Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
42. Kesalahpahaman


__ADS_3

Malin berdiri tepat disamping Cahaya yang masih sibuk memandangi langit biru dari balik jendela kelas, ia seolah tengah terbuai dalam alunan musik yang menggema di telinganya.


"Kak? Kak Aya?"


Malin menggoyahkannya pundak Cahaya. sontak saja ia menoleh dan melepas earphone yang terpasang rapi di telinga nya.


"Malin? Ada perlu apa?"


"Malin mau tanya beberapa hal sama Kakak, bisa kita bicara di taman aja nggak kak?"


Cahaya terdiam beberapa saat sebelum mengangguk menyetujui ajakan Malin.


Setelah itu Cahaya berjalan mengikuti Malin menuju ke taman belakang. Tempat yang cukup menyeramkan bagi Cahaya sebab ia pernah mengalami penyekapan disini. Sempat terlintas kembali ingatan mengenai perjuangan Bintang menyelamatkan nya kala itu.


Untuk sesaat Cahaya kembali merindukan sosok Bintang yang selalu berubah-ubah sikap, namun sekalinya perhatian akan sangat manis dan sekali nya cuek maka akan sangat pahit. Cahaya hanya bisa menghela nafas panjang mengenang semua kejadian yang hanya tinggal kenangan itu.


"Sebenarnya apa yang mau kamu tanyain?"


"Duduk kak."


Malin meminta Cahaya duduk di kursi yang berada tepat di belakang mereka. Begitu juga Malin yang langsung duduk di sebelah gadis tersebut.


"Kak, Malin mau tanya. Kakak jadian sama kak Bintang?" Raut wajah Malin serius.


"Kami hanya memiliki perasaan yang sama. Kalau untuk memiliki status yang jelas sih belum."


"Kakak udah tahu alasan kak Bintang nggak ngajak kakak buat pacaran?"


"Udah..." Cahaya tertunduk, ia tahu bahwa Bintang memiliki masalahnya sendiri.


"Kalau gitu berarti Kak Bintang udah cerita banyak ya. Syukur deh. Malin cuma khawatir hubungan Kakak sama Kak Bintang renggang karena dia tiba tiba pergi ke Amerika. Apalagi sehari sebelum kakak pergi, dia dan kak Laila berantem hebat di villa."


Ucapan Malin sontak membuat Cahaya menoleh dengan cepat dan mulai menatap lekat netra gadis yang duduk disampingnya tersebut. "Berantem kenapa?"


"Kak Laila ketahuan lagi bayar orang buat mata matain kakak." Ungkap Malin.


"M-maksud kamu?"


"Jadi gini kak ceritanya-"


...----------------...

__ADS_1


Sepulangnya dari klub malam BlackMoonlight


Sepulangnya dari klub tempat Rein, Cahaya dan Bintang berpisah sebelumnya. Lelaki jangkung tersebut pulang menggunakan taksi online. Ia bergegas menuju villa saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.58 dan ia masih harus berangkat sekolah.


Sesampainya di Villa, Bintang belum sempat masuk ke gerbang ia melihat sosok Laila tengah berbicara dengan seorang laki laki yang mengenakan seragam sekolah sama seperti miliknya.


Siapa tuh, ngapain dia ngobrol sama anak sekolah gue.


Karena penasaran Bintang mengendap di balik gerbang dan berusaha mendengarkan percakapan mereka meskipun pelan dan samar samar.


".....Terus awasin mereka, ini bayaran kamu. Kalau kamu tahu kabar baru lagi segera kabarin saya." Ucap Laila.


Sementara itu Bintang tak melihat dengan pasti siapa laki laki yang tengah berbincang dengan Laila tersebut, suaranya juga tidak terlalu terdengar menjawab apa.


Setelah berjabat tangan dan menerima amplop coklat yang cukup tebal Lelaki tersebut melesat naik taksi online yang datang bersamanya. Pun setelah itu Laila kembali masuk kedalam Villa. Namun Bintang langsung menghentikan langkahnya.


"Apa apaan barusan?!"


"Bintang! Sejak kapan kamu disana!?" Laila terperanjat kaget.


"Gak usah basa basi. Selama ini Lo nyuruh anak sekolah gue buat mata matain gue?" Sentak Bintang.


"Huh kenapa? kalau gak seperti ini aku gak tau kamu masih menepati janji kamu atau nggak!" Laila memutar bola matanya dengan kesal.


"Kenapa nggak, ini karma Bintang, kamu pantas mendapatkannya." Laila masih berucap santai.


"LAILA! BUKANNYA GUE UDAH BILANG KALAU URUSAN LO CUMA SAMA GUE!"


"Perempuan yang lagi deket sama gue gak tau apa apa! jangan lakuin hal aneh lagi sama dia atau gue bakal buat perhitungan sama Lo!" Sambung Bintang.


"Cih, berani apa kamu sama aku!" Cibir Laila.


Argh...Bintang!


Lelaki itu sudah sangat dirundung emosi, ia memelintir tangan Laila dan menggenggam nya dengan erat seraya berbisik


"Banyak! gue bukan bocah SMP kayak waktu itu lagi."


"B-bintang lepasin! Aku gak tau ekspresi Galaksi gimana saat liat adiknya main kasar sama aku!"


Rintihan Laila membuat Bintang sedikit tersadar. Ia membanting keras tangan Laila hingga gadis itu tersungkur ke tanah. Kemudian Bintang kembali berjalan mendekat dan menggenggam dagu Laila dengan keras.

__ADS_1


"Kalau bukan karena kakak, gue bisa aja nyingkirin krikil kecil kayak Lo!"


Bintang berucap pelan namun penuh penekanan, lengkap dengan tatapan tajam menunjukkan api kemarahan yang kentara.


"Cih, aku tahu kamu gak akan bisa berbuat apa apa sama aku. Jika kamu mau dia tetep selamat, kamu harus segera penuhin janji kamu untuk membuktikan bahwa kamu tidak bersalah!" Laila berdesis kesal.


"Atau kamu sebenernya ngerasa bersalah jadi selama tiga tahun ini anya diam saja, haha." Sambungnya.


"Wanita ular! Gue gak tahu apa yang dilihat kakak dari cewek kakak Lo, gue juga bingung kenapa dulu gue bisa jatuh cinta sama lo. Anggap aja sekarang gue udah waras!" Bintang melepas dagu Laila dengan kasar.


Gadis yang masih terkapar di tanah itu hanya tersenyum kecut. Ia merogoh sesuatu dari kantung dress nya dan melemparkan selembar kertas kepada Bintang.


"Ikutlah bersama aku ke Amerika besok, bukannya kamu ingin segera menyelesaikan penyelidikan dan memberikan kejelasan hubungan pada gadis itu?!"


Bintang tertegun melihat selembar kertas yang rupanya adalah tiket pesawat.


Yang dikatakan Laila memang benar adanya, apalagi akhir akhir ini Dimian juga semakin menunjukkan perasaannya kepada Cahaya. Jika Bintang tidak segera bertindak ia bisa kehilangan Cahaya.


Namun ia juga bimbang, ini terlalu buru buru baginya yang sebentar lagi akan naik kelas, sedangkan dilihat dari gelagat Laila sepertinya perempuan itu tidak bisa diajak bernegosiasi lagi.


"Bagaimana?"


Laila tersenyum kecut menatap raut wajah Bintang yang dirundung keraguan.


Bintang tak menggubris ucapan Laila, Ia meraih selembar tiket tersebut dan memasukkan nya kedalam saku. Kemudian lelaki itu beranjak pergi meninggalkan nya.


Laila sendiri hanya tersenyum kecil menanggapi respon Bintang. Ia sadar bahwa bintang meraih tiket tersebut menandakan bahwa dirinya bersedia ikut ke Amerika.


...----------------...


"...Begitu kak. Semua kejadian ini Kak Bintang jelasin ke Mamah dan Malin sebelumnya. Kami juga gak bisa bertindak banyak karena kakak sudah bersikukuh." Ujar Malin.


Mendengar penuturan Malin, Cahaya merasa sangat sedih dan tak berdaya. Demi mendapatkan Cahaya lelaki itu rela berkelana ke Amerika untuk menyelesaikan penyelidikan.


Di Satu sisi Cahaya merasa sedih karena dirinya Bintang harus pergi jauh, sementara disisi lain Cahaya senang karena Bintang adalah lelaki yang berprinsip, tidak seperti apa yang dikatakan kakaknya.


Rupanya selama ini Cahaya dan Rein telah salah paham dengan sikap Bintang.


"Sebenarnya Kak Bintang udah tahu sejak lama kalau dirinya selalu di awasi. Namun yang kakak kira mereka dikirim oleh papah, bukan kak Laila. Tapi kenyataannya...."


"Jadi bintang selama ini selalu berubah-rubah sikap karena hal itu, dia gak mau gue terlibat masalah?" Cahaya berkaca kaca.

__ADS_1


"Mungkin. Yang sabar ya, kak...." Malin menepuk pundak Cahaya yang terlihat berkaca kaca dengan tatapan kosong.


......................


__ADS_2