
Waktu tidak terasa berlalu dengan cepat, Cahaya dan Rein pun kini sudah sampai di bandara dan hanya tinggal menunggu jam penerbangan datang. Keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing sembari duduk di kursi tunggu. Cahaya sibuk membalas salam perpisahan dari Vania dan Alpha'B sementara Rein ntah tengah apa dengan ponselnya namun terlihat sangat serius.
Drt
Drt
Dimian calling
^^^"Hallo ay, Lo dimana?"^^^
"Gue udah sampai bandara dim, kenapa?"
^^^"Dimana nya?"^^^
"Lagi duduk di ruang tunggu sama kak rein-"
Nut
Calling end.
"Dih gak jelas main matiin aja." Ketus Cahaya.
Rein mendelik saat mendengar cahaya memaki maki orang dalam telpon, lelaki itu tersenyum tipis sebelum mulai menghitung angka.
"Satu...Dua.."
"Cukup Dimian aja deh yang aneh kak, kakak jangan ikut-ikutan aneh gini tiba-tiba ngitung."
"...Tiga!"
"Cahaya!! Cahaya!!" Teriak Dimian dari seberang arah sembari berlari menghampiri dirinya.
"Huh, sepertinya adik aku ini memang punya banyak penggemar..." Cibir Rein.
Rupanya Rein sejak awal setelah mendengar percakapan Cahaya dan Dimian di dalam telpon ia sudah menduga bahwa Dimian akan datang mencari Cahaya. Benar benar sangat peka dan jeli dalam mengamati situasi, ntah darimana Rein mempelajari keahlian tersebut.
Sementara itu Cahaya hanya berdesis menanggapi ucapan Rein, ia berdiri dan menyapa Dimian yang nampak ngos-ngosan.
"Dim, Lo ngapain disini?"
"huh...huh G-gue mau ngomong sesuatu sama Lo, sebentar."
"Tenang tarik nafas dulu, nih minum." Rein menyodorkan sebotol air.
__ADS_1
"Makasih kak."
Dimian langsung meneguk sebotol air tersebut sekaligus. Dapat dipastikan bahwa lelaki ini baru saja keliling satu bandara untuk mencari keberadaan Cahaya, terbukti dari kemeja nya yang basah dipenuhi oleh keringat yang masih bercucuran.
Setelah merasa sedikit lega, Dimian pun duduk di sebelah kursi Cahaya. Ia terdiam beberapa saat seolah tengah menyusun kalimat yang tepat untuk mengutarakan maksud kedatangannya jauh-jauh menyusul Cahaya ke bandara ini.
"G-gue cuma mau bilang....kalau gue masih suka sama Lo sampai detik ini." Ucapnya terbata-bata.
"Huh....Dim, Lo tau kan kalau-"
"Iya gue tau, karena ini gue pengen ngungkapin dulu kalimat yang udah gue tahan selama 2 tahun ini, supaya gue bisa belajar ikhlas dari sekarang." Tukas Dimian.
Cahaya tahu bahwa perasaan Dimian sangat tulus pada nya, dan meskipun tidak diberi tahu Cahaya sudah lama menyadari bahwa lelaki disamping tersebut memang sudah mengejarnya sejak dulu.
Namun bagaimana lagi, perasaan tidak bisa dipaksakan.
Jauh di relung dada gadis tersebut merasa sedikit bersalah sebab tidak bisa membalas perasaan tulus Dimian dan secara terang-terangan setiap hari di sekolah mengungkit perasaannya terhadap orang lain. Kali ini Dimian datang untuk mengungkapkan perasaan yang sudah lama tidak ia sampaikan pun Cahaya jadi bingung harus menjawab apa.
"Kalian ngobrol aja dulu, saya mau cek jadwal penerbangan." Rein berlalu meninggalkan Cahaya dan Dimian.
"Gue suka sama Lo, Cahaya....Dari pertama kita bertemu dimasa orientasi sampai detik ini." Dimian berkaca-kaca.
"Dim..."
"Dan mulai detik ini, gue akan belajar mengikhlaskan Lo. Gue tahu kebahagiaan Lo buka sama gue."
"Dim, maksud Lo?" lirih Cahaya.
"Gue baru sadar selama ini sebanyak apapun perjuangan yang gue lakukan buat Lo, Dimata Lo cuma ada Bintang. Hati Lo udah terisi penuh, dan udah gak ada tempat lagi buat gue. Selama Lo bahagia, gue juga bahagia." Tutur Dimian sayu.
"Maaf, dim...."
"Gak perlu minta maaf, Lo gak salah. Gue juga gak salah. Yang salah takdir kita berdua."
"Gue cuma mau bilang itu aja. Gue gak mau nyesel karena gak pernah ngungkapin perasaan gue selama ini. Semoga Lo sama Bintang bisa bahagia ya disana." Imbuhnya.
"Makasih dim, gue gak akan pernah ngelupain Lo dan teman-teman SMA kita."
Cahaya mulai berkaca-kaca, begitu juga Dimian. Mata nya yang memerah dengan hidung sembab membuktikan bahwa sebelum lelaki itu datang kesini dan memutuskan untuk mengungkapkan dan mengakhiri perasaannya ia telah merenungi semua perbuatannya.
Hep
Dimian langsung memeluk Cahaya "Tolong biarin gue meluk Lo untuk yang pertama....Dan terakhir."
__ADS_1
Cahaya memahami perasaan Dimian, ia membiarkan lelaki tersebut mempererat pelukan.
Baik Cahaya maupun Dimian keduanya sama-sama menghargai perasaan satu sama lain. Tak bisa dipaksakan dan tak bisa dihilangkan, adalah sifat murni dari perasaan. Manusia yang telah terjerat kedalamnya pada akhirnya akan memilih antara mempertahankan atau menghilangkan. Semuanya kembali pada diri masing-masing.
Datang dan pergi adalah siklus kehidupan manusia. Menerima keduanya adalah hal yang fitrah, begitu juga kali ini mereka harus memutuskan sesuatu yang bahkan belum pernah di mulai.
Sekembalinya Rein, ia menyampaikan bahwa waktu penerbangan sudah tiba, Cahaya melambaikan tangan pada Dimian. Dengan mata berkaca-kaca.
Setelah itu Cahaya bersama Rein bergegas memasuki pesawat.
Perjalanan yang cukup lama kali ini Cahaya habiskan hanya dengan meratapi pemandangan dari balik jendela pesawat. Sesekali ia mengingat semua kenangan nya hidup selama 17 tahun di negara ini. Demi Bintang, Cahaya rela meninggalkan banyak hal dan menyusulnya ke Amerika.
"Sama Dimian ngomongin apa, ay?" Rein memecah keheningan.
"Pamitan aja kak..."
Cahaya berucap dengan tatapan kosong, ia lanjut menatap pemandangan lautan awan dari balik jendela sembari mendengarkan musik dari earphone.
Sementara Rein yang melihat adiknya terlihat sedih memilih untuk diam, sepertinya adiknya tersebut sedang membutuhkan waktu sendiri.
...----------------...
Setelah menempuh perjalanan 10 jam dan transit pertama di Dubai, kini Cahaya dan Rein telah sampai dengan landing lancar di bandara internasional New York, Amerika Serikat. Cahaya tidak mau berlama lama, setelah semua persiapan dan perbekalan selesai dilaksanakan Cahaya dan Rein langsung bergegas menaiki taksi online menuju ke apartemen yang telah di sewa oleh Rein kemarin malam.
Sebuah apartemen yang sangat luas ditengah ibu kota New York yang menampilkan pemandangan Battery Park dari dekat. Gaya modern dan desain elegan apartemen tersebut sempat membuat Cahaya terkesima dengan kemampuan kakak nya dalam memilih tempat yang baik.
"Selera kakak emang patut diacungi jempol." Cahaya tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya yang berseri sembari mengelilingi apartemen.
"Huh, baru sadar?" Ketus Rein.
"Mau istirahat dulu atau mau langsung ikut sama kakak?" imbuhnya.
"Ikut kemana?"
"Mau beli mobil, emang kamu mau kemana mana harus naik taksi online?!"
"Kakak aja deh, Aya capek pengen tidur."
"Ya udah, kalau mau makan tinggal ambil aja kakak udh minta siapin sebelumnya sama pemilik apartemen."
"Iya kak."
Cahaya berlalu dari lantai satu, berjalan menaiki anak tangga. Ia memilih kamar di lantai dua sebagai kamarnya. Untuk sesaat Cahaya merebahkan diri diatas ranjang dan menatap langit-langit dengan berbinar.
__ADS_1
"Aku udah semakin deket sama kamu, Bin."
......................