Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
08. Sebuah cerita


__ADS_3

Kegiatan telah selesai, sore akhirnya tiba. Aya duduk menghela nafas panjang diatas kursi Panitia. "Gila cape banget."


"Cape cape gini enaknya di traktir makan sama yang baru jadian, hehe" goda Vania.


Aya nampak tersipu "Apaan sih Van. Gue sama bintang cuma temenan doang."


"Temenan ko sampe di gendong, mana sering pulang bareng. Uhuyyy."


"Terserah Lo. Males gue."


"Dih dih muka Lo tuh merah merekah kaya tomat hahah" Vania nampak puas menjahili sahabat karibnya itu.


Tiba tiba dari belakang seorang datang menghampiri dua sahabat yang tengah mengobrol tersebut "Ay. Gue mau ngomong berdua sama Lo" ucap Awan.


Aya mengerutkan dahi "Ehh, tumben. Kenapa Lo?"


"Udah ayo, ini penting!"


"Yaudah kalo Lo berdua mau ngobrol Gue balik dulu ya, udah di jemput nih." Vania hendak berpamitan "Eh cumi, titip temen gue. Jangan diapa apain" imbuhnya.


Awan tertawa lepas "Yang ada gue kali yang diapa apain sama ni cewe."


"Hahaha bener juga Lo."


"Apaan sih Lo Van. Tapi thanks ya buat hari ini."


"Hahaha, iya Bu ketos don't worry"


Sepeninggal Vania dari sana, Awan membawa Aya menyusuri jalan setapak di belakang sekolah. Dia meminta gadis itu untuk menemaninya berbincang sebentar dibawah pohon rindang dengan pemandangan taman yang cukup luas dan sejuk.


"Ada apa nih tumben Lo ngajak gue kesini lagi. Biasanya kalo udah kaya gini lo mau cerita panjang lebar"


Awan nampak hanya tersenyum kecil sembari menatap keatas langit "Hmm...Lo tau ga ay, gue, Bintang, Cakra, sama Dimian kenal udah sejak SMP. Kita udah kaya keluarga. Cuma sejak masuk SMA semuanya berubah. Hubungan kita udah ga sedekat dulu, semuanya karena Lo." Tatapan Awan langsung beralih pada Aya.

__ADS_1


"Gu-gue? Maksud Lo apa Wan?"


"Dimian lebih awal suka sama Lo sejak kita baru pertama masuk ke sini. Dia cerita tentang Lo tiap menit selama lagi ngumpul ditongkrongan. Gue gak tau kejadian apa yang bikin Bintang juga suka sama Lo, tapi gue tau kalo Lo juga suka sama dia. Selama beberapa hari ini hubungan kita berempat jadi semakin buruk karena perebutan ini. Apalagi kejadian pas dia lagi sakit di UKS tapi bantuin Lo buat ngedekor sekolah sampe ngundang pendekor terbaik di seluruh...."


"Waitt! Apa yang baru Lo ucapin barusan? Bintang yang bantu ngedekor sekolah?" Aya berdiri dan nampak terkejut


"Lo Gatau? Gara gara kejadian itu Dimian cemburu berat, gue dan Cakra udah berusaha nutupin perasaan Bintang ke Lo dari Dia supaya ga terjadi perselisihan. Tapi setelah bintang nelpon gue buat minta tolong keluarin Dimian dari UKS karena cemburu ngeliat Lo deket sama cowok lain, Dimian udah mulai curiga. Dan hari ini, kecurigaan dia sekaligus hal yang gue dan Cakra bantu tutupin akhirnya terbongkar juga."


Mendengar jawaban Awan, Aya nampak semakin bingung dengan apa yang terjadi "Gu-gue gak tau semua itu terjad. Lagian kalo emang Bintang ada perasaan sama gue. Dia pasti ngomong sejak awal. Gue juga sempet nanya tentang perasaan nya ke gue, tapi dia ga jawab apa apa."


"Gue sebenernya ga mau ikut campur urusan Lo berdua. Tapi gue rasa penting ngasih tau Lo hal ini demi hubungan persahabatan kita semua Ay." Awan terdengar ragu.


"Hal apa? Apa yang Lo sembunyiin dari gue?."


"Gue tau kalo alesan Bintang ga ngungkapin perasaannya ke Lo bukan cuma karena ga mau hubungan dia dan Dimian hancur, tapi juga karena dia punya masalah keluarga yang cukup kompleks Ay. Gue gak bisa ceritain detail nya, cuma gue mohon sama Lo. Kalo perasaan Lo cuma buat Bintang, lebih baik Lo omongin hal ini baik baik sama Dimian. Seengganya masih ada cara supaya hubungan kita masih sama sekalipun Lo sama Bintang bersatu"


Mendengar perkataan itu, Aya tertunduk diam. Dia tidak mengetahui bahwa Bintang memiliki masalahnya sendiri. Mungkin masalah itu juga yang membuatnya selalu pergi tiba tiba atau pulang lebih lambat.


"Cuma itu yang mau gue sampein Ay, gue harap Lo bisa pikirin lagi." Awan menepuk bahu gadis yang nampak masih tertegun itu


"Kalo gue bisa, gue pasti bantu Lo Ay."


Dengan berbinar Aya menatap Awan "Ceritain apa masalah keluarga yang lagi dihadapin Bintang. Gue mau jadi support sistem yang lebih baik buat dia."


"Gue gak tau detail nya. Lebih baik Lo cari Malin." Awan nampak ragu.


Mendengar jawaban Awan, Aya kembali terdiam. Dia bersandar pada pohon dibelakangnya, sesekali mengingat setiap waktu yang dia habiskan bersama bintang. Disisi lain dia juga memikirkan cara untuk menjelaskan perasaan yang sebenarnya terhadap Dimian.


"Udah sore nih, balik yu."


"Duluan aja Wan, gue masih perlu udara segar."


Setelah Awan pergi, kini hanya tersisa Aya dan pikirannya yang terus berdebat ditengah heningnya suasana. Berharap sebuah petunjuk datang membantunya melewati hari hari esok.

__ADS_1


Tak lama getaran notif chat masuk diponsel Aya menyadarkannya dari lamunan "Gue di depan rumah Lo. Keluar."


Aya terkejut mendapat notif seperti itu dari orang yang tidak ia duga. Selama beberapa saat pun gadis itu hanya tertegun menatap layar ponsel sembari memikirkan jawaban yang harus diberikan.


"Kring kring kring" sebuah telpon masuk. Benar saja itu dari Bintang.


"Ha-halo....kenapa bin?" Aya terdengar gugup


"Lo dimana? Kata satpam rumah Lo belum balik."


"Gue masih di sekolah"


"Gue kesana sekarang, Jangan kemana mana."


"Tapi bin gue...nut..nutt" Bintang mematikan telpon. Jelas Aya terlihat sedikit kesal dengan perubahan sikap bintang yang selalu saja tiba tiba.


Tanpa pikir panjang Aya bergegas untuk kembali ke sekolah mengambil tas yang tertinggal di ruang kelas. Aya memandangi langit yang mulai gelap dan matahari yang telah tenggelam, waktupun menunjukkan pukul 17.45 sore. Langkahnya berjalan menyusuri taman belakang sembari melihat isi notif chat dari grup OSIS yang belum sempat ia balas.


Heningnya suasana taman ditambah sepinya jalan yang Aya lalui membuat langkah gadis itu semakin cepat. Perasaan aneh mulai dia rasakan, ujung matanya seolah menangkap sosok seseorang dari samping kanan dibelakangnya.


Aya menoleh dengan cepat "siapa?"


Namun tak ada siapapun. Hanya ada pepohonan yang rimbun serta suara air mancur kolam ikan yang terdengar disana.


Kecurigaan gadis itu belum hilang. Ia berjalan lebih cepat, ujung matanya berusaha menangkap sosok itu lagi. Dalam sekejap dia berhenti dan langsung menoleh dengan cepat, namun lagi lagi tak ada siapapun.


"Kring kring kring...."


"busett! Ngagetin aja." Telepon masuk ke ponselnya di situasi yang sangat tepat.


"Hallo Van kenapa?"


"Lo udah balik belum? Mau minta kirimin gue file pembukuan yang udah Lo revisi, mau gue satuin di dokumen buku besar"

__ADS_1


Ditengah obrolan mereka, tak sadar seseorang berjaket hitam tebal dengan kepala tertutup helm mengendap perlahan dibelakang Aya.


......................


__ADS_2