
Cahaya tak punya pilihan lain, Ia terpaksa ikut bersama Bintang menuju Villa. Meskipun dingin malam sama dinginnya dengan orang yang duduk di sampingnya saat ini.
Gadis itu sempat beberapa kali menoleh pada Bintang, dan Bintang masih dengan ekspresi nya yang datar fokus menyetir, seolah mengisyaratkan untuk tidak mengajaknya berbicara.
Begitulah kira kira perasaan Cahaya selama melalui jalan menuju Villa. Sunyi dan mencekik perasaan.
Nut
Nut
Bintang menekan klakson berulang kali saat sampai di depan gerbang villa yang nampak kosong dan gelap gulita.
"Kemana sih pak satpam." lelaki itu hanya bisa menggerutu.
Tak lama satpam pun keluar dengan tergesa gesa. "Maaf lama tuan, saya sedang patroli."
"Hmm." Hanya itu yang Bintang ucapkan.
Cahaya hanya iya iya saja dengan tingkah Bintang yang tak aneh bila acuh tak acuh.
Setelah memarkirkan mobil di garasi, Bintang meraih tangan cahaya dan menariknya masuk menuju ruang utama melalui pintu depan.
Sembari menunggu Bintang yang tengah merogoh saku mengambil kunci Villa dan membukanya, Cahaya menatap sekeliling dengan perasaan mulai takut dan gelisah. Suasana terlalu gelap dan dingin baginya.
Ceklek
Lagi, saat pintu dibuka bukan hnya di luar Villa yang gelap, di dalam juga tak kalah gelap. Cahaya memegang tangan Bintang berusaha meraba dinding sebagai patokan.
Ctrek
Begitu lampu menyala, mata Cahaya membulat sempurna. Ia mengangkat satu lengannya menutupi mulut yang menganga.
"Selamat ulang tahun Cahaya." Ungkap Bintang
Lelaki itu memeluk erat tubuh hangat Cahaya yang masih diam tertegun. Tak lama Cahaya mendorong Bintang menjauh dari tubuhnya. Gadis dengan mata berbinar itu menatap lekat Bintang.
"Apa maksudnya semua ini, Bin?"
"Maafin Gue, Tadi pagi cuma bercanda aja. Khusus buat kejutan malam ini."
Bintang mengusap punuknya berulang kali seraya tersipu, ia kelabakan dan baper sendiri dengan perbuatannya.
"Serius?" Cahaya menyipitkan mata.
__ADS_1
"Seriuss, Cahaya. Gue kan udah janji sama Kak Rein bakal memperjuangkan Lo." Ucap Bintang seraya meraih kedua tangan Cahaya dan mengelusnya dengan lembut.
Raut kesal di wajah Cahaya perlahan memudar, berganti dengan senyum lebar yang terukir. Dengan cepat gadis itu melompat kedalam pelukan Bintang.
Bintang tertawa lepas dan memutar tubuhnya bersama dengan Cahaya di dalam pelukannya. "Gue mau kasih sesuatu. Tapi Lo harus tutup mata." Bisik Bintang.
Seraya merogoh sesuatu dari dalam saku nya, lelaki itu menurunkan Cahaya, pun gadis itu juga mengikuti interupsi dari Bintang agar menutup mata.
Setelah menunggu beberapa menit, Cahaya merasakan tubuhnya terasa hangat oleh pelukan tangan Bintang yang perlahan menjalar diatas perutnya. Jantung gadis itu berdegup, batinnya jungkir balik minta untuk menjerit.
"Buka mata, Ay." Bisik Bintang.
Cahaya membuka mata perlahan, Ia meraba lehernya yang seolah terpasang sebuah kalung.
Benar saja, kalung emas edisi terbatas dengan motif Huruf B bertabur Berlian.
"Bin, ini mahal banget."
"Everything for you." Ucap Bintang seraya mengeluarkan kalung perak yang rupanya ia kenakan sedari awal.
Kalung itu bermotif huru C dan berdesain sama seperti milik Cahaya. Rupanya Bintang menghadiahkan sebuah kalung couple untuk Cahaya.
Gadis itu tersipu, ia tak bisa menyembunyikan wajah nya yang memerah, ia hanya bisa memeluk erat Bintang dalam dekapannya.
Hari ini Cahaya mendapatkan kebahagiaan bertubi tubi, Banyak orang yang pergi lama meninggalkan dirinya seorang diri akhirnya satu persatu kembali.
Cahaya yang tengah tenggelam dalam harum semerbak tubuh lelaki itu langsung melotot kaget. Ia mendelik, menatap netra Bintang dengan lekat.
"Lo serius ngajak gue pacaran?"
"Maaf selama ini Aku selalu nolak perasaan kamu, sejujurnya aku lebih dulu suka sama kamu bahkan sebelum konser pertama hari itu, Ay. Tapi pastinya aku punya alesan yang kuat. Dan kejadian pertengkaran tadi pagi bikin aku ngerasa semakin yakin untuk segera mengungkapkan nya." Ujar Bintang seraya mengusap lembut sebelah pipi Cahaya.
Mata lelaki itu berbinar, seolah sangat berat agar bisa sampai di Keputusan sekarang untuk mengungkapkan perasaannya.
Disisi lain, Cahaya sangat tersipu. Baru kali ini Bintang berdialog dengan nya menggunakan bahasa yang sopan dan nada yang tersaring lembut.
"Aya gak mau hubungan kita dimulai dengan sebuah rahasia yang belum terungkap. Aya ingin hubungan kita terbuka dan tidak menutupi apapun."
"Ayo duduk dulu, aku udah siap menceritakan segalanya."
Bintang bertutur dengan yakin, ia meraih tangan Cahaya dan menggenggam ny seraya berjalan menghampiri meja bundar yang telah dihiasi berbagai makanan, cake dan anggur.
Suasana terasa hangat, meskipun hanya berdua akan tetapi seperti yang dikatakan oleh Bintang sebelumnya bahwa ia tak perlu yang lain, berdua saja sudah cukup. Cahaya juga merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Bintang menyeret kursi dan mempersilahkan Cahaya untuk duduk. Ia meraih sebotol anggur dan menuangkannya pada gelas di hadapan Cahaya. lelaki itu menyalakan lilin diatas kue strawberry yang telah ia persiapkan sebelumnya.
"Sebelum tiup lilin, jangan lupa berdoa dulu."
Cahaya tersenyum mendengar ucapan Bintang. Ia menutup mata, mengatupkan tangan dan mulai berdoa.
Disisi lain Bintang menatap wajah cantik Cahaya yang terkena cahaya api lilin. Mulus dan sepertinya sangat lembut. Lelaki itu hanya bisa berdecak kagum di dalam hatinya.
"Huftt..."
"Ye, Selamat ulang tahun. Cahaya nya Bintang." Ucap Bintang seraya berdiri dan kembali memeluk tubuh gadis pujaannya tersebut.
Cahaya hanya bisa tersipu sembari membalas dekapan hangat sang crush yang akhirnya meleleh. Ia menerima dengan senang setiap perlakuan manis dari Bintang.
"Cheers dulu... hehe" Bintang mengangkat gelas di tangannya
Begitupun cahaya, setelah gelas beradu keduanya bersilang tangan dan meneguk anggur dengan sikut tangan saling mengikat.
Lagi, tatapan lekat keduanya tak bisa berpaling satu sama lain, semakin dalam dan dekat.
Bintang mulai merunduk, hendak meraih bibir ranum gadis dihadapannya yang tampak menggoda, tatapannya meliar seolah menelanjangi seluruh tubuh Cahaya.
Deruan nafas keduanya semakin dekat, Cahaya bisa merasakan hangat nafas Bintang menyapu kulit wajahnya. Untuk sesaat tubuhnya seolah membeku.
"Jangan sekarang, ceritakan dulu rahasiamu."
Dengan susah payah Cahaya mengendalikan tubuhnya, ia mendorong tubuh Bintang agar sedikit lebih jauh darinya.
Bintang tersenyum miring, dengan wajah merona. "Hehe, baiklah."
Setelah menghela nafas panjang dan duduk di kursi tepat di hadapan Cahaya, Bintang berusaha mengalihkan pikirannya agar bis serius untuk kali ini saja.
"Jadi ceritanya dimulai tiga tahun lalu..."
...----------------...
*Flashback 3 tahun lalu
Pagi mendung, matahari seolah bersembunyi dibalik awan tebal yang menghitam. Membawa suasana pada angin landai yang kian menggebu. Cuaca di Ohio, Amerika memang suka berubah ubah.
Di sebuah resto yang ramai, bersatu dua keluarga tengah menyantap hidangan yang disajikan diatas meja.
Keluarga Taran dan Keluarga Manhoor, adalah keluarga yang berasal dari kalangan TNI. Keduanya Kepala keluarga tersebut adalah perwira tinggi yang sudah berteman baik sejak dulu. Hal ini lah yang membuat dua keluarga bisa berlibur bersama keluar negeri meskipun hanya sepekan.
__ADS_1
Seluruh anggota keluarga bercengkrama saling berbagi cerita, lain hal dengan Bintang. Ia malah mengulum bibir seraya menatap tajam kearah Galaksi-Kakak Bintang dan Laila- Kekasih Galaksi.
......................