
Cklek...brakk
Aya menutup kasar pintu kamar. Tangannya masih gemetar mengingat hal yang baru saja terjadi. Tak dapat dipungkiri bahwa Aya merasa tegang bercampur senang. Saat berjalan menuju ruang tengah pun Aya tak berhenti melemparkan senyuman lebar dengan pipi merah merona pada setiap pelayan yang berpapasan dengannya.
Langkah Aya tertahan di ruang tengah, saat melihat seseorang duduk di kursi yang membelakanginya. Rambut hitamnya terlihat cukup familiar. Aya berjalan perlahan menghampiri orang misterius tersebut.
"Pantas saja sedari awal banyak pelayan berlalu lalang, rupanya sedang ada tamu." Batin Aya.
"KAK REIN!" Aya terperanjat kaget, senyuman yang ia ukir pun memudar sesaat.
Rupanya laki laki dengan kaos polo putih dan celana panjang hijau tosca yang tengah duduk menyeruput segelas teh tersebut adalah Rein-Kakak kandung Aya.
Melihat adik tersayang nya tiba tiba berada di belakangnya, Rein langsung berdiri membentangkan tangan dengan senyum lebar. Memberi ruang untuk sang adik tercinta memeluk tubuh putih bersihnya yang kekar.
Tanpa aba aba Aya berlari menuju pelukan sang kakak yang sudah lama Aya rindukan. Rein sampai mengangkat tubuh Aya dan memutarnya dengan riang. Begitulah dua kakak beradik itu mengekspresikan rasa rindu tak bertemu selama empat tahun lebih.
"Ini masih pagi kak, Dateng jam berapa?" Aya bertanya dalam pelukan erat Rein.
"Kakak udah dateng sejak kemarin. Karena kepikiran ide buat ngasih kejutan sebelum kamu berangkat sekolah, jadi kakak dari hotel pulang pagi pagi buta." Rein bertutur dengan senyum lebar.
"CAHAYA! SIAPA DIA!" Bintang berjalan dengan cepat menghampiri Rein dan Aya yang masih berpelukan sembari menatapnya.
Rupanya Bintang sedari awal sudah melihat keakraban mereka tak sengaja saat hendak mengambil es batu ke dapur untuk mengobati memar Aya.
"Sialan, gue lupa bilang jangan keluar sama Bintang." Batin Aya yang mulai gelisah dengan mata yang membulat sempurna.
Rein melepas kasar pelukannya. "Siapa laki laki itu?" Tatapan Rein menajam dengan nada tegasnya yang khas.
Aya hanya diam termangu diantara dua orang laki laki yang saling menyipit bersilang tangan menatap tajam satu sama lain. Benar benar posisi yang canggung, Aya bingung harus berkata apa.
"Cahaya! Jelasin sama kakak siapa cowok yang keluar dari kamar tamu ini!" Rein bertutur tegas.
"Ka-kakak?" Bintang terperanjat kaget.
"Huftt... Bintang kenalin ini Kakak gue, Kak Reinal. Kak, kenalin ini temen Aya namanya Bintang." Aya berusaha memperkenalkan Bintang dan Rein.
"Ha-halo kak, Gu- eh Aku Bintang." Bintang mengacungkan tangannya untuk berjabat.
Disisi lain Aya malah terkekeh mendengar ucapan dan raut wajah kaku Bintang. Sementara Rein masih menatap tajam Bintang, tatapan kecurigaan yang sepertinya tengah mengaum ingin menerkam Bintang saat itu juga.
__ADS_1
"Lagi ngapain Kamu disini?" Begitulah sifat Rein, langsung pada intinya dan anti basa basi.
Bintang terdiam dengan tangan yang masih mengambang di udara.
Aya menurunkan pelan tangan Bintang.
"Hmmm, Bintang semalam lagi ada masalah keluarga kak, jadi nginep disini...hehe." Aya berucap dengan ragu, melirik kearah Bintang seolah memberikan isyarat keras untuk angkat bicara.
Bintang hanya tersenyum kearah Rein menanggapi ucapan Aya dengan anggukan.
"Kalian berdua pacaran?" Rein menyipitkan mata.
"NGGAK!" Kompak, Aya dan Bintang menjawab serentak.
Suasana semakin canggung, Aya dan Bintang saling bertatap pasrah. Sementara Rein masih menyipitkan mata, mengamati Bintang dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Sayang sekali. Kamu hanya tampan dan gagah, namun untuk sekedar mengungkap perasaan saja kamu tidak mampu." Rein bertutur tanpa beban.
Aya terperanjat kaget. Bagaimanapun aya harus memaklumi sifat blak blakan sang kakak. Meskipun begitu, Rein benar benar seorang pengamat yang baik, hanya dengan sekali bertemu Rein bisa langsung paham situasi dan sifat orang dihadapannya.
"Kakak, ki-kita tidak seperti yang kakak pikirkan." Aya berusaha menyanggah.
Bintang hanya termangu mendengar ucapan Rein dia malah tertunduk dengan tangan mengepal kuat.
Tak lama Rein berdiri dengan tatapan khawatir. "Aya, tangan sama pipi kamu kenapa?"
Rein menghampiri Aya dan duduk disampingnya, memegang tangan memar yang sedari awal berusaha Aya tutupi.
"JAWAB!" Rein meninggikan suaranya, jelas saja Aya dan Bintang terperanjat kaget.
Bintang langsung bersimpuh dilantai. "Ma-maaf kak.."
"Kamu yang membuat tangan lembut Aya memar sampai bengkak begini?" Tanpa segan Rein menarik kerah baju Bintang.
"Bentar kak, Aya bisa jelasin..." Aya berusaha melerai keduanya.
"Semalam Bintang mabuk, Aya jemput Bintang di klub dan gak sengaja di goda beberapa cowok kasar. Tapi Aya gakpapa, tuh ini cuma bengkak kecil." Ujar Aya sembari menunjukkan pergelangan tangannya.
Rein melempar kasar kerah Bintang hingga tersungkur ke lantai. Rein memegang lembut tangan Aya dan mengusapnya pelan. "PELAYAN! BAWAKAN ES BATU!"
__ADS_1
Teriakan Rein terdengar beringas bagi para pelayan, sontak mereka kalang kabut mengambil apa yang diminta sang tuan muda.
"Br*ngs*k....Maafin kakak datang telat Ay." Rein bertutur sembari mengobati bengkak di pergelangan tangan Aya.
"Gakpapa kak, lagian kan Aya juga baik baik aja." Sahut Aya.
Rein menatap Bintang yang masih bersimpuh di lantai. "Bangun Lo."
Bintang yang mendengar hal tersebut segera bangun.
"Kamu harus melakukan sesuatu untuk bertanggung jawab atas semua luka ini!" Lagi lagi Rein bertutur tanpa beban.
"Apapun kak, aku juga merasa bersalah. Semua ini gak seharusnya terjadi sama Aya. Sebagai laki laki aku sudah kehilangan harga diri karena tidak bisa menjaga seorang perempuan" Bintang berucap dengan tatapan tulus terhadap Aya. Ketulusan yang rupanya dapat dirasakan juga oleh Rein.
"Bukan cuma Lo, tapi kita. Ayo kita pergi sekarang."
Ucapan Rein terdengar cukup aneh, Bintang dan Aya hanya terdiam tak mengerti maksud sang kakak.
"Kemana kak?" Bintang mengeriyatkan dahi.
"Bertemu para brengsek yang nyakitin adik tersayang gue." Rein berucap penuh penekanan.
"Tapi kak, ini Senin. Kita masih harus sekolah." Ujar Aya.
Rein menoleh. "Gampang."
Seolah Rein sudah memiliki rencana nya sendiri. Baginya, Aya adalah segalanya. Siapapun yang menyakitimu Aya, tidak berhak hidup tanpa mendapatkan hal yang setimpal.
Tak banyak basa basi, Rein bergegas menuju garasi untuk mengambil mobil. Sementara Aya dan Bintang hanya bisa ikut dengan pasrah. Mereka tidak bisa menolak Rein, bagaimanapun mereka juga paham rasa sayang Rein terhadap Aya sangatlah besar.
"Ayo cepetan." Rein berkali kali mengklakson Aya dan Bintang yang berjalan dengan ragu menuju mobil.
"Dimana klub nya?" Rein bertanya menatap Bintang dari pantulan spion dalam mobil.
Bintang melirik Aya sesaat, Aya sendiri memberikan isyarat yang seolah meminta Bintang untuk mengatakan yang sebenarnya saja.
"Aku aja kak yang nyetir, biar lebih cepet." Ucap Bintang.
Rein menoleh dengan cepat. "Hebat, masih SMA udah berani nyetir tanpa SIM...but its ok."
__ADS_1
Pada akhirnya Bintang menyetir mobil membawa Aya dan Rein menuju klub yang semalam didatangi Alpha'B. Diperjalanan, Bintang juga menjelaskan sedikit mengenai klub tersebut yang merupakan milik dari sahabatnya, Cakra.
......................