
"Cewek yang dorong Lo ke kolam. Udah Lo diem dulu gue belum selesai." Vania berusaha mengingat kembali detail kejadian malam itu.
"Bintang bilang kalau hal ini harus dirahasiakan dari Lo. Bintang tau kalau Dimian suka sama Lo jadi Bintang ngasih kesempatan buat Dimian yang jadi pahlawan di malam itu. Demi kebaikan Lo gue juga terpaksa Ay. Alpha'B punya alasannya sendiri kenapa nyembunyiin semua hal ini dari Lo, Lo nya aja yang mau nyari sumber penyakit..." Ujar Vania.
Aya tertegun mendengar penjelasan Vania. Dari sini Aya tidak menemukan kejelasan hubungan antara gadis bernama Laila tersebut dengan Bintang. Namun Aya tetap bersyukur rupanya tujuan Vania berbohong adalah demi kebaikan Aya sendiri.
"Emm...Lo tau gak hubungan antara Laila dan Bintang?" Aya bertanya dengan ragu ragu.
"Jujur gue gak tau hubungan mereka apa Ay. Pas selesai debat sama Lo kan gue turun buat jemput Alpha'B, disini gue nguping sedikit perdebatan antara Alpha'B sama si Laila ini...dan gue bisa nyimpulin kalau cewek sinting itu ada hubungan sama Alpha'B, terutama Bintang." Vania berkata dengan yakin.
Sementara Aya mendengar jawaban Vania semakin dirundung rasa kecewa. Akhirnya Aya bertemu dengan saingan cintanya. Saingan yang gak segan membunuh lawannya.
"Gue juga yakin kalau Laila pacarnya Bintang Van. Dulu pas main ke villa Bintang, gue nemuin foto keluarganya dimana ada cewek yang mirip banget sama Laila berdiri disamping bintang." Aya berucap sembari tersenyum, berusaha menyembunyikan setiap luka dari kata yang baru saja Aya ucapkan.
"Hah di foto keluarga? Berarti hubungan mereka udah deket banget ya..." Vania bertutur demikian tanpa memikirkan perasaan Aya yang tengah campur aduk.
Aya memahami sifat sahabatnya itu memang selalu begitu. Berbicara tanpa berpikir namun sifat dan sikapnya murni dan tanpa dibuat buat. Meskipun begitu, Aya tetap sedih mendengar kenyataan pahit seperti itu.
"Mumpung Lo sama Bintang belum terlalu dekat, lebih baik jauhin bintang aja ay. Liat aja Lo belum apa apa sama Bintang si Laila udah berani dorong Lo ke kolam...kita gak tau kedepannya Laila bisa berbuat nekat kaya gimana lagi sama Lo." Ujar Vania.
Aya hanya bisa diam membisu, otaknya mengatakan iya pada ucapan Vania namun hatinya menolak mentah mentah saran tersebut. Aya masih berharap ada sebuah alasan yang membuat Bintang memperlakukan Aya dengan istimewa, Dimana alasan itu yang membuat Bintang tak mampu berkata jujur.
"Udah jangan dipikirin terus, Lo belum sembuh total Ay." Vania melembut, menatap iba sahabat nya yang di rundung masalah bertubi tubi.
Aya menghela nafas panjang, berusaha untuk mengendalikan dirinya.
__ADS_1
Angin sepoi sepoi yang menerpa tubuh Aya dan Vania menambah kesan damai dan sunyi di sekitar mereka. Aya dan Vania sama sama duduk meratapi langit biru yang cerah berpadu dengan Awan putih dan sinar mentari. Lingkungan yang sunyi lain hal dengan isi pikiran mereka yang riuh.
"Papah mamah lo kapan pulang Ay? Lo di rumah sendirian terus jadinya..." Vania berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Gak tau, tapi kayanya secepatnya. Apalagi kalau tau Kak Rein besok pulang." Aya berbicara dengan pelan, seolah olah kecewa dengan kabar tersebut.
"APAA? KAK REINAL BESOK PULANG?" Vania terperanjat kaget, sampai berdiri dengan mata membulat sempurna.
"Santai Van..." Aya juga ikut kaget dengan ekspresi spontan Vania.
"Gue pengen banget liat aslinya pasti cakep banget Ay. Liat foto kakak lo di foto keluarga yang sebesar baliho di ruang tamu Lo aja gue udah ke hipnotis.... APALAGI ASLINYA, ARGHHH OH GOD!" Vania bertutur dengan mata berbinar, sampai sampai jingkrak kesana kemari dengan senyum Pepsodent yang khas.
Aya hanya bisa bergumam dalam hatinya, dasar pengagum pria tampan.
"Udah seneng senengnya?" Aya menyilang tangannya menatap tajam kearah Vania yang masih girang.
"Mmm...Ayolah Aya, Lo Kenapa lagii? Ko kaya gak seneng sih Kak Rein pulang." Vania mengerutkan dahi berusaha mengorek informasi dari raut wajah tak biasa sahabatnya.
Aya menepis pelan pelukan Vania. "Lo tau sendiri Van gimana sayangnya kak Rein sama Gue. Kalau sampai kak Rein tahu kejadian kemarin malam, bukan cuma Lo sama Alpha'B aja yang bakal di selidiki, tapi satu sekolah." Tegas Aya.
Vania ikut termangu mendengar jawaban Aya. "Iya juga, gimana kalau Lo sampai pindah sekolah?"
"Justru itu.... Masalah Bintang belum kelar, Muncul lagi Kak Rein yang bakal nambah rumit." Aya berucap dengan pasrah.
Sahabatnya tengah memiliki segudang masalah yang cukup berat dan susah di selesaikan dalam waktu dekat, Vania hanya bisa mengelus lembut pundak Aya untuk menyemangatinya. Karena yang bisa Vania lakukan hanya memberikan semangat dan selalu mendukung setiap keputusan Aya.
__ADS_1
Tak lama seorang pelayan mengantarkan beberapa cemilan dan minuman untuk Aya dan Vania. Cemilan bukan sembarang cemilan di kaki lima. Isi didalam sepiring nampan berwarna emas dengan corak kerajaan kuno tersebut terdapat berbagai aneka coklat khas Swiss. Ada strawberry jepang kesukaan Aya, beberapa jenis kacang Arab, jus lemon dan jus strawberry.
"Tuh ada cemilan di makan! Mikir juga butuh tenaga." Vania menyodorkan strawberry pada Aya, sementara Vania menggeser semua makanan ke dekatnya.
Aya terkekeh. "Ko jadi berasa Gue yang bertamu ke rumah Lo."
"Hahaha... akhirnya Lo senyum juga!" Vania ikut tertawa.
Begitulah seterusnya, dua sahabat itu duduk menikmati cemilan sembari menenangkan diri di tengah suasana yang cerah. Weekend ini harus mereka habiskan dengan bergembira, mengingat besok sudah kembali menemui hari Senin dan harus pergi berangkat sekolah.
Tak dirasa, setelah berbincang cukup lama waktu menunjukkan pukul 17.39. Vania sudah harus pamit pulang karena takut di jalan terlalu larut. Apalagi Vania sebelumnya ada janji dengan seseorang untuk bertemu di mall, jadi Vania tidak bisa tinggal lebih lama lagi menemani Aya.
Jarak rumah Aya dan Vania juga memang terbilang cukup jauh, satu kota namun beda kecamatan. Ibarat dari ujung ke ujung. Namun meskipun begitu, dua anak sultan ini selalu berusaha untuk meluangkan waktu untuk nongkrong, membaca buku di Gramedia, jalan jalan di taman atau sekedar berolahraga di gym.
Bisa dibilang hubungan Aya dan Vania terbilang sudah sangat dekat meskipun mereka baru berteman dua tahun. Aya yang sedikit bicara namun tegas dipadukan dengan Vania yang banyak bicara dan blak blakan sepertinya menjadi cikal bakal kecocokan yang membawa pertemanan mereka awet sampai saat ini.
Aya mengantar Vania sampai ke depan. setelah cipika cipiki manja, sesaat sebelum masuk kedalam mobil, Vania sempat menoleh dan tersenyum tipis.
"Jangan cari tau apapun lagi, demi kebaikan diri Lo sendiri Ay." Ucap Vania pelan, lengkap dengan tatapan yang sulit diartikan maksudnya.
Jelas saja Aya membalas kalimat tersebut dengan senyuman tulus, setulus ucapan Vania yang peduli terhadapnya.
Sepeninggal Vania rumah kembali terasa kosong. Aya merebahkan dirinya diatas kursi mewah di tengah rumah, meratapi kesepian yang akan segera berakhir besok saat Rein pulang.
"Nutt....nutt...nutt" ponsel Aya bergetar. Aya melihat notif di ponselnya ada puluhan spam chat yang tak sempat Aya balas karena mengaktifkan silent mode.
__ADS_1
Dengan khawatir Aya mengangkat telpon yang rupanya dari Cakra. "Hallo Ca, kenapa?"
......................