Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
29. Kakak psikopat!


__ADS_3

Rein meminta Bintang untuk menghubungi Cakra agar memberikan akses masuk ke setiap ruangan tanpa terkecuali.


Bintang menuruti perintah Rein, ia menghubungi Cakra melalui telpon untuk menjelaskan rencana mereka.


Tentunya Cakra yang mendengar cerita dari Bintang mengenai apa yang terjadi pada Aya malam itu merasa bersalah, bagaimanapun Cakra yang telah menelpon Aya dan memintanya datang ke klub.


Jadi untuk menebus kesalahannya, Cakra akan mendukung setiap rencana Rein dan Bintang. Ia mengijinkan mereka berbuat sesuka hati di dalam klub.


Mendengar hal tersebut, Rein semakin bersemangat. Ia tidak perlu khawatir dengan aturan dan apapun lagi yang bisa menghalanginya meluapkan kekesalan terhadap para lelaki yang telah berani menyentuh adiknya tersebut.


...----------------...


Setengah jam berlalu, akhirnya Aya, Bintang dan Rein tiba di depan klub yang semalam dikunjungi Alpha'B. Nampak sebuah art digital bertuliskan "BlackMoonlight" Terpampang jelas diatas bangunan yang dihiasi lampu kelap kelip tersebut.


Mereka mengamati dari luar, sepertinya keadaan di dalam tidak terlalu sepi. Ada beberapa orang yang sedang menikmati segelas anggur dan minuman lainnya seraya berbincang ria.


"Di klub ini buka sewa kamar tidurnya?" Rein mendelik, menatap datar kearah Bintang.


"Ada kak." Bintang mengangguk membenarkan pertanyaan Rein.


Rein tersenyum tipis dan memasang kacamata hitam di sakunya. "Ayo kita mulai..."


Saat ini, Aya dan Rein berjalan dibelakang Bintang yang membawa mereka menuju bar tender. Sepanjang mata memandang, mereka hanya disuguhi orang orang yang terkapar dimana mana setelah semalaman minum minum dan berpesta ria. Musik DJ juga masih terdengar diputar dengan keras.


Bau alkohol yang sangat menyengat sampai membuat Aya menutupi hidungnya dengan kain. Sementara Rein sibuk melirik ke setiap sudut, sepertinya hati terdalam Rein memuji dekor dan tata letak klub tersebut.


Tidak dapat dipungkiri, Rein juga seorang laki laki yang sering datang ke klub untuk sekedar bersenang senang bersama teman temannya. Namun Rein bukan orang yang mudah bermain dengan sembarang perempuan, bisa dibilang Rein adalah pribadi yang pilih pilih bila soal dekat atau berinteraksi dengan perempuan. Itulah mengapa Rein pantas menyandang gelar si tampan titisan Beruang kutub.


"Bro, gue mau cari orang!" Bintang berbisik pada bar tender. "Jelasin ciri cirinya, Ay."


Aya maju dan menjelaskan sedikit mengenai ciri ciri dari tiga orang laki laki yang kemarin menggodanya. Bar tender sedikit termenung, mengingat apakah ada orang yang dijelaskan oleh Aya memesan kamar.


"Oh iya, mereka bertiga langganan VIP disini. Mereka semalam juga memesan kamar kelas eksekutif..." Ujar bar tender.

__ADS_1


"Di ruangan berapa?" Bintang kembali berbisik sembari menunjukkan chat nya dengan Cakra.


Mengetahui sang boss mengijinkan laki laki didepannya untuk mendapatkan akses ke manapun, sang bartender langsung memberikan sebuah kunci yang bertuliskan angka 13. Tentu saja Bintang segera meraih kunci tersebut dan mencari kamar 13.


"Itu dia kak!" Bintang menunjuk ke Sebuah ruangan di ujung, terlihat cukup gelap karena lampu yang remang remang.


"Sini kuncinya." Rein langsung meraih kunci di tangan Bintang dan membuka pintu dengan kasar.


Aya memegang erat baju Bintang. "Kakak gue udah mulai gila, Bin." Dengan nada gelisah bercampur takut, Aya berusaha bersembunyi dibalik punggung Bintang.


Mendengar ucapan Aya, Bintang menelan saliva nya. Ntah kenapa tapi Bintang merasakan hal yang serupa. Rein bukan laki laki biasa.


Mereka mendapati tiga orang laki laki di kamar tersebut masih tertidur lelap. "Kunci pintunya dari dalam." Ujar Rein yang spontan membuat Bintang mengunci pintu dari dalam


Setelah mengamati sekitar, Rein melepas kacamata, jam tangan dan gelang yang dia gunakan. "Kalian berdua, mundur. Bintang lindungi Aya."


Aya dan Bintang berjalan mundur, mereka menatap tubuh kekar Rein sembari bertanya tanya apa yang akan dilakukan laki laki dengan tinggi 179 cm tersebut.


Jelas ketiga laki laki itu langsung terperanjat kaget saat dibangunkan dengan guyuran air. Meskipun bangun, wajah ketiganya masih terlihat remang remang karena pengaruh alkohol yang belum hilang.


"B*ngsat! siapa lo ganggu gu-" Belum sempat ucapannya selesai, Rein langsung memukul keras wajah laki laki yang bangun dan menatap tajam kearah Rein.


Sekali dua kali, Rein terus memukuli laki laki tersebut. Jelas dua teman laki laki yang tengah dipukuli itu berusaha membalas Rein.


Namun mereka salah lawan.


Yang mereka hadapi adalah seorang petinju handal. Di London, Rein sering mengikuti training tinju dan karate. Bisa dibilang tubuh kekar Rein terbentuk dari latihannya dalam bidang ilmu beda diri.


Disisi lain Aya sangat ketakutan melihat adegan seperti itu, Bintang hanya bisa menenangkan Aya di balik punggungnya.


Tanpa waktu lama, ketiga laki laki itu sudah terkapar dengan wajah babak belur. "Aya, yang mana laki laki yang menggenggam tanganmu dengan kuat?" Sikap kasar Rein hilang sesaat dan berganti menjadi lembut saat menatap Aya.


Aya sedikit mengintip dari balik punggung Bintang. Mengarahkan tangannya untuk menunjuk pada laki laki berkaos kuning yang berada di tengah. Saat ditunjuk, laki laki berkaos kuning hanya bisa tertunduk pasrah berusaha menggelengkan kepala.

__ADS_1


Tanpa aba aba, Rein menggenggam erat pergelangan tangan laki laki yang ditunjukkan Aya tersebut.


"Krekk..krekk...Arghhh.." laki laki itu mengerang kesakitan. Tiga temannya sampai bersujud menangis meminta ampun.


Tanpa segan, Rein bukan hanya membuat pergelangan tangan laki laki itu memar, tapi patah. Sampai tercengklak ke belakang. Laki laki itu tersungkur dengan teriak kesakitan yang menggema dalam ruangan.


"Minta maaf sama adik gue sekarang, kalau tangan kalian masih pengen utuh." Rein berucap sembari duduk diatas kursi.


Dengan tatapan ketakutan dan tubuh yang sudah penuh dengan memar pukulan, ketiga laki laki itu berusaha merangkak menuju kaki Aya. Aya merasa sedikit takut sampai menarik mundur Bintang. "Nona maafkan kami nona, srkk srkk..."


"Krekk...krekk.. jangan deket deket. Kalian nakutin adik Gue!" Lagi lagi tanpa segan Rein menginjak kasar kaki tiga laki laki tersebut.


Erangan mereka benar benar terdengar menyakitkan sekaligus mengerikan.


"Ini yang akan terjadi kalau kalian ganggu perempuan sembarangan lagi!" Rein bertutur dengan penuh penekanan.


Ketiga laki laki itu hanya mengangguk pasrah.


Tatapan Rein tertuju pada sebuah pisau buah yang menancap diatas apel. Rein berjalan dan meraih pisau tersebut, mengusapnya pelan dengan jari jarinya yang kuat.


Ketiga laki laki itu saling bertatapan dengan rasa takut, mereka kembali memohon ampun berulang kali. Tangisan mereka terdengar sangat pilu seolah merasa sangat terancam hidup mereka akan diakhiri dengan kejam.


"Giliran kamu, Bintang." Rein menyodorkan pisau buah tersebut pada Bintang.


Jelas saja Bintang hanya diam terpaku, berusaha mencerna maksud dari perkataan Rein.


"M-mksudnya apa kak?" Bintang menatap kosong kearah Rein.


Tatapan yang seolah Bintang tahu apa yang harus dia lakukan namun dia tak percaya harus melakukannya saat itu juga.


"Bunuh mereka."  Rein berucap tanpa beban.


......................

__ADS_1


__ADS_2