Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
33. Rahayu family


__ADS_3

Sepulang dari sekolah, Cahaya baru saja tiba diambang pintu rumah. Tatapannya langsung membulat sempurna saat menoleh ke ruang tamu yang dipenuhi taburan bunga mawar dan ratusan paperbag barang barang branded.


Dibalik tumpukan barang barang tersebut, berdiri Rein sembari merangkul sebuah buket strawberry yang sangat besar. Disampingnya, berdiri juga seorang wanita yang pundaknya tengah dirangkul pria disebelahnya. Mereka memegang sebuah kue lengkap dengan lilin yang menyala.


"Happy birthday sayang." ucap mereka serempak.


Sontak Mata Cahaya membulat sempurna.


"Mamah, papah." Ia berlari menghampiri dua orang yang sangat ia rindukan tersebut. Memeluk erat keduanya seraya mata berbinar diatas ukiran senyum lebar.


Rein menaruh buket ditangannya dan ikut memeluk keluarga nya. "Selamat ulang tahun, adikku sayang."


"Kenapa gak ngabarin Aya kalau kalian mau pulang." ucap Cahaya.


Kedua orang tuanya hanya bisa saling tersenyum menatap Rein. "Kalau dikasih tau namanya bukan kejutan, haha."


"Ihhh kalian...." Tangis Cahaya pecah dalam dekapan hangat keluarganya yang sudah lama tidak berkumpul.


Ranti-Ibu kandung Cahaya sudah dua bulan menetap di Amerika untuk mengurus bisnis permata di sana. sementara cabang di Indonesia di kelola oleh Hardi-Ayah kandungan Cahaya yang juga menjabat sebagai anggota partai politik dan sudah beberapa bulan menetap di Bali.


Suatu kebahagiaan tersendiri bagi Cahaya, keluarga Rahayu akhirnya bisa berkumpul kembali di rumah tepat pada hari ulangtahunnya.


"Jangan nangis dong sayang tiup lilinnya dulu." Ucap Ranti


Cahaya tersenyum girang, hendak menarik nafas panjang...


"Eitss, berdoa dulu sama Sanghyang agung." Timpal Hardi.


"Eh iya hehe." Cahaya menyatukan kedua lengannya seraya menutup mata, doa panjang yg tidak akan selesai diucapkan selama bertahun tahun pun ia rangkum dalam satu menit.


"Huftt..."


"Yee selamat ulang tahun.." Rein, Ranti dan Hardi kembali berpelukan.


Pemandangan yang jarang terlihat dari Keluarga Rahayu.


"Ayo ayo makan...." ujar Ranti.


Perempuan berusia 39 tahun itu menggiring anak anak dan suaminya duduk di meja makan. Diatasnya sudah tersaji berbagai macam makanan, yang paling banyak menggunakan rasa strawberry. Khusus untuk kegemaran yang sedang berulang tahun.


"Pake ini biar makin cantik."


Rein memakaikan topi segitiga dari kertas warna warni di kepala Cahaya, ia juga memberikan kertas serupa pada papa mama nya.

__ADS_1


Suasana hangat ditemani dentuman sendok dan piring beserta riuh percakapan keluarga kecil yang tengah berbahagia tersebut mengiringi suapan makan siang.


".....Lihat sayang, mama sama papa beliin semua itu buat kamu. Perlu empat jam untuk memilihnya." Tutur Hardi, seraya menyantap makanan yang tersaji di piringnya.


"Hmm makasii pah mah, kalian memang terbaik."


"Kakak juga beliin kamu sesuatu, nih." Rein menyodorkan sebuah kotak kecil yang terikat pita.


Cahya mendelik, menelisik isi kotak kecil tersebut kira kira apa. "Kecil banget kak." celetuk nya.


"Udah buka aja dulu." ucap Rein seraya mengusap lembut rambut adiknya tersebut.


Lagi, mata Cahaya membulat sempurna. Isi di dalam kotak tersebut rupanya adalah sebuah kunci mobil.


"M-mobil kak?" Cahaya tak bisa berkedip.


Kedua orang tuanya hanya bisa saling bertatapan dan tersenyum satu sama lain.


"Kakak mu memesan nya dengan desain khusus. Sudah sejak dua bulan lalu ia memilih milih mobil yang bagus." Ujar Hardi.


"Hmmm makasih kak." Cahaya langsung memeluk Rein dengan erat.


"Sama sama. Sana liat mobilnya ada di luar." Bisik Rein dalam dekapannya.


Mata Cahaya berbinar sempurna, ia berlari keluar dengan senyum lebar. Dan benar saja, sebuah mobil Lamborghini Aventador berwarna merah muda terparkir tepat di depan rumah.


"Gak perlu belajar kan tinggal pake aja." Ucap Rein.


"Iya kak....Makasih hmm." lirih Cahaya.


Memang gadis itu sudah sejak usia 16 tahun bisa membawa mobil sendiri. Setelah sebulan penuh mengikuti les mengemudi, di usia nya yang ke 17 ini ia sudah bisa membawa mobil dan memiliki SIM.


...----------------...


Pagi berganti siang, siang berganti malam. Waktu berjalan bagaikan angin yang berhembus, tak terlihat namun terasa keberadaannya.


Malam akhirnya tiba, Cahaya mengenakan celana jeans yang ketat membentuk lekuk tubuh, diimbangi kroptop hitam yang menunjukan perut putih mulus gadis tersebut. Sebelum turun ia melihat notif handphone dari Dimian yang mengatakan ia sebentar lagi sampai di depan rumah.


Cahaya segera turun ke lantai bawah dan berpamitan pada mama papa nya yang tengah duduk mesra menonton televisi.


"Mah pah, Aya keluar dulu mau nonton sama temen temen."


"Yaudah sayang jangan pulang terlalu larut ya." Sahut Ranti.

__ADS_1


Cahaya mengangguk mengiyakan Permintaan Ranti. Ia bergegas keluar dan menghampiri mobil hitam yang terparkir di depan gerbang.


Sebelumnya langkah sempat Cahaya terhenti, Ia merasa mobil tersebut tak asing baginya. Untuk memastikan hal tersebut Cahaya menyambanginya.


Benar dugaan Cahaya, Bintang yang keluar dari dalam mobil setelah melihat Cahaya datang mendekat. Jelas saja ia terperanjat kaget.


"Kok Lo yang jemput Gue?"


Bintang tersenyum miring. "Gak boleh?"


"Ya bukan gak boleh, gue pikir Lo gak bakal ikut nonton karena abis berantem sama Dimian." Cahaya berucap seraya memutar bola matanya dengan kesal.


"Udah ayo masuk, keburu malem." Bintang membukakan pintu dan meraih tangan gadis tersebut agar masuk dan duduk di depan.


Cahaya tak punya pilihan lain selain mengikuti interupsi Bintang. Namun baru keluar dari komplek perumahan Cahaya, Bintang mengentikan mobil.


"Kenapa berhenti, Bin?" Aya mengerutkan dahi.


"Pinjem hp Lo bentar." Ucap Bintang.


Dengan heran Cahaya merogoh ponsel di tas nya dan memberikannya pada Bintang. "Mau ngapain."


"Matiin hp Lo, gue gak mau malam ini ada yang ganggu kita." Ujar Bintang dengan tatapan serius.


Cahaya hanya termangu, ia tak mengerti dari maksud perkataan bintang, Kita malam ini? apa itu maksudnya.


Bintang kembali melajukan mobilnya. Tak ada yang memulai percakapan. Keduanya sama sama diam selama beberapa menit. Sampai Bintang membelokkan mobil nya dari jalan raya menuju ke sebuah gang yang tidak asing.


"Ini kan jalan ke villa Lo. emang nontonnya di sana?" Cahaya seraya mengerutkan dahi, menatap lekat Bintang yang fokus menyetir.


"Kata siapa kita mau nonton." Ucap Bintang singkat.


Niat Bintang kali ini adalah membawa Cahaya Villa. Tempat yang menjadi saksi bisu pertama kali mereka tinggal se atap.


"Loh gue kan udah janjian sama Alpha'B mau nonton bareng."


"Itukan sama Alpha'B, Kalau sama gue beda lagi."


Jantung Cahaya berdebar, Ia sedang berusaha menelaah maksud dari perkataan Bintang. Tiba tiba saja ia merasa sangat gugup sampai keringat dingin mulai bercucuran.


"M-maksud Lo, Kita ke villa cuma berdua?"


"Berdua aja udah cukup, gue gak butuh yang lain."

__ADS_1


Cahaya menelan Saliva nya, mendengar ucapan Bintang yang tanpa pikir panjang mengucapkan hal demikian.


......................


__ADS_2