Cinta Layu, Dendam Bersemi

Cinta Layu, Dendam Bersemi
32. Berulang kali sama


__ADS_3

Ruang unit kesehatan sekolah yang dingin seolah membuat suasana terasa tegang. Dua orang di dalam sana sama sama diam sedari awal datang.


Tatapan Cahaya berbinar, ia berusaha menghela nafas panjang seraya mengusap luka di sudut bibir Bintang dengan kapas yang telah dibaluri alkohol.


"Lo kenapa sih bisa berantem sama Dimian?" tutur Cahaya pelan.


Seolah ia tahu bahwa Bintang dan Dimian bertengkar karena dirinya, namun ia tetap ingin menanyakan hal tersebut untuk sekedar menenangkan perasaannya.


"Biasalah urusan cowok."


Sahut Bintang dengan nada datar nya yang khas. Raut wajahnya seolah tak menganggap serius pertengkaran yang baru saja terjadi.


"Urusan apa?"


"Gak usah ikut campur. Lagian gak ada hubungannya sama Lo."


Cahaya tersenyum miring, menatap lekat netra Bintang yang enggan menatapnya. "Lo kenapa sih Bin, perubahan sikap Lo bikin gue capek nebak tau gak."


"Yang minta Lo ngertiin sikap gue siapa? itukan kemauan Lo sendiri, Cahaya."


Mata Cahaya membulat sempurna, tangannya yang masih mengusap luka di sudut bibir Bintang itu ia turunkan perlahan. Menelaah maksud perkataannya dari raut wajah yang berpaling enggan di tatap.


"Baru aja pagi tadi Lo bilang mau memperjuangkan gue di depan Kak Rein, tapi kenapa sikap Lo sekarang berubah lagi."


Bintang terdiam, ia tak mampu membalas ucapan Cahaya.


"Kalau Lo ada masalah yang bikin Lo gak bisa ungkapin perasaan Lo oke, it's fine. Tapi tolong ngomong, jangan diem aja kayak gini!" Cahya terus memojokkan Bintang.


"Gue gak ada perasaan apa apa sama Lo. Kejadian tadi pagi cuma gimik supaya gue bisa pulang dengan selamat dari kakak Lo yang gila itu." Bintang berucap demikian tanpa segan, wajahnya masih nggan menatap Cahaya.


"Jadi gitu mau Lo. Oke. Gue capek."


Cahaya melempar kasar kapas ditangannya begitu saja. Ia berlalu meninggalkan ruang UKS tanpa sepatah kata pun. Hatinya sudah terlalu hancur selalu dipermainkan tanpa sebab oleh Bintang, seolah Cahaya hanya Boneka dibawah kendalinya saja.


Gadis itu tak sanggup menahan isak tangis, Cahaya berlari menahan deraian air mata menuju toilet perempuan. Ia membuka salah satu pintu toilet yang kosong dan menguncinya.


Tangis nya pecah detik itu juga.


Setelah sekian lama memendam perasaan, berkali kali ia ungkapkan dan berkali kali pula ia di tolak. Perlakuan Bintang penuh tanda tanya yang membuat Cahaya kalang kabut hanya memikirkan hal tersebut.


Untuk sesaat, sempat terlintas bayang bayang gadis bernama Laila yang pernah berusaha membunuhnya di pesta dansa.

__ADS_1


"Siapa perempuan itu? Apakah dia adalah kekasih Bintang. Apakah karena nya Bintang selalu menolak ku?" Cahaya bermonolog dalam lubuk hatinya.


Saat mendengar pintu depan toilet terbuka, Cahaya langsung menyumpal mulutnya dengan tangan. Menahan Isak tangis di relung dada agar tak mengeluarkan suara.


"Beruntung banget ya jadi kak Cahaya." Ucap salah satu perempuan yang masuk bersama temannya.


"Iya, bisa diperebutin Kak Bintang sama Kak Dimian gimana ya rasanya."


"Cuma sayang aja ya hubungan mereka pasti lagi renggang cuma gara gara memperebutkan satu cewek."


"Ya jelas lah anjir, namanya juga persahabatan cowok. Rata rata rusak karena cewek."


Brakk


Cahaya menutup pintu toilet dengan keras, ia menatap tajam kearah dua perempuan yang sedari tadi tengah menggosipkan diri nya. Sebenarnya ia masih ingin lebih lama menenangkan diri di dalam toilet, namun ucapan kedua perempuan itu benar benar menjengkelkan.


"K-kak Cahaya, S-siang Kak."


Kedua gadis itu nampak canggung dan gugup, mereka bahkan tak berani menatap Cahaya sama sekali.


Cahaya pun mendekat, hingga jarak mereka tak lebih dari beberapa senti. Ia menaruh tangannya di kedua pundak gadis gadis yang tengah berdiri bersebelahan itu, membuat detak jantung mereka berdegup kencang seraya keringat dingin mulai bercucuran.


Kedua gadis itu saling bertatapan seraya mata membulat sempurna. "S-silahkan kak."


Mereka berlari begitu saja keluar dari dalam toilet dengan gugup. Cahaya hnya terkekeh, puas sekali dirinya menjahili dua adik kelas tersebut.


Ditempat lain, Dimian tengah duduk termenung bersilang kaki di dalam kelas. Ia menelisik jari jari nya yang memar memerah seraya mengingat kejadian sebelumnya bersama Bintang.


Cakra duduk dihadapan Dimian, sembari menyanggah kepala dengan satu tangan Ia ikut ikutan menatap jari jemari yang sedari awal di amati oleh Dimian.


"Lo terlalu berlebihan Bro, gak seharusnya mukul Bintang sampai segitunya." Ucap Cakra bijak.


Dimian mengalihkan pandanganya dengan tajam. "Jadi menurut Lo gue yang salah!"


"Lo salah mukul Bintang gitu aja, tapi Bintang juga salah. Harusnya dia tau kalau Lo udah lama ngejar cahaya."


"Intinya Bintang dan Lo sama sama salah. Cuma mengingat persahabatan kita yang udah cukup lama gue takut jadi renggang karena pukulan Lo itu." Timpal Awan yang sedari tadi duduk di samping Cakra.


"Gue udah berusaha ngomong baik baik sama Bintang. Dia sendiri yang menyulut emosi gue " ucap Dimian seraya memutar bola matanya dengan kesal.


Ketiga sahabat itu kembali termenung.

__ADS_1


Mata Dimian langsung terang, saat melihat Cahaya masuk kedalam kelas.. Ia berdiri seraya tersenyum manis hendak menyapa gadis tersebut.


"Tangan Lo gakpapa, Dim?" Ucap Cahaya yang lebih dahulu menghambat dan menyapa Alpha'B.


"G-gue gakpapa kok, tuh cuma memar ringan doang." Dimian menjawab dengan gugup.


"Syukur deh kalau gakpapa."


Gadis itu melengos seraya tersenyum tipis, namun tangannya di raih oleh Dimian. Langkahnya pun terhenti, menoleh pada netra lelaki yang menggenggam tangannya tersebut. "Kenapa, Dim?"


"Pulang ini Lo free nggak?"


"Nggak ada urusan sih, Kenapa?"


"Mmm, malem nanti nonton yuk. Cakra sama Awan ikut juga kok. iyakan Ca, Wan." Ujar Dimian seraya tersipu menggoyahkan goyahnya pundak dua sahabatnya tersebut.


Tak punya pilihan lain, keduanya hanya bisa mengangguk.


"Mmm boleh deh, nonton apa?"


"365 Day, seru tuh..." Timpal Awan.


"Huss ngaco!" Tegur Cahaya, membuat mereka terkekeh.


"Ntar aja gue kabarin lagi." Ucap Dimian.


Setelah selesai berbincang, Cahaya pun menghampirinya Vania yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka. Ia menghampiri gadis tersebut seraya menyipitkan mata.


"Kok Lo mau sih diajak sama Dimian. Gak mikirin perasaan Bintang kalau dia tahu?" Cibir Vania.


"Hubungan gue sama Bintang apaan, dia aja GK pernah mikirin perasaan gue."


"Hayo loh tumben tumbenan, lagi berantem ya sama Bintang." goda Vania, saat menatap wajah cahaya yang menampilkan raut wajah kesal saat membahas Bintang. Ini bukan seperti Cahaya yang selalu tersipu saat mendengar nama lelaki itu saja di sebut.


Cahaya hanya terdiam dan menghela nafas panjang tak menggubris ucapan Vania sama sekali. Ia Lebih memilih menenggelamkan wajahnya dalam rangkulan tangan yang menyanggah kepala diatas meja.


Tatapannya terfokus pada pemandangan di balik jendela yang menampakan cerahnya langit biru. Hati gadis itu bergumam merasa sedikit bersalah bila ikut dengan Dimian. Namun pikirannya membenarkan tindakannya.


Toh dirinya dan Bintang tidak menjalin hubungan apapun, ditambah mereka nonton juga ditemani Awan dan Cakra jadi apa yang perlu dikhawatirkan.


......................

__ADS_1


__ADS_2