Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
20. Pesta dansa


__ADS_3

"Kita belum bersulang Ay." Dimain mengangkat gelas ditangannya dan menyodorkannya pada Aya.


Aya hanya tersenyum kaku dan meraih gelas nya untuk bersulang bersama Dimian.


Disisi lain MC juga kembali mempersilakan seluruh tamu undangan untuk berpindah ke lantai dansa. Disaat saat seperti ini akhirnya Aya memiliki kesempatan untuk menolak ajakan Dimian tanpa membuatnya sakit hati.


Dengan cekatan Aya menarik tangan Vania dan menyeretnya ke lantai dansa.


"Lo-lo gila ya Ay! Gue kan gak bisa dansa!" Vania berusaha menarik tangannya, namun genggaman Aya sangat kuat. Aya lebih rela menggores tangan sahabatnya itu sedikit daripada harus menghianati perasaannya terhadap Bintang dengan berdansa bersama Dimain.


Saat musik diputar, Mau tak mau Vania dan Aya berdansa bersama, begitu juga yang lainnya. Suasana kali ini terasa sangat romantis ditemani lagu yang romantis pula. Namun disaat yang lain berpasangan bersama kekasih mereka, lain hal dengan dua gadis cantik Vania dan Aya malah berdansa.


Dimian sempat berdecak kesal saat melihat Aya malah berdansa bersama Vania, meskipun pada akhirnya Dimian tetap berdansa juga. Yah meskipun berpasangan dengan Awan.


Dipertengahan musik, ada bagian yang mengharuskan semua pedansa bertukar pasangan berkeliling bergantian. Aya sempat berpasangan bersama Awan, lalu berpindah ke peserta lain, lalu sempat juga berpindah pada Dimian dan yang terakhir Aya berpasangan dengan seorang perempuan yang sedari awal di balkon sampai saat ini Aya cari.


Tentu saja Aya sangat penasaran dengan perempuan tersebut. Aya juga sempat mengamati bentuk bibirnya yang tidak tertutup topeng, seolah sedang tersenyum miring kearahnya. Tatapan perempuan itu juga terlihat mengamati Aya dari ujung kaki sampai ujung rambut sampai akhirnya menatap Aya dengan tatapan seolah olah berkata bahwa Aya tidak secantik itu.


Mereka saling berkontak mata selama beberapa menit sampai tiba tiba perempuan itu kembali menyeringai dengan tatapan tajam. "Dia tidak berhak bahagia." perempuan aneh itu berucap dengan penuh penekanan.


Aya mengeriyatkan dahi. "Dia? Siapa maksud Lo."


Pertanyaan itu hanya ditanggapi dengan senyuman kecut dan tatapan yang penuh arti. Seolah olah tatapan itu berisi kesedihan bercampur kebencian. Disini Aya hanya bisa terdiam sembari melanjutkan gerakan dansa nya.


Tanpa disadari perempuan itu mempercepat gerak kaki nya dan pegangan tangannya pada pinggang Aya juga dibuat semakin erat. Ntah kenapa tapi Aya merasakan tekanan tekanan kecil dari jari jari perempuan itu. Namun bodohnya Aya tidak terlalu menghiraukan tekanan tekanan kecil tersebut.


"Tempo kita kecepetan, ini gak sesuai sama musik." Aya berusaha menyeimbangkan gerakannya.

__ADS_1


Disisi lain Aya juga merasa bahwa tangan kanan perempuan tersebut memberinya sesuatu. Aya tak sempat melihatnya karena perempuan aneh ini semakin mempercepat tempo gerakannya sampai sampai yang lain harus menepi karena takut tersenggol.


Jujur saja Aya merasa sangat geram sekaligus heran saat itu. Aya berusaha melepaskan genggaman tangannya untuk menyingkap topeng yang menghalangi wajah perempuan tersebut.


Seolah sengaja memberi celah pada Aya untuk membuka topengnya, perempuan itu juga tak memberikan perlawanan dan membiarkan Aya melakukan apa yang Aya mau.


"Lo...." Aya membisu saat melihat wajah perempuan tersebut. Keringat dingin juga mulai bercucuran, detak jantung Aya serasa berdenyut dengan kuat sampai dia tak mampu berkata kata.


Aya dan perempuan aneh itu berhenti berdansa dan saling bertatapan satu sama lain.


"Kamu tidak boleh membuatnya bahagia. Tapi semuanya sudah terlambat, terimalah akibatnya."


Perempuan aneh itu bertutur dengan penuh penekanan.


Tanpa aba aba dengan senyum kecutnya perempuan itu mendorong tubuh Aya jatuh kedalam kolam renang disebelahnya yang hampir sedalam tiga meter. Rupanya semenjak berdansa tadi sembari menaikkan tempo gerakkan, perempuan itu juga mengarahkan mereka menuju kedekat kolam renang.


Jelas saja kejadian ini membuat semua orang mengalihkan perhatiannya dan berkerumun di pinggir kolam menyaksikan kejadian tersebut sembari memanggil manggil Aya yang tak kunjung terlihat kepermukaan.


Disisi lain ntah mengapa tubuh Aya tak bisa digerakkan, seluruh tubuhnya terasa sangat kaku. Padahal sebenarnya Aya adalah seorang perenang handal dan sering berlatih bersama kakak nya sejak SD sampai sekarang.


Saat ini Aya mulai kesusahan bernafas, tubuhnya terasa panas seperti terbakar saat tak diberi asupan oksigen. samar samar dari bawah air Aya melihat bayangan orang orang melihatnya namun tak ada yang melompat untuk menolongnya.


Hati kecil Aya sempat bergumam, jika ini adalah detik terakhir Aya melihat dunia, Aya sangat ingin melihat Bintang untuk yang terakhir kalinya.


Tak lama setelah Aya memejamkan mata, Aya mendengar seseorang melompat kedalam kolam. Tangan laki laki itu nampak berusaha menarik tangan Aya. Aya tidak tahu siapa yang menolongnya karena wajahnya terhalang sebuah topeng.


Sesaat sebelum semuanya gelap topeng laki laki itu sempat terlepas karena tekanan air, mata Aya tak mampu melihat wajah nya dengan jelas. Ntah itu hanya pikiran Aya atau beneran tapi Aya melihat laki laki itu seperti Bintang.

__ADS_1


Aya berusaha meraih tangan laki laki tersebut, saat mengangkat tangan Aya menyadari bahwa perempuan itu rupanya memberikan sebuah mawar putih dengan bercak bercak merah dibagian atas kelopaknya.


Karena terkejut Aya kehilangan kendali dan tak sengaja menelan air sampai tersedak dan semakin kesusahan bernafas. Pandangan Aya mulai kabur saat laki laki itu berhasil meraih pinggang Aya.


Hingga akhirnya semuanya menjadi gelap.


*****


Aya terbangun di sebuah ruangan yang sepertinya Aya tidak asing. Lampu strawberry terang diatas nya dan cat ruangan bernuansa merah muda berpadu nude tentu saja adalah kamar Aya sendiri. Aya meraba tubuhnya yang telah berganti pakaian, rasanya kaki nya masih terasa sedikit kaku.


Aya menatap kesekitaran dan mendapati Vania tengah duduk di sofa kamar Aya sembari memainkan ponselnya dengan raut wajah khawatir dan bingung.


"Van, gue kenapa?" Lirihan Aya itu terdengar ke telinga Vania. Dengan tergesa gesa Vania menghampiri sahabat nya yang hampir meninggalkannya untuk selamanya itu.


"Lo tadi jatuh ke kolam, untung Dimian cepet nyelamatin Lo." Vania dengan ekspresi sedihnya memegang erat tangan Aya. Terlihat gumpalan air mata di mata Vania sudah hampir terjatuh.


Aya mengeriyatkan dahi. "Dimian yang nyelamatin gue?"


"Gak mungkin Dimian yang nolongin gue Van. Percaya sama gue! gue liat sendiri kalau cowok yang nolongin gue itu Bintang." Aya bersikukuh.


Sudah hampir 30 menit Aya dan Vania memperdebatkan siapa laki laki yang menolong Aya saat tenggelam. Meskipun Vania sebelumnya sudah menjelaskan berulang kali bahwa dirinya dan teman temannya melihat langsung Dimian yang melompat kedalam kolam dan membawa Aya keluar dalam keadaan tak sadarkan diri.


Namun Aya tetap membantah pernyataan Vania.


"Gimana Bintang mau nolongin Lo ay, Bintang aja gak dateng ke pesta ini." Vania mulai merasa jengkel.


"Gue panggilin Alpha'B kalau lo masih gak percaya." Tegas Vania.

__ADS_1


Sebelum meninggalkan kamar Aya, Vania sempat melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 22.50. Dengan harapan Alpha'B masih ada di bawah menikmati pesta yang belum bubar, Vania melangkahkan kakinya dengan kesal untuk menjemput mereka.


......................


__ADS_2