
Melihat Bintang berlutut di hadapannya, Aya menahan tangan Bintang "Gue aja Bin, makasih udah nganterin gue ke UKS. Lo balik ke kelas aja"
Bintang menatap Aya sekilas dan menepis lembut tangan Aya. "Gue gak pernah tanggung kalau lagi nolongin orang."
"Gak enak sama cewek Lo." Aya bertutur dengan nada kecewa.
Untuk kesekian kalinya Bintang hanya diam. Bintang lebih memilih tidak bicara dan fokus mengobati memar di betis Aya.
Meskipun pada kenyataannya Bintang sedang berusaha menahan ribuan kata yang ingin dia utarakan. Namun apa daya, Bintang memiliki alasan yang kuat untuk menahan semua itu seorang diri.
"Gue gak suka liat ekspresi bungkam Lo, Bin." Ketus Aya.
"Emang Sesusah itu hah buat Lo diem dan jalanin apa yang terjadi aja?" Bintang bertutur tanpa beban.
"Jalanin apa yang terjadi? Lo tau gue punya perasaan sama Lo, dan kalau Lo gak bisa bales perasaan Gue ya harusnya Lo jaga batasan Lo. Jangan buat Gue ngerasa seolah olah Lo boong Bin!" Aya langsung berterus terang.
"Cukup Ay. Jangan kekanak-kanakan!" Tegas Bintang.
Aya berusaha menahan air mata yang sudah menggantung diujung kelopak matanya "Lo egois Bin."
Bintang menatap Aya sekilas dan tersenyum miring.
"Kita liat nanti, siapa yang sebenarnya pantas nerima kalimat itu." Bintang melempar kantong yang berisi es batu di tangannya ke lantai dan meninggalkan Aya sendirian.
Aya tidak mengerti dengan ucapan Bintang. Sejauh ini, hubungan Aya dan Bintang baik baik saja. Aya tidak pernah merasa memiliki kesalahan apapun terhadap Bintang dimana Aya lah yang pantas mendapatkan kalimat itu.
Setelah menatap punggung Bintang yang mulai menjauh, Aya berbaring di kasur. Kali ini, Aya tak sanggup menahan air matanya lagi. Jeritan yang sangat ingin Aya keluarkan harus Aya bendung dalam dalam menjadi rintihan kecil tanpa suara.
Gadis sekuat dan seberani Aya pun akan tetap kalah bila menyangkut perasaan.
*****
Waktu terasa berjalan cukup cepat hari itu, jam sudah menunjukkan pukul 14.15 yang berarti waktunya untuk pulang. Begitu juga dengan celine, setelah berpamitan manja dengan Rania, Celine berjalan menghampiri mobil yang menjemputnya.
"KAK CELINE, TUNGGU KAK!" Panggilan siswi ini sontak membuat Celine langsung menoleh.
"Kenapa sih teriak teriak segala?" Celine keluar dengan kesal.
Sebenernya siswi ini terlihat cukup takut untuk menghentikan celine, perlu waktu banyak untuknya mengumpulkan keberanian menghadapi Mak lampir sekolah satu ini. Namun karena diamanahi secara langsung oleh kepala sekolah untuk membantu memanggilkan Celine, mau tidak mau dia harus melakukannya.
__ADS_1
"Ma-maaf kak, tapi tadi kakak di panggil ke ruang kepala sekolah."
Setelah mengucapkan apa yang harus diucapkan, siswi itu langsung pergi meninggalkan Celine yang nampak tertegun.
"Pak, tunggu saya sebentar. Kalau 15 menit saya gak keluar, jalan aja lurus dari koridor nanti ada ruang kepala sekolah. Bapak masuk terus bilang kalau saya harus buru buru pulang karena ada keperluan mendesak dari ayah saya." Ujar Celine.
Sepertinya Celine sudah menduga sejak awal kalau kepala sekolah akan memarahi nya habis habisan. Yah meskipun kepala sekolah tersebut adalah pamannya, Celine tetap khawatir kesabaran pamannya habis mengingat Celine sudah berulang kali melakukan kesalahan yang sama.
Pak supir juga mengangguki saja permintaan Celine.
Buru buru Celine menuju ruang kepala sekolah. Celine tak sadar, seorang laki laki sedari tadi memperhatikan setiap gerak geriknya. Bahkan setelah Celine pergi, laki laki itu nampak menghampiri Pak supir dan berbicara dengannya.
*****
Benar dugaan Celine. Saat masuk ke ruangan kepala sekolah, Celine langsung disambut dengan senyum miring dari Aya.
Sementara itu di samping meja kepala sekolah, terlihat seorang laki laki berkemeja rapi dengan namtage berkilau di dadanya bertuliskan Hendra Pramono tengah berdiri menatap keluar jendela.
"Kenapa om panggil Celine?" Gadis itu nampak gugup.
"Apa masih perlu Om jelaskan?" Hendra langsung menatap tajam kearah Celine.
Bisa dikatakan Hendra sudah sangat geram dengan tingkah Celine selama 2 tahun ini dimana selalu ada saja laporan tentang perbuatan buruk Celine setiap harinya. Jika bukan karena ikatan keluarga dan ayah Celine yang merupakan donatur tetap sekolah, Hendra sepertinya sudah mengeluarkan Celine sejak tahun lalu.
Celine hanya terdiam.
"Ko diem aja sel. Padahal tadi di kantin Lo banyak ngomong." Singgung Aya.
Celine nampak menatap tajam kearah Aya. Terlihat dari raut wajahnya meskipun Celine hanya diam, Aya tau betul bahwa sebenarnya Celine sedang memaki Aya habis habisan didalam hatinya.
Jelas sekali Aya sangat senang melihat ekspresi marah bercampur gugup dan tegang Celine, namun hatinya belum merasa puas.
"Jadi gini pak, saya tadi di kantin mau duduk, terus tiba tiba Celine datang narik tangan saya. Hasilnya saya ketarik dan betis kaki saya kepentok meja sampai biru gini." Aya menunjukkan betisnya yang masih membiru.
Hendra cukup kaget saat melihat betis Aya sedikit membiru. Mengingat keluarga Aya bukan keluarga sembarangan, Hendra Sampai berkeringat dingin memikirkan apa yang akan terjadi padanya jika Aya ingin memperpanjang masalah ini.
"Bukan hanya ini, Celine juga memaki saya dan menyebarkan fitnah tentang hubungan saya dan dua superstar sekolah pak. Jelas kalau kabar ini tersebar keluar, selain nama baik sekolah, nama baik bapak juga akan dipertanyakan." Ujar Aya.
Mendengar penjelasan Aya, Hendra menarik nafas panjang dan melempar kacamata yang Hendra pakai ke meja.
__ADS_1
"Cahaya boong om, justru Celine nyebarin itu supaya orang orang tau kebusukan jal*ng sok suci ini." Celine dengan nada tinggi nya menunjuk nunjuk ke arah Aya.
"Gue boong? Satu sekolah denger sendiri Sel. Apa perlu pak saya jelasin kasus kasus Celine yang lainnya pak?" Tegas Cahaya.
"Brak...CUKUP! Om udah cape sama tingkah kamu!" Hendra menggebrak meja.
Terlihat jelas kesabaran pria berusia 39 tahun itu sudah habis terkuras.
"Om sudah panggil papah kamu kesini. Biar ayah kamu saja yang memutuskan hukuman buat kamu!" Hendra bertutur sembari duduk di atas kursi untuk menenangkan diri.
"HAHH? PAPAH? ke-kenapa om tega banget ngelaporin Celine."
Celine langsung menghampiri Hendra. Dengan mata berkaca kaca Celine duduk disamping Hendra sembari merengek.
Tak lama Celine berjalan dan berdiri tepat didepan Aya "Oke om mau hukum Celine kali ini, Celine terima. Tapi cahaya juga harus dihukum om!"
"Apalagi maksud kamu Celine." Hendra hanya bisa memegang dahinya.
"Setelah kegiatan calssmeeting, Cahaya gak langsung pulang Om. Dia berduaan sama Awan di taman sampai malem. Kalau gak percaya tanya aja satpam." Ujar Celine
"Cahaya, jelaskan maksud Celine?" Kini tatapan Hendra tertuju pada Aya.
"Ngobrol ngobrol sama temen emang gak boleh pak? Lagian saya gak ngelakuin hal yang aneh aneh, kita cuma lagi bahas masalah kegiatan aja." Sahut Aya.
"Yakinn? Kok pulangnya sampai di gendong mesra sih." Celine tersenyum miring.
"Lo bilang gitu emang Lo liat langsung? Kalo iya gue jadi heran juga Lo lagi ngapain malem malem di sekolah?"
Aya membalikkan pertanyaan dengan cerdas. Tentu saja Celine hanya terdiam kesal tak memiliki jawaban apapun.
"Sudah cukup! Cahaya, kamu bisa pulang. Biar masalah ini bapak saja yang selesaikan."
"Ta-tapi om, cahaya mal..."
"CUKUP CELINE CUKUPP!" Hendra memotong perkataan Celine.
"Yasudah pa, saya pamit pulang." Ucap Aya.
Tentunya Aya sangat senang melihat pemandangan seperti itu. Sebelum keluarpun Aya sempat menatap Celine sekilas dan melontarkan senyum kemenangan ke arah gadis yang sedang merengek di samping kepala sekolah itu.
__ADS_1
......................