
"Ayolah kak kita Kelu...." Belum sempat Malin selesai bicara, Bintang langsung mematikan telpon.
Raut wajah Bintang nampak berubah kesal setelah mendengar tentang ayahnya. Seolah ada hal besar yang sebelumnya terjadi, sampai sampai Bintang jadi selesai ini.
"Mhh...bin" samar samar rintihan Aya kembali terdengar
Bintang yang terkejut segera melepas jaket dan menggunakannya untuk menutupi tubuh bagian atas Gadis tersebut.
Saat tepat berada di depan wajah Aya, pikiran Binatang sedikit melayang. Bintang melihat wajah Aya ternyata sangat cantik bila diamati dari dekat.
Alis rapi, bulu mata lebat dan lentik, hidung mancung sempurna dan bibir merah merona membuat Bintang sedikit kehilangan akal. Kini jarak Aya dan Bintang hanya tinggal beberapa cm saja.
"Mhhh....Bin? Ko udah gelap, kita dimana?"
Saat melihat Aya terbangun, Bintang terperanjat kaget. Dengan gugup Bintang kembali ke tempat duduknya.
"Eh udah bangun Lo. Ini sekarang udah jam 7 malem, kita ada di depan rumah Lo" ujar bintang.
"Hah jam 7? Ko Lo ga bangunin gue sih!" Ucap Aya yang nampak kaget.
"...Ya...Lo tadi tidurnya nyenyak banget. Gue ga tega bangunin"
"Jangan jangan kalau gue gak bangun, Lo rela nginep semaleman di mobil ini sama gue? Gila Lo ya" Aya berdecak heran.
"Kalo perlu kenapa ngga" ucap Bintang sembari menatap Aya dengan tulus dan tersenyum tipis.
"Jangankan semalam, Gue sanggup nemenin Lo selamanya. Semua ini cuma butuh waktu aja untuk kembali seperti dulu." batin Bintang.
Bintang terus menatap mata Aya. Begitu juga Aya membalas tatapan mata Bintang.
Bintang merasakan sesuatu dalam jantungnya setelah mereka melakukan kontak mata selama beberapa menit.
Tanpa sadar tubuh bintang perlahan mendekat, tatapan matanya meliar ke arah bibir Aya. Aya yang terkejut pun kebingungan harus melakukan apa.
__ADS_1
Kini tubuh Aya dan Bintang tinggal beberapa cm saja. Deruan nafas mereka pun dapat terdengar semakin kuat dan dekat. Tangan Bintang menyingkap helaian rambut hitam panjang Aya yang menghalangi bibir nya.
"Ma-makasih bin, gue balik dulu. Tiati di jalan" Aya bergegas membuka pintu mobil dengan gugup. Dia meninggalkan Bintang dalam keadaan tertegun.
Melihat Aya pergi begitu saja, Bintang sedikit tersadarkan "Sialll.....Lo kenapa hari ini bintang arghhhh" ucapnya sembari memukul stir mobil.
Hari ini ntah kenapa Bintang sangat susah mengendalikan dirinya sendiri.
Apalagi ditambah kejadian barusan, Bintang semakin menyadari bahwa sebenarnya dia menyukai Aya bahkan sudah jauh sebelum hari ini datang. Namun, Bintang berusaha menahan perasaannya karena ada sebuah masalah yang mengganggu pikirannya.
Bintang merasa frustrasi dengan yang terjadi. Untuk menenangkan pikirannya, Bintang bergegas keluar dari rumah Aya, dan membawa mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi menuju Villa yang menjadi basecamp Geng Alpha'B berkumpul.
Villa yang dibeli atas nama Bintang itu berdiri megah ditengah perkebunan strawberry milik keluarga Taran. Luasnya hampir 20 hektar tentu saja membuat suasana villa sangat cocok untuk bersantai atau berlibur.
Bangunan dengan nuansa Modern itu memiliki 3 lantai dengan fasilitas yang lengkap, mulai dari lapang golf di belakang villa, kolam renang di lantai satu dan tiga, ruang karaoke dan Bar, tempat Gym, 4 kamar dengan view yang luar biasa indah dan fasilitas fasilitas lainnya.
Bisa dibilang villa ini adalah rumah pribadi Bintang. Karena beberapa alasan yang kuat, Selama 2 tahun terakhir Bintang memang jarang pulang ke rumah aslinya. Dia lebih suka tinggal di Villa ini sendirian, atau kadang kadang hampir setiap malam Alpha'B menemaninya bergadang.
Itulah mengapa villa ini bisa dikatakan sebagai basecamp Alpha'B.
"Di dalam ada siapa?" Tanya Bintang.
"Semuanya ada den, tadi juga ada 4 orang cewek yang ikut masuk"
"Sialan.... mereka udah mulai gila lagi."
Bintang bergegas masuk dan memarkirkan mobilnya di garasi. Disini Bintang mulai merasa curiga saat melihat 4 mobil mewah terparkir di dalam sana.
Kecurigaan bintang mulai terbukti saat dia melangkahkan kakinya menuju lantai 3. Deruan musik karaoke dan suara teriakan teman temannya terdengar sangat nyaring.
Benar saja, langkah Bintang tertahan saat kakinya menginjak sebuah botol alkohol yang tergeletak dimana mana. Ruangan itu terlihat sangat gemerlap dengan lampu disko, Dimian duduk dengan memangku seorang perempuan sembari meneguk anggur. Disisi lain awan tengah asik bernyanyi dan menari mesra, sementara Cakra berenang di kolam sembari menyeduh teh bersama dua orang perempuan.
Sadar teman temannya menggila, Bintang tak menghiraukannya. Seolah sudah terbiasa dengan pemandangan tersebut, Bintang hanya duduk diam di sofa dan ribut dengan pemikirannya sendiri.
__ADS_1
"Bro...Lo abis darimana? Gue telponin ga diangkat" Awan nampak lunglai saat menghampiri Bintang.
Perempuan yang bersama Awan juga berusaha menggoda bintang, dia memeluk bahu lebar laki laki tersebut. "Lepasin tangan Lo. Kotor." Ketus Bintang.
Sontak perempuan itu menjauh dari Bintang.
"Ayaa....sini sayang...duduk disampingku aja hehe" sahut Dimian.
Perempuan berambut panjang sepunggung dengan pakaian super mini itu akhirnya duduk dipangkuan Dimian. "Aya, Lo cantik banget pake pakaian ini" ucap Dimian yang dimabuk anggur sekaligus asmara.
Sementara itu, Bintang menatap tajam Dimian. Tangannya mengepal dengan keras, segelas anggur didepannya ia teguk sekaligus. Marah, tentu saja. Kenapa dua sahabat itu harus mencintai wanita yang sama.
Saat dipanggil Aya, salah satu perempuan dalam pangkuan Dimian mengerutkan dahi "Siapa Aya?"
Dengan angkuh Dimian berdiri diatas kursi dan mengangkat gelas anggur nya keatas "Aya? Bidadari yang turun dari langit. Kecantikannya 1000 kali lipat darimu, lekuk tubuhnya seindah angsa putih yang menari diatas danau. Bibir mer..."
"Brakkk...." Gelas ditangan Bintang pecah dipegangnya terlalu kuat. Dengan mata yang mulai memerah disertai tatapan hendak membunuh kearah Dimian, laki laki itu berdiri dengan penuh amarah.
Awan menghampiri Bintang dan memegang pundaknya "Santai Bin, dia lagi mabuk."
Sejauh ini, hanya Awan yang mengetahui perasaan Bintang terhadap Aya. Begitu juga Aya yang selalu bercerita segala sesuatu tentang perasaannya terhadap Bintang kepadanya. Begitu sulit juga berada di posisi Awan, dia harus menjadi perantara dan penengah diantara kedua sahabatnya itu.
"Minggir Lo." Bintang menepis tangan Awan dan bergegas pergi meninggalkan villa dengan penuh amarah.
...****************...
"Arghhhh kacau!" Aya duduk tersungkur di ruang ganti setelah ditinggalkan oleh bintang begitu saja.
Gadis itu hanya mampu meremas kepalanya saat ditinggalkan tanpa jawaban apapun oleh Bintang. Kekecewaan di matanya nampak sangat jelas, binar binar itu perlahan menggumpal dan hendak terjatuh.
Namun, Aya bukan gadis lemah yang mudah menyerah dan pasrah pada apa yang dia dapatkan "Lo boleh pergi sekarang, tapi bakal gue pastiin selanjutnya Lo ga bakal bisa lari dari gue."
Gadis itu melangkahkan kaki nya keluar kembali ke lapangan untuk melanjutkan tugasnya. Kesibukan hari ini juga membuatnya sedikit melupakan kejadian yang baru saja dia alami. Meski beberapa kali dia melihat tiga superstar itu berkeliaran di sekitar nya, aya tidak melihat keberadaan bintang sama sekali.
__ADS_1
......................