Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
06. Bungkam


__ADS_3

Okeh okeh bro udah. Ayo dim kita pergi dari sini" ujar Cakra yang berusaha melerai.


"Kenapa gue yang harus pergi. Dia harusnya yang pergi dari sini." Tegas Dimian sembari menunjuk kearah Bintang.


"Maksud Lo apa" Bintang tak segan menarik kerah baju Dimian.


"Udah cukup. Diem Lo berdua atau gue kasih kalian SP 2! Kalian semua juga, disini bukan pertunjukan, BUBARR!" Teriakan Aya membubarkan kerumunan.


Setelah kerumunan bubar, Bintang menepis tangan Dimian dari Aya dan menarik Aya ke genggaman lengannya. Bintang kemudian membawa Aya meninggalkan lapangan.


"Bin Lo kenapa sih, bisa ga pelan pelan!" Ucap Aya yang berusaha menarik tangannya.


Namun Bintang tak menghiraukan ucapan Aya, dia terus menariknya menuju ruang ganti. Dengan keras bintang mendorong Aya masuk dan menyudutkan tubuhnya kebalik pintu.


Bintang memegang kedua tangan Aya dan menguncinya ke dinding, Aya yang kalah kuat hanya bisa berusaha melepaskan kuncian tangan Bintang. Kini, tubuh mereka hanya berjarak beberapa senti saja, tatapan Bintang juga mulai meliar.


"Mhhh....mhhh...Ay, Gu-Gue... " Deruan suara nafas Bintang terdengar semakin berat dan kasar.


Aya mulai melemah dan nafasnya pun tersengal-sengal. "Bi-bin Lo kenapa sih?"


"Gue ga suka Lo Deket Deket Dimian." Tatapan Bintang menajam.


Aya berdecak kesal. "Kenapa Lo gini? Apa alasan Lo"


Bintang tertegun mendengar pertanyaan Aya. Saat ini Bintang hanya melepas genggaman tangannya dan perlahan berjalan mundur dengan tatapan seolah mencari jawaban yang tepat dalam benaknya.


"Jawab bin! Kenapa Lo perlakuin gue berbeda?" Aya menarik nafas panjang.


"Gue gak ngerti sama sikap Lo. Kadang kaya orang asing, kadang dingin, kadang perhatian. sometime gue ngerasa takut, takut salah paham sama perasaan gue sendiri. Gue butuh kejelasan perlakuan Lo!" Akhirnya Aya mengungkapkan pertanyaan yang selama ini dia tahan.


Dalam hal ini, sebenarnya Aya sudah berusaha bersabar dan menyembunyikan perasaannya selama satu tahun terakhir. Karena selama berinteraksi dengan bintang, Aya merasa kalau sikap bintang datar datar saja terhadapnya. Hal ini lah yang membuat Aya lebih memilih diam daripada harus menelan kenyataan pahit bila Bintang menolaknya.


Namun perubahan sikap Bintang akhir akhir ini memaksa Aya untuk berterus terang.


"Gue gak suka liat ekspresi bungkam Lo bi!" Aya masih berusaha memojokkan Bintang.


Namun Bintang tetap bungkam.


Setelah suasana sedikit dingin. Tanpa sepatah katapun Bintang meninggalkan Aya di ruang ganti. Dia hanya sempat melirik ke arah Aya dengan tatapan yang tak bisa diartikan sebelum akhirnya menganjutkan langkahnya.

__ADS_1


Aya terpaku "BINTANG!" Sahutannya tidak di respon.


Melihat sikap bintang yang seperti itu, Aya hanya bisa berdecak kesal. Bukannya memberikan jawaban dari pertanyaan Aya, Bintang malah pergi begitu saja."


Back to scene;


*UKS 


"Hmmm....Binn, Lo dimanaa" Aya merintih dalam tidurnya di UKS.


Gadis body goals dengan rambut hitam sebahu itu nampak meringkuk kedinginan. Bintang yang mendengar rintihan Aya pun terbangun dan saat melihat situasi itu Bintang tak tinggal diam, Bintang segera mencari selimut dari dalam loker UKS.


Bintang membentang selimut dan menutupi seluruh tubuh Aya "Gue disini Ay, tenang ya" ujarnya sembari mengelus lembut rambut Aya.


Aya yang setengah sadar memegang tangan Bintang dengan erat. "Jangan tinggalin gue."


"Iya gue ga kemana mana" bintang duduk disamping Aya.


Laki laki itu bersifat dingin namun berhati lembut apalagi terhadap orang yang dia pedulikan itu terlihat sangat kelelahan. Dalam keadaan masih sakit Bintang tetap memegang tangan Aya dan mengelus rambutnya.


Tiba tiba Sebuah pemikiran muncul di kepala Bintang saat melihat ke luar jendela.


Bintang meraba sakunya, mencari keberadaan handphone nya untuk mengirim pesan kepada beberapa orang selama beberapa menit.


"Hallo.....iya bro, panggil pendekor ruangan terbaik di seluruh kota dan kumpulin semua anggota OSIS sekarang. Gue mau siang ini selesai di dekor, bayar berapapun yang diminta." Bisik Bintang pada Awan.


Rupanya Bintang sedang berusaha menyiapkan sekolah agar bisa di dekorasi secepat mungkin untuk kegiatan besok. Harap nya pendekoran itu bisa selesai sebelum Aya bangun.


Dari sini tak dapat dipungkiri, bahwa tujuan sebenarnya Bintang adalah untuk membantu Aya melaksanakan tugasnya. Supaya saat Aya bangun, Aya tidak perlu mengerjakan semua tugas itu dan bisa langsung pulang untuk beristirahat.


Beberapa menit berlalu, Bintang menatap wajah pucat Aya dengan iba. Pria berkulit putih mulus dengan mata tajam seperti elang itu nampak menyesal membawa Aya berkendara hujan hujanan kemarin, rasa tanggung jawab nya sebagai seorang laki laki mulai muncul. Hanya sebatas ini yang bisa Bintang lakukan untuk menebus rasa bersalahnya.


~


"Tok...tok..tok.." seseorang mengetuk pintu UKS.


Bintang melepas perlahan genggaman Aya dan mengganti tangannya dengan jaket agar gadis tersebut tidak terbangun.


"Sttt. Pelanin suara Lo Wan." Ketus Bintang sembari membuka pintu.

__ADS_1


Rupanya yang datang adalah Awan.


"Ini tukang dekor nya udah dateng, OSIS juga udah pada kumpul. Mulai aja?" Bisik Awan sembari melirik lirik ke dalam UKS.


Bintang menggeser tubuhnya untuk menutupi pandangan Awan "Yaudah mulai aja. Kalo sampe ada yang gak kerja, bakal berurusan sama gue." Ujar Bintang.


"Yoi broo. Ngomong ngomong tumben Lo mau ikut campur lagi tugas OSIS? Kenapa nih boss?" Awan tersenyum miring.


"Bin....Lo dimana" rintihan kecil Aya terdengar keluar, Awan yang mendengar suara Aya langsung menatap tajam kearah Bintang dan tersenyum tipis.


"Udah sana, bukan apa apa kok. Kalo udah call aja." Bintang hendak menutup pintu namun Awan menahannya.


"Eh bentar...Dimian gimana?"


"Lo urus aja." Tegas Bintang


Bintang menutup pintu dan bergegas menghampiri Aya. Bintang juga langsung memegang tangan Aya dan duduk disampingnya "Iya gue disini Ay..."


Disini Aya juga nampak semakin memeluk lengan kekar Bintang. Hingga beberapa saat berlalu, mereka tertidur pulas diatas kasur.


Sampai tiba waktu pulang pun Bintang mengantar Aya sampai kedepan rumahnya. kali ini Bintang tidak tega membangunkan Aya yang tertidur pulas selama perjalanan pulang, Bintang rela menunggu cukup lama di dalam mobil hingga Aya terbangun.


Saat Bintang menatap Aya, detik itu juga Bintang sebenarnya terpaku dengan kecantikan gadis yang duduk disebelahnya itu.


"Ko Lo bisa secantik ini pas lagi tidur sih Ay. Maafin gue ga bisa jaga Lo dengan baik sampe Lo sakit begini. Gue bingung sama perasaan Gue sendiri Ay." Batin Bintang.


"Kring kring kring...." Sebuah telpon masuk ke handphone Bintang.


"Iya Lin kenapa?"


"Kak, papah pulang malam ini. Kakak dimana?" Tanya Malin.


Tidak banyak yang tahu bahwa sebenarnya Malin dan Bintang adalah saudara kandung beda 1 tahun. Tahun ini adalah tahun pertama malin masuk ke SMA Unggulan Garuda Bangsa. Karena sebuah alasan yang kuat, mau tidak mau Malin harus menyembunyikan identitasnya.


Yang mengetahui hubungan antara Bintang dan Malin hanya Ketua OSIS, kepala sekolah dan sahabat sahabat terdekat Bintang. Selain itu juga tak bisa dipungkiri bahwa Malin sering mendapatkan perlakuan kasar dari Celine atau teman temannya, lambat laun hubungan Bintang dan Malin pasti akan segera terbongkar.


"Bilang aja Gue lagi ada kegiatan band, gak bisa nemenin Lo jemput dia!" Nada bicara Bintang langsung berubah.


"Tapi kak, mamah bilang mau ngomongin soal papah" ucap Malin.

__ADS_1


"Gue gak peduli sama tua bangka itu."


......................


__ADS_2