
Ning
Nong
Bel istirahat berbunyi, akhirnya detik detik menegangkan bersama guru killer berakhir juga. Ini adalah saat yang tepat untuk Cahaya kembali merebahkan diri, memandangi layar ponsel sembari menunggu notif dari orang yang telah memblokir nomornya.
Meskipun ingatan mengenai panggilan telpon dari Laila masih kalang kabut melanglang buana dipikirin Cahaya, gadis itu tidak percaya begitu saja pada ucapannya. Bisa jadi ini hanya cara Laila untuk memperenggang hubungan antara dirinya dan Bintang saja.
"Lo bener nih gak ikut ke kantin?" Vania memecah keheningan.
"Nggak Van, males banget."
"Tumben Lo nolak Strawberry jepang, biasanya Lo maju paling depan di situasi dan kondisi apapun kalau masalah si kecil itu." Celetuk Vania.
"Kok jadi nolak Strawberry, kan gue nolak ajakan Lo ke kantin bego."
"Dih kayaknya Lo belum buka grup chat deh....Liat tuh ada orang baik yang bagiin strawberry jepang di kantin sekolah."
Vania menyodorkan ponselnya yang berisi tayangan Vidio di grup chat dimana menampilkan beberapa pemuda tengah membagikan tiga kardus besar strawberry jepang. Sontak mata Cahaya membulat sempurna, ia meraih ponsel Vania seraya berdiri dengan mata berbinar.
"I-ini seriusan Van?! Gue mau! mau."
Cahaya tanpa pikir panjang berlari keluar kelas, tentu tujuan utamanya saat ini adalah tempat keberadaan para pemuda tersebut
"Woi woi tungguin gue!"
Namun tak lama langkah Cahaya terhenti tepat di depan lapangan sekolah. Ia menyipitkan mata, berusaha memastikan apa yang dia lihat benar atau tidak.
"Huh...huh..huh, Ay tungguin gue!"
Vania tersengal-sengal, akhirnya ia bisa menghampiri Cahaya yang berlari dengan cepat meninggalkan nya di kelas. Namun Cahaya berhenti bukan karena mendengar sahutan Vania, tetapi ia berhenti sebab tengah fokus menyipitkan mata pada satu titik ditengah lapangan upacara, Vania pun ikut ikutan menatap titik yang tengah di amati oleh sahabat nya tersebut.
"Eh? Itu bukannya trio kakel spek gengster yang suka bully adik kelas itu ya?" Celetuk Vania.
"Setahu gue mereka berasal dari keluarga pejabat semua, nyali Pak Hendra gede juga ya buat ngehukum mereka." Timpal Cahaya.
__ADS_1
Bukan hanya pandangan mereka yang difokuskan, tetapi telinga juga ikut ikutan fokus saat mendengar gosip julid beberapa siswi yang berlalu lalang dihadapan Cahaya dan Vania.
^^^"Kasian ya udah dari pagi berdiri terus mana makin panas lagi."^^^
^^^"Tapi mah masih kurang sepadan gak sih, mereka kan sering bully adik kelas."^^^
^^^"Aku sih yakin mereka gak bakal lulus sekolah, atau malah diluluskan dengan catatan buruk."^^^
Memang benar ditengah lapangan tersebut berdiri geng cewek yang tak lain adalah Gita, Nara dan Bella dengan kondisi yang acak acakan. Pasalnya mereka hormat pada bendera sudah sejak pagi, tanpa sepatu dan mengenakan sebuah nametag kardus bertuliskan"Saya minta maaf!! Saya berjanji tidak akan membuli lagi." Ketiganya sesekali mengangkat satu kaki yang terlihat kebas dan tangan yang mulai kelelahan.
Semua orang yang berjalan melewati lapangan tampak menatap mereka dengan jijik dan mulai bergosip, sebab hampir semua murid sekolah tidak suka dengan sikap ketiganya yang kadang merasa sekolah milik sendiri dan suka berbuat semena-mena. Namun sepertinya hukuman tersebut masih kurang setimpal dengan apa yang mereka perbuat. Nyawa yang melayang karena mereka tidak lah sedikit, dan tidak akan kembali meski mereka meminta maaf sembari menangis darah sekalipun.
Disisi lain Cahaya berjalan menyusuri tepian lapangan, Vania juga hanya mengikutinya saja. Kedua gadis itu berjalan sembari bersilang tangan hingga jarak mereka dan geng cewek itu sejajar, hanya terpisah beberapa meter saja.
Gita, Nara dan Bella mendelik saat menyadari cahaya berdiri di sebrang mereka.
Cahaya tersenyum licik kearah tiga gadis tersebut, senyum kemenangan bercampur senyum ejekan. Gadis itu benar benar puas melihat ekspresi marah ketiganya yang kentara. Vania juga ikut ikutan menertawakan mereka.
"Ayo Van, suasana hati gue lagi baik." Cahaya melanjutkan langkahnya menuju kantin.
Cahaya berjalan dengan girang bersama Vania menuju kantin. Pandangan mereka langsung disambut dengan beberapa murid yang tengah mengantri strawbery. Tak lama seorang pemuda datang menghampiri Cahaya.
"Wah dek kamu cantik banget hari ini, ini strawberry khusus untuk gadis cantik seperti kamu."
"H-hah serius kak?"
"Iyaps, ini ada edisi best seller juga untuk kamu. Selamat ya!"
"Wahh makasih yah kak!" Mata Cahaya berbinar sempet seraya mengambil strawberry yang ditawarkan oleh pemuda tersebut.
"Punya saya mana kak?" Vania menyodorkan tangan sembari tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya yang berseri
"Maaf dek, edisi best seller ini hanya untuk satu orang."
Cahaya tersenyum lebar sembari memeluk erat dua pak strawberry yang nampak berukuran paling besar dan sangat segar. Ia berlalu meninggalkan kantin dengan senyum lebar dan girang. Selain Bintang, Strawberry adalah vitamin tambahan penyemangat hidupnya.
__ADS_1
Sepergi nya Bintang ke Amerika, hari ini adalah senyuman tulus pertama Cahaya. Ia tak menghirauka tatapan orang orang yang memandang nya berlebihan mencintai strawberry. Padahal semua orang punya cara berekpresi nya masing-masing.
"Siang temen temen!" Sapa Cahaya menggema di dalam kelas.
"Widihh ada yang lagi happy lagi nih." Ucap Awan.
"Iya dong! liat nih gue dikasih strawberry jepang best seller sama abang-abang yang di kantin."
"Seger banget tuh kayaknya, bagi dong." Seloroh Dimain.
"Eitss eitss enak aja, sana minta sendiri." Tukas Cahaya.
"Effort Bintang gede juga ya demi liat Lo seneng lagi." Celetuk Cakra.
"CAKRA!!"
Dimian dan Awan sontak mendelik dengan cepat dan memukul Cakra dengan pelan seraya melemparkan tatapan kesal. Cakra sendiri hanya tersenyum kecut dan beranjak kembali ke tempat duduknya.
Sementara disisi lain Cahaya mematung mendengar ucapan Cakra. "Maksud Lo apa, Ca?"
"Ya Lo pikir lah, orang mana yang mau bagi bagi buah impor gratis apalagi di dalam SMA. Lo pikir strawberry best seller di tangan Lo itu cuma cuma?! huh..." Ketus Cakra.
"Ca! Lo kenapa sih judes banget sama Cahaya!" Tukas Dimian.
Namun Cakra tak menggubris perkataan Dimian dan memilih pergi meninggalkan kelas dengan wajah kusam. Ntah apa yang membuat lelaki tersebut menjadi sangat berbeda hari ini.
"Jangan dengerin ucapan Cakra ay, Lo tau sendiri dia orang nya emng mulut pedes." Ucap Awan.
"Hsss sial!" Dimian berlari mengejar Cakra, begitu juga awan.
Sementara Cahaya terdiam dan duduk diatas kursinya dengan tatapan kosong. Ia menaruh beberapa pak strawberry yang ia peluk sedari tadi diatas meja. Bagaimana ia bisa melupakan bahwa keluarga Bintang memiliki kebun strawberry yang sangat luas, tidak menutup kemungkinan Bintang menanam strawberry jepang juga.
Namun saat ini Cahaya bukan sedih, melainkan senang. Jika yang diucapkan Cakra memang benar, itu artinya Bintang masih perduli terhadapnya dan bisa jadi telpon dari Laila itu adalah rekayasa belaka.
......................
__ADS_1