Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
38. Mendadak


__ADS_3

Keesokan harinya, Cahaya berjalan melenggok memasuki lobby sekolah yang cukup ramai.


Waktu sudah siang dan sebentar lagi masuk, Namun dengan santainya Gadis itu menyapa setiap murid seraya menebarkan senyum cerah, bisa dibilang matahari punya saingan baru.


Bahkan semua murid yang melihat Cahaya bertingkah sangat ceria seperti itu mulai saling bergosip, apalagi ia sengaja mengenakan kalung emas pemberian Bintang di luar seragam hingga nampak mencolok. Tak ayal para siswi semakin gencar.


"Morning guys!"


Cahaya menyapa semua orang di dalam kelas dari ambang pintu seraya membentang tangan keatas diiringi senyuman lebar.


Murid murid yang tengah berkerumun sontak menoleh, hingga untuk beberapa detik kelas menjadi hening. Tatapan mereka seolah meratapi Cahaya dengan iba. Termasuk Vania, gadis itu berada di tengah kerumunan dan berjalan menghampiri Cahaya dengan ekspresi kusut yang tak bisa di tebak.


"Kenapa, guyss?" Senyuman Cahaya memudar seketika saat melihat raut wajah kawan kawannya yang murung.


"Kok Lo masuk sih hari ini, kita kira Lo bakal ke bandara ikut nganter."Sahut Vania.


"Ke bandara? ngapain? nganter siapa?"


Cahaya mulai kebingungan, ia memutarkan bola matanya menyusuri sekeliling kelas yang malah riuh bergosip setelah mendengar jawaban Cahaya.


Untuk sesaat tatapan gadis itu terhenti di kursi Alpha'B yang kosong. "Dimian, Cakra, Awan pada kemana?"


"Mereka nganter Bintang ke bandara Ay, Lo gak tau Bintang hari ini pindah sekolah?" Sahut Vania.


Deg


Cahaya diam membisu, menatap lekat netra Vania yang terlihat serius. "J-jangan bercanda Van, gak lucu!"


"Serius Ay, Bintang pindah sekolah ke Amerika, tadi pagi Alpha'B titip izin ke gue mau nganter Bintang ke bandara." Ujar Vania.


Mata Cahaya membulat sempurna seraya mulai berkaca-kaca menatap Vania. Perlahan ia berjalan mundur tertatih dengan tatapan kosong.


"Van gue izin juga hari ini!" Seloroh Cahaya sembari pergi berlari meninggalkan kelas.


"AY, LO MAU KEMANA?"


Sahutan Vania tak digubris oleh Cahaya, gadis itu terus melangkahkan kaki seraya mengutak atik telpon meminta pak supir kembali ke sekolah.


"SIAL SIAL SIALLL."

__ADS_1


Waktu bagaikan sebuah cekikan setiap detiknya, dengan perasaan yang campur aduk Cahaya hanya bisa mengacak ngacak rambutnya dengan kasar seraya mondar mandir tanpa arah.


Perasaannya sudah tak karuan, bahkan untuk berdiri tegap pun gadis itu tak bisa. Cahaya menunggu sopir datang di samping lobby sembari berusaha menghubungi Alpha'B.


"Angkat anjir angkat!!"


Sial nya dari Dimian, Awan dan Cakra tak ada satupun yang menjawab telpon atau membalas chat. Tindakan tiga sahabat itu seolah sengaja ingin menyembunyikan kepergian Bintang dari Cahaya.


Gadis itu hanya bisa pasrah menunggu mobil datang seraya terus mengumpat kesal mengabsen nama nama hewan di hatinya. Benar benar perasaan Cahaya seolah sedang dipermainkan.


Tak lama getaran sebuah notif dari awan masuk, Ia mengirimkan lokasi bandara kepada Cahaya. Cahaya dengan cekatan segera menelpon Awan, namun Sepertinya awan langsung mematikan handphone.


Hanya semakin menambah frustasi Cahaya saja.


Kebetulan tak lama juga Sopir Cahaya datang, segera gadis itu masuk dan meminta pak sopir pergi ke alamat bandara yang di kirimkan oleh Awan.


"Non kenapa kok balik lagi, terus ini kita ngapain ke bandara?" Pak Asep-sopir pribadi Cahaya terlihat heran dengan gelagapan nona muda nya tersebut.


"Pacar saya mau pergi keluar negri pak, tapi dia gak ngasih tau atau pamit dulu sama saya!" Seketika tangis Cahaya pecah, sangat sakit rasanya mengucapkan kalimat tersebut.


Mengingat baru saja kemarin Bintang menyatakan perasaan dan bersedia membina hubungan dengannya, Tapi kenapa hari ini ia pergi begitu saja tanpa berkabar apapun pada Cahaya.


Gadis yang malang itu hanya bisa meremas keras kalung pemberian Bintang seraya mengingat kembali kenangan yang mereka lalui selama ini.


Sekitar 20 menit berlalu, Akhirnya Cahaya sampai di Bandara. Ia turun dari mobil dengan cepat dan bergegas memasuki lobby Bandara.


Untuk sesaat Cahaya berusaha menetralkan pikiran dan mengedarkan pandangan mencari jadwal penerbangan.


Perasaannya semakin tak karuan saat melihat penerbangan ke Amerika hanya tinggal beberapa menit saja, ia berlari menerobos keramaian menuju tempat pemeriksaan tiket, benar saja disana ada Alpha'B yang tengah berdiri menatap ke arah loket.


"Huh huh huh...Dimana Bintang?" Nafas Cahaya tersengal.


"Ay, Lo gakpapa kan, kenapa lari lari?" Sahut Dimian seraya menghampiri Cahaya dengan panik, diikuti Awan dan Cakra.


"DIMANA BINTANG?!"


"B-bintang udah berangkat sejak tadi." Sahut Cakra.


Deg

__ADS_1


Seketika tubuh Cahaya menjadi lemas, ia tersungkur ke lantai dengan tatapan kosong seraya air mata yang mulai berderai. "B-bintang...Kenapa lo pergi tanpa pamit hah? hks hks hks."


Alpha'B hanya bisa saling bertatapan iba. Mereka tidak bisa berbuat banyak karena ini adalah keputusan Bintang sendiri yang ingin pindah sekolah.


Sementara itu Cahaya semakin tenggelam dalam rasa sedih yang kentara, bahkan ia memukul dadanya yang terasa sesak berulang kali. Dimian hanya bisa memeluk Cahaya untuk sedikit menenangkannya.


"Nih dia nitipin surat ini buat Lo." Ucap Awan seraya menyerahkan sebuah amplop coklat.


Cahaya mengusap kasar pipi nya yang basah, ia meraih sepucuk surat tersebut dan membawanya pergi menjauh dari Alpha'B. Dimian ingin mengejar Cahaya, namun tangannya di tahan oleh Awan.


"Biarin dia sendiri dulu, bro!" Ucap Awan.


Ketiganya hanya bisa memandangi punggung Cahaya yang perlahan menjauh dan luput dari pandangan.


Disisi lain Cahaya duduk di atas kursi tunggu yang tak jauh dari loket. Ia berusaha menarik nafas panjang dan menetralkan pikiran.


Perlahan gadis itu berusaha membuka amplop dengan tangan gemetar. Isi didalamnya hanya sepucuk surat dan selembar foto yang tercetak rapi.


isi surat dari Bintang;


Dear Cahaya.


Maaf aku pergi tanpa pamit. Aku tau kamu bakal sedih banget dengan kepergian aku yang tiba tiba, dan aku gak bisa ngeliat raut wajah sedih kamu saat kita terakhir bertemu. Maaf aku terpaksa gak memberitahu keberangkatan aku ke Amerika.


Aku mohon sama kamu untuk gak terlalu larut dalam kecewa. Tolong terus bahagia dan tunggu aku pulang.


Aku juga gak mau ninggalin kamu, tapi aku juga gak mau hubungan kita gak jelas terus terusan karena janji aku yang belum bisa terpenuhi untuk mendiang kakak. Doakan aku supaya selama di Amerika aku bisa segera menyelesaikan kasus ini.


Jangan sedih, kita masih bisa berhubungan lewat online. Aku harap kamu mau memegang janji aku untuk bisa pulang kembali dan bersama kamu untuk selamanya tanpa beban apapun.


Seperti yang kamu bilang, Bintang selalu punya Cahaya, dan Cahaya ada kalau Bintang ada.


Sampai jumpa di kemudian hari. Jaga kesehatan dan jaga hati ya, sayang.


^^^Bintang.^^^


Sesak sekali rasanya membaca surat sembari membayangkan orangnya berkata langsung. Kecewa dan sedih yang bercampur rata di relung dada hanya menambah kepahitan yang dirasakan Cahaya.


Gadis itu hanya bisa tenggelam dalam dekapan lengannya sendiri, berusaha menutupi wajah yang acakadut karena air mata. Namun disisi lain Cahaya tak bisa menahan isakannya.

__ADS_1


Perlahan lahan suara itu mengeras dan semakin sayu. Orang orang yang berlalu lalang di bandara hanya bisa menatap gadis berseragam sekolah tersebut yang menangis di tempat publik.


......................


__ADS_2