Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
31. Perselisihan


__ADS_3

Raut wajah Bintang lagi lagi datar. Seolah tak suka melihat Dimian selalu berada di sekitar Aya. Padahal sebelumnya, ia memperlakukan Aya acuh tak acuh.


"Lo dari tadi ngitungin jam, Bro?" Dimian menyipitkan mata, menelisik raut wajah Bintang yang memalingkan wajah enggan menatapnya.


"Nih, Makan!" Bintang tak menggubris ucapan Dimian, ia malah menyodorkan paperbag yang baru saja ia terima dari satpam kepada Aya.


Bintang lebih memilih melengos tanpa sepatah katapun.


Sementara Aya yang termangu, berusaha menelaah perubahan temperamen Bintang yang selalu saja tiba tiba. Ia hanya memegang paperbag yang diberikan oleh nya seraya melihat punggung lelaki itu pergi menjauh.


Aya membuka paperbag berwarna putih yang mengeluarkan aroma lezat tak asing tersebut. Rupanya isi paperbag tersebut adalah paket burger, kentang goreng dan coca cola.


Senyum kecil terukir di bibir mungil gadis tersebut, Rupanya sedari tadi Bintang diam diam memperhatikan dirinya.


Lain hal dengan Dimian, setelah melihat isi paperbag tersebut ia mengalihkan pandangan terhadap Aya. Ia melihat Gadis itu tengah tersenyum kecil seraya memeluk erat paperbag yang diberikan Bintang. Jelas saja api cemburu terpancar dari raut wajahnya.


"Bintang tunggu!" Aya berlari menghampiri Bintang yang sudah sampai di ambang pintu kelasnya.


Langkah kaki Bintang pun terhenti, menoleh pada netra coklat keemasan Aya yang dengan cepat sudah tiba dihadapannya. "Kenapa lagi?"


"Ini, Gue juga beliin Lo air." ucap Aya seraya menyodorkan sebotol air mineral yang sedari tadi ia pegang.


"Hmm, thanks." Bintang meraih botol itu dan pergi begitu saja masuk kedalam kelas.


Tepat sebelum tubuhnya masuk sepenuhnya terhalang tembok, Bintang sempat melemparkan tatapan kemenangan seraya tersenyum miring kearah Dimian yang masih berdiri di tempatnya.


Jelas saja perbuatan Bintang tersebut semakin menambah gejolak api cemburu yang telah membara di hatinya.


Ning


Nong


Ning


Nong


Bel berbunyi, menandakan waktu istirahat telah tiba. Setelah melihat Bintang masuk kedalam kelas, Aya berbalik dan berjalan ke kelas nya dengan girang. Melenggak lenggok dengan senyum terukir lebar.


Langkah Aya terhenti, senyumnya perlahan memudar saat menatap Dimian yang tengah bersilang tangan menatap tajam kearah nya.


"Mmm....Gue masuk dulu, Dim." Ucap Aya dengan canggung.


Dimian hnya menatap Aya yang masuk kedalam kelas, tak berbicara apapun lagi. Ia menghela nafas panjang dan berjalan menghampiri kelas Bintang.

__ADS_1


Beberapa menit Dimian berdiri di ambang pintu, menunggu murid didalamnya berlalu lalang keluar kelas hingga ruangan kosong.


Bintang yang duduk seorang diri di dalam kelas tengah menatap sebotol air yang diberikan Aya seraya tersenyum kecil, senyum itu memudar saat ia menoleh kearah pintu dan mendapati Dimian tengah mengunci pintu kelas dari dalam.


"Kenapa, Dim?" Bintang mengeriyatkan dahi.


Dimian berjalan dengan raut wajah datar menghampiri Bintang. Ia menggeser kasar kursi di samping Bintang dan duduk dihadapannya seraya berkata


"Lo suka sama Cahaya?" singkat padat dan langsung pada intinya.


"Kok Lo baru sadar sekarang." ucap Bintang diiringi ujung bibir yang tersenyum miring.


"Kenapa? kenapa harus cahaya?!" Dimian bertutur dengan nada penuh penekanan.


Bintang hanya terdiam, ia tahu jika mengucapkan sepatah kata lagi Dimain akan kehilangan kendali.


"Lo harusnya tau kalau gue dari dulu suka sama Cahaya, bertahun tahun gue ngejar dia, Bin. Dimana otak Lo? kenapa Lo malah mau nikung gue, sahabat Lo sendiri." Dimian mulai mengungkapkan isi hatinya.


"Apa persahabatan kita gak ada artinya sama sekali, Bin?" Dimian menatap wajah Bintang yang masih memalingkan wajah, enggan menatapnya sama sekali.


Jauh di dalam lubuk hati Bintang ia merasa bersalah karena seolah telah merebut dambaan hati sahabatnya sendiri. Namun mau bagaimana lagi, perasaannya tidak bisa dirubah. Apalagi gadis yang dicintai oleh Dimian itu lebih memilih membalas perasaan Bintang.


"Jawab gue, Bin!"


Kesabaran Dimian mulai habis saat melihat bintang yang hanya diam membisu. Ia menarik kerah baju Bintang dengan kasar hingga mereka berdiri dan netra saling bertatap tajam.


"Jauhin Cahaya." tegas Dimian, Kedua gigi nya menggertak seolah tengah menahan amarah yang membara.


"Gak bisa. Gue sama Aya saling jatuh cinta-"


Brakk


Dimian memukul wajah Bintang dengan keras hingga lelaki itu tersungkur ke lantai. Ia tak membiarkan Bintang berlama lama terkapar, Dimian menarik kerah baju Bintang hingga ia kembali berdiri.


"Gue udah berusaha ngomong baik baik sama Lo karena gue menghargai persahabatan kita yang udah cukup lama. Tapi tingkah Lo bikin gue muak, Cih Bajingan!" Ketus Dimian.


"Kalau Aya suka sama Lo, Lo berdua harusnya udah pacaran sejak lama. Tapi apa, kenyataan nya Aya nolak Lo terus karena dia punya perasaan sama gue-"


Brakk


Lagi lagi Dimian memukul wajah Bintang hingga ia terkapar di lantai. Pukulan Dimian kali ini sangat keras, hingga sudut bibir Bintang mulai mengeluarkan darah.


Perkataan Bintang sangat pahit dan menusuk, namun memang begitulah kenyataannya, tak dapat ditolak maupun di sangkal.

__ADS_1


Dimian merunduk, memegang erat dagu Bintang seraya menatap nya dengan tajam. "Ini adalah peringatan pertama. Kita liat siapa yang bakal menang!"


Bintang menepis tangan Dimian seraya menyeringai menanggapi ucapannya.


Dimian pun pergi sembari mendengus kasar.


Saat membuka pintu kelas, Para murid rupanya sedari tadi berkerumun di depan pintu, menonton perkelahian dua superstar sekolah. Dimian menghiraukan mereka dan berlalu pergi begitu saja.


Dimian tak sadar, bahwa seseorang tersenyum kecil di balik tembok. Menampilkan raut wajah kegembiraan atas perselisihan dua sahabat tersebut.


Ditempat lain, Aya tengah memakan burger yang di berikan oleh bintang dengan lahap. Gadis itu mengunyah sembari tersenyum saking senangnya.


Vania yang duduk di hadapan Aya menatap gadis itu dengan intens. Air liurnya hampir saja jatuh. Ia meraih sepotong kentang goreng dihadapan Aya."Bagi dong!"


"Ihh jangan yang ini, ntar aja gue traktir." Aya meraih sepotong kentang di tangan Vania dan langsung memakannya.


"Ck, pelit!" Vania hanya bisa berdecak kesal seraya memutar bola matanya.


Fokus telinga Vania dan Aya mulai beralih, saat mendengar beberapa siswi yang duduk di samping mereka tengah bergosip


["Eh kalian udah liat belum, bintang sama Dimian lagi berantem di kelas sebelah."]


["hah yang bener?"]


["iya wajah Bintang sampai babak belur."]


Mata Aya langsung membulat sempurna Ia langsung menatap Vania yang sama sama tengah menampilkan raut wajah kaget. Mereka berlari begitu saja keluar kelas dengan panik.


Kepanikan Aya semakin bertambah saat melihat pintu depan kelas Bintang sangat ramai dengan murid murid yang berkerumun.


"Minggir, Minggir, Minggir..." Vania dan Aya berusaha menerobos kerumunan.


Sesampainya di ambang pintu, Keduanya melihat Bintang tengah berusaha bersandar pada dinding. Darah segar masih mengalir dari sudut bibirnya yang dipukul sangat keras.


"Bintang! Lo gakpapa kan?


Aya menghampiri Bintang seraya meraba lembut sebelah pipi lelaki tersebut, matanya mulai berkaca kaca.


"Hmm, segini doang. Gue gakpapa." sahut Bintang sembari tersenyum kecil


"Diem Lo! Ayo ke UKS." Aya berucap seraya mengalungkan tangan Bintang ke lehernya.


Bintang menatap Aya dengan tatapan penuh kasih, seolah dirinya sangat bersyukur di pedulikan oleh perempuan berhati lembut seperti Cahaya.

__ADS_1


Bintang berpura pura kesakitan, padahal pukulan kecil dari Dimian tersebut hanya terasa bagaikan gigitan semut baginya.


......................


__ADS_2