Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
36. Penyesalan seumur hidup


__ADS_3

Dor


Dor


Dor


Suara Laras senapan itu berdentuman dimana mana, menembus setiap sudut mobil yang ditumpangi keluarga Taran.


Ditengah kegaduhan itu Bintang berusaha melihat dari balik kaca mobil.


Kondisi Ayah dan kakak nya tengah berjuang menembak balik sniper tersebut. Ia beralih melihat Malin yang tengah tengkurap di sela mobil seraya menangis, begitu juga ibunya memeluk erat Bintang seraya merapalkan doa doa.


Bintang benar benar merasa tak berdaya.


Sementara itu, Lintang dan Galaksi juga tengah melakukan perlawanan. Naas nya mereka berdua melawan pada satu arah, sepertinya karena terlalu tegang keduanya tidak ingat bahwa penembak tersebut lebih dari satu.


Tanpa sengaja Bintang melihat seorang sniper dari arah belakang ayah dan kakaknya, sniper itu tengah mengarahkan senapan hendak membidik Galaksi.


"Kakak awas!"


Sepontan Bintang turun dari mobil dan memeluk kakaknya dengan erat berusaha menghadang peluru. Namun na'as nya Galaksi juga menyadari keberadaan sniper tersebut, ia segera berbalik memutar tubuh Bintang hingga berada di bawah Kungkungan nya.


Dor


"Akkgg..."


Mata Bintang terbelalak sempurna. Jantungnya terasa berhenti berdetak, Badannya kaku tak bisa bergerak. Suara nyaring itu menggema ditelinga nya bagaikan sihir yang menghentikan aliran darah.


Bintang menatap raut wajah kakak nya dengan rasa sakit yang kentara. Ekspresi wajah Galaksi saat itu benar benar menempel di ingatan Bintang.


Mulut Galaksi mulai mengeluarkan darah, jatuh bercucuran keatas tubuh Bintang, Peluru itu menembus dada kiri Galaksi hingga Bintang dapat melihat bolongan nya dengan jelas. ia juga dapat merasakan aliran darah segar bagaikan air terjun keluar dari tubuh sang kakak membasahi dirinya.


Tepat sebelum Galaksi ambruk, Ia sempat melontarkan senyum tipis. Senyum yang menjadi dongkrak besar dalam hidup Bintang.


Galaksi bangun gal..


Galaksi!


Kakak...


Terdengar hiur suara Meta, Malin dan Lintang mulai mengerumuni mereka dengan deraian air mata. Bintang ingin bangun, namun tak bisa. Peluru itu rupanya juga menembus ke dada nya.


Ning...

__ADS_1


Suara nyaring itu memenuhi gendang telinga Bintang, ia remang remang melihat orang tuanya berusaha membangunkan dirinya dan sang kakak, namun ia tak bisa mendengar apapun.


Rasa dingin dan sakit luar biasa itu menjalar dalam sekejap. Hingga semuanya gelap dan Bintang pun tak sadarkan diri.


Tak lama secercah cahaya putih membangunkan Bintang. Ia berdiri disebuah kebun bunga tulip yang menghampar luas sejauh mata memandang.


"Apakah Gue udah nyampe surga?" Bintang bermonolog seraya mengamati sekitaran.


"Bintang!"


Suara tak asing itu membuat Bintang mendelik dengan cepat. "Kakak!"


Ia segera berlari dan memeluk erat tubuh Galaksi. Bintang tak kuasa lagi menahan deraian air mata setelah baru saja mengalami kejadian mematikan dalam hidupnya.


"Pulang lah, jaga keluarga kita. Aku titipkan Laila padamu!" Ucap Galaksi seraya melepas pelukan Bintang.


Perlahan lahan tubuh Galaksi pergi menjauh dan menyatu dengan udara. Cahaya putih itu kembali memenuhi pandangan mata Bintang.


"KAKAKK!" Bintang menjerit seraya terperanjat bangun dari mimpinya.


Rupanya kejadian tersebut hanya buah tidur. Bintang sedikit terkejut karena pertemuan dan sentuhan hangat tubuh Galaksi benar benar terasa nyata bagi nya.


"Kak bintang, gimana kondisi kakak?" Ucap Malin yang sedari tadi memegang tangan Bintang.


Aghkk


Bintang merasakan sakit dibagian dadanya, ia menatap diri yang sudah berganti pakaian dengan perban yang melilit punggungnya.


"Kita di rumah sakit kak, Kak Galaksi udah......" Ucapan Malin terputus, gadis itu menunduk tak kuasa menahan Isak tangis.


"Gak...Gak mungkin..."


Mata Bintang membulat sempurna dengan tatapan yang kosong. Ia berusaha turun dari ranjang dan berjalan Dempo keluar kamar. Malin berusaha menghentikannya namun Bintang selalu menepis lengan Malin.


Suara nyaring itu kembali memenuhi seisi telinga Bintang hingga ia tak menghiraukan ucapan Malin. Yang ingin ia lakukan saat ini hanya menemui sang kakak yang ntah bagaimana kondisinya.


Tak lama, Bintang melihat Ayah dan ibu Laila tengah menangis di ujung lorong. Sedikit Bintang mendongak keatas dan mendapati ruangan tersebut adalah kamar Mayat.


Bintang tak bisa berbuat banyak, seraya menahan rasa sakit di dada dan air mata yang mulai bercucuran ia segera berjalan masuk kedalam ruang tersebut.


Benar saja, Ia melihat kedua orangtuanya tengah menangis menenangkan satu sama lain disamping sosok Galaksi yang sudah terbujur kaku dalam dekapan Laila. Gadis itu tak menangis sama sekali, ia hanya memeluk erat tubuh Galaksi diatas ranjang dengan tatapan kosong.


"Kakak hks hks."

__ADS_1


Bintang segera berlari dan hendak memeluk erat Galaksi yang sudah pucat pasi. Namun Laila menepis tangannya dengan keras.


"Jangan sentuh Galaksi! Dia terbaring disini karena Lo!" Tukas Laila.


Gadis itu melontarkan ucapan penuh penekanan dengan tatapan kebencian yang tak pernah Bintang lihat sebelumnya dari sosok Laila.


Ucapan Laila tersebut semakin membawa Bintang pada keterpurukan dan rasa bersalah.


"BAJINGAN! LO HARUS BERTANGGUNGJAWAB!" Laila mulai kehilangan kendali.


"Bintang juga udah berusaha nyelamatin galaksi la, hanya galaksi sendiri yang mau mengorbankan hidupnya demi menyelamatkan Bintang." Ujar Meta seraya memeluk Laila berusaha menenangkan gadis tersebut.


"Gak Tante, dia cuma pura pura. Si picik ini pasti sengaja keluar supaya Galaksi mengorbankan hidupnya sendiri." Sangkal Laila.


Memang sebelumnya Meta dan Lintang telah menceritakan semua yang terjadi saat itu, beruntungnya tepat setelah Bintang dan Galaksi tak sadarkan diri, mobil keluarga Manhoor tiba dan membawa mereka ke rumah sakit.


"Gue tau Lo gak suka sama dia dan pengen dia mati supaya Lo bisa sama gue kan!" Imbuhnya.


"Apa maksudmu, Laila?" celetuk Lintang.


"Iya om, Bintang sudah berkali kali menyatakan perasaannya pada Laila. Berkali kali juga Bintang memaksa Laila agar menerimanya dan meninggalkan galaksi." Ujar Laila dengan mata berkaca kaca.


Gadis itu tak segan menceritakan apa yang selama ini mereka bertiga tutupi demi kebaikan Bintang sendiri. Namun hari ini Laila sudah kehilangan kendali, baginya Bintang adalah kebencian terbesar yang ingin ia hancurkan saat itu juga.


"Apa Galaksi tahu semua ini?" Seloroh meta.


"Tentu saja Tante, Galaksi terlalu baik hingga meminta Laila untuk tidak terlalu menanggapi ucapan Bintang dan hanya menganggapnya sebagai lelucon anak kecil. Galaksi tidak mau berseteru dengan Bintang!" Ujar Laila.


Lagi lagi ucapan gadis tersebut membawa Bintang pada rasa penyesalan yang mendalam. Ia menatap wajah Ibunya yang nggan menatapnya sama sekali, sementara sang ayah melontarkan tatapan marah yang langsung menusuk perasaan Bintang.


Dengan mata terpejam seraya menunduk, Bintang berusaha menghela nafas panjang dan berkata.


"Baiklah terserah kalian mau percaya atau tidak padaku." Ucap Bintang dengan sayu.


"Dengar Laila, Gue janji bakal mengusut tuntas kasus ini sampai gue tahu siapa pelaku yang sebenarnya. Agar memberikan rasa adil buat Lo, gue berjanji akan terus melajang dan tidak menikah sampai kasus ini menemui titik terang!" Tegas Bintang.


"Hanya itu? Apa dengan begitu nyawa Galaksi bisa kembali?" Laila tersenyum miring.


"Tidak, tapi setidaknya kakak ku bisa beristirahat dalam damai!"


Kematian Galaksi mengubah Bintang menjadi pribadi yang pendiam, dingin dan tidak suka berbaur. Ia merasa tidak senang menjalani hidup bahagia dengan sumbangan nyawa dari kakaknya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2