
Cahaya hanya bisa diam, ia mengingat hal terakhir yang dilakukan Rein di Klub malam cukup sadis dan kejam. Takutnya akan membawa masalah baginya di sekolah jika ia berterus terang.
"I-ini hanya memar kecil kak, ada kegiatan gotong royong di sekolah jadi harus ngangkat ngangkat barang gitu. Karena Aya ceroboh jadi banyak memar gini deh...hehe." Cahaya memutar bola matanya dengan canggung.
Ia tidak punya pilihan lain selain berdalih.
Sementara itu Rein malah menyipitkan mata, ia ragu ragu yakin dengan apa yang dikatakan adiknya tersebut."Ay, Kakak bukan bocah SD."
"Kalau kamu tidak mau berkata jujur, lebih baik liburan ke Amerika nya di pending aja."
Cahaya langsung menoleh dengan cepat, "Y-yaudah.....Hmmm."
Sebenarnya percuma juga Cahaya berbohong sebab Ntah bagaimana caranya baik diberitahu atau tidak lambat laun Rein akan mengetahui segalanya.
"Iya jadi kenapa?" Rein memaksa.
"Kakak mungkin udah tau kalau Bintang itu superstar sekolah, Baik di dalam atau di luar sekolah dia punya bnyak penggemar. Nah karena kepergian Bintang yang tiba tiba ini anak anak tau nya karena Aya nolak cintanya Bintang. Jadi banyak yang gak suka sama Aya." Tuturnya lesu.
"Sialan! Jadi siapa aja dan apa yang udah mereka lakukan sampai bnyak memar begini?!"
"G-gak banyak, Aya cuma dipukulin dikit doang. Tapi aya gakpapa, kan Aya bisa bela diri."
"Dikit gimana orang memar nya aja banyak gini! B*ajingan! Bocah bocah ini berani mukulin kamu?! B*ngsat!" Emosi Rein mulai tersulut.
Rein memang lelaki yang lembut dan perhatian, apalagi terhadap adiknya yang tersayang. Jangankan beberapa bocah SMA yang mengganggu Cahaya, satu SMA pun akan ia lawan dengan teguh.
Bukan tanpa sebab, Cahaya adalah adik satu-satunya. Dengan latar belakang keluarga, relasi, harta dan banyak hal yang ia miliki membuat laki laki tersebut menumpuk banyak kekuatan.
Sebenarnya Cahaya juga tidak tahu darimana dan apa yang dilakukan Rein hingga ia selalu tahu apapun yang terjadi padanya, mamah papahnya dan lingkungan yang mereka tinggali. Karena Rein selama ini kan berkuliah dalam jangka waktu yang cukup lama di luar negeri, Jadi cukup mengherankan Sebetulnya.
"Ayolah kak jangan terlalu serius, mereka cuma kakak kelas yang kadang sok jagoan."
"Ya udah, serahin aja semua ini sama Kakak. Kamu naik ke atas aja olesin obat terus istirahat."
Lelaki jangkung dengan potongan rambut pendek rapi itu membelai lembut rambut Cahaya. Sangat terlihat jelas dari tatapannya bahwa ia sangat menyayangi perempuan dihadapannya tersebut.
Cahaya mengangguk dan beranjak pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Ia mengunci kamar dan merebahkan bobot badannya diatas ranjang. Untuk kesekian kalinya ia hanya berharap hari hari kesepian ini segera berakhir sebelum tanpa sadar ia terlelap tertidur.
...----------------...
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
"Ay! bangun sayang, makan malam dulu!"
Disisi lain Cahaya terperanjat bangun, bisa bisanya ia ketiduran lagi . Ia melihat jam di nakas sudah menunjukkan pukul 7 malam. buru buru gadis itu mengambil handuk dan membersihkan diri.
Setelah selesai bukannya bergegas turun, Cahaya malah sibuk termenung menatap diri di depan cermin. "Seginimah gak triplek triplek banget gak sih. Sialan mereka!"
Ujar nya seraya mengamati setiap inci tubuhnya yang putih molek belum pernah terjamah sentuhan lelaki manapun.
Drt
Drt
Drt
Bintang Calling
Mata gadis itu langsung terbelalak lebar, senang bercampur kaget menjadi satu. Dengan cekatan Cahaya mengangkat telpon yang ia nanti nantikan tersebut.
^^^"Bintang lagi mandi, Aku Laila mewakili dia mau menyampaikan sama kamu kalau dia mau mutusin semua hubungan sama temen temen SMA nya, termasuk sama kamu. Jadi tolong jangan hubungin Bintang lagi!"^^^
"L-laila....Kenapa? Bintang kan kesana cuma buat sekolah dan investigasi, kenapa sampai harus mutusin hubungan?"
^^^"I don't know, ini keputusannya. Stop hubungin dia lagi karena percuma gak akan di balas-"^^^
Nut
Nut
Calling end.
'Apa yang baru saja gue dengar? Kenapa harus perempuan itu yang menelpon dan menyampaikan niat Bintang? Apakah Bintang tidak bisa menyampaikannya sendiri? Sedang mandi? Apa mereka tinggal satu ruangan? Apa yang sedang mereka lakukan?' Dan ribuan pertanyaan lain mulai bermunculan dibenak Cahaya.
Hal itu membuat nya hanya tertegun dengan tatapan kosong. Sampai bulir bulir air mata kembali turun perlahan. Aya tidak pernah merasa selemah ini sebelumnya namun ntah kenapa perasannya benar benar hancur.
Cahaya bisa merasakan sesak di relung dada sembari menahan Isak tangis. Ia benar benar tidak mengerti harus melakukan apa, ia sendiri bingung dengan perasaannya apakah sedih, kecewa, marah atau bagaimana.
__ADS_1
"Gak bisa, kalau gini terus gue bisa gila." Ucapnya seraya menyeka air mata.
Gadis itu berjalan keluar kamar dan bergegas turun menghampiri Hardi, Ranti dan Rein yang tengah duduk santai di sofa sembari menonton televisi.
"Mah, Pah, Kak...." Sapa nya sopan.
"Iya sayang kenapa? Makan dulu gih, kamu belum makan..." Ucap Ranti.
Cahaya mengangguki ucapan Ranti namun malah duduk disamping Rein, bukannya pergi ke meja makan untuk makan sesuai interupsi mama nya.
"Aya mau ngomong sesuatu dulu sama kalian." Cahaya sedikit ragu.
"Aya mau pindah sekolah ke Amerika."
Perkataan Cahaya barusan sontak saja membuat kedua orangtuanya menoleh dengan raut wajah heran dan mulai menatap lekat dirinya dengan serius.
"Tiba tiba banget Ay? Kenapa? kamu ada masalah di sekolah?" Tutur Hardi.
"Itu pah pacarnya Aya pindah ke Amerika, jadi dia mau nyusul. Haha." Timpal Rein.
Ranti saling bertatapan dengan Hardi. Dengan kompak keduanya berkata "Kamu sudah punya pacar?"
"B-belum resmi sih mah, cuma ada beberapa hal yang bikin hubungan kami gak bisa punya status dulu."
"Siapa dia? anak mana? pernah ketemu sama mama nggak?"
"Nanti Aya kenalin kok, tapi ijinin dulu Aya pindah ke Amerika ya...Pliss" Cahaya memelas.
"Gak bisa, Kamu bentar lagi ujian kenaikan kelas! Kalau mau pindah nunggu selesai ujian dulu!" Tegas Hardi.
"Tuh kan apa kakak bilang pasti gak diijinin."
Aya hanya bisa mendengus kasar sembari merebahkan diri dikepala sofa. Ia benar benar tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk menjawab semua pertanyaan yang terlintas di benaknya. Namun disisi lain Aya juga tak punya pilihan lain selain menurut saja untuk menunggu sampai ujian kenaikan kelas selesai.
"Udah mah, pah cuma itu yang mau Aya sampaikan."
Cahaya kembali beranjak dari sofa dan berjalan pelan menuju meja makan untuk memuaskan perutnya yang sudah menggonggong kelaparan. Sementara Rein, Ranti dan Hardi hanya bisa memandangi punggung gadis tersebut yang terekspos karena menggunakan piyama yang cukup terbuka dibagian belakangnya.
Ranti dan Hardi sampai menyipitkan mata untuk memperjelas pandangan mereka yang mengira di punggung Cahaya terdapat beberapa memar yang terlihat cukup jelas.
"Rein, Itu di punggung adik kamu kenapa banyak memar begitu?!"
__ADS_1
"Aya di bully di sekolah pah, mah." Sahut Rein dengan santainya
......................