
"Gue masih di sekolah nih, lagi di taman. File nya ada di laptop, bentar gue ambil dulu"
"Ko jam segini belum balik sih, belum selesai ngobrol sama Awan?"
"Baru aja selesai. Gue cuma lagi nyari udara doang"
"Cie cie...yang dapet support dari sahabat karib doi. Kiw kiww"
Aya nampak tersipu "Apaan sih gajelas Lo Van."
"Gue tebak muka Lo udah Semerah tomat sekarang, hahaha" Vania terdengar sangat senang menggoda Aya.
"Gue masih bingung sama sikapnya Van, kadang gini kadang gitu. Lama lama cape juga."
"Yaudah tinggalin kalo bikin Lo cape."
"Kalo itu ngga dulu hehe, tap....mhh...mhh...lepasin gue..." sebuah kain menyumpal mulut Aya.
"Ay? Hallo? Lo kenapa?" Vania terdengar mulai serius.
"Van tolong van...Nut...nutt...nutt" hanya itu yang terdengar dari ponsel Aya saat ini.
Disisi lain Vania terdengar mulai panik "Ay? Aya!! JANGAN BERCANDA YA. GAK LUCU! HALLOO?" Ia berteriak berkali kali pun tetap saja tak ada Jawaban apapun dari Aya.
*****
Di tempat lain, Bintang menancap gas motornya dengan kecepatan tinggi. Pemikirannya melayang kemana mana setelah beberapa hari terakhir ini di teror oleh chat misterius yang mengiriminya banyak Vidio p*rno. Sesekali orang misterius itu juga membagikan foto Bintang saat berada ditempat umum, tentunya ini menandakan bahwa orang tersebut mengikutinya kemana mana.
Hal yang membuat ia semakin panik adalah pesan dari orang misterius tersebut yang diterimanya sore ini mengatakan bahwa dia akan menyakiti semua orang terdekat Bintang. Seolah mengancam, orang itu juga mengirimkan foto Bintang yang tengah duduk di tepi lapangan bersama Aya.
"Bajingan. Siapa lagi kali ini." Maki Bintang sembari membawa motornya melaju menuju rumah Aya
Kepanikannya kian bertambah saat datang kerumah Aya namun gadis itu belum pulang dan ternyata masih di sekolah. Saat itu perasaanya sudah tidak karuan, dia menancap gas motornya semakin cepat hingga lampu merah pun ia terobos tanpa pikir panjang.
Sesampainya di sekolah, gerbang sudah tertutup rapat karena waktu menunjukkan pukul 18.04.
"PA BUKA GERBANGNYA!" Bintang berteriak pada seorang satpam yang tengah berjaga.
Satpam itu nampak mendekat "Maaf gak bisa mas, sudah tutup!"
__ADS_1
dengan tergesa gesa bintang menyodorkan beberapa lembar uang dari dompetnya "Buka! Pacar saya masih di dalem."
Dengan senyum lebar satpam membukakan gerbang "ko bisa masih di dalam mas, saya sudah keliling tapi gak ada siapa siapa."
"Sebentar." Bintang mengeluarkan ponselnya, beberapa kali dia berusaha menghubungi Aya namun tak ada jawaban. "Bangsat! Keadaan kek gini hp nya ga bisa di hubungi."
"Gimana mas?"
"Pa tolong berpencar aja, bapak cari di luar saya masuk ke dalem."
"Yaudah mas. Di dalem ada temen saya lagi keliling, kalo ketemu minta temenin aja."
Mendengar jawaban pa satpam, tanpa basa basi Bintang bergegas lari ke dalam dan menaiki anak tangga. Suasana lorong sekolah yang terang namun sepi, ditambah pemandangan lapangan besar yang cukup gelap tak dihiraukan Bintang, yang dia pikirkan hanya keselamatan gadis yang dia cintai saja.
"AYAAA!....AYAA..." berulang kali Bintang memanggil nama gadis itu namun tak ada sahutan.
Setibanya di depan pintu kelas Aya yang terkunci, Bintang hanya mampu melihat dari jendela dan memastikan orang yang dicari tak ada disana. Samar samar dia melihat tas Aya ternyata masih tergeletak diatas meja.
"Arghhh siall!" Bintang memukul tembok dengan penuh amarah, Benar benar perasaannya sudah tak karuan.
"Kring...kring..." Sebuah telpon masuk dari nomor tak dikenal.
"Lo siapa?"
"Ini gue Vania temennya Aya" pupus sudah harapan Bintang yang mengira bahwa itu adalah orang misterius yang ingin memberinya petunjuk.
"Kenapa?"
"Tadi gue lagi telponan sama Aya, gak tau tiba tiba mati. Dan sebelum mati gue denger suara Aya minta tolong lepasin...jujur gue khawatir banget."
Mendengar itu bintang mengepal tangan dan berusaha menghela nafas panjang "Lo tau ga dia lagi dimana saat itu?"
"Dia bilang masih di sekolah, katanya lagi di taman belakang."
"Nut...Nutt" bintang langsung mematikan telepon.
Bintang berlari sekuat tenaga, setiap langkah ia lalui sembari mengingat kebersamaannya dengan Aya. Matanya mulai berbinar, perasaan sesak di dadanya terasa sangat menyiksa. Begitulah kira kira rasa takut kehilangan seseorang, apalagi Ini adalah kali pertama bagi seorang Bintang Raiman Taran merasa tidak berdaya.
"Heh siapa itu" senter yang sangat terang menyorot wajah Bintang "ngapain kamu disini malem malem?" Tanya satpam.
__ADS_1
Bintang menutupi wajahnya dari cahaya senter "Lagi nyari pacar saya. Dia belum balik, tas nya masih ada di kelas tapi orangnya gak ada" ujarnya.
"Disini gak ada siapa siapa. Kamu Kok bisa masuk? Dibawah ada temen saya kan?"
"Ada. Saya murid sini dan udah dapet izin nya. Udah Ikutin saya aja."
Tidak ada pilihan lain karena Bintang nampak panik, satpam hanya mengikutinya dari belakang sembari ikut berusaha mencari orang yang dicari Bintang.
Kini mereka berdua bergegas menuju taman belakang. Suasana disana cukup remang remang karena lampu taman yang berjauhan satu sama lainnya. Beruntung pa satpam membawa senter.
"AYAA....AYAAA..." Bintang terus berteriak mencari keberadaan gadis itu.
Tatapan pa satpam nampak tertuju pada satu benda yang tergeletak di tanah "Mas ini hp pacarnya bukan?" Ponsel itu ditemukan dalam keadaan mati.
"Iya pa, itu hp pacar saya" Bintang ingat betul casing hp Aya berwarna hitam dan memiliki penutup layar dibagian atasnya, benar benar mirip dengan ponsel yang ditemukan satpam.
Kini Bintang nampak meremas rambutnya. Benar benar frustasi, kalimat itu yang cocok untuk mengekspresikan penampilan Bintang saat ini "Sial! Lo dimana sih Ay"
Tak menyerah, Bintang terus mencari petunjuk kesetiap sudut taman. Perasaan sedih, kecewa, takut dan marah bercampur aduk membuat laki laki itu nampak seperti orang gila yang menyusuri rimbunan semak semak.
"Mas ini ada jejak kaki" beruntung tanah disana cukup becek terkena air pancuran kolam ikan.
Bintang bergegas mengikuti setapak demi setapak langkah tersebut. Dengan seksama, mereka memperhatikan bahwa jejak kaki itu sepertinya menggunakan sepatu dan menuju pohon besar di tembok besar perbatasan daerah sekolah.
"AYAAA....AYAAA..." Tetap tak ada sahutan.
"Krekk..krekk" terdengar suara kayu yang terinjak.
Satpam perlahan mengarahkan senternya menyusuri setiap sudut semak semak.
"Ehh tuyul emak tuyul emak" Kaget bukan main saat kepala satpam menabrak sebuah kaki yang menjuntai ke bawah.
Setelah di amati, mereka baru sadar bahwa itu adalah seorang perempuan berambut panjang dan menggunakan seragam olahraga sekolah dengan kepala tergantung di pohon. Yap, Terlihat seperti orang yang gantung diri
Sesak yang bintang rasakan nampak menyeruap menjalar ke seluruh tubuh, dengan mata berbinar ia hanya bisa mematung tak percaya menyaksikan hal keji tepat di depan matanya.
"GA ITU BUKAN AYAA!" Bintang berteriak seraya mata membulat sempurna.
......................
__ADS_1