
Rein kembali memutar bola matanya dengan canggung. "B-bagaimana kakak bisa tahu. Selama ini kakak selalu sibuk kuliah."
Yang dikatakan oleh Rein memang benar adanya juga, meskipun mereka bertiga adalah sahabat tetapi tetap saja pasti memiliki kesibukan yang harus dilakukan sehingga tidak bisa saling mengetahui informasi masing-masing lagi. Kali ini Cahaya benar-benar buntu memikirkan apa yang harus ia lakukan kedepannya. Menjawab pernyataan Rein pun ia hanya mengangguk seraya kembali merebahkan diri di kepala sofa.
"Hmm sudah jangan dipikirkan lagi, lebih baik kita pergi jalan-jalan saja sekalian mencari sekolah tepat untuk kamu."
"Untuk apa Aya sekolah disini? orang yang Aya jadikan tujuan saja malah berkhianat." lirihnya.
"Terus bagaimana?"
"Setelah masa liburan selesai, kita pulang saja ke Indonesia. Aya lanjut sekolah dan kuliah di sana saja bersama teman-teman." Cahaya berusaha tersenyum palsu.
"Yakin, ay?"
Cahaya mengangguk dengan yakin. Setelah itu ia beranjak menuju kamar meninggalkan Rein sendirian di lantai bawah.
Seperginya Cahaya, Rein tak tinggal diam, Ia kembali meraih jaket tebal dan keluar menyambangi mobil. Dengan cepat Rein mengendarai mobil menuju apartemen yang baru saja mereka tinggalkan.
Ditempat lain Bintang masih termangu dengan kebetulan yang baru saja terjadi. Ia masih syok dan takut Cahaya akan berprasangka buruk terhadapnya, apalagi setelah ia sampai di parkiran pun kala itu tak mendapati keberadaan Rein dan Cahaya sama sekali. Ia benar-benar telah hanyut dalam rasa bersalah dan takut kehilangan.
Cklek
Laila keluar dari kamarnya hendak mengambil segelas air dari dapur.
"Kenapa Lo harus berpenampilan kayak tadi? apa niat Lo sebenarnya?" Celetuk Bintang menghentikan langkah gadis tersebut.
Namun Laila tak bergeming, ia kembali melanjutkan langkahnya kemudian meraih sebuah gelas dan mengisinya dengan air hingga penuh. Bintang yang tidak tahan dengan kebungkaman Laila beranjak dengan cepat menghampirinya seraya memegang erat baju gadis tersebut.
"Jawab la! Apa tujuan Lo!?"
"Aku cuma pengen Cahaya dan kamu pisah, dengan begitu aku bisa bikin kamu merasakan gimana rasanya kehilangan seseorang yang paling kamu cintai."
"Tapi aku gak nyangka kalau laki-laki yang datang bersama Cahaya itu adalah Rein." Imbuhnya.
"Lo tahu gak?! karena perbuatan Lo itu kita bukan cuma kehilangan orang tersayang, tapi kita bisa juga kehilangan nyawa. Kak Rein itu gak sependiam yang Lo pikirin!"
__ADS_1
"Gue tahu! Dia itu Intel negara, kemampuannya memang udah gak diragukan lagi."
Mata Bintang seketika membulat sempurna mendengar pernyataan yang baru saja dilontarkan oleh Laila tanpa sengaja. "Apa?! Kak Rein Intel negara?!"
Uhuk uhuk
Laila tersedak air yang tengah ia teguk, sepertinya ia baru menyadari telah kelepasan kata-kata.
"Pantas aja gue selalu ngerasa aura nya berbeda. Apalagi tubuhnya yang tinggi kurus tapi berotot itu kadang-kadang suka bikin gue sedikit penasaran tentang pekerjaan apa yang dia lakukan." Bintang berusaha menerawang tubuh Rein.
"I-ini adalah rahasia negara, aku tidak sengaja mengucapkannya." Laila gugup.
"Terlepas dari semua itu harusnya Lo gak ngelakuin hal menjijikan kayak tadi. Kalau memang Lo mau gue jauhin Cahaya Lo tinggal bilang, gue bisa putus dengan baik-baik. Seenggaknya gue gak terlalu menyakiti perasaannya." Tegas Bintang.
"Ya mau gimana lagi kan sudah terjadi." Laila berlalu meninggalkan Bintang di dapur.
Brakk....dasar wanita picik.
Bintang menggebrak meja dengan kasar, jika bukan janji pada mending kakaknya untuk menjaga Laila mungkin sekarang Bintang sudah mencekiknya hingga mati. Giginya mulai bergesekan dengan rahang yang menegas, amarahnya sudah teramat kentara dengan tindakan Laila.
"Dia benar-benar sudah gila! Sangat cocok dengan kak Rein!" Gerutunya.
Ning
Nong
Bel berbunyi nyaring mengalihkan perhatian Bintang pada pintu. Ia berjalan sembari menggerutu prihal siapa lagi yang datang kali ini.
Cklek
"Siapa-"
Orang tersebut langsung mendorong Bintang masuk dan menutup pintu dari dalam. Ia menatap Bintang dengan tajam sembari menyudutkan nya ke tembok. Rahangnya menegas dengan gigi saling menggertak, menampilkan raut wajah kemarahan yang kentara.
"Dimana Laila?!" Tegasnya seraya menarik kerah baju Bintang.
__ADS_1
"K-kak Rein. Tunggu kak aku bisa jelasin semuanya tenang-"
"Dimana Laila? Jangan bikin gue marah sampai nyawa lo jadi pelampiasan nya." Tegas Rein.
"D-di kamar kak. Itu"
Rein melepaskan kerah baju Bintang dengan kasar, ia beranjak menghampiri kamar yang ditunjukkan oleh Bintang. Lelaki jangkung berbadan tegap itu kini sudah terlihat bukan seperti Rein yang pertama kali Bintang kenal, ia sudah seperti algojo yang bersiap menyembelih para tahanan, Beringas dan kasar.
Brukk
Sekali tendangan kaki nya membuka lebar pintu Laila yang terkunci rapat. Rein langsung menarik tangan Laila keluar dengan kasar.
"R-rein apa yang mau kamu lakukan?! lepaskan tangan aku! Sakit Rein!" Laila berusaha memberontak namun kekuatan kalah jauh dengan pemuda tersebut.
Sementara Bintang hanya bisa dia termangu melihat dua orang tersebut beranjak meninggalkan apartemen. Ia hanya menghela nafas lega sembari berharap Rein bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dialkukan Bintang pada perempuan ular tersebut.
Disisi lain Rein masih terus menarik tangan Laila dengan kasar hingga masuk kedalam lift. "Diam dan patuh, kalau kamu berani macam-macam aku akan membunuhmu saat ini juga." Bisiknya.
Laila langsung terdiam dengan patuh dan raut wajah gelisah. Ia terpaksa mengikuti interupsi Rein sebab bagaimanapun ia tahu kalau Rein adalah lelaki yang nekat dan berpegang teguh pada ucapannya. Untuk sesaat Laila kembali mengingat perbedaan sikap Rein yang dulu dan sekarang, sangat berbanding terbalik setelah kematian Galaksi.
"Kenapa kamu jadi memperlakukan aku dengan kasar seperti ini, hmm?"
Rein tak bergeming, setelah lift berhenti mereka bergegas keluar dari lobby dan menghampiri mobil Rein yang terparkir rapi. "Masuk dan duduk diam, tanyakan pertanyaan kamu setelah kita sampai nanti."
Lagi-lagi Laila hanya bisa patuh. Ia duduk di kursi depan sembari memandangi pemandangan New York dari balik kaca mobil. Ntah kemana Rein akan membawanya pergi kali ini yang jelas mobil yang mereka kendarai terus diarahkan menuju keluar ibukota dan berhenti di sebuah padang rumput kering di perbatasan.
"Kenapa kamu membawa aku ketempat ini lagi?" Lirih Laila sembari menyisir pandangan disekitaran.
"Kenapa? Kamu takut bertemu arwah Galaksi disini?!" Ketus Rein.
"Rein! itukan kejadian masalalu. Aku sudah berusaha untuk melupakan nya dan belajar mencintai kamu dengan tulus." Lirihnya.
"Cih dasar! kalau kamu memang mencintai aku kenapa kamu malah berselingkuh dengan adiknya Galaksi?! bilang saja kamu melihat bayang bayang wajah Galaksi di dalam wajah Bintang!"
"Aku tidak pernah mencintainya, ini semua hanya sandiwara. Jika benar pun aku mencintai Bintang mungkin dulu aku tidak akan meminta kamu untuk menembak mati Bintang disini. Salah kamu malah menembak Galaksi." Tutur Laila sayu.
__ADS_1
......................