kedua kakak beradik tersebut.
"Eh la mau kemana?!" Teriak Bintang namun Laila tak bergeming.
"Bintang, kapan kamu akan mengerti? perjodohan itu bukan bukan permainan anak-anak." Tegas Galaksi mengalihkan pandangan Bintang.
"Sejak kecil kakak selalu yang paling disayang sama papa. Dalam hidup ini aku hanya bisa jadi orang yang dituntut untuk lebih dari kakak. Aku gak bisa mendapatkan apa-apa kalau gak bisa kaya kakak. Dan kali ini aku mau kakak merasakan bagaimana rasanya tidak mendapatkan apa-apa!"
"Sebenci itu kamu sama kakak?"
"Nggak! Aku cuma ingin kakak merasakan apa yang selama ini aku rasakan." Tegas Bintang dengan tatapan berkaca-kaca.
Galaksi tak bergeming, ia terus menatap lekat netra adiknya tersebut yang berbinar menampilkan tekad kuat dalam pancaran matanya.
"Baik, kakak akan kasih kamu kesempatan. Pergi kejar dia."
Bintang hanya mendengus kasar dan tersenyum kecut kemudian dengan cepat mengejar Laila yang sudah cukup jauh. Ditempat lain Laila dengan cepat berjalan tanpa arah di sebuah gang sepi yang tak jauh dari asrama kampus Galaksi. Sembari berlinang air mata ia duduk menatap taburan bintang diatas kursi panjang dipinggir jalan.
Laila sudah sangat lelah dengan tingkah Bintang yang selalu menjadi penengah diantara hubungannya dengan Galaksi, ditambah Galaksi sendiri selalu membela dan memanjakan Bintang membuat Laila semakin muak. Ia takut suatu hari Bintang benar-benar serius dengan ucapannya dan meminta kedua orang tua mereka untuk mengalihkan perjodohan, dan saat hari itu terjadi mungkin Galaksi juga akan melepaskannya dengan mudah.
Katakanlah Bintang adalah duri dalam daging yang sangat menyiksa. Padahal sebelumnya mereka bertiga hidup rukun sampai orang tua mereka kembali mengingatkan ikatan perjanjian nikah di masa mereka kecil dulu tiba-tiba Bintang menjadi berubah seperti sekarang, blak blakan mengatakan jatuh cinta pada Laila dan akan berusaha untuk mengalihkan perjodohan kepadanya.
...Rein Calling...
"Hallo Rein?! hshshs"
^^^"La, kamu kenapa nangis? lagi dimana sekarang?"^^^
"Aku capek Rein hshshs."
^^^"Kenapa lagi? Coba tarik nafas cerita pelan-pelan."^^^
"Aku capek sama tingkah Bintang, dia selalu aja bikin aku ngerasa gak tenang hshs..."
^^^"Karena Bintang lagi? Sialan bocah tengik ini, apa yang bisa aku lakukan untuk menenangkan perasaan kamu, hmm?"^^^
"Besok kami sekeluarga akan berangkat liburan ke Amerika, bunuh Bintang di sana."
^^^"K-kamu yakin?"^^^
__ADS_1
"Iya. Dengan kematiannya aku dan Galaksi bisa hidup tenang."
^^^"Baik, kalau itu memang keinginan kamu maka tunggu saja kabar baik dariku."^^^
"Hmm, hati-hati. Jangan sampai melukai diri sendiri."
^^^"Siap, la. Sampai jumpa besok."^^^
"Hmm, sampai jumpa."
...Calling end...
Setelah berbincang dengan Rein, Perasaan Laila sedikit lebih tenang. Beruntung disaat terpuruk seperti ini ia memiliki seseorang yang selalu bersedia menjadi sandaran dan tempat bercerita. Namun disamping itu, perasaan tenang nya tak bertahan lama, sebab dari kejauhan Laila melihat Bintang tengah berlari hendak menghampirinya.
"huh.. huh.. huh.. Laila! aku manggil kamu dari tadi!" Seloroh Bintang ngos-ngosan.
Plak
Sebuah tamparan keras melayang tepat di wajah mulus Bintang yang kala itu masih berusia 15 tahun. Ia mengalihkan pandangan dari kesedihan berubah menjadi kebencian saat menatap wajah lelaki tersebut.
"Kenapa kamu harus berucap seperti itu dihadapan Galaksi? Aku tidak pernah menginginkan perjodohan ini di alihkan! Aku hanya cinta sama Galaksi, kamu udah aku anggap kayak adik sendiri....Plis, sadar Bin."
"Aku tulus sama kamu, seperti kamu tulus sama kakak!" Tegas Bintang.
"Kekanak-kanakan, kamu akan menyesal dengan pilihan kamu sendiri!"
"Gak akan." Celetuk Bintang dengan yakin.
Laila tak menggubris ucapan Bintang, ia malah mendengus kasar dan kembali berjalan menuju mobil yang terparkir dan meninggalkan Bintang seorang diri.
...----------------...
Laila tak bergeming mendengar ucapan Rein, memang benar ia yang telah meminta Rein untuk membunuh Bintang. Namun siapa sangka takdir tuhan malah membuat lelaki yang paling ia cintai yang malah terbunuh. Sebenarnya Laila sempat membenci Rein untuk beberapa waktu, namun lama-kelamaan ia baru sadar bahwa dirinya juga bersalah dalam hal ini. Seminggu setelah kematian Galaksi pun Laila langsung pindah ke Amerika dan menetap di apartemen yang ia tinggali bersama Bintang saat ini.
Setiap hari saat merindukan Galaksi Laila akan pergi ke padang ini dan merenungi segala kesalahannya berharap sisa sisa arwah Galaksi bisa melihat dirinya yang kini dipenuhi rasa benci dan penyesalan.
"Aku akui memang aku yang meminta kamu untuk datang ke Amerika dan membunuh Bintang, tapi bukannya alasan kamu bukan hanya untuk membunuh satu orang saja, tapi dua kan? Aku yakin kamu paham maksud aku." Laila tersenyum licik.
......................
__ADS_1