Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
47. Membuahkan hasil


__ADS_3

Cahaya mulai kembali semangat menjalani hari hari yang semula terasa semu dan monokrom tanpa Bintang. Memegang harapan bahwa lelaki tersebut tengah memiliki masalahnya sendiri hingga terpaksa memutuskan kontak dengannya, Cahaya tetap yakin bahwa saat mereka bertemu nanti semua kegundahan yang mengganjal hatinya perlahan lahan akan memudar.


Hari demi hari Cahaya habiskan dengan menyibukkan diri membuka buku dan belajar dengan giat agar bisa menyelesaikan ujian kenaikan kelas dengan cepat. Ia berharap hari hari ini segera berakhir agar ia bisa menyusul Bintang secepatnya.


Setiap hari disaat ujian akan segera dimulai, Cahaya selalu mengirimkan email kepada bintang, meskipun hanya sekedar sapa dan basa basi kegiatan hari ini, Cahaya berharap pesan pesan tersebut akan dibaca oleh Bintang. Ia juga menyelipkan foto bintang di setiap lembar kertas belajarnya sebagai motivasi.


Cahaya hanya ingin segera menyelesaikan semua urusan disini dan menyusul belahan jiwanya yang jauh disana.


...----------------...


Seminggu kemudian.


"Yey!! Liat mah, pah, kak!! Aya dapet juara 1 umum lagi!!"


Cahaya dengan girang masuk kedalam rumah sembari mengangkat tangannya tinggi-tinggi yang memegang selembar sertifikat penghargaan dan sebuah piala emas yang berkilauan. Sontak Ranti, Hardi dan Rein yang tengah mengobrol santai di ruang tamu menoleh dengan cepat.


"Wihh adik aku nih mah, pah." Seloroh Rein.


"Anak mamah ini sih, iyakan pah?" Timpal Ranti.


"Hehe iya dong!!" Gadis itu meloncat kedalam pelukan mamah papahnya yang tengah tersenyum lebar.


Mereka semua mulai mengerumuni Cahaya dan melihat sertifikat yang tengah ia pegang. Nampak jelas di mata Ranti, Hardi dan Rein mereka sangat bangga dengan prestasi yang diraih Cahaya, meskipun ini bukan yang pertama kali nya tetapi bisa mempertahankan posisi itu di SMA Unggulan seperti ini benar benar hal yang sulit. Mereka pantas bangga.


"Ho hoo!! Bagus sayang! ini baru putri papah!!" Celetuk Hardi.


"Sekarang kamu bilang sayang, apapun yang kamu mau papah akan belikan semuanya!" Sambungnya.


"Bikin permintaan yang banyak ay! kalau papah gak sanggup, kakak yang penuhin!" Timpal Rein.


Cahaya tersenyum licik. "Bener nih apa aja?"


"Iya dong sayang." Ranti meyakinkan.


Cahaya terdiam sejenak, ia menatap sertifikat di tangannya cukup lama seolah tengah memikirkan bnyak hal. "Izinin Aya pindah sekolah sekolah ke Amerika, mah pah!?"


Ranti, Hardi dan Rein saling bertatapan mendengar permintaan Cahaya. Diantara banyaknya permintaan yang bisa Cahaya sampaikan, pindah sekolah ke Amerika adalah satu satunya alasan ia bisa mendapatkan sertifikat tersebut agar orang tuanya memberikan izin.

__ADS_1


"Jangankan ke Amerika, mau ke Jepang, Rusia, Korea dan yang lainnya pun terserah kamu sayang. Papah mamah akan selalu dukung!" Imbuh Hardi.


Mata Cahaya berbinar sempurna mendengar kalimat yang selama ini ia tunggu-tunggu, sembari hendak memeluk kedua orangtuanya tersebut Cahaya berkata "Makasih mah pah-"


"EITSSS! tapi ada syaratnya." Timpal Ranti menghentikan tubuh Aya yang hendak memeluk mereka.


"Kakak kamu harus ikut untuk menemani kamu di sana."


"Loh kok gitu! kan Aya mau belajar hidup mandiri di sana."


"Hidup mandiri ndas mu, masak telur aja masih pakai panci gimana mau belajar hidup mandiri?" Cibir Rein.


"I-itu kan beda cerita karena baru pertama kali masak. Pokoknya Aya mau sendiri, katanya tadi mau ngabulin apa aja permintaan Aya?!"


"Tenang aja sayang, nanti kalau kamu udah setahun dan udah masuk kuliah, kakak kamu bakal mamah suruh pulang."


"Hmm, bener yah?!"


"Iya Ayaaa." Seloroh Rein yang berkata tepat disamping telinga gadis tersebut.


Dengan kesal ia memukul punggung Rein, namun Rein malah melarikan diri berlindung dibalik kedua orangtuanya. Cahaya tak tinggal diam, ia berusaha mengejar kakak nya tersebut. Sementara Hardi dan Ranti hanya bisa tersenyum bahagia melihat tingkah putra putri nya tersebut. Sebuah ke harmonisan yang melekat di dalam keluarga Rahayu, seolah orang orang didalamnya tidak memiliki masalah apapun dan hidup bersama sama dengan rukun dan saling mencintai.


...----------------...


Keesokan harinya seperti yang dijanjikan oleh kedua orang tua Cahaya kemarin, siang ini Cahaya akan langsung berangkat ke Amerika untuk mencari sekolah yang sekiranya cocok terlebih dahulu sekaligus mencari keberadaan Bintang tentunya.


Sementara saat ini Cahaya tengah mengemasi barang-barangnya kedalam koper. Ia menatap lama lemari besar yang berisi barang barang pemberian dari Bintang, ia bingung harus membawa yang mana sebab semuanya tampak penting dan memiliki kenangan yang berharga nya masing-masing.


Drt


Drt


Malin Calling


^^^"Hallo kak, maaf gak sempet angkat telpon kakak soalnya baru buka hp."^^^


"Yang ada gue yang minta maaf Lin, ganggu Lo sama Cakra yang lagi date, hehe."

__ADS_1


^^^"E-eh kak hehe... tau darimana tuh?"^^^


"Story nya cowok Lo lah, liburan berdua di Bali sambil berenang di air hangat, hssss gue jadi iri."


^^^"Astaga kak, kita gak berdua doang kok hehe. Ngomong-ngomong ada perlu apa nih kak barusan telpon?"^^^


"Gue mau nanya alamat tempat tinggal nya Bintang di Amerika."


^^^"Kakak mau nyusul kak bintang?"^^^


"Rencananya sih, kamu jangan bilang-bilang dia ya."


^^^"Oke kak aman, nanti alamatnya aku share di chat ya."^^^


"Oke thanks, have fun ya wkwk."


^^^"Haha iya kak sama sama."^^^


Calling end.


Cahaya semakin semangat mengemasi koper, ia memutuskan untuk membawa botol air yang diberikan Bintang saat acara classmeeting saja. Tentunya kalung couple yang diberikan bintang pun ia kenakan dengan semangat berpadu dress putih yang cute, sangat cocok menempel di tubuh gitar spanyol gadis tersebut.


Setelah dirasa kopernya rapi dan seluruh barang bawaannya telah rampung dikemas, Cahaya mengunci kamar. Ia sedikit sedih harus meninggalkan kamar yang menemani suka duka hidupnya selama ini. Namun apa boleh buat, cepat atau lambat ia akan meninggalkan rumah ini dan seisinya juga.


Dengan cepat Cahaya berjalan menuruni anak tangga, ia langsung disambut dengan senyum hangat Ranti dan Hardi yang tengah menunggunya di bawah. Cahaya pun tanpa pikir panjang berlari dan memeluk kedua orangtuanya tersebut dengan erat.


"Sayang hati hati ya di sana, Kamu harus nurut sama kakak!" Bisik Ranti.


"Iya sayang, belajar yang giat dan sekolah yang bener supaya pulang bawa gelar yang bermanfaat buat negara kita." Timpal Hardi.


Cahaya mulai berkaca-kaca mendengar doa dan harapan dari keduanya, Rasanya cukup berat untuk meninggalkan mereka, namun apa boleh buat. "Makasih mah pah, kalian juga harus segar terus supaya pas Aya pulang bawa gelar kalian bisa sambut Aya dengan semangat."


"Aduh lebay kalian, kan papah mamah nanti bisa kapan aja nyusul kita ke Amerika." Tukas Rein sembari merangkul Ranti dan Hardi.


"Iya bener, ya udah sana hati hati di jalan ya. Rein jagain adik kamu yang bener ya!"


"Siap bunda ratu."

__ADS_1


Rein mulai memasukkan barang bawaan yang akan mereka bawa, sementara Cahaya masih sibuk cipika-cipiki dengan kedua orangtuanya. Melihat perpisahan itu, Rein sedikit tersentuh dan ikut berkaca-kaca.


......................


__ADS_2