Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
21. Persekongkolan


__ADS_3

Disisi lain Aya berusaha mengingat ngingat dengan jelas kejadian sebelumnya. Namun malah perasaan saat Aya berada dibawah air yang terlintas. Gadis berpiyama pink itu juga sempat bergumam ternyata begitu rasanya hampir kehilangan nyawa.


Aya berusaha bangun dan menyandarkan tubuh dikepala ranjang. Tepat saat tangan Aya ingin menumpu, tangannya merasa menekan sesuatu yang lembut. Dan benar saja, rupanya itu adalah bunga mawar putih yang diberikan oleh perempuan aneh sebelumnya.


Sedikit demi sedikit bayangan wajah perempuan itu kembali terngiang ngiang di ingatan Aya. dengan tatapan kosong Aya hanya bisa menarik nafas panjang "Terlalu banyak teka teki malam ini."


Untuk saat ini Aya tidak mau berpikir terlalu banyak, tubuhnya masih terasa sangat lemas. Aya menarik selimut menutupi tubuhnya dan kembali meringkuk memilih menunggu kedatangan Vania dan Alpha'B saja.


Sementara itu, Vania berjalan dengan bimbingan dan ragu, ntah kenapa raut wajah Vania terlihat sangat sedih bercampur rasa bersalah. Tepat sebelum Vania ingin berbalik dan kembali menemui Aya, langkah Vania tertahan saat melihat Alpha'B tengah bertengkar di depan pintu keluar dengan seseorang.


Karena penasaran dengan pembicaraan mereka, Vania bersembunyi dibalik dinding.


"Cahaya gak salah apa apa. Kalau Lo berani nyentuh dia lagi, Lo bakal berurusan sama gue!" Dimian mempertegas ucapan nya dengan tatapan tajam dan wajah bringas.


"Gue juga tau kalau Lo masih berduka, tapi gue gak nyangka Lo bakal berbuat nekat" Awan bertutur dengan kecewa.


Posisi Vania saat ini hanya mampu melihat Dimian dan Cakra , Vania tak bisa melihat yang lainnya karena terhalang tembok.


"Hahaha, Lo semua gak tau apa apa tentang penderitaan gue!" Perempuan itu menyeringai dan tertawa kecut.


"Munafik Lo Laila!" Cakra berucap tanpa beban.


"Semua ini terjadi karena dia sendiri yang melanggar janji! Lo semua harus inget kejadian ini selamanya." Laila berucap tanpa segan, nada nya juga terkesan mengancam seolah olah tak takut dengan para laki laki dihadapannya. "Terutama Lo Bintang, Siapa disini yang lebih munafik Lo pasti tau jawabannya!"


Rupanya Bintang juga ada dalam perdebatan sengit tersebut. Disini Vania tidak terkejut, karena sebenarnya Vania sudah tau sejak kapan bintang berada di pesta dan apa saja yang telah bintang lakukan.


"Cukup la, Lo udah keterlaluan!" Bintang langsung menarik tangan Laila dan membawanya pergi dari rumah Aya.


Dari potongan perdebatan yang Vania tangkap saat itu, Vania mendapatkan sedikit pencerahan. Rupanya perempuan yang mendorong Aya ke Kolam itu bernama Laila dan si Laila ini memiliki hubungan tertentu dengan Alpha'B.


Melihat Bintang dan Laila pergi menjauh, Vania keluar dari persembunyiannya dan berlaga tak melihat apapun. "Eh Lo lagi pada ngapain disini, belum pada mau balik?"


Kedatangan Vania yang tiba tiba itu tentunya mengagetkan Alpha'B. Spontan mereka bertingkah tenang seolah tak terjadi apa apa, mereka tidak tahu bahwa sebenarnya Vania sudah melihat apa yang baru saja terjadi. "Eh van, ini baru mau jalan balik." Sahut Awan.

__ADS_1


"Van, Aya udah siuman belum?" Raut wajah khawatir tak bisa disembunyikan Dimian.


"Udah Dim. Kebetulan nih jangan dulu balik dong, bantuin gue jelasin dulu ke Aya. Aya gak mau percaya sama gue, sial bnget dia sempet ngeliat bintang di dalam air." Vania berucap dengan gelisah.


"Aya dikamarnya sekarang?" Ucap Dimian.


"Iya masih di kamar, kondisinya udah baikan sih." Sahut Vania.


Akhirnya Alpha'B mengikuti Vania menuju ke kamar Aya. Diperjalanan tidak ada yang bertanya bantuan apa yang diinginkan Vania. Mereka mau mau saja, seolah mereka sudah tau apa yang harus mereka lakukan.


~


"Tok....tok...tok...Ay gue sama yang lainnya masuk yaa" Vania mengetuk pintu.


Vania langsung disambut Aya yang meringkuk di kasur menunggu kedatangan mereka. Dengan lunglai dan badan lemas Aya menumpu badannya dengan tangan dan berusaha bangun untuk sekedar duduk menyapa teman temannya.


"Duduk aja guys..." Lirih Aya, suaranya masih terdengar serak dan berat.


Seperti biasa disaat Vania, Cakra dan Awan memilih duduk di sofa, Dimian malah menyerobot duduk di kasur tepannya disamping Aya. Mereka bertiga sudah tidak aneh dengan Dimian yang selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Aya menatap Dimian yang sudah berganti pakaian. "Jadi beneran Lo yang udah nyelamatin gue, Dim?"


"Menurut Lo siapa lagi?" Dimian menjawab dengan lembut.


Aya hanya bisa diam tertegun. Aya sempat berpikir apakah bayangan wajah Bintang yang Aya lihat sekilas sebelum pingsan itu hanyalah sebuah ilusi? Jika iya mengapa terasa seperti nyata.


"Udah jangan terlalu dipikirin, Lo istirahat aja. Acara dibawah juga udah ada yang handel." Dimian tersenyum tipis sembari mengusap lembut rambut Aya.


Aya tertunduk kecewa, rupanya semua itu mungkin benar benar ilusi.


"Dim bisa jelasin gak apa yang terjadi setelah gue tenggelam?" Ucap Dimian.


"Hmmm....waktu itu gue kaget dan langsung nyebur ke kolam tanpa peduliin apapu. Gue liat Lo udah di bawah dan gak sadarkan diri, gue tarik tangan Lo sampai diatas permukaan dan akhirnya bnyak yang bantu ngangkat tubuh Lo keatas. Gue berusaha mengeluarkan air dari dalam tubuh Lo, setelah keluar Lo masih pingsan...dan akhirnya gue bawa Lo ke kamar Lo." Ujar Dimian.

__ADS_1


Mendengar cerita Dimian Aya hanya tertegun. Dimian bercerita bahwa dia menarik tangan Aya saat di dalam air, padahal jelas jelas Aya ingat betul bahwa laki laki yang menolongnya menarik pinggang Aya. Cerita Dimian ini terasa sedikit mengganjal bagi Aya.


"Terus cewek yang dorong gue kemana?" Aya bertanya sembari menatap teman teman disekitarnya.


Ntah kenapa tapi teman teman Aya hanya diam tak menjawab pertanyaannya Aya, seolah mereka terbungkam demi menyembunyikan sesuatu. "Ko pada diem?"


"Ahh i-itu...mmm pas dansa tu cewek ngomong sesuatu gak sama Lo, Ay?" Gelagat Awan sangat aneh.


"Ngga dia gak bilang apa apa." Aya berbohong.


"Iya baguslah. Dia cuma kakak kelas yang numpang makan sama liat hiburan gratis Ay. Tadi kita udah introgasi dan dia udah minta maaf di depan umum." Lanjut Awan.


"Kakak kelas? Ko gue gak pernah liat, terus kemana dia sekarang? Kenapa gak minta maaf langsung sama Gue?" Aya terus mendesak teman temannya yang sebenarnya Aya tahu bahwa mereka tengah berbohong.


"Udah Ay masalahnya udah selesai gak usah di bahas lagi." Cakra langsung berdiri dan meninggalkan kamar Aya begitu saja.


"Ini udah malem Ay, istirahat aja ya kita bicara lagi besok." Ujar Dimian yang ikut keluar diikuti Awan.


"Udah Lo gak usah pikirin hal yang nggak nggak, istirahat aja! Gue balik dulu udah dijemput ya." Setelah cipika cipiki Vania juga ikut ikutan meninggalkan Aya.


Saat ini Aya hanya bisa terdiam Mempertanyakan hal apa yang membuat teman temannya bersekongkol untuk membohongi Aya. Aya sendiri bukan anak kemarin sore yang tidak mengerti masalah seperti ini. Dipikirannya saat ini, kunci jawabannya hanyalah Bintang.


Aya meraih ponselnya yang tergeletak di atas laci, berusaha mencari nama Bintang di daftar kontak telpon.


"Nut...Nut...Nut..."


Sialnya berulang kali telpon Aya hanya berdering masuk namun tak diangkat. Pikir Aya, Apa yang sedang Bintang lakukan, padahal Bintang selalu membawa ponselnya di dalam saku. Seolah olah sengaja saja tidak mengangkat telepon Aya.


Dari sini Aya mulai yakin, ada yang tidak beres dengan teman temannya.


'arghhh..' Aya mengerang memegang kepalanya, otaknya dipaksa berpikir terlalu banyak saat baru saja berhasil melewati ambang kematian.


Aya sudah tidak sanggup lagi untuk memikirkan hal hal aneh yang berlalu lalang dipikirannya. Tubuhnya saja rasanya sudah mau ambruk. Yang bisa Aya lakukan hanya berbaring menatap langit langit dan berusaha mengosongkan pikiran, Aya harus banyak istirahat sekarang.

__ADS_1


Lagipula Aya punya caranya sendiri untuk menyelesaikan semua teka teki ini.


......................


__ADS_2